<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747</id><updated>2011-09-30T19:48:21.864-07:00</updated><title type='text'>Pejantan Sejati</title><subtitle type='html'>SEORANG PRIA YANG SENGAJA MENJANTANKAN DIRINYA LEWAT DUNIA RIIL DENGAN MEMAKNAI SETIAP APA YANG TERLIHAT</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1968275191425688024</id><published>2011-09-30T19:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T19:48:21.927-07:00</updated><title type='text'>Ideologi Pembasmi Terorisme</title><content type='html'>Hingga saat ini persoalan paling menonjol dalam ruang lingkup kehidupan berbangsa adalah melemahnya solidaritas antar individu dan kelompok. Masing-masing kelompok selalu menampik adanya nilai-nilai luhur serta cita-cita suci pada kelompok yang lain. Pada sudut pandang yang lain sejumlah komponen kehidupan berbangsa ini mulai rapuh dan tercerai berai dalam hiruk pikuk sikap arogan yang terus menopang runtuhnya solidaritas kebangsaan. Hal ini mengindikasikan suatu perbedaan pandangan serta pemahaman yang unilateral, bukan multilateral (toleransi). Pada sudut pandang yang berbeda, menempatkan keberagaman tidak lagi menjadi warna yang indah dalam kehidupan berbangsa, bahkan yang mencuat adalah adanya praktek-praktek profokatif yang menodai kedamian bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman yang bisa dinilai cukup indah dalam kehidupan berbangsa adalah keberagaman dalam agama. Keindahan tersebut hanya bisa digapai apabila masing-masing kelompok keberagamaan dan kepercayaan bisa menjalin solidaritas kebangsaan. Sedangkan maksud dari solidaritas kebangsaan adalah menempatkan segala tujuan hidup pada ikatan dan cita-cita bangsa. Menempatkan segala tujuan hidup pada cita-cita bangsa tentu bukan perkara yang mudah, hal itu sangat terkait dengan dogma pada masing-masing agama yang sering memberlakukan penilaian standard ganda dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman. Pada satu sisi, kelompok agama tertentu mempunyai penilaian yang sangat sempurna pada ajarannya sendiri, sementara di sisi yang lain pada pola hubungan kemanusiaan dan kebangsaan memberlakukan penilaian negatif pada kelompok agama yang lain. Pola seperti ini tentu sangat mengundang sikap kecemburuan yang berlebihan, kewaspadaan munculnya ancaman atau bahkan agresi antar kelompok menjadi suatu kondisi kehidupan yang mencekam dalam kehidupan berbangsa. Akibatnya, kelompok-kelompok agama yang ada selalu merasa tidak aman dengan kemungkinan-kemungkinan adanya teror dalam menjalankan agamanya (ajaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu segmen praktek keagamaan yang dihantui oleh kekhawatiran, yaitu adanya ancaman dari pihak luar berupa adanya penjagaan keamanan yang super ketat pada suatu ritual tertentu dalam sebuah agama. Misalnya; saat pelaksanaan Idul Fitri dalam agama Islam atau Natal dalam agama Kristen sering kali dijaga begitu sangat ketat oleh aparat keamanan dengan berpijak pada suatu kekhawatiran dan ketakutan munculnya teror pada saat pelaksanaan ritual tersebut. Kenyataan ini berlangsung secara terus menerus dan juga berlaku di berbagai tempat, bahkan mungkin di seluruh dunia. Bagi sebagian orang mungkin tidak ada yang menarik dari prosesi penjagaan yang begitu ketat tersebut, akan tetapi sejatinya ada sisi yang layak dicermati sebagai upaya menangkap sisi paling dalam dari kehidupan beragama dan berbangsa dalam lingkup keberagaman atau pluralitas. Kesigapan aparat keamanan dalam kasus ini patut diacungi jempol, tetapi menjadi suatu hal yang memalukan apabila disorot pada nilai-nilai yang dibawa oleh agama. Memalukan dalam arti ajaran agama secara universal tidak mampu memberikan rasa aman bagi pemeluk dan lingkungannya. Pluralitas yang merupakan keniscayaan telah meruntuhkan nilai-nilai kedamaian yang dibawa oleh masing-masing agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi keniscayaan bahwa kedamaian hidup itu merupakan bagian dari apa yang digagas oleh agama. Namun realitanya seperti yang tersuguhkan di atas, agama seakan menjadi problem dalam keharmonisan kehidupan berbangsa, alih-alih akan menyuguhkan kedamian, yang terjadi malah merebahnya kecemburuan antar agama. Sebagai akibatnya, identitas keagamaan menjadi satu hal yang terus dicurigai. Memelihara jenggot, memakai jilbab serta menggunakan simbol-simbol keagamaan menjadi deretan problem yang mengundang banyak diskusi terkait penggunaannya di ruang publik. Bahkan di sejumlah negara di Eropa penggunaan simbol-simbol keagamaan di ruang publik sudah menjadi larangan. Kondisi ini semakin menguatkan bahwa agama tidak lagi menjadi tempat yang sejuk untuk menawarkan kedamaian bagi pemeluk dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan yang terus bergulir tersebut tidak lain diakibatkan oleh sejumlah konflik yang mempunyai kaitan erat dengan agama. Kasus-kasus kekerasan dan kriminalitas dengan berbagai bentuknya seakan menyudutkan agama pada suatu pojok tertentu dengan tuduhan sebagai biang dari menyuburnya teror dalam kehidupan berbangsa. Beragam bentuk aksi teror sebagai phobia publik menjadi sebuah keniscayaan untuk hidup damai. Ketakutan ini semakin nyata  sejak terjadinya tragedi teror besar 11 September 2001 sepuluh tahun silam. Sejak saat itulah legitimasi agama sebagai sumber kekerasan dan teror semakin dikukuhkan dengan sejumlah kampanye yang digulirkan oleh Amerika Serikat dengan sebutan peran melawan terorisme (war on terrorism). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan itu seakan terus bergulir, bahkan tanggal 25 September 2011 yang lalu sebuah bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo telah menambah ketakutan baru sekaligus mengindikasikan bahwa teror bermotif agama terus menghantui dinamika kehidupan berbangsa. Indikasi adanya motif agama dalam hal ini tentu tidak bisa dielakkan lagi, mengingat kejadian tersebut terjadi pada suatu tempat suci agama Kristen. Secara kasat mata indikasi adanya motif agama lebih dominan, walau kemungkinan ada penunggang lain yang mempunyai maksud memecah kerukunan umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari adanya unsur lain yang menunggangi kasus bom bunuh diri di atas, ketakutan serta kecemburuan antar umat beragama tetap tidak bisa dipungkiri lagi. Phobia serta kecemburuan antar agama sedikit demi sedikit akan menggiring kesadaran publik (pemeluk agama) pada babak tertentu yaitu berupa keraguan terhadap ajaran agamanya. Prediksi ini bukan suatu hal yang mustahil, walau juga diakui bahwa manusia selamanya akan terus bergantung pada realitas mutlak (Tuhan) sebagai bentuk pengakuan (penghambaan) secara pribadi. Namun agama secara lembaga tentu akan mengalami masa suram ketika ketakutan yang dihembuskan melalui teror bermotif agama itu semakin akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan di atas tentu tidak hanya menjangkiti suatu agama tertentu,akan tetapi secara tidak langsung juga menjangkiti setiap agama yang ada. Pada saat itulah hendaknya setiap agama mulai merumuskan kembali pola kehidupan keberagamaannya dengan cara melihat pluralitas itu sebagai keniscayaan yang perlu diinsafi. Meniginsafinya tentu dalam bentuk perwujudan amal yang menyuguhkan kedamaian serta tidak mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Nilai-Nilai Kebangsaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati pluralitas dalam kaitannya dengan kecemburuan dan ketakutan yang muncul dalam kehidupan beragama dan berbangsa dalam konteks ke-Indonesiaan tentu akan menggiring pada suatu keniscayaan pengkajian nilai-nilai kebangsaan. Pengkajian tersebut merupakan jalan yang representatif dalam mewujudkan kehidupan yang damai dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Nilai-nilai kebangsaan akan lebih terbuka dalam mewadahi berbagai bentuk keragaman bangsa ini, baik dalam agama ataupun keragaman yang lain. Melalui pengertian ini secara tidak langsung diantara agama yang berkembang di Indonesia tidak ada yang punya hak untuk memasukkan sebagian nilai-nilai agama pada kebijakan Negara apalagi sampai memaksakan agar berpedoman pada asas agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal dalam menghadirkan nilai-nilai kebangsaan penelusuran historis menjadi salah satu pintu yang cukup terbuka untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut. Suatu fakta sejarah telah menyuguhkan bahwa dari sejak awal bangsa ini tidak pernah menyatakan sebagai bangsa yang berpedoman pada asas agama tertentu. Oleh karena itu setiap agama dalam koridor kebangsaan mempunyai kedudukan serta kewajiban yang sama, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan yang diusung berupa kesejahteraan dan kedamaian dalam lingkup pluralitas yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pijakan yang cukup populer dalam kerangka kebangsaan terdapat dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan bagian dari salah satu prinsip dalam kehidupan berbangsa di tengah-tengah pluralitas agama yang ada. Prinsip ini sangat representatif untuk kemudian bisa dibawa sebagai nilai-nilai kebangsaan yang terwujudkan dalam betuk prilaku nyata. Jika nilai-nilai ini benar-benar telah membumi dalam setiap prilaku individu, maka ketakutan, kekhawatiran serta kecemburuan di tengah-tengah pluralitas agama bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memupuk Ajaran Agama yang Konstributif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya tidak ada satu agama apapun yang menhalalkan pencideraan terjadap nilai-nilai kemanusiaan. Kedamaian menjadi satu prioritas universal yang dimiliki oleh setiap agama. Maka ketika terjadi kekerasan atau teror yang bermotif agama pada dasarnya bukanlah ajaran agamanya yang salah, akan tetapi para pemeluknya yang mempunyai interpretasi yang salah terhadap ajaran agamanya. Legitimasi pada agama tertentu sebagai sarang terorisme juga tidak bisa dibenarkan begitu saja. Tudingan tersebut tidak akan pernah memberikan solusi yang tepat dalam memberantas kasus teror yang terus bergulir, bahkan bisa semakin meruncingkan konflik antar agama. Maka terorisme bukanlah unsur dari ajaran agama apapun, trorisme adalah segmen lain yang nota benenya bisa dikatakan sebagai kelompok yang membenci nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian. Kesadaran inilah yang perlu disuburkan pada setiap individu beragama agar kemudian tidak terjebak pada pola profokasi yang tergelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hal di atas, setiap pemeluk agama diharapkan kembali pada ajaran agamanya sendiri, namun tentu dengan pola pengertian dan pemaknaan yang konstributif. Sebagai bentuk nyata dari pemaknaan konstributif adalah pemakanaan ajaran agama yang mampu menhadirkan prestasi-prestasi prestesius yang membanggakan kehidupan bersama. Sebagai contoh, seyogyanya setiap agama mampu memberikan kemudahan-kemudahan bagi kehidupan sosial. Meminimalisir kemiskinan serta kebodohan adalah salah satu sektor konkret yang cukup mumpuni untuk dijadikan lahan dalam mengejawantahkan dari pola pemaknaan ajaran agama yang konstrbutif. Bersaing dalam menyuguhkan prestasi oleh setiap agama merupakan simbol dari pemaknaan ajaran agama yang konstributif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Menuju Kedamaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya aksi teror itu tetaplah bentuk kekejaman yang tidak bisa diterima oleh agama manapun. Ancamannya tidak hanya jiwa, akan tetapi agama itu sendiri akan mengalami kesuraman, bahkan bisa saja ditinggalkan oleh pemeluknya. Teror telah menebar kecurigaan yang berlebihan antar umat beragama, maka dalam rangka menyelamatkan agama dari kepunahan serta terciptanya kedamaian, hendaknya setiap pemeluk agama bisa mensinergikan wawasan kebangsaannya dan ajaran agamanya secara bersamaan. Integrasi nilai-nilai kebangsaan dan pemaknaan ajaran agama yang konstributif merupakan salah satu jalan dalam menumpas terorisme sekaligus sebagai jalan menuju kedamaian bersama. Semoga…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1968275191425688024?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1968275191425688024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1968275191425688024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1968275191425688024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1968275191425688024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2011/09/ideologi-pembasmi-terorisme.html' title='Ideologi Pembasmi Terorisme'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-9049364098890323543</id><published>2011-09-25T19:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T19:43:19.625-07:00</updated><title type='text'>SAATNYA MEMUTILASI  MATEREALISME</title><content type='html'>Terjangan materealisme di era sekarang tidak hannya digandrungi oleh kalangan elit saja. Materealisme menjadi suatu gerakan baru dalam kehidupan masyarakat yang terus menggerus habis kesadaran religius. Ajaran agama yang semula menjadi salah satu penuntun bagi kehidupan manusia dalam menata dunia, saat ini hanya menjadi ritual formal yang hampa. Wasiat taqwa yang digemborkan dimana-mana lewat berbagai media tidak lain hanya bagian dari pergumulan dan penggemukan materealisme saja. Pada babak yang lebih mengerikan, agama menjadi kemasan paling menggiurkan dalam memoles tujuan-tujuan materealistik oleh pihak tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan di atas bukan semata-mata bertolak dari kecemburuan semata, tetapi merupakan satu refleksi yang menghendaki agar setiap individu bisa menimbang dan menilai dari berbagai suguhan realitas yang terjadi. Berbagai even yang bernuansa relegi bisa saja menjadi ajang pengumpulan kekayaan oleh sejumlah pihak yang tidak bertanggungjawab. Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan seringkali terdapat pungutan-pungutan yang tidak rasional untuk sejumlah kepentingan yang tidak jelas, sehingga kemudian yang mencuat ke permukaan adalah terciptanya wacana yang berkembang di masyarakat luas berupa komersialisasi pendidikan. Pada satu sisi dana memang menjadi syarat mutlak berjalannya suatu program pendidikan, selama kebutuhan dana tersebut bisa dipertanggungjawabkan tentu tidak menjadi persoalan, akan tetapi yang banyak terjadi adalah penyelewengan serta kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak memihak pada kepentingan anak didik. Di berbagai sekolah atau lembaga pendidikan ternama seringkali terdapat sejumlah program-program yang sifatnya prestesius, namun tidak tepat sasaran. Efektifitas serta efisiensi kurang begitu dipedulikan, sehingga yang terjadi hanya berupa-berupa proyek-proyek tertentu yang sifatnya hanya mengejar rating atau popularitas dan kepentingan-kepentingan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat dan mencermati suguhan media baik cetak maupun elektronik kerap kali terdapat segmen yang menyuguhkan kehidupan hedon para publik figur yang membuat para penikmat media berdecak kagum dibuatnya. Selebritis, politisi serta para pengusaha menjadi figur yang seringkali mengisi ruang-ruang media dengan pola kehidupan yang serba mewah. Capaian-capaian materi menjadi ulasan paling menarik serta paling digandrungi oleh para penikmat media. Kontes kekayaan dengan lipatan serta tumpukan uang yang bertriliunan rupiah menghadirkan sejumlah orang yang lengkap dengan rankingnya dari sisi kekayaan materi. Suguhan ini sekilas bisa saja menstimulan agar setiap orang bisa bermimpi serta giat bekerja, namun ketika realiatas tersebut tidak diimbangi dengan keimanan dan kesadaran relegius akan berakibat pada pola kehidupan materealistik yang akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas di atas tidak cukup hanya  dikeluhkan saja, apalagi dengan hanya menyalahkan pihak-pihak lain. Media massa yang selama ini disinyalir menjadi penyubur pola kehidupan yang serba materi tentu tidak bisa disalahkan begitu saja. Sejumlah sisi kehidupan yang lain juga perlu dicermati sebagai pola berfikir komprehensif untuk menghadirkan solusi yang tepat. Agama tentu menjadi sisi paling vital yang perlu dicermati dalam menyelesaiakan persoalan ini. Sejatinya persoalan materealisme sudah sejak dulu bergulir, di dalam al-Qur’an pola pandang kematerian dikisahkan pada kehidupan seorang Qorun. Maka secara prinsip agama Islam tentu sudah sejak kelahirannya bersentuhan dengan materealisme. Bahkan, pada penggalan kisah kelahiran Islam itu sendiri lahir di kota metropolitan yaitu Mekah sebagai pusat perekonomian kala itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Islam di tengah pusat perekonomian tentu mempunyai makna tersendiri yang perlu direfleksikan. Masyarakat Mekah waktu itu sebagian besar adalah saudagar, namun di tengah kedigdayaan materi yang melimpah telah melimbungkan masyarakat Mekah. Kebodohan semakin menjadi-jadi, ukuran kesuksesan selalu disandarkan pada capaian materi. Sebagai implikasinya yang nampak dalam kehidupan adalah pandangan yang tidak berimbang terhadap status laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Laki-laki dianggap mampu mendatangkan keuntungan finasial yang lebih dibandingkan perempuan, sehingga sejumlah kasus penguburan anak perempuan oleh orang tuanya menjadi hal cukup lumrah waktu itu. Kasus ini walau tidak semata-mata karena tekanan dogma materealisme, namun paling tidak itu marupakan salah satu bias dari pola pandang materealisme yang menjangkiti masyarakat waktu  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengulas materealisme tentu juga sangat berkaitan dengan sejumlah kasus korupsi di negeri ini. Para pemimpin ini begitu sangat lemah ketika menghadapi kelihaian goadaan materi yang mengelilinginya. Suara dan janji para pemimpin ini untuk mensejahterakan rakayat hanya sebatas isapan jempol belaka. Hanya agama satu-satunya harapan yang mampu meneyelesaikan persolan ini. Sejumlah hal yang paling prinsip dalam agama perlu untuk kemudian dieja lalu kemudian menjadi wujud nyata dari prilaku sehari-hari. Salah satunya adalah ajaran keimanan kepada Tuhan. Iman kepada Tuhan (Allah) dalam konteks kajian agama merupakan salah satu hal yang cukup vital dan prinsip, ketika individu sudah kehilangan keimanannya maka secara tidak langsung status keagamaannya juga telah termutilasi. Namun kenyataannya keimanan yang mersauk pada diri setiap individu selalma ini masih sebatas keimanan pasif saja. Pasif dalam arti sebatas bentuk kepercayaan normatif yang tersimpan rapat dalam hati. Sementara prilaku belum bisa mewujudkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk upaya dalam mengimbangi gempuran matarealisme adalah menempatkan keimanan kepada Tuhan sebagai satu-satunya prinsip hidup yang tidak boleh diduakan. Menduakan Tuhan sama dengan memutus kepercayaan kepada-Nya serta pada tahap yang sama menempatkan diri sebagai hamba-hamba yang pecundang. Jika ditarik dalam terminologi agama, orang yang sengaja menempatkan seluruh tujuan hidupanya pada materi adalah bagian dari prilaku syirik yang dosanya tidak terampuni. Penempatan ini tentu tidak berlebihan, karena sikap-sikap materelistik tidak hanya bernilai dosa pada pelakunya, tetapi jauh lebih dari itu telah merugikan lingkungan dan manusia di sekitarnya. Kini saatnya kita memutilasi Materealisme dan kembali pada Allah satu-satunya tujuan hidup. Mati kau materealisme hahahah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-9049364098890323543?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/9049364098890323543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=9049364098890323543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9049364098890323543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9049364098890323543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2011/09/saatnya-memutilasi-materealisme.html' title='SAATNYA MEMUTILASI  MATEREALISME'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8508293123983966250</id><published>2011-01-24T19:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T19:21:54.420-08:00</updated><title type='text'>ISLAM DAN PLURALISME DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A.Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini selalu menunjukkan kondisi yang beragam. Keberagaman dalam kehidupan menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan di dalamnya masih pada kondisi normal. Keberagaman dalam wadah kehidupan bak taman indah yang ditumbuhi beraneka macam tumbuhan dan bunga-bunga. Keberagaman menjadi indah apabila bisa tertata dengan baik sebagaimana juga keberagaman akan memperlihatkan keindahan yang eksotik jika bisa dihargai oleh setiap kelompok yang ada. Keberagaman atau pluralitas dalam dialektika kehidupan beragama tentu sedikit menumbuhkan fenomena yang menarik untuk diteropong lebih dekat lagi. Terdapat sejumlah persoalan yang perlu dicermati manakala agama bersinggugan dengan pluralitas sosial, dari mulai politik, adat, ekonomi serta fenomena yang relative paling sensitive manakala suatu agama menjumpai kelompok kepercayaan atau agama yang lain. Persoalan yang cukup rumit dalam konteks pergaulan agama-agama adalah pada persoalan cara bagaimana beragama atau berteologi di tengah-tengah adanya agama-agama yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai agama juga tidak lepas dari konteks pluralitas yang tesuguhkan tersebut. Perjumpaannya dengan sejumlah kepercayaan yang muncul terutama dalam konteks ke-Indonesiaan Islam harus menunjukkan identitasnya sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan. Identitas tersebut berbanding lurus dengan makna harfiah Islam itu sendiri yang berarti selamat, damai, berserah diri yang kemudian bisa dimplikasikan dalam kehidupan konkret berupa penghargaan terhadap pluralitas serta keberadaan agama atau kepercayaan yang lain. Dengan demikian diharapkan Islam menjadi perekat dan pelopor pemersatu bangsa serta menghindari dari berbagai konflik-konflik SARA yang memungkinkan terjadnya disintegrasi kehidupan berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan luhur di atas sejatinya sangat relevan dengan Islam yang mempunyai rujukan doktrin yang kuat lewat Al-Qur’an dan Sunah Nabinya. Namun  pada faktanya terdapat sejumlah kasus yang mencoreng wajah Islam di negeri ini, seperti mencuatnya berbagai macam kekerasan yang mengatasnamakan agama. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju Islam akhirnya dikaitkan dengan radikalisme, ekstremisme dan bahkan terorisme. Berbagai macam teror dalam berbagai bentuknya mulai dari pembantaian kelompok tertentu, pengrusakan, penghancuran gedung dan lain sebgainya menambah buruk wajah dunia Islam di negeri ini pada khususnya. Gejala-gejala ekstrem tersebut adalah bagian dari corak keberagaman yang bobrok, yang kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari bangkitnya fenomena fundamentalisme agama.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati dari suguhan pola keberagaman yang kontraproduktif dari makna Islam tersebut tentu menjadi proyek tersendiri untuk kemudian diselesaikan. Selain cukup memalukan, tentu harus segera dituntaskan agar kemudian tidak memunculkan problem yang lain. Jika sedikit lebih dicermati gejala fundamnetalisme agama yang kemudian memunculkan sikap anarkis tersebut sangat terkait dengan munculnya ketersinggungan adanya kelompok lain atau agama lain. Teologi seperti ini tentu tidak bisa menampilkan wajah Islam yang ramah. Dalam konteks yang lain umat muslim dalam kehidupan beragamanya masih mengadopsi pemahaman double Standarts. Maksudnya, umat muslim selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya dan kelompok lain. Jika pada dirinya biasanya menggunakan standar yang relative ideal, sementara pada kelompok lain lebih bersifat realistis dan historis. Dari tradisi itulah kemudian memunculkan prasangka-prasangkan sosiologis dan teologis. Dalam persoalan telogis misalnya, memunculkan pengakuan bahwa agama sendiri sebagai agama yang dari Tuhan dan paling benar sementara agama yang lain dianggap konstruksi manusia.  &lt;br /&gt;Jika tradisi ini mengkristal dan kemudian menjadi pemahaman secara umum umat Islam maka konflik bermotif agama akan terus menggelinding. Perlu adanya sentuhan pendewasaan secara menyeluruh dalam konteks pengamalan agama di muka publik. Secara konkret umat Islam bsa dibilang mempunyai persoalan ketika Islam menjadi bagian dari elemen publik universal. Secara privat pengamalan keberagamaan bisa dituntaskan lebih cepat, karena hanya melibatkan wawasan normative intern dalam agama, akan tetapi agama dalam ruang publik menjadi lebih rumit karena adanya keterkaiatan dengan komunitas yang jauh lebih luas, memerlukan kedewasaan intlektual serta emosional yang stabil dengan mengintegrasikan seluruh aspek doktriner dan konteks secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B.Upaya Memahami Ruang Publik yang Plural&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ruang public berarti ruang yang secara legal bisa diakses oleh siapapun tanpa adanya klaim apapun dari pihak tertentu untuk mendominasi. Jika dikaitkan pada tatanan kehidupan berbangsa, Indonesia dikatak bukan Negara agama akan tetapi Negara yang berasas Pancasila yang berpijakan pada keanekaragaman dalam satu (bhinneka tunggal ika). Maka Indonesia adalah Negara yang secara legal memberikan ruang adanya pertumbuhan dan keanekragaman dalam segala aspek termasuk dalam hal kepercayaan. Jika kemudian pada suatau saat ada kelompok tertentu memaksa untuk mendominasi ruang tersebut, secara tidak langsung kelompok tersebut telah melukai tatanan umum. &lt;br /&gt;Dalam suasana berbangsa dalam Negara yang terbuka tersebut setiap kelompok meminta kesetaraan dalam berkehidupan. Agama dan kepercayaan yang ada juga memiliki hak kesetaraannya dalam menikmati kehidupan berbangsanya. Catatan sejarah menyatakan bahwa, Negara dan agama memang memiliki kekuatan untuk saling mendominasi. Tidak bisa dipungkiri agama dan Negara  juga sangat mempengaruhi suatu kemajuan yang besar, akan tetapi sebaliknya keduanya bisa saja menjadi sumber kemunduran atau malapetaka. Adakalanya Negara bertatahta di atas agama (pra abad pertengahan), begitu juga agama pernah bertahta di atas Negara (abad pertengahan), tetapi pada kenyataan lain akhirnya Negara berpisah dari agama (pasca abad pertengahan hingga saat ini).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Negara dan agama seperti yang terurai di atas jika dikaitkan dengan konteks negeri ini maka bisa dikatakan bahwa Indonesia berada pada Negara yang memisahkan dari agama walau di beberapa sisi terdapat hubungan yang cukup inten dalam beberapa persoalan. Indonesis secara khusus memang mempunya konteks historis yang unik terkait terdapat sejumlah kubu yang ikut serta dalam membangun negeri ini. Waktu itu ada kubu kebangsaan, nasionalis, agama dan Islam sekuler. Sehingga pada tahap perkembangannya akhirnya Indonesia menjadi Negara pancasila dimana pada sila pertama Indonesia tidak melepaskan keikutsertaan Negara dalam mengarahkan rakyatnya dalam hal beragama, tetapi tetap tidak ada unsur pemaksaan, akan tetapi hanya menyebutkan kebertuhanan kepada Tuhan yang Esa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu masih dari dimensi sejarah masa lalu, bangsa ini mempunyai sejumlah kerajaan yang sejatinya juga mempunyai hubungan harmonis dengan agama-agama diantaranya ada Mataram pertama kalinya dengan agama Hindunya, Sriwijaya dengan agama Budhanya serta Majapahit dengan Hindu siwanya. Sejumlah warisan inilah yang kemudian tidak bisa menjadikan bangsa ini betul-betul berada pada titik sekuler seperti halnya Negara-negara Barat. Agama dan Negara dalam tatanan publik konteks keindonesiaan sama-sama memiliki legitimasi simbolik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan semakin dewasanya bangsa ini nampaknya Islam menjadi suatu kekuatan tersendiri yang kemudian pada babak awal didirikannya bangsa ini terjadi perdebatan yang cukup alot mengenai pijakan dasar dari Negara ini. Walau Islam bisa dibilang sangat dominan ketika itu, tetapi pertautan sejarah masa lalu tidak bisa diabaikan begitu saja, kebhinnekaan bangsa ini tidak bisa dipugar begitu saja dengan memihak pada kubu tertentu yang kuat secara politis dan massa. Untuk menjawab semua itu akhirnya negeri ini secara khusus mendirikan suatu lembaga khusus yang membidangi hubungan Negara dan agama yang kemudian dikenal dengan Depertemen agama(sekarang kementerian agama).  Namun maksud dari adanya kementrian agama tersebut bukan berarti Negara ikut campur dalam keberagamaan penduduknya, tetapi Negara tetap berpegang teguh pada dasar Negara yang memberikan kebebasan dalam memeluk agama yaitu bunyi sila pertama dari Pancasila dan pasal 29 ayat (2) UUD’ 45 yang berisi tentang kebebasan beragama dan jaminan tidak ada diskriminasi agama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Negara dengan sejumlah catatan sejarah dan data di atas menempatkan Negara ini tidak akan pernah lepas dari pluralitas. Pada saat yang sama kondisi itulah yang kemudian memberikan kesadaran bagi setiap agama agar senantiasa melakukan pembacaan terhadap konteks yang ada dengan harapan agar tercipta kesepahaman akan adanya kelompok-kelompok lain yang juga punya hak yang sama di Negara ini. Setiap kelompok apapun harus tetap menjaga integrasi bangsa ini, beragam adalah keniscayaan sementara menjaga keutuhan bangsa adalah tugas bersama.&lt;br /&gt;Upaya memuluskan hubungan yang harmonis dalam kehidupan beragama di Negara ini, maka kemudian menjadi keniscayaan menformulasikan satu ideologi yang bisa meghantarkan setiap agama tersebut pada kedamaian bersama dan ketenangan mengamalkan ajaran agama oleh masing-masing pemeluknya. Disinilah kemudian pluralisme agama bisa dilirik untuk kemudian diupayakan menjadi satu pola kehidupan beragama yang bersinergi dalam menggapai nilai kemanusiaan yang tinggi, dengan harapan kemejemukan di tubuh bangsa ini bisa terjaga sehingga kebesaran dari bangsa ini memunculkan peradaban-peradaban yang unggul di mata bangsa-bangsa yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C.Pengertian Pluralisme Agama&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pluralisme dalam arti yang sangat sederhana adalah kemajemukan. Pada kenyataannya pluralisme dianggap sebagai paham yang paling mengerikan ditinjau dari sudut pandang agama-agama samawi (Yahudi, Kristen da Islam).  Hal itu karena adanya pengawetan yang cukup kental terhadap ideolgi ekslusif yang dikembangkan oleh agama-agama tersebut selama ratusan tahun yang silam. Ideology eklusifisme yang dimaksud adalah berupa claim of truth “klaim kebenaran” dan claim of salvation “klaim keselamatan” yang ada pada masing-masing agama tersebut.  Dalam arti yang lebih sederhana masing-masing agama tersebut menilai agama yang lain dengan memakai teologinya agamanya sendiri tanpa menyisakan ruang toleransi untuk berempati dan bersimpati tentang bagaimana orang lain memangdang agamanya sendiri.  Dengan pola ekslufitas tersebut menemptakan pluralisme sebagai ancaman bagi agama yang disebutan di atas termasuk dalam Islam itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme merupakan suatu gagasan yang mengakui kemajemukan realitas. Ia mendorong setiap orang untuk menyadari dan mengenal keberagaman di segala bidang kehidupan, seperti agama, sosial, budaya, sistem politik, etnisitas, tradisi lokal, dan sebagainya.  Gagasan yang dimaksudkan adalah dalam rangkan mencipatakan kesepahaman, toleransi dengan tujuan membentuk masyarakat plural yang produktif. Ada kenyamanan, ketentraman, keadilan dan kemerdekaan yang setara, sehingga secara tidak langsung mereka secara bersamaan menjadi masyarakat yang kokoh dalam memajukan lingkungannya.&lt;br /&gt;Sejatinya pluralisme bukanlah paham yang secara tiba-tiba muncul dari ruang hampa, akan tetapi disitu terdapat penghubung yang kokoh antara diskursus sekularisme, liberalisme yang kemudian lahirlah pluralisme. Sekularisme muncul sebagai dampak dari perselingkuhan antara agama dan Negara yang melumpuhkan kondisi keadilan sehingga kemudian lahirlah ketidak percayaan publik yang kemudian berujung adanya sekularisme. Liberalisme lahir dari keterkungkungan oleh satu doktrin yang kurang fair sehingga ada kelompok tertentu tertindas, seperti halnya contoh mencuatnya teologi eklusifisme di tubuh agama-agama di atas. Dari kemandegan tesebut maka kemudian lahirlah ide liberalism yang kemudian merekomendasikan adanya ruang kemerdekaan dalam memeluk agama. Secara tidak langsung kemudian dari leiberalisme tersebut memunculkan kelompok-kelompok agama dan pada akhirnya mengharuskan adanya pluralisme sebagai satu pengharrgaan terhadap plualitas yang ada.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme agama juga bisa diartikan sebagai upaya saling mengenal antar agama yang satu dengan agama yang lainnya. Disitu kemudian terjadi perluasan wawasan dengan tidak bermaksud mendiskreditkan. Ada penghargaan terhadap perbedaan, bukan mencemooh perbedaan tersebut. Bahkan pada kondisi tertentu menempatkan perbedaan tersebut  sebagai nilai kebenaran bentuk lain daripada apa yang dinytakan dalam agama. Di sisi lain pluralisme bisa dikatakan sebagai etika global yang didasarkan pada penderitaan manusia akibat adanya kelesuan moral, sehingga dengan pulralisme tersebut akan tercapai kesejahteraan manusia dan lingkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian pluralisme dalam konteks kontemporer bisa dinyatakan sebagai keterlibatan aktif dalam keragaman dan perbedaannya untuk membangun peradaban bersama. Menurut Nurcholis Madjid pluralisme itu tidak sekadar mengakui pluralitas keragaman dan perbedaan akan tetapi gerakan yang aktif merangkai keragaman tersebut untuk tujuan-tujuan sosial yang luhur yaitu untuk kebersamaan dan peradaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D.Perkembangan Pluralisme Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme pada perkembangannya menjadi suatu wacana yang cukup ramai dibicarakan, terutama pasca reformasi. Keramaian itu semakin menguat semenjak MUI memutuskan fatwanya yang mengharamkan terhadap sekularisme,  liberalisme dan pluralisme pada tahun 2005. Kemudian yang paling menarik untuk diperhatikan pasca keluarnya fatwa tersebut adalah semaraknya respon publik yang diwakili oleh sejumlah LSM Islam yang dengan antusias menyuarakan tiga isu tersebut, bahkan selama kurun lima tahun sejak pengharaman tersebut, tiga isu besar tersebut semakin menemukan performanya yang semakin matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain respon dari sejumlah LSM dua arus besar Islam di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan NU juga ikut meramaikan wacana tersebut. Kelompok muslim lain seperti Persatuan Islam (PERSIS), Nahdatul Wathan di NTB, Darul Dakwah wa Irsyad (DDI) di Sulawesi, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) serta Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga memainkan perannya dalam merespon tiga wacana tersebut.  Ditenga-tengah tempratur terbukanya demokrasi, masing-masing kelompok tersebut mempunyai hak yang sama dalam mengungkapkan pendapatnya, sebagian ada yang bersikukuh menolak, sebagian yang lain dengan penuh kemantapan menerima pluralisme sebagai sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat lebih dekat dua mainstream NU dan Muhammadiyah telah banyak lahir dari rahim keduanya komonitas-komonitas Islam yang begitu gigih mengangkat isu pluralisme, sehingga pada sisi yang lain kedua mainstream tersebut dipercaya sebagai sisi Islam yang cukup moderat yang mampu meredam radikalisme dan militanisme Islam yang biasanya lahir dari kubu-kubu yang menamakan dirinya sebagai Islam puritan. Gerakan tradisional diwakili oleh NU sementara gerakan Islam modernis diwakili Muhammadiyah. Abdurrahman Wahid dan Masdar F. Mas’ud dua tokoh representaif yang lahir dri NU telah memainkan perannya dalam mengapresiasi pularlisme.  Bahkan Gusdur pada suatu mement dinobatkan sebagai bapak pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Muhammadiyah yang sejak awal merepresentasikan dirinya sebagai gerakan Islam modernis tentu secara otomatis akan menerima pluralisme sebagai keniscayaan. Ahmad Dahlan misalnya sebagai pendiri Muhammadiyah mempunyai wawasan ke depan yang cukup progresif yang di dalamnya tertampung pluralisme sebagai suatu keharusan. Hal itu tercermin dari sikap riil KH. Ahmad Dahlan yang mempunyai banyak kolega dari non muslim. Cerminan tersebut mengindikasikan bahwa Muhammadiyah sejatinya secara ideology telah menganut ideology inklusif dan plural. Syafi’I Ma’arif menjadi cerminan fundamental adanya penerimaan terhdap pluralism dalam tubuh Muhammadiyah.  &lt;br /&gt;Akan tetapi jika dibandinkan dengan NU, isu pulralisme dan sikap progresif yang dikembangkan di Muhammadiyah bisa terbilang tertinggal. NU sudah sejak tahun 1980-an sedangkan fenomena yang demikian dalam Muhammadiyah baru muncul pada paroh akhir tahun 1990-an. Ketertinggalan Muhammadiyah dalam menangkap keniscayaan tersebut menjadikan Muhammadiyah sedikit lebih tertutup mengingat sebagian massanya terjebak pada gerakan-gerakan ektrem yang menghendaki ideologi ekslusif yang pada akhirnya memunculkan gerakan puritanisme. Walau demikian di tubuh NU sendiri juga mengemukan sub kelompok yang juga cukup tetutup dalam menerima pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konkret Muhammadiyah dan NU benar-benar telah menelorkan pengarusutamaan (mainstreaming) ide-ide sekularalisme,liberalism dan pluralisme  dalam beberapa kajian yang berafaliasi pada keudanya. Islam Liberal lewat artikel menggugahnya Ulil Absar Abdalla yang dipublikasikan di Kompas pada tahun 2002 membuka diskursus baru tentang tiga isu tersebut. Kelompok ini merupakan representasi dari kubu NU,kemudian sejumlah LSM lainnya seperti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), The Wahid Institute (TWI) dan Lembaga Kajian Islam dan Masyarakat (LKiS) menjadi agen dari mainstreaming yang bekembang dalam NU. Sementara kajian-kajian yang merepesntasikan dari kubu Muhammadiyah seperti, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Yayasan Paramadina, Internasional Center for Islam and Pluralism (ICIP), Ma’arif Institute dan JIMM.  Sejumlah kajian itulah yang kemudian menjadi media penghantar dari ide-ide teoritis untuk kemudian ditansmisikan pada dunia riil. &lt;br /&gt;Sejumlah tokoh Muhammadiyah yang bisa dibilang cukup kuat dalam menyuarakan ide pluralisme pada tngkat kajian-kajian tersebut dan dunia intlektual adalah, Ahmad Syafii Maarif,M Dawam Raharjo,Moeslim Abdurrahman, M. Amin Abdullah dan Abdul Munir Mulkhan. Merekalah para tokoh senior yang juga secara fisik terlibat dalam pengkaderan pemikir muda Muhammadiyah saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dua ormas besar itu mainstreaming juga di dapati pada dunia kampus. UIN Jakarta dan UN Yogyakarta dua kampus yang representative secara aktif terlibat dalam menyuarakan tiga isu tesebut. Tokoh-tokoh yang terlibat di UIN Jakarta ada Harun Nasution yang mampu memberikan pandangan pulralisnya lewat teks bukunya denga judul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang didalamnya terdapat pemahaman Islam secara komprehensif. Disusul kemudia oleh Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra yang menginginkan agar UIN tidak lagi hanya bersifat fiqih oriented tetapi harus dikembangkan pada wawasan keilsman yang lain menyagkut kemodernan, ilmu pengetahuan dan kebangsaan.  Sementara di Yogyakarata ada Mukti Ali dan Amin Abdullah yang dalam segmen wawancara di Kompas edisi 7 Oktober 2008 menyatkan bahwa UIN Sunan Kalijaga mendukung pluralisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data di atas menunjukkan bahwa isu pluralism dalam perkembangannya memang telah diamini oleh dua ormas tebesar di Indonesia sekaligus juga didukung secara akdemis oleh dunia intlektual yang diwakili oleh dua Univesitas Islam Negeri Jakarta dan Yoyakarta yang sudah secara aktif ikut andil dalam laju perjalanan pulralisme di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;E.Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pluralitas dalam konteks Indonesia merupakan keniscayaan sejak lahirnya bangsa ini. Catatan sejarah sejak pra terbentuknya bangsa ini memang telah banya disinggahi berbagai macam peradaban. Memberengus serta mengabaikan kemajemukan adalah kebrutalan yang menghantarkan pada disintegrasi bangsa. Dukungan secara hukum lewat undang-undang yang tersurat dalam tubuh bangsa ini serta tumpukan sejarah bangsa ini setidaknya menjadi pijakan utama dalam merumuskan eksistensi agama di lingkungan negeri ini. Islam sebagai bagian dari bangsa ini sudah selayaknya menjadi pelopor mengingat kondisi politk dan massa yang cukup domnan. Keangkuhan serat fanatisme buta perlu dihijrahkan kemudian mengambil pluralisme dengan melibatkan rasa kemanusiaan dan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menlanjutkan proyek mulia tesebut, ormas-ormas Islam dan dunia akademik Islam agar terus menopang gelaran puluralisme agama tersebut guna membangun kerjasama yang produktif dalam rangka membangun peradaban yang maju. Kini saatnya berubah, demi orentasi mulia menatap kesetaraan umat beragama serta masa depan bangsa yang cemerlang. Semoga…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8508293123983966250?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8508293123983966250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8508293123983966250' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8508293123983966250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8508293123983966250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2011/01/islam-dan-pluralisme-di-indonesia.html' title='ISLAM DAN PLURALISME DI INDONESIA'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6989823633332864417</id><published>2010-08-23T08:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-23T08:54:34.091-07:00</updated><title type='text'>MENDAMAIKAN TUHAN DAN MANUSIA</title><content type='html'>Agama secara normatif adalah seperangkat tawaran yang mengarahkan manusia menjadi semakin tahu terhadap penciptanya. Di sisi lain agama adalah jalan hidup yang menghantarkan pada kedamaian. Begitu sangat ideal makna dari sebuah agama, walau wajah agama secara riil sering kali mencumbui substansi normatif tersebut. Kondisi yang demikian sedikit membuat sekelompok orang berkecil harapan tehadap solusi-solusi yang ditawarkan oleh agama. Agama yang sejak awal sebagai media untuk membagi kedamaian diantara manusia, kini terdapat sejumlah kasus yang bermuatan konflik akibat kecemburuan yang berangkat atas nama agama. Lambat laun seiring dengan kesadran manusia agama akan menjadi cermin dari sejumlah kekerasan dan konflik yang membelah perdamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebencian, permusuhan bahkan mungkin perang adalah penuturan sejarah yang tidak bisa disisihkan begitu saja sebagai akibat dari wajah ekstrim dari agama. Kedamaian dan ketenangan akhirnya menjadi satu cita-cita yang tidak pernah kunjung terwujud. Semua itu mungkin diakibatkan dari paradigma keberagamaan yang beranjak dari pandangan teosentris, sehingga nilai-nilai kemanusiaan menjadi terabaikan. Agama seakan-akan untuk Tuhan atau dalam pandangan lain Tuhan-Tuhan yang ada itu mesti dibela walau darah menjadi taruhannya. Sungguh kondisi ini adalah bagian terburuk dari wajah Tuhan yang semestinya mengasihi dan menyayangi manusia berubah menjadi Tuhan-Tuhan yang bringas yang menyengsarakan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Tuhan mungkin tidak akan pernah mau jika ditempatkan sebagai sumber kesenjangan dan konflik di dunia ini. Tuhan dengan segala kebesaran-Nya  terdapat ruang yang cukup luas untuk mengelak dari berbagai tuduhan. Sejumlah kasus pertumpahan darah atas nama besar-Nya nampaknya tidak cukup untuk menempatkan Tuhan pada ruang pesakitan. Lihat saja beberapa orang yang menjadi korban dari Tuhan-Tuhan yang berwajah bringas. Salah satu tokoh sufi dalam dunia Islam misalnya Al-Hallaj dengan argumennya “Ana al-Haqq” (aku adalah Tuhan) dinilai menyalahi syariat dan dianggap sesat. Sebagai hukuman baginya beliau dijatuhi hukuman mati di tiang salib, dipotong kedua tangan dan kakinya lalu kemudian mayatnya dibakar serta dibuang di sungai tigris. Semua kronologi memalukan ini adalah bagian kecil dari Tuhan-Tuhan yang meminta dibela, sehingga darah dan jiwa manusia menjadi tidak berharga. Sejumlah tokoh lainnya seperti Shihab al-Din Yahya al-Suhrawardi juga diakhiri hayatnya dengan hukuman mati dengan tuduhan yang sama yaitu menyimpang dari syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantaian atau pembunuhan sadis di atas adalah serangkaian peristiwa yang menodai kesucian agama dan Tuhan itu sendiri. Kreatifitas dan ruang berfikir manusia seakan disekat dan dibatasi oleh keangkuhan Tuhan sebagai sang Maha Besar. Sejatinya Tuhan dalam arti Tuhan yang sejati tentu tidak akan pernah bringas, kebesaran-Nya akan mewadahi seluruh kreatifitas manusia dalam mencari kebenaran-Nya. Bila dilihat lebih detail, Tuhan akan tersenyum melihat perbedaan itu sebagai konsekwensi kebebasan yang dianugerahkan kepada manusia, hanya saja manusia sajalah yang mendahului Tuhan dalam bersikap, seakan sekelompok orang ekstrimis ini berlomba menjadi pahlawan di hadapan Tuhan (syahid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekslusivitas adalah corak dari pemikiran yang sempit yang menghadirkan cinta kepada Tuhan yang buta. Cinta buta dalam arti tidak mengindahkan kelompok lain sebagai sebuah usaha yang juga berpotensi menghadirkan cinta kepada Tuhan. Jalan atau pilihan orang lain dianggap keliru dan perlu dibasmi dari muka bumi. Cinta seperti inilah dikategorikan oleh novelis Inggris A.N. Wilson sebagai cinta yang mengakari segala kejahatan. Secara tegas dia menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan sebagai sumber dari segala kejahatan. Pernyataan tegas ini diikuti sejumlah tragedi tragis seperti yang tertuturkan di sebelumnya, sehingga pada tahap pernyataan akhir bisa dinyatakan bahwa tidak ada suatu agama yang tidak ikut bertanggung jawab atas segala perang, tirani dan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelaran sejarah panjang agama yang kelam di atas apakah kemudian akan mengubur agama, ataukah manusia akan gerah dan memilih alternatif lain? Semua kemungkinan serba terbuka, seluas alam pikiran manusia dan kebenaran Tuhan yang ada. Kondisi ini tentu sedikit mengkhawatirkan institusi agama yang ada, Islam, Kristen dan Yahudi sebagai agama Ibrahim dengan predikat agama samawi juga akan mengalami kondisi yang sama yaitu keusangan. Usang dalam arti akan ditinggalkan oleh manusia secara institusi walau mungkin secara esensi akan tetap berlanjut. Pada saatnya, dalam percaturan kehidupan manusia masa depan tidak akan pernah lagi mengenal nama agama secara institusi. Artinya, agama-agama saat ini yang menjadi anutan akan tersisa sebagai sebuah cerita saja seperti halnya agama-agama kuno yang saat ini hanya tertinggal guratan sejarahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan New Religious Movement (NRM) sebagai sebuah wacana memang sudah sejak lama mengakar di pergumulan pemikiran manusia modern. Sebagai akarnya bisa dilihat dari pernyataan Arrazi yang menolak konsep kenabian. Arrazi berpendapat bahwa, akal secara potensi sangat mampu membedakan antara yang baik dan buruk, serta pada taraf tertentu akal juga mempunyai kemampuan mengurai rahasia-rahasia ilahi. Seluruh manusia dianugerahkan pada standart yang sama, munculnya nabi pada suatu kelompok hanya memancing adanya fanatisme yang kemudian pada akhirnya akan terjadi jegal menjegal antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Keberadaan para nabi hanya membentuk institusi-institusi agama yang mengarah pada perpecahan. Bermula dari keberanian ini, gerakan-gerakan makar terhadap institusi agama bermunculan dan membentuk komonitas yang meminta satu kebebasan untuk menjumpai Tuhannya secara individu menurut cara dan kapasitas nalarnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arazi dengan pendapatnya di atas dianggap membahayakan sehingga kehidupannya juga diakhiri dengan pertumpahan darah. Sejumlah kejadian tragis akibat sikap ektrimis kaum agamawan tidak akan pernah membuat otak manusia berhenti untuk berfikir mencari kebenaran Tuhan, sehingga perbedaan dan keragaman akan terus bergulir hingga akhir masa. Arrazi, al-Hallaj serta sejumlah tokoh lainnya dengan pandangannya yang berbeda boleh mati di tiang gantungan, akan tetapi spiritnya dalam mencari kebenaran Tuhan akan terus mengalir deras pada generasi selanjutnya. Tindakan fisik yang anarkis tidak akan pernah merubah keadaan, hanya dengan pesan-pesan bijaksana dan argumentatif saja manusia itu akan tunduk, hal itu merupakan konsekwensi dari predikat manusia sebagai makhluk yang berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas menggambarkan suatu keadaan yang cukup kritis yang menghendaki jalan alternatif untuk mendamaikan Tuhan dan manusia. Mendamaikan dalam arti menjadikan agama yang diturunkan oleh Tuhan benar-benar kembali sebagai jalan yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya secara harmonis dan berimbang, tidak melulu penghambaan, akan tetapi juga sebagai media perdamaian diantara banyak perbedaan yang ada. Satu solusi sebagai salah satu tawaran adalah, sikap pluralis yang mesti ditumbuh-kembangkan dalam setiap agama yang ada. Pluralisme agama diharapkan juga tidak hanya sebatas idealitas tetapi bisa mampu mengakar sebagai bagian dari aktualitas konkret di tengah-tengah umat beragama. Bentuknya bisa bermacam-macam tergantung seberapa jauh suatu agama dalam mengembangkan daya kreatifnya dalam mengemas ajaran pluralisme ini sebagai upaya mendamaikan dunia, sekaligus juga pada sisi yang lain adalah mendamaikan kepentingan Tuhan dan manusia. Tawaran ini cukup layak untuk dipertimbangkan agar kemudian bisa mengentas posisi intitusi agama dari keusangan yang mengancam. Semoga…….[ijan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6989823633332864417?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6989823633332864417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6989823633332864417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6989823633332864417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6989823633332864417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/08/mendamaikan-tuhan-dan-manusia.html' title='MENDAMAIKAN TUHAN DAN MANUSIA'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6946763557962477592</id><published>2010-07-13T18:09:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T18:50:29.247-07:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN PERADABAN ISLAM BERKEMAJUAN DAN MANDIRI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Refleksi Perkuliahan Akhir Semester II&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Prolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pengalaman yang cukup mengesankan ketika penulis bisa mengikuti perkuliahan di Program Pasca Sarjana fakultas Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA), setelah sebelumnya penulis hanya bisa bergulat dalam dinamika kehidupan pesantren yang begitu sangat kental dengan tekanan dogma-dogma agama saja. Pengalaman selama kurang lebih dua semester telah memberikan nuansa baru dalam pandangan hidup penulis, mulai dari cara merespon gejala yang mengemuka dalam gumulan pemikiran sampai pada sesuatu yang bersifat teknis sekalipun. Ada semacam wawasan yang lebih humanis, penulis tidak lagi dengan serta merta mendudukkan gejala-gejala keagamaan dan sosial pada teks agama saja, namun dengan suka rela penulis sedikit memberikan ruang ekspresi yang cukup luas terhadap nalar sebagai pendamping dari teks agama sebagai rujukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pencapaian di atas tergolong cukup signifikan setelah sebelumnya penulis dipandang kurang harmonis dalam mendamaikan persoalan sosial keagamaan dengan teks agama. Misalnya pada sejumlah persoalan yang diklaim oleh banyak orang sebagai produk Barat, seperti isu pluralisme, libaralisme, humanisme, HAM serta sejumlah isu lain yang cukup mengemuka yang berkelindan dengan ajaran-ajaran agama. Sejumlah isu tersebut dipandang sebagai produk Barat yang tidak layak untuk dirujuk sebagai fundamen dari gerak laju kehidupan sosial umat Islam. Pandangan miring terhadap Barat menjadi satu hantu yang terus menakut-nakuti dialektika pemikiran penulis dalam menjalankan keislaman penulis selama ini. Namun seiring dengan keikutsertaan penulis di sejumlah perkuliahan dan perkenalan yang cukup dekat dengan sejumlah wacana pemikiran yang berkembang, akhirnya perjalanan tersebut bisa membawa penulis pada satu gelaran kemerdekaan dalam menentukan sikap keagamaan dalam menjalani kehidupan riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dari awal Al-Qur’an dan Sunah merupakan rujukan paling fundamental yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika perkembangan umat Islam. Pencapaian umat Islam lewat peninggalan-peninggalan sejarah yang tergolong cukup memukau merupakan satu catatan bahwa Islam mempunyai potensi menjadi kaum yang terbaik di muka bumi ini. Sebagai contoh, pencapaian umat Islam pada dinasti Umayyah di Andalusia adalah satu cerminan bagaimana umat muslim menapaki titi klimaks dari peradaban yang tersuguhkan saat itu. Pada saat itu tercipta kesadaran yang begitu total tehadap pengetahuan dengan ditandai adanya hubungan yang sangat erat antar umara’, ulama’ dan aghniya’, sehingga kemudian bisa dikatakan Andalusia adalah cerminan dari bangkitnya ilmu pengetahuan dan filsafat.[1] Sejumlah pencapaian lainnya memang sempat membelalakkan dunia, terutama bagi dunia Barat saat itu. Namun saat ini, pencapaian yang gemilang tersebut hanya terlipat di lembaran masa lalu,dan yang tersisa adalah ketertinggalan umat Islam di berbagai lini kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran ini tentunya diharapkan bisa memantik potensi yang sempat tergulung arus romantisasi sejarah yang cukup lama menjangkiti umat Islam. Bergembira ria terhadap torehan sejarah kemeriahan umat Islam masa lalu walau tidak sampai dikatakan salah, tetapi memang perlu diluruskan pada pewarisan spiritnya. Tidak hanya berkisar pada apresiasi pasif, tetapi yang diharapkan adalah, apresiasi aktif yang ditandai dengan semangat yang kuat untuk terus maju dan maju. Pencapaian gemilang di masa lalu bukanlah potret statis dari Islam yang sebenarnya. Islam diharapkan terus mampu menyodorkan pencapian-pencapaian yang lain, tentu pencapian tersebut tidak harus sama dengan masa lalunya. Islam saat ini mempunyai potensi dan tantangan yang berbeda dengan apa yang dahadapi Islam masa lalu. Karenanya, Islam yang benar itu selalu mampu memberikan pencapaian yang gemilang bagi umat dan zamannya. Jika saat ini Islam yang mengemuka berupa representasi dari Islam masa lalu maka keberadaan Islam pada saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Pada pandangan yang lain, jika seperti yang tergambarkan tersebut sebelumnya, Islam bisa dikatakan berada pada titik kejenuhan yang cukup akut. Jenuh dalam artian Islam tidak akan mampu lagi membuat dunia ini damai, sehingga pada saat yang sama Islam tidak lagi bisa dikatakan sebagai agama rahmatan lil’alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suguhan yang mengemuka dengan ketertinggalan Islam di berbagai sektor kehidupan secara tidak langsung mejadi satu tanggung jawab yang harus dipikul oleh masing-masing individu muslim. Ketertinggalan tersebut bukan satu isapan jempol, tapi bsa dilihat pada beberapa Negara yang sangat tegantung dengan produk-produk Barat, mulai dari sistem ekonomi sampai pada ideologi politiknya begitu sangat tergantung pada dunia Barat. Kembali pada persoalan kadar tanggung jawab yang ditempakan pada masing-masing idividu tentu cukup beragam, tegantung seberapa besar potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Tetapi secara  umum, setiap individu mempunyai tanggung jawab untuk membawa Islam pada kesempurnaan. Kalangan akademik atau cendikiawan muslim mempunyai tanggung jawab yang relative lebih besar dibandingkan kalangan awam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan Islam menemukan jati dirinya tidak semudah yang diperkirakan, terdapat gejala pemetaan mengenai konsep idealitas Islam sebagai sebuah tuntunan. Jika dilihat dari gerakan yang mengemuka ke ranah publik, pandangan mengenai Islam sebagai seperangkat peradaban terbagi menjadi dua bagian, ada kelompok modernis yang cenderung membatasi Islam dengan batasan-batasan kesalehan pribadi, iman dan ritual. Kelompok kedua adalah, kelompok tradisionalis yang menggambarkan Islam sebagai suatu jalan hidup yang sempurna.[2] Pembagian ini nampak cukup berbeda dengan pendapat lain yang biasa dikenal, tadisionalis pada pada pandangan lain biasa dilekatkan sebagai kelompok yang bersikukuh pada ranah penghambaan saja, sedangkan kelompok modernis biasa dikenal sebagai keompok yang sedikit membuka diri pada sesuatu yang bersifat kemanusiaan. Telepas dari itu, kedua kelompok tersebut secara konkret masih bekerja pada ruang yang relative sempit dan terbatas, sehingga Islam dalam konteks sebagai frame dari peradaban yang maju masih menjadi proyek yang terus harus menjadi bagian yang terpikirkan oleh setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran singkat di atas bisa dipetakan bahwa muslim saat ini yang berkelindan dengan kemunduran yang tidak disadari bermula dari romantisme sejarah yang berkepanjangan, kemudian akhirnya membuahkan polarisasi pandangan, ada yang hanya berkisar pada pandangan tradisonal dan modern yang merepresentasikan dari keterbatasan keduanya. Sehingga cita-cita untuk membagun Islam sebagai peradaban yang unggul tidak kunjung tergapai. Keberadaan inilah yang kemudian menjadikan umat muslim sejagat raya ini harus menyadari bahwa dibalik gemerlapnya dunia nyata ini terdapat seperangkat proyek besar yang cukup mendesak dan perlu penyelesaian secepatnya, agar cita-cita luhur menciptakan peradaban yang unggul dan mandiri bisa terealisasi. Secara garis besar rumusan masalah dari tulisan ini adalah, bagaiamana membangun peradaban Islam yang berkemajuan serta mampu menjamin kedamaian bagi umat dan dunia secara umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamini dari proyek besar di atas, tentu dalam hal ini kalangan akademik menjadi garda depan sebagai pengemban amanah tersebut. Setidaknya dua potongan gambaran kecil dari pandangan umat muslim secara umum yang tersebut diatas adalah satu modal dalam merangkai cita-cita membangun peradaban yang utama. Melalui refleksi ringan gelaran perkuliahan di akhir semester ini, penulis mencoba mengkonstruksi Islam sebagai sebuah agama sekaligus juga sebagai frame dari sebuah peradaban yang maju. Pandangan-pandangan yang akan mengemuka dalam tulisan ini berupa tijauan filosofis mengenai dinamika Islam dalam konteks kekinian, pada sisi yang lain tulisan ini mengupayakan adanya bangunan wacana yang mampu mendobrak kejumudan dan menghantarkan Islam pada tingkat peradaban yang membanggakan. Tentu menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan adanya kritik ataupun apresiasi terhadap beberapa perkuliahan yang sempat penulis ikuti selama kurun waktu enam bulan yang lalu. Maksud dari refleksi ini tidak lain hanya gambaran kecil dari apa yang dapat dicerna penulis lewat perkuliahan yang disuguhkan oleh kampus. Pada dimensi pribadi, hal ini merupakan konsekwensi dari sebuah pilihan yang mewajibkan penulis harus mampu menjadi bagian akademisi yang aktif dan dinamis dari sisi intlektual, emosional serta spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Warisan Sejarah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam kini dengan keadaannya yang bisa dibilang terpuruk seperti yang digambarkan pada uraian di atas memang tidak mudah untuk mengembalikannya pada kondisi yang semestinya. Kondisi Islam yang ideal adalah representasi dari satu peradaban yang maju. Memproyeksikan Islam pada tataran yang ideal nampaknya memang tidak bisa lepas dari kajian mengenai masa lalu. Mengurai masa lalu bukan berarti memupuk Islam saat ini kembali pada kondisi Islam di masa lalu, akan tetapi masa lalu atau sejarah merupakan starting poin dalam mengurai kondisi terdalam dari yang tergelar saat ini. Penuturan sejarah adalah fakta yang sudah jelas, sedangkan masa depan adalah gudang ketidakpastian.[3] Maka cukup tepat jika dalam memetakan keberadaan Islam masa depan yang sarat dengan pertanyaan-pertanyan yang tidak pasti tersebut, meniscayakan masa lalu sebagai penghantar pada kesempurnaan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tidak saja penuturan peristiwa-peristiwa tetapi terdapat di dalamnya seperangkat nilai yang menjanggkiti individu ataupun kelompok masyarakat yang kemudian membentuk seperangkat kebudayaan. Berawal dari inilah kemudian akhirnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan mengenai manusia, pada saat yang lain kondisi ini kemudian melahirkan spektrum keilmuwan baru seperti filsafat ataupun beberapa aliran-aliran yang terdapat dalam agama.[4] Pada ranah nilai-nilai itulah sejarah dipandang cukup diperlukan untuk dilibatkan dalam mega proyek pengembalian Islam pada dimensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya pembacaan sejarah itu diperlukan dalam mengurai dimensi-dimensi yang berkaitan dengan persoalan saat ini. Politik, ekonomi dan kebebasan adalah beberapa gejala yang cukup mengemuka di era modern saat ini. Islam dalam catatan sejarah juga mempunyai khazanah yang sangat berkaiatan dengan beberapa hal tersebut. Gagasan yang bermunculan dari Islam tergolong cukup maju dibandingkan gagasan di luar Islam saat itu, bahkan mungkin untuk ukuran zaman modern dapat dikategorikan masih sangat layak untuk dirujuk kembali. Misalnya pada persoalan HAM, tatanan politik, ekonomi, pularalisme dan pemerintahan Rasulullah memberikan contoh konkret lewat nota kesepahaman Piagam Madinah. Adapun inti dari isi Piagam Madinah adalah seperangkat aturan politik yang diberlakukan oleh Rasulullah dengan memperhatikan pluralitas di lingkungan Madinah yang dipadati oleh berbagai kelompok, suku dan agama. Aturan tersebut menyepakati adanya kebebasan beribadah, hubungan antar kelompok, nuansa nasionalisme serta ada tatanan ekonomi yang berpijak pada keadilan sosial.[5] Sungguh deskripsi tersebut adalah satu contoh kepribadian Islam yang tercermin dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah tersebut semestinya menjadi rujukan bagi setiap muslim agar lebih terbuka dan ramah terhadap berbagai perbedaan. Merujuk pada Sunah tentu bukan sesutau yang keluar dari koridor Islam, maka sangat tidak layak jika kemudian konsep pluralisme dilebelkan hanya sebagai produk Barat, karena pada hakikatnya spirit yang dibawa di dalam pluralisme tersebut sama sekali tidak berseberangan dengan ajaran Sunah yang dicontohkan secara konret oleh Rasulullah. Menyepakati sejarah sebagai media untuk memahami masa  kini dan merumuskan masa depan berarti secara tidak langsung juga menyepakati apa yang semestinya dirujuk dan diadopsi dari peninggalan masa lalu tersebut. Jika pada uraian di atas terdapat contoh konkret dari Nabi, maka keniscayaan kedua dari penuturan sejarah adalah Al-Qur’an. Penyebutan Al-Qur’an setelah sunah bukan berarti terejerambab pada persoalan hirarki, akan tetapi hanya bagian dari retorika penghantar pada pemahamanan yang lebih sederhana, mengingat sunah lebih bersifat praktis sedangkan Al-Qur’an lebih banyak berupa pandangan-pandangan universal mengenai kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an ditempatkan sebagai warisan dari sejarah adalah keniscayaan. Penempatan ini bukan bermaksud merendahkan Al-Qu’an sebagai kitab suci, akan tetapi yang dimaksudkan adalah mengurai kesadaran kemanusiaan pada tataran penghormatan yang proporsional terhadap korpus Islam tersebut. Al-Qur’an adalah bagian dari ledakan sejarah yang berhasil mengubah pola pandang kemanusiaan, karena apa yang tergelar dalam Al-Qur’an lewat ayat-ayat dan 114 surahnya mengandung momen psikologis yang berupa seruan moral dan religious yang mengarahkan pada penyusunan tata kemasyarakatan yang aktual. Dimensi tekanan yang termuat dalam ranah relegius berupa ajaran monotheisme, sedangkan pada ranah kemanusiaan adalah moral serta keadilan sosial.[6] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya semangat dari spirit Al-Qur’an yang universal tersebut belum sepenuhnya dirangkul sebagai satu ajaran yang integral. Umat muslim secara umum cenderung hanya menyentuh bagian-bagian kecilnya saja, sehingga pengamalan keagamaan yang mengemuka tentu sangat terbatas. Hal tersebut sangat terkait dengan apa yang mereka pahami mengenai warisan sejarah ini. Ada kalanya dimensi kepentingan politik atau kelompok tertentu sering kali mendominasi pola pandang pada suatu kelompok. Secara umum terbelahnya pemahaman umat muslim mengenai warisan sejarah bisa dibedakan menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama disebutkan sebagai kelompok moderat yang mencerminkan dari pola pandang lebih progresif, reformis yang berorientasi pada penanggulangan tantangan modernitas. Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok puritan yang diidentikkan oleh banyak pemikir sebagai kelompok ektrimis, radikal, fanatik, jahidis yang bercirikan adanya sikap intoleran terhadap berbagai sudut pandang yang berkompetisi dan memandang realitas pluralis sebagai satu bentuk kontaminasi atas kebenaran sejati.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memihak pada sis manapun, terbelahnya Islam menjadi kelompok moderat dan puritan adalah satu ketertinggalan yang semestinya tidak berlaku dalam Islam. Kedua-duanya sama-sama mempunyai tujuan dalam mengembalikan Islam pada dimensi idealnya. Keterbatsan dan kelebihan adalah keniscayaan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tersebut. Namun kelompok puritan yang cenderung ektrimis nampaknya sedikit membekukan teks Al-Qur’an sebagai teks langit saja yang berkelindan pada taraf penghambaan saja. Al-Quran dalam legislasinya mempunyai dimensi ganda sebagai teks langit serta pada sisi yang lain sebagai teks bumi.[8] Maksud dari penyebutan teks bumi ini adalah, Al-Qur’an diharapkan mampu dimaksimalkan sebagai media penghantar antara apa yang difirmankan Allah terahadap apa yang dibutuhkan oleh manusia. Sejatinya pendapat ini sangat sejalan dengan pendapat yang menyatakan Al-Qur’an sebagai ajaran religious dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala yang nampak, Islam yang mengatasnamakan kelompok kembali pada Al-Qur’an dan Sunah di sejumlah media banyak digambarkan sebagai Islam yang mengajarkan kekerasan. Kekerasan itu banyak dipicu dari sikap intoleran terhadap pluralitas yang melingkupi Islam itu sendiri. Bom bunuh diri serta sejumlah aksi teror lainnya cukup untuk menggambarkan pola pembacaan yang arogan tanpa mendialogkan pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang sejatinya merupakan salah satu bagian paling inti dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Al-Qur’an secara komprehensip dengan melibatkan dialog antara dimensi kemanusiaan memang sebuah keniscayaan untuk mewujudkan sikap positif dalam menilai problem-problem aktual di gelaran zaman. Sebenarnya tidak terlalu sulit dalam mewujudkan pembacaan komprehensip tersebut, mungkin yang paling sederhana adalah melihat Al-Qur’an dan Nabi secara bersamaan dan tidak terpisah-pisah. Al-Qur’an diibaratkan sebagai regulasi dimensi ketuhanan sedangkan Nabi diibaratkan sebagai pembawa regulasi tesebut dengan kemampuan penterjemahan yang sangat gemilang dengan melibatkan dimensi kemanusiaan melalui seting sosial-politik yang kemudian merujuk pada etika sebagai pelengkap dari semua dialog tersebut.[9] Konsep ini cukup sederhana yan sejatinya mungkin bisa melepaskan Islam dari belahan dua kelompok moderat dan puritan. Secara konkret mengenai pembacaan AL-Qur’an dan Nabi bisa dibaca melalui catatan sejarah yang cukup melimpah, disitu terdapat contoh-contoh konkret bagaiamana ajaran-ajaran Al-Qur’an berhasil diimplemantasiakan oleh Nabi tanpa mencederai nuansa kemajemukan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara implisit Al-Quran dan Sunah merupakan warisan sejarah yang sangat mumpuni untuk melihat dan memetakan Islam ke depan. Keduanya adalah kenisacayaan untuk dilibatkan sebagai rujukan yang tidak tergantikan, memahami sajarah panjang Islam dengan menemukan inti sejarah tersebut melalui ajaran atau spirit dalam Al-Qur’an dan Sunah serta melakukan dialog yang proporsional dengan realita merupakan salah satu jalan dalam membangun Islam yang berkemajuan dengan pencapaian peradaban yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tradisi Keilmuan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum intlektual secara implisit adalah kelompok yang mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada kelompok awam dalam rangka pembangunan peradaban Islam yang maju. Melihat tradisi yang melekat pada kaum intlektual tentu merupakan keniscayaan mengingat sebagian besar pencapaian peradaban itu sangat erat kaitannya dengan apa yang ada dalam tradisi kaum intelektual. Secara umum, golongan kaum intelektual jika dilihat dari perannya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, golongan intlektual teoritis, merupakan kelompok intlektual yang berada pada dunia ide. Mereka adalah konseptor-konseptor yang terus punya pemikiran penyempurnaan terhadap dunia konkret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangakan yang kedua adalah intlektual praksis, mereka adalah orang-orang yang bergerak pada tataran dunia konkret dengan tugas melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasi persoalan.[10] Kedua kelompok ini secara besamaan mempunyai tanggung jawab yang sama dalam memajukan Islam kini dan masa yang akan datang. Dengan demikian setidaknya kaum intlektual Islam diharapakan juga tidak hanya condong pada ranah gagasan dan ide, akan tetapi juga diharapakan dari mereka terdapat sekelompok orang dengan gigih menjadi pekerja keras di lapangan. Inilah satu kondisi integrasi yang kokoh antara gagasan dan aksi yang berjalan secara berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dengan tradisi intlektualnya memberikan warna yang cukup beragam terhadap Islam itu sendiri. Ruang yang melingkupi Islam itu sendiri menjadikan wajah Islam tidak hanya sebagai sebuah ajaran akan tetapi memang sudah tereduksi dalam berbagai dimensi, kerenanya keragaman wajah Islam di dunia yang sudah global ini merupakan kepastian. Beragam kepentingan merasuk dalam agama sehingga kemudian memang terdapat kesembrautan yang kemudian melengkapi suburnya keremangan antara yang profane dan yang sakral. Dengan kondisi yang seperti itu mestinya tradisi intlektual Islam mampu sedikit menyingkap keremangan tersebut, salah satu solusi yang mungkin mampu menjamah  keremangan antara yang sacral dan profane (din wa afkar addiniyah) adalah pendekatan filsafat keilmuan agama. Setidaknya lewat pendekatan filsafat dengan tiga penekanannya yaitu, pertama pencarian ide-ide dasar, kedua pendalaman persoalan-persoalan fundamental serta yang ketiga frame work intlektual freedom yang merupakan wadah untuk mengatasi perbedaan pandangan dengan titik tekanan pada sikap toleran di dalamnya.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan filsafat yang ditawarkan di atas cukup untuk dijadikan pijakan dalam mengurai keremangan antara din dan afkar addiniyah, walau mungkin secara konkret mengenai konsep tersebut masih belum terdapat petunjuk teknisnya. Akan tetapi tawaran tersebut adalah proses untuk mengatasi keresahan yang menjangkiti beberapa kelompok ektrimis yang sangat takut dengan gejolak dunia luar tehadap keberadaan agama. Kondisi ini adalah dampak dari keremangan antara yang profan dan yang sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan agama dan ilmu bila ditelusuri memang terdapat pemisah yang cukup jauh. Ilmu relatif lebih terbuka sedangkan agama adalah sebaliknya. Nalar dalam agama cenderung defensive terhadap pemahaman-pemahaman baru. Walau demikian keduanya memungkinkan adanya titik temu, ilmu pengetahuan membantu memberikan kemampuan logis dan kehati-hatian dalam pengambilan kesimpulan sedangkan agama memberikan kesadaran agar ilmu itu tetap bersifat manusiawi. Integrasi keduanya bisa dilakukan namun otonomi tetap layak untuk bersanding pada keduanya, hal tersebut dimaksudkan sebagai kekuatan khas yang melekat pada keduanya.[12] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas bahwa agama dan ilmu dua kekuatan yang tidak boleh saling menikam. Keduanya setali mata uang yang mesti berdampingan dan bukan untuk dibenturkan. Maka jika kemudian tedapat kemajuan dalam ilmu pengetahuan, agama sangat tidak layak untuk menolaknya, tetapi yang semestinya adalah agama mengarahkan dan mengapresiasi dengan posisitif agar kemudian tercipta suatu peradaban yang unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akhir dari rangkaian refleksi perkuliahan ini, maka catatan yang mungkin bisa penulis utarakan mengenai hubungan konsentrasi pilihan penulis dengan peradaban Islam yang perlu dibangun seperti yang diimpikan penulis sebelumnya, setidaknya perkuliahan tersebut didesain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah perkuliahan semestinya membidik mahasiswa lebih kreatif dengan penyuguhan isu-isu aktual, terutama pada materi-materi yang bernunasa sejarah. Selama ini yang terjadi hanya penuturan sejarah yang mati dengan penyebutan nama, lokasi dan waktu peristiwa-peristiwa saja. Disitu tidak terdapat adanya nilai-nilai serta semangat zaman yang bisa diadopsi dalam merespon gejala-gejala kekinian. Tentu hal yang seperti ini menjadikan perkuliahan terkesan lesu dan menjenuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarahkan mahasiswa sebagai agamawan dan cendikiawan secara utuh. Harapan ini walau mungkin terlampau sempurna namun itulah yang semestinya bisa tercipta dalam suatu perkuliahan. Dalam hal ini memang sudah ada beberapa materi yang mampu memantik para mahasiswa berfikir mandiri, kritis dan kreatif. Misalnya pada mata kuliah Filsafat Islam yang nampak lebih serius dengan tekanan-tekanan aktual mengenai persoalan dalam tubuh Islam itu sendiri mengenai konsep, budaya, dogma agama serta hubunggannya dengan dunia luar Islam. Tentu ini perlu dilanjutkan dengan disertai wacana yang terus dinamis. Penulis dalam materi ini sangat puas karena bisa melebarkan wawasan sekaligus memberikan kesadaran akan perlunya peningkatan keilmuan secara terus menerus. Jika kondisi yang tercipta maka persoalan peradaban Islam yang gemilang akan berada dalam genggaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuguhan perkuliahan dengan memunculkan wacana dan isu-isu aktual lewat fakta sejarah adalah keniscayaan. Berpulang pada Qur’an dan hadits serta metodologi dan pendekatan yang tepat merupakan langkah kedua setelah penangkapan warisan sejarah. Dua hal inilah salah satu dari sekian tawaran yang memungkinkan terciptanya peradaban Islam yang unggul dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah ,Amin, Rekonstruksi Metodologi Ilmu-ilmu Keislaman, Yogyakarta: SUKA Press,2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abidin, Zainal (ed), Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, Bandung: Mizan, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali, A. Mukti, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, Jakarta: Rajawali, 1987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;El Fadl, Khaled Abou, Selamatkan Islam dari Muslim  Puritan, Jakarta: Serambi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzi ,Ihsan Ali (ed), Demi Toleransi Demi Pularisme, Jakarta: Paramadina, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryam, Siti (ed), Sejarah Peradaban Islam dari Zaman Kalsik Hingga Modern, Yogyakarta: SPI Adab SUKA, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulungan, Suyuthi, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahman, Fazlur, Islam, Bandung: Pustaka 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahman, Fazlur, Islam dan Modernitas Tentang Trasformasi Intelektual,Bandung: Pustaka, 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sardar, Ziauddin,Masa depan Islam,terj. Rahman Astuti, Bandung: Pustaka, 1987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Siti Maryam (ed), Sejarah Peradaban Islam dari Zaman Kalsik Hingga Modern, (Yogyakarta: SPI Adab SUKA, 2003), hlm. 114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ziauddin Sardar,Masa depan Islam,terj. Rahman Astuti (Bandung: Pustaka, 1987), hlm. 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ibid, hlm. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), hlm. 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1994). Hlm. 80-81.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka 1984), hlm. 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim  Puritan,(Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Dikemukakan Zuhairi Misrawi dalam sebuah artikelnya yan berjudul Wawasan baru Islam: Kado Peikiran untuk Mas Dawam. Bagian artikel sebagai kado ulang tahun Dawam Raharjo yang ke-65, lebih jelasnya lihat Demi Toleransi Demi Pularisme, (Jakarta: Paramadina, 2007) hlm.403&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas Tentang Trasformasi Intelektual, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] A. Mukti Ali, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, (Jakarta: Rajawali, 1987), hlm. 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Amin Abdullah, Rekonstruksi Metodologi Ilmu-ilmu Keislaman, (Yogyakarta: SUKA Press,2003), hlm. 4-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Bambang Sugiharto, “Ilmu dan Agama dalam Kurikulum Perguruan Tinggi” dalam Zainal Abidin (ed), Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 41-47&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6946763557962477592?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6946763557962477592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6946763557962477592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6946763557962477592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6946763557962477592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/07/membangun-peradaban-islam-berkemajuan.html' title='MEMBANGUN PERADABAN ISLAM BERKEMAJUAN DAN MANDIRI'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-195063054031440898</id><published>2010-07-06T19:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T19:49:22.262-07:00</updated><title type='text'>POLITIK SEBAGAI PELUANG ATAUKAH ANCAMAN BAGI MUHAMMADIYAH?*</title><content type='html'>Kemiskinan, kebodohan, penindasan dan ketertinggalan adalah sederet gejala mengkhawatirkan yang menghantarkan suatu kelompok masyarakat atau bangsa berada pada titik terhina. Terhina dalam arti bangsa tersebut  akan tereleminasi dari dinamika kehidupan Internasional jika beberapa gejala tersebut menjangkiti suatu bangsa. Walau mungkin tidak sampai pada titik terhina, maka bangsa tersebut paling tidak, akan sangat mudah diarahkan atau dikontrol oleh bangsa-bangsa lain. Disitulah kemerdekaan menjadi keniscayaan yang harus direngkuh oleh setiap bangsa, merdeka dalam arti tergelarnya kebebasan yang menghendaki setiap individu mampu menentukan sikap dan kreasinya sebagai manusia seutuhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambaran mengkhawatirkan akibat gejala yang mengemuka tersebut diatas tentu akan menjadi suatu kegalauan yang mugkin dirasakan oleh setiap kelompok masyarakat. Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan sudah sejak lama menyadari hal tersebut. Peran Muhammadiyah dalam gerakan pencerahannya telah memberikan konstribusi yang cukup signifikan dalam mengentas bangsa ini dari penindasan, mulai dari penindasan kaum penjajah hingga kemudian akhirnya mampu mengisi menyemarakkan zaman kemerdekaan. Pergerakan Muhammadiyah yang bernuansa progresif adalah representasi dari sebuah organisasi keagamaan yang menghendaki kemajuan. Maju dari berbagai sisi, pendidikan, ekonomi dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperangkat cita-cita luhur Muhammadiyah lewat pemikiran Ahmad Dahlan dalam menghantarkan Islam sebagai agama berkemajuan tentu sangat terkait dengan gerakan-gerakan pembaharuan di dunia Internasional. Misalnya saja dalam perjalanan studi KH. Ahmad Dahlan yang bersentuhan erat dengan beberapa pemikir dunia ketika itu. Waktu  itu KH. Ahmad Dahlan sudah sangat akrab dengan pemikiran beberapa tokoh diantaranya, Muhammad Abduh , Jamaluddi Al-Afghani, Rasid Ridha, Muhammad Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah. Sejumlah tokoh tersebut telah banyak memberikan inspirasi terhadapa KH. Ahmad Dahlan dalam pemahaman keagamaan dan pergerakan Muhammadiyah di tanah air. Begitu cukup segar apa yang dibawa oleh Ahmad Dahlan waktu itu, sehingga cukup untuk menggerakkan bangsa ini dari kebodohan, kemiskinan dan penjajajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir, tanpa terasa saat ini usia Muhammadiyah sebagai pergerakan dan organisasi Islam memasuki abad ke-2. Artinya, sudah seratus tahun Muhammadiyah memainkan perannya di jagat nusantara dalam memajukan bangsa ini. Penjajahan sudah terlewati, persoalan bangsa semakin kompleks tidak hanya terhenti pada persoalan kemiskinan, kebodohan ataupun penjajahan. Sejumlah persoalan baru mulai muncul di seputar gerak lintas Muhammadiyah, salah satunya misalnya, maraknya gerakan makar para elit politik terhadap bangsa yang sudah lepas dari penjajahan. Para elit politik mulai doyan mengahbisi uang Negara (korupsi) untuk kepentingan pribadi atau kelompok, gejala ini kemudian cukup membuat resah bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala baru di atas tentu kurang mengemuka pada masa Muhammadiyah di tangan KH. Ahmad Dahlan. Persoalan yang tergolong baru ini tentu harus menjadi bagian yang mesti direspon oleh Muhammadiyah sebagai bagian dar gerakan pencerahan di negeri ini. Jika KH. Ahmad Dahlan mampu mengubah pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah dari prilaku serong ke paham keagamaan yang murni berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah, maka saat ini sprit tersebut perlu dianjutkan dengan problem dan nuansa yang berebeda. Pada masa KH. Ahmad Dahlan yang mengemuka adalah dangkalnya ketauhidan bangsa dengan marakanya prilaku Tahayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC) dapat diselesaikan dengan dakwah keagamaan dari masjid-ke masjid. Saat ini perilaku tersebut walau tidak sepenuhnya hilang, tapi bisa dikatakan dakwah Muhammadiyah dalam memurnikan ajaran Islam menemui titik keberhasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak pada persoalan yang melilit bangsa ini, yaitu gejala korupsi  berjamaah di kalangan elit politik merupakan problem yang cukup kritis untuk direspon. Muhammadiyah sebagai ormas yang menginginkan pencerahan dan pengentasan dari berbagai penindasan menjadi harapan terakhir untuk memberikan solusi terhadap persoalan ini. Gerakan dakwah Muhammadiyah perlu diarahkan pada penyelesaian isu ini, tentu mengenai cara penyampaiannya sangat berbeda dengan dakwah penyelesaian TBC yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa serta problem yang mengemuka di atas memang jauh berbeda dengan problem pada masa awal Muhammadiyah muncul. Dakwah dari masjid ke masjid denga ayat-ayat tentu tidak relevan lagi diterapkan di tengah-tengah tantangan dan isu tersebut di atas. Muhammadiyah butuh strategi lagi untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan tersebut. Jika melihat pada gejala yang mengemuka, dosa-dosa korupsi ini marak terjadi di lingkungan pemerintahan dan dunia perpolitikan. Melihat gejala tersebut,maka sangat mungkin Muhammadiyah masuk pada pusaran politik sebagai media penghantar misi sucinya dalam memberantas korupsi di lingkungan elit bangsa ini. &lt;br /&gt;Di sisi lain, ada stigma yang cukup mengakar di kalangan elit Muhammadiyah yang menempatkan politik sebagai segmen terburuk dari sederet media dakwah dalam menyampaikan kebenaran. Maka tidak mustahil ketika banyak warga Muhammadiyah yang memandang buruk terhadap politik, politik terkesan korup dan jorok. Sungguh satu pandangan yang perlu dirubah demi pemberantasan korupsi yang akut. Kalau boleh disadari secara mendalam, politik sejatinya adalah media membangun bangsa yang cukup strategis. Berawal dari politik inilah wajah suatu bangsa bisa ditentukan apakah menapaki martabat yang tinggi atau malah sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang tersuguhkan adalah fakta yang menunjukkan politik itu cenderung korup, hal itu hanyalah sisi lain dari dunia perpolitikan. Pada sisi yang berbeda dunia perpolitikan sungguh media dakwah yang cukup subur dalam membangun negeri ini. Politik bukan satu hal harus ditakuti, Muhammadiyah perlu melakukan teroboson yang cukup terbilang baru dan berani seperti halnya apa yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan yang berkfrontasi dengan pandangan umum waktu itu. Walau Muhammadiyah tidak secara total mengalihkan gerakannya pada dunia politik, akan tetapi politik tetaplah satu wadah media dakwah yang jitu dalam mewujudkan politik yang bersih dari tindak korupsi. Jika Muhamadiyah mampu memaksimalkan media politik ini sebagai penghantar misi pemberantasan korupsi, maka Muhamamadiyah benar-benar mampu melanjutkan misi KH. Ahmad Dahlan dalam menghantarkan bangsa ini pada puncak peradaban yang terlepas dari tindak asusila apapun temasuk gejala korupsi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu apapun alasannya dalam mendiskreditkan dunia politik sebagai bingkai dari jalur pembawa petaka moral adalah pandangan yang tidak benar.  Dunia politik tetaplah suci, sesuci misinya dalam membangun bangsa yang maju dan bermartabat. Memilih politik sebagai media dalam membangun bangsa tentu adalah salah satu jawaban terhadap kejumudan yang menghinggapi bangsa ini. Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa ini jangan sampai termakan wacana untuk menjauh dari politik. Politik tanpa peran dari dunia ormas akan terasa sangat nakal yang sering menggagahi bangsanya sendiri. Jika sekiranya Muhammadiyah belum berani masuk pada tataran politik paktis, tapi setidaknya Muhamamdiyah tidak perlu terlalu takut dengan politik. Politik perlu digauli, dicumbui dan dan digeluti agar nantinya warna perpolitikan bangsa ini akan semakin menunjukkan perpolitikan yang bersih, dewasa dan bermartabat. Semoga saja Muhammadiyah berani dan tidak takut lagi..!!! [ijan2010]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Refleksi Muktamar Muhamadiyah ke-46 di Yogyakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-195063054031440898?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/195063054031440898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=195063054031440898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/195063054031440898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/195063054031440898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/07/politik-sebagai-peluang-ataukah-ancaman.html' title='POLITIK SEBAGAI PELUANG ATAUKAH ANCAMAN BAGI MUHAMMADIYAH?*'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-9041662601432585446</id><published>2010-03-25T17:32:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T17:38:29.355-07:00</updated><title type='text'>MENEMUKAN MUTIARA CINTA*</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi sangat hangat ketika cinta menjadi suatu perbincangan. Jika boleh dikatakan, cinta merupakan magnet terhebat yang mampu menyeret siapa saja untuk mendekat padanya tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama. Artinya, cinta tanpa disadari adalah hal yang melekat secara natural pada diri manusia. Untuk itulah, persoalan cinta tetap merupakan persoalan yang cukup sensitif dan aktual untuk dibicarakan kapan dan dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang mempunyai banyak dimensi. Para kaum spiritual mengkorelaiskan cinta dengan bergumulnya kepasrahan bersama sang Maha Pencita. Para filsuf melekatkan cinta sebagai sebuah media penghantar pada sebuah kebenaran. Demikian cukup plural dimensi cinta tersebut, namun yang menjadi titik persoalan pada perbincangan cinta yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah, cinta yang biasa menjadi konsumsi kaum muda-mudi pra nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap yang merasakan muda jika mau jujur pasti berjumpa dengan persoalan cinta. Realita banyak menyuguhkan, begitu banyak persoalan-persoalan yang diakibatkan oleh cinta. Jika merujuk pada cerita-cerita fiktif, begitu cukup banyak tokoh fiktif dalam pesoalan cinta. Sebut saja, Qois dan Laila di Timur Tengah, Romeo dan Juliet di Barat,mereka adalah tokoh-tokoh fiktif yang digambarkan sebagai orang-orang yang mabuk asmara lalu kemudian berujung dengan kondisi semi gila. Adapun yang lebih aktual bisa dilihat pada KCB-nya Habiburrahman El-Sirazi, disitu terdapat gambaran kepanikan, kekecewaan dan kebahagiaan yang diakibatkan oleh cinta. Dengan demikian, persolan cinta tidak terhenti hanya pada suka atau tidak suka, akan tetapi ada sisi-sisi lain yang perlu mendapat eksplorasi lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang cukup representatif untuk menjadi titik perbincangan pada persolan ini adalah, ketika cinta itu hinggap pada setiap hati muda-mudi di negeri ini. Distulah kemudian banyak persoalan yang sering terungkap ke permukaan, diantaranya banyak muda-mudi yang belum mampu memaknai cinta yang sebenarnya. Sering kali persoalan birahi lebih dominan daripada kesucian cinta itu sendiri. Sehingga banyak persoalan yang muncul setelahnya. Sebagai akibat yang cukup vatal adalah, adanya kerugian-kerugian yang diderita oleh pihak-pihak tertentu. Secara konkret banyak ditemui di pojok-pojok negeri ini perempuan-perempuan terlantar bersama anaknya tanpa pertanggung jawaban dari pasangannya. Hal ini salah satu bukti adanya ketimpangan interpretasi terhadap cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimpangan yang demikian tentunya adalah bagian dari tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Sebagai salah satu bentuk tanggung jawab yang perlu digagas adalah, adanya semacam pengarahan atau pendidikan cinta di kalangan anak muda. Karena jika dilirik lebih dekat, kasus-kasus asusila yang tersuguhkan pada tatanan sosial tesebut merupakan akibat minimnya pengetahuan mereka terhadap agungnya cinta. Salah satu cara untuk mengajarkan pendidikan cinta kepada mereka adalah kembali pada tatanan dan tuntunan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini akan menghadirkan seperangkat tuntunan (guide) untuk kaum muda-mudi muslim dalam menyelami samudera cinta pada perjumpaan mutiara cinta. Secara konkret, tulisan ini akan memaparkan bagaimana semestinya seorang pemuda atau pemudi muslim dalam membangun cinta yang dapat membawa  kehidupan pada kedamaian dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak. Selanjutnya adalah suatu harapan agar pemuda atau pemudi bisa lebih menghargai cinta sebagai anugerah terindah dari Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menuju Mutiara Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, mengembalikan pada ajaran Islam adalah keniscayaan. Islam sebagai agama yang sangat manusiawi (Relegion of Humanity) memberikan keluasan kreatifitas kepada setiap umatnya, termasuk di dalamnya dalam hal cinta. Islam tidak pernah menyalahkan seorang pria menyukai seorang wanita, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi regulasi pemanfaatan anugerah Allah yang berupa cinta tersebut terdapat dalam ajaran Islam. Salah satu bentuk ajaran Islam dalam hal bercinta adalah menjadikan cinta sebagai sarana untuk menggapai dunia sekaligus kebahagiaan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hirarki, ada tahapan-tahapan yang memperbolehkan sepasang pria wanita untuk saling “mengenal”. Proses itu dihalalkan kalau seandainya memang terdapat keseriusan untuk menuju jenjang pernikahan sebagai sarana pendidikan cinta yang legal dalam syariah Islam. Adapun tahapannya yang biasa dikenal dalam regulasi pendidikan cinta dalam Islam adalah : proses ta’aruf, nadhr, khitbah dan sebagai finalnya adalah nikah. Inilah proses yang harus dijalani sepasang kekasih jika memang cinta telah menghinngapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang cukup penting sebelum akhirnya benar-benar menapaki jenjang regulasi tadi adalah, kewajiban setiap individu untuk mengetahui profil-profil ideal yang akan bisa membawa hidup pada kesenangan dunia dan kesenangan akhirat. Jika merujuk pada Hadist Nabi ada empat kreteria pasangan yang ideal diantaranya adalah, kecantikan, agama, harta dan nasabnya. Walaupun secara literal hadits ini dialamatkan kepada seorang laki-laki, tetapi secara substansi perempuan juga punya hak untuk menggunakan kreteria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat kereteria yang disarankan oleh Nabi merupakan seperangkat pertimbangan yang setidaknya bisa dijadkan patokan oleh pemuda atau pemudi muslim sebelum akhirnya masuk pada jenjang pernikahan. Empat kreteria itu menjadi penting untuk diperhatikan agar sebuah pernikahan (pendidikan cinta) bisa mencapai cita-cita universal kehidupan. Cita-cita universal dalam Islam itu berupa keridlaan Allah yang berupa firdaus-Nya kelak di akhirat. Namun, empat keteria itu adalah kondisi sempurna (perfect) yang cukup sulit ditemukan dalam kehidupan riil. Lalu bagaimana seharusnya?&lt;br /&gt;Diakui, memang cukup sulit menemukan pasangan sempurna seperti profil yang disarankan Nabi. Berikut penulis mencoba menyeret persolan ini pada tataran  praktisnya. Sejatinya, tujuan dari sebuah bangunan cinta adalah membentuk generasi penerus yang lebih baik. Jika merujuk pada tujuan ini maka yang perlu disiapkan adalah pasangan yang mampu meramu penerus masa depan yang handal. Meminjam istilah K. Idris dalam buku pesan-pesan untuk para santrinya ada empat kreteria seorang wanita untuk dinikahi. Empat kreteria itu adalah; Sholehah linafsiha, Ro’iyah fi Baiti Zaujiha, Murobbiyah li auladiha, Qoidah Liqoumiha. Inilah seperangkat rujukan bagi seorang laki-laki untuk membangun cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memahami lebih dalam dari empat kreteria yang disarankan di atas, maka yang tergambar adalah seorang calon ibu rumah tangga yang mapan secara spiritual dan intlektual. Sholehah linafsiha bisa diartikan sebagai seorang wanita yang taat pada agamanya. Roi’iyah fi Baiti Zaujiha berarti seoang wanita yang mampu memenij lingkungan rumah tangga, sehingga tercipta kondisi yang membangun terbentuknya rumah tangga yang harmonis. Morobbiyah li awladiha adalah cerminan seorang ibu yang cakap dalam mendidik anaknya sebagai generasi pelanjut. Ibu adalah manusia pertama yang dikenal oleh seorang anak,  maka keberadaan ibu begitu sangat signifikan di tengah-tengah anaknya, untuk itula profil seorang yang cakap secara intlektual adalah modal utama dalam mebimbing anak menadi generasi yang unggul. Kemudian sebagai yang terakhir dari empat kreteria tadi adalah, Qoidah Liqoumiha  yang berarti seorang ibu itu juga dituntut untuk mampu berperan di tengah-tengah kaumnya (wanita) di lingkungan ia hidup. Artinya seorang wanita itu juga punya kesempatan untuk beperan dalam pembangunan di lingkungannya,khususnya di kalangan kaumnya sendiri.&lt;br /&gt;Demikian cukup jelas empat kreteria itu sangat praktis sebagai seperangakt pijakan bagi laki-laki muslim dalam membangun cinta. Tentunya tidak adil rasanya jika kemudian hanya seorang laki-laki yang boleh mempunyai profil mengenai pasangan hidup. Para wanita sebenanrnya  juga mempunyai profil, secara garis besar ada dua profil laki-laki yang mungkin bisa dipertimbangkan oelh seorang wanita. Pertama Al-Qowi yang berarti seorang pria yang diidamkan oleh wanita itu adalah seorang pria yang kuat. Kuat dalam arti yang luas, kuat secara financial,fisik, spiritual, intlektual dan lain sebagainya. Memang seorang laki diperankan sebagai seorang penaggung jawab dalam rumah tangga. Bagaiman mungkin laju pertumbuhan rumah tangga bisa stabil kalau seorang kepala rumah tangganya loyo, untuk itulah pria yang akuat adalah suatu idaman seorang wanita. Profil yang kedua adalah, Al-amien yang berarti seorang laki-laki selain kuat juga harus yang terpercaya. Banyak kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki, hal itu mengindikasikan seorang laki-laki cenderung menyeleweng. Untuk itulah seorang laki-laki terpercaya adalah profil laki-laki idaman bagi seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat profil-profil yang disuguhkan di atas, rasanya pemuda-pemudi muslim akan lebih memaknai cinta sebagai sebuah anugerah Allah yang berorientasi pada keridlaannya. Cinta tidak sekadar gumulan nafsu tetapi cinta itu merupakan kesucian dan keindahan hidup yang perlu dijaga. Jika pofil-profil tersebut menjadi panduan dalam mebangun cinta, maka disitulah sebenarnya mutiara cinta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ulasan singkat di atas cukup untuk menggambarkan bagaiman cinta itu adalah satu kmponen hidup yang mempunyai peran besar dalam laju kehidupan manusia. Sehingga cinta tidak boleh diabaikan sebagai puncak klimaks yang hanya bernuansa keduniaan belaka, tetapi cinta adalah sarana penunjang kehidupan dunia yang dinamis dan kebahagian akhirat. Untuk memakmurkan dan mensucikan cinta dari berbagai amukan birahi hayawaniyah, manusia perlu pijakan dalam membangun cinta, adapun pijakan tersebut adalah agama dan ilmu (intlektualitas). Berpijak pada agama dan ilmu  inilah akan ditemukan mutiara cinta yang akan semakin menggemerlapkan cinta. Cinta… cinta……..he,,,hehe….he…he….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Tulisan ini diadaptasi dari diskusi SMS Andria’s Happy&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-9041662601432585446?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/9041662601432585446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=9041662601432585446' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9041662601432585446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9041662601432585446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/03/menemukan-mutiara-cinta.html' title='MENEMUKAN MUTIARA CINTA*'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8787262647340915925</id><published>2010-03-19T22:52:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T22:58:29.846-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDUN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Terlalu naïf jika ada sekelompok manusia yang mengabaikan sejarah. Sejarah merupakan elemen penghantar pada pemahaman keadaan masa kini. Keberadaanya merupakan hal yang sangat penting dan signifikan. Tanpa sejarah, masa kini merupakan belantara gelap yang sulit untuk dilewati. Apapun perkembangan yang terjadi di dunia kekinian mempunyai keterkaitan erat dengan masa lalu. Mendampingkan sejarah dalam ruang multi dimensi dalam kehidupan adalah keniscayaan sebagai upaya mematangkan langkah laju peradaban dalam menapaki puncaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila boleh dikaitkan dengan dunia keilmuan, sejarah menempati posisi yang cukup strategis. Dikatakan bahwa, sejarah merupakan ibu dari ilmu pengetahuan (mother of knowledge) . Posisi sejarah yang cukup medasar dalam ilmu pengetahuan semakin mengukuhkan bahwa sejarah bukanlah hal yang hanya sekadar berkutat pada penuturan nama, tahun dan tempat suatu kejadian. Terpenting dari sekadar penuturan normatif tersebut adalah, analisa dari setiap kejadian yang diikuti dengan kesadaran filosofis guna menguak nilai-nilai pelajaran yang bisa diangkat ke ruang yang lebih luas. Artinya, nilai-nilai yang berhasil diangkat dari keterasingan masa lalu bisa diimplikasikan pada kebutuhan publik saat ini. Sehingga pada taraf tertentu terbentuklah semacam teori-teori baru (pengetahuan) dalam rangka menyelesaikan persoalan yang melilit kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penuntun untuk mencapai kesadaran akan urgensnya sejarah bisa dilihat dari makna sejnnarah itu sendiri dari sudut pandang para sejarawan. Makna sejarah dalam persepsi para sejarawan paling tidak mempunyai dua arti. Pertama, sejarah merupakan serangkaian peristiwa masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia. Kedua, sejarah merupakan fakta-fakta masa lalu yang sengaja dianalisa dan dijabarkan . Maksud dari dijabarkan disini adalah sebuah usaha pembangunan konteks sebuah peistiwa untuk ditemukan nilai dan ajaran yang bisa ditransformansikan pada dunia kekinian. Dalam analisa tersebut dengan sengaja juga dibangun analisa-analisa seorang sejarawan tentang apa yang dia temukan dalam studi kesejarahan dan fakta riil ruang pergaulan sejarawan itu sendiri dalam rangka mengambarkan gagasan sejarah yang terdapat dalam bukti sejarah yang dia temukan .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan hasil pengamatan seorang sejarawan dengan alam fikirnya sendiri menjadikan sejarah mempunyai tiga tipikal yang saling berhubungan. Pada mulanya sejarah ditempatkan hanya sebagai ulasan peristiwa-peristiwa masa lampau lalu kemudian dikaitkan dengan nuansa kekinian, biasanya model ini disebut dengan tipe naqli. Dapat diartikan tipe model ini kisaran tekanannya berupa telaah instan penuturan tanpa mengedepankan analisa-analisa yang mengakar, karenanya tipenya ini disebut dengan tipe naqli yang berarti hanya memindahkan. Menapaki tangga berikutnya, sejarah diidentikkan dengan pengetahuan tentang hukum-hukun yang menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh dari analisa-analisa secara rasional atas berbagai macam peristiwa, tipe ini disebut dengan sejarah rasional (tarikh aqli). Dikatakan aqli karena kisaran tekanannya lebih mengutamakan rasio sebagai pisau irisnya. Pada tipe yag terakhir atau yang ketiga sejarah ditempatkan sebagai falsafah. Pada tipe ini kisaran tekanannya disandarkan pada perubahan-perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat . Transisi antara satu periode dengan periode lain dimungkinkan ada semacam titik nilai yang berharga yang berupa pola pandang (falsafah), entah faktanya semakin manapaki klimak atau mungkin malah sebaliknya anti-klimaks. Persoalan perubahan-perubahan yang cukup erat dengan word view tersebut yang kemudian mengidentifikasikan model sejarah ini sebagai sejarah tipe falsafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara satu tipe dengan tipe yang lainnya seyogyanya adalah kesatuan yang utuh tanpa harus mencerai beraikan. Keutuhannya adalah menghendaki pemahaman sejarah yang holistik, sehingga dari pemahaman yang utuh tersebut akan tercipta semacam sikap bijak dan mengagungkan sejarah sebagai bagian laju peradaban yang represntatif untuk dihormati oleh setiap kalangan. Terlebih jika sejarah itu masih berkaitan dengan subyek atau pembacanya. Misalnya, seorang muslim sangat wajar ketika dengan sadar mau mempelajari sejarah orang-orang terdahulunya guna memperoleh pemahaman yang utuh dan mendapat nilai-nilai berupa inspirasi, motivasi atau apa saja yang mengajarkan padanya sikap progresifitas dalam memakmurkan dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sejarah merupakan kekayaan peradaban yang perlu mendapat penghormatan dari orang-orang saat ini, tetapi jangan sampai kekayaan tersebut membutakan nalar. Bangga atas kejayaan orang-orang terdahulu sangat wajar selagi para generasi berikutnya mampu memaksimalkan lebih matang lagi. Seorang muslim wajar jika bangga dengan masa keemasan Islam abad ke-12. Tetapi masa keemasan itu jangan sampai ditelan mentah-mentah lalu kemudian memabukkan muslim saat ini. Memandang dari berbagai aspek adalah keniscayaan aga terhindar dari kemelut kemesaraan dalam gumulan historisisme yang kemudian memasung pemikiran progresif kemanusiaan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati tiga tipe sejarah yang didengungkan sebelumnya memungkinkan terhindar dari ta’asshub yang dikhawatirkan Aljabiri. Berikut penulis mencoba mengangkat satu episode sejarah perdaban Islam masa klasik yaitu semasa Khulafaur Rasyidun untuk digali kekayaan nilai sejarahnya secara komprehensif menyangkut penuturan peristiwa-peristiwa hingga pola pandang atau nilai falsafah yang diadopsi oleh orang-orang pada saat itu. Nilai-nilai sejarah tersebut bisa saja berupa tekanan-tekanan politik, guliiran kebijakan ekonomi atau mungkin bisa saja juga dadapati nilai-nilai kesenian. Mengurai perincian tersebut tentunya sangat luas, dengan demikian kajian ini berupa kilasan singkat sekadar memulihkan kesadaran setiap muslim untuk lebih menghargai sejarah orang-orang terdahulunya serta mampu bangkit dari keterpurukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Kilasan Sejarah Khulafaur Rasyidun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khulafaur Rasyidun merupakan kepanjangan dunia Islam dari masa Rasulullah. Mata rantai periode tangga pertama yang bergulir di seputar masa Khulafaur Rasyidun patut untuk didekati, kemungkinan di dalamnya ada perubahan-perubahan pola pandang sebagai konsekwensi logis dari mangkatnya Rasulullah sebagai tempat bertanya umat muslim saat itu. Khulafaur Rasyidun mempunyai dua fungsi pokok yaitu,sebagai pemimpin pada tatanan politik sekaligus sebagai panutan spritual di kalangan umat Islam kala itu, tentunya kepemimpinan Khulafaur Rasyidun mempunyai perbedaan dengan semasa Rasulullah. Kemungkinan adanya gejala-gejala karakteristik di dalamnya dengan masa berikutnya adalah keniscayaan. Misalnya, corak politik yang berkaitan dengan pemilihan kholifah yang mempunyai banyak komentar di tengah-tengah umat Islam. Untuk menguak beberapa gejala yang muncul, berikut akan diurai masing-masing periode dari kekholifahan semasa Khulafaur Rasyidun yang diawali oleh Abu Bakar hingga berakhir pada masa Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Bakar Shiddiq&lt;br /&gt;Masa Abu Bakar merupakan fase pertama kekholifahan setelah meninggalnya Rasulullah. Naiknya Abu Bakar sebagai kholifah merupakan awal bergulirnya politik yang demokratis pasca Rasulullah meninggal. Abu Bakar terpilih secara demokratis setelah menyisihkan pesaingnya dari kalangan Ahlul Bait yaitu Ali. Waktu itu Ahlul Bait mempunyai pandangan bahwa Ali yang paling berhak menempati posisi kholifah setelah Rasulullah. Akan tetapi, forum mempunyai wacana yang beragam, sehingga terjadilah diskursus yang cukup alot, hingga kemudian bergegaslah Abu Bakar dan Umar menuju Tsaqifah Bani Sa’adah tempat berkumpulnya kaum Anshor. Adapun yang berkembang wacana di kalangan Anshor adalah, menginginkan Sa’ad bin Ubadah seorang suku Khazraj sebagai pengganti Nabi . Akan tetapi, usulan tersebut direspon oleh Abu Bakar dengan sembari memberikan komentar logisnya bahwa kaum jazirah Arab sepanjang sejarahnya sangat tidak suka dengan pemimpin yang datang dari luar suku Quraish. Apa yang dikatakan oleh Abu Bakar sangat berkaitaan dengan stigma yang berkembang saat itu yang konon datang dari hadits Nabi yang berbunyi : “Al-Aimmatu min Quraish (kepemimpinan dalam Islam adalah kalangan Quraish) . Setelah pemaparan Abu Bakar yang santun serta pengetahuannya yang luas dan lugas akhirnya kaum Anshor datang mengelilingi Abu Bakar dengan diikuti pernyataan tunduk dan memilih Abu Bakar sebagai pengganti Nabi. Keputusan kaum Anshor ini kemudian diikuti leh kabilah-kabilah lainnya sehingga dibaiatlah Abu Bakar sebagai Kholifah pertama setelah Nabi .&lt;br /&gt;Periode Abu Bakar begitu sangat singkat terhitung 632-634 M. Tetapi bila diikuti secara singkat, pemerintahan Abu Bakar bisa dibilang mampu melewati masa-masa kritis,terutama yang berkaitan dengan Negara Islam yang baru dia rintis. Tentunya tekanan dari luar maupun dari dalam datang secara bergiliran seumpama mengamuk pemerintahan Abu Bakar saat itu, akan tetapi realitasnya Abu Bakar mampu melewatinya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Negara rintisan baru tentunya banyak guliran amukan pembankangan yang terjadi di sana sini. Sebagai sebuah gejala yang paling menonjol waktu itu munculnya pengakuan-pengakuan nabi palsu. Adapun gejala yang menusuk dari dalam masih seputar pergolakan ahlul bait yang kurang suka dengan kekholifahan Abu Bukar. Konon diceritakan bahwa Ali tidak datang pada pembaiatan Abu Bakar, akan tetapi selang waktu enam bulan berikutnya Ali baru bisa membaiat atas dasar penghormatan terhadap istrinya Fatimah binti Muhammad yang mendukung pemerintahan Abu Bakar. Namun kesan angkuh dari Ali ternyata tidak terbuktikan secara riil, hal itu terbukti dengan kelapangan Ali yang mau menjalankan tugas dari Abu Bakar untuk mengamankan Madinah dengan baik. Hal itu dilakukan oleh Ali setelah Kholifah Abu Bakar membagi kekuasaannya menjadi 12 wilayah dan salah satunya diamanahkan kepada Ali .   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesan ada konflik intern yang menggejolak terkait naiknya Abu Bakar sebagai Kholifah. Bila boleh ditelusuri lebih dekat, naiknya Abu Bakar jika disandarkan pada kejadian kronologisnya oleh banyak kalangan sudah memenuhi ketegori demokrasi. Gejolak terjadinya diskursus pengganti Nabi sangat terkait dengan tidak adanya wasiat yang ditinggalkan oleh Nabi sebagai bakal kholifah setelahnya. Tetapi, hal itu mungkin dimaksudkan sebagai pembelajaran politik bagi umat Islam pada saat itu. Dengan kondisi yang cukup rumit, kemudian terjadilah musyawarah multi kalangan seperti yang telah dituturkan sebelumnya. Adanya wadah musyawarah Nadi Al-Qoum (semacam MPR masa dahulu) akhirnya mampu menyelesaikan persoalan imamah tersebut . Proses semacam ini tentunya patut mendapat penghormatan dari semua kalangan dengan mengakui dan mendukung seluruh proses pemerintahan yang berjalan pada saat itu termasuk oleh Ali sebagai bagian dari ahlul bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui proses demokrasi yang begitu alot, selanjutnya melajulah Abu Bakar mejadi kholifah pertama. Sebagai penanda dari terpilihnya Abu bakar, maka Abu Bakar kemudian menyampaikan pidato kenegaraannya yang pertama. Poin yang menarik dari pidatonya adalah adanya benh-benih demokrasi yang patut ditiru oleh para birokrat saat ini. Hal itu tertuang dalam salah satu ungkapannya yang bebunyi “bantulah saya jika saya di jalan yang benar. Koreksilah saya bila saya bersalah” . Demikian cukup mendasar substansi pidatonya, akan tetapi hal itu mengindisikan begitu sangat sederhanya seorang yang canggih seperti Abu Bakar masih bersedia menerima kritik dan dukungan dari rakyatnya. Seumpama Abu Bakar ingin mengatakan bahwa apapun keberadaan dirinya tidak berarti apa-apa tanpa dampingan dari masyrakat luas, entah berupa dukungan atau tegran jika sekiranya nanti dalam perjalanan kepemerintahannya terdapat kekeliruan. Luwes dan menyegarkan jika dalam bernegara subsatansi pidato ini dimiliki oleh pemimpin bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, musuh luar tidak kalah kuatnya mengintai pemerintahan Abu Bakar. Selain banyak munculnya nabi-nabi palsu, beberapa daerah ada yang membangkang dengan tidak mau membayar pajak lagi pada pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar menghadapinya dengan tegas dan lugas terhadap berbagai macam gejolak tersebut. Abu Bakar mengeluarkan dua alternative bagi mereka, tunduk tanpa syarat atau diperangi. Sebagai awal dari manuver politiknya, Abu Bakar memulai dengan memberantas kaum murtad yang terjadi di dearah Syam dengan kemenangan di pihaknya yang kemudian dikenal dengan perang riddah. Kemampuan serta keberanian Abu Bakar mengirim ekspedisi ke luar yang jauh dari kekuasannya adalah salah satu keunggulan dari Abu Bakar. Walau banyak sahabat lain yang meragukan pilihannya, tetapi pada kenyataannya Abu Bakar mampu membasmi kaum riddah  tepat waktu, sekaligus mencegah munculnya perpecahan yang akut di kalangan umat Islam .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain prestasinya dalam menumpas kaum riddah, Abu Bakar juga memulai merintis pengkodifikasian Al-Qur’an yang diusulkan oleh Umar,lalu kemudian dilanjutkan oleh Ustman yang kemudian mushaf tersebut dikenal dengan mushaf Utsmani. Yang juga menjadi titik perhatian ketika berbicara tentang kholifah yang pertama yaitu tentang penunjukan Umar sebagai pengganti setelahnya. Penunjukan tersebut dilakukannya menjelang wafatnya yang kemudian juga diamini oleh mayoritas umat Islam saat itu .&lt;br /&gt; Demikian kemampuan seorang Abu Bakar dalam melewati gejolak-gejolak awal berdirinya kekholifahan Islam. Pada akhirnya Islam tetap bisa berjaya pada priode berikutnya dan semakin menapaki titik klimaksnya. Berkat sepak terjangnya serta sumbangsihnya pada peradaban Islam para sejarawan kemudian menggelarinya sebagai penyelamat Islam setelah Muhammad (Abu Bakar is the savior of Islam after the prophet Muhammad) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Umar Bin Khottab&lt;br /&gt;Umar merupakan kholifah kedua, dikenal juga dengan panggilan Abu Hafs dan juga mendapat julukan Faruq (orang yang berani memisahkan antara kebenaran dan kepalsuan) . Umar naik menjadi kholifah atas penunjukan Abu Bakar menjelang wafatnya. Hal itu dilakukan oleh Abu Bakar ketika melihat kondisi Negara yang masih labil, tidak boleh tergoncang dengan perbedaan pendapat tentang siapa yang akan menggantikan setelah dia wafat. Penunjukannyapun sudah melewati penawaran demokratis, sehingga naiknya umar menjadi Kholifah adalah hal yang valid secar juridis. Berikut adalah potongan dari kalimat yang diucapkan Abu Bakar ketika penunjukan Umar sebagai Kholifah : “orang yang saya tunjuk bukan dari keluargaku dan kalian mendengar kata-kata dan mematuhi perintah” rakyat yang hadirpun serentak menjawab “kami menerimanya” . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode kholifah Umar (634-644), peta Islam sudah meluas ke Timur sampai perbatasan India dan sebagian Asia Tengah sedangkan di Barat sampai ke Afrika Utara. Dengan semakin meluasnya peta Islam tersebut Umar semakin mantap menjalankan pemerintahannya dengan melanjutkan apa yang dicanangkan pada pemerintahan Abu Bakar yaitu, menghadapi tentara Sasania maupun Bizantium  baik di front Timur (Persia), Utara (Syam) maupun di Barat (Mesir). Adapun alasan mendasar ekspansi yang dilaksanakan Umar adalah bermula dari persoalan yang mengakar, dimana mereka pada hakikatnya sejak dari dulu mempunyai hubugan yang tidak harmonis dengan bangsa Arab. Salah saunya yang menunjukkan ketidaksukaan mereka adalah dibunuhnya duta Nabi oleh oang Kristen di Syiria atas restu Raha Heraklitus. Kemudian alasan selanjutnya adalah, pada saat itu Nil (Mesir) merupakan daerah yang subur dibandingkan dengan keadaan Arab yang tandus, maka hal it snagat menarik untuk dijadikan sentaral perjuangan dakwah di luar jazirah Arab . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pemerintahan Umar Islam semakin kuat, dapat menundukkan daerah-daerah yang ada. Hal itu lalu memunculkan kecemburuan yang kuat di kalangan Bizantium dan Sasania. Pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh Kholifah waktu itu lebih didasarkan pada gerakan dakwah Islamiyah dibandingkan dengan penaklukan-penaklukan semata, sehingga yang diharaakan dari para prajuritnya agar lebih mendahulukan spirit keislaman. Selain dari pada itu, pada saat itu ditemukan masyrakkat berada di bawah tekanan kekuasaan hegemoni Bizantium dan Sasania yang mempunyai ajaran membingungkan. Untuk itulah lalu kemudian Islam datang seagai jalan tengah untuk meluruskan ajaran yang ada dengan keyakinan tauhid . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurun waku sepuluh tahun masa pemerintahan Umar bin Khattab terdapat berbagai macam perkembangan yang dapat dilakukan oleh kholifah. Diantaranya, terbentuknya majlis syura yang merupakan wadah untuk musyawarah menampung aspirasi rakyat. Umar berkeyakinan bahwa tanpa musyawarah pemerintahan tidak akan jalan . Selain daripada itu, Umar menanamkan spirit keislaman secara global yang tidak hanya berkutat pada nasionalisme Arab, hal itu terbukti dengan diusirnya Yahudi dari Khoibar dan Kristen di Nazran yang sering merongrong pemerintahan Islam. Diyakini olehnya, mereka adalah termasuk kafir dzimmi yang harus disingkirkan dan berkewajiban bagi mereka untuk membayar pajak kepada pemerintahan Islam sebaai jaminan keamanannya . Dalam tatanan kenegaraan Umar membagi daerah kekuasaanya pada sejumlah distrik atau propinsi dan juga terbentuk di dalamnya dipertamen-dipertemen, hal itu dimaksudkan untuk mempermudah penyelenggaraan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi ekonomi ada kebijakan Umar yang cukup fenomenal yang memancing reaksi anggota syura yaitu berupa dekrit  yang melarang orang Arab melakukan transakasi jual beli tanah di luar Arab (kebijakan pertanahan), kebijakan ini diberlakukan di daerah sawad (daerah subur). Kebijakan tersebut didasarkan pada produksi yang menurun sehingga Negara merugi 80% dari pendapatan, hal itu dipicu oleh banyaknya transaksi penjualan tanah yang dilakukan di daerah tersebut yang kemudian mengakibatkan para petani kehilangan sawahnya. Selain daripada itu, Umar memberlakukan pajak perdagangan yang dikenal dengan sebutan dengan al-‘ushur . Selanutnya mengenai Al-Mal al-Ghanimah yang selama ini dibagikan pada Negara 20% dan tentara 80%, pada saat Umar seluruhnya dimasukkan ke kas Negara, lalu para tentara digaji bulanan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pemerintahan Umar berakhir dengan terbunuhnya kholifah oleh Abu Lu’lu’ (orang Persia) yang dipicu oleh pemecatan yang dilakukan Umar terhadap Mughirah Ibn Syu’ba sebagai gubernur Kufah. Sebagai langkah terakhir mejelang wafatnya Umar membentuk tim Syura untuk memilih pengganti dirinya. Hal itu diambilnya sebagai jalan tengah anatara apa yang dilakukan oleh Nabi yang membiarkan rakyat memilih kholifah dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar yang menunjuknya lansung sebelum Abu Bakar wafat. Adapun para anggota tim diantaranya adalah, Abdurahaman bin Auf, Talhah, Zubair, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Sa’ad bin Waqas. Kemudian terjadilah voting, maka terpilihlah Usman ibn Affan sebagai Kholifah, pengganti Umar . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priode Umar jika dibandingkan dengan semasa Abu Bakar mempunyai banyak perkembangan. Dari sisi daeah kekuasaan semakin luas yang kemudian diikuti dengan tata Negara yang lebih sempurna dengan terbentuknya distrik-dstrik dan dipertemen-dipertemen.Darsi diemnsi ekonomi, tedapat kebijakan-kebijakan regulasi penggunaan harta rampasan dan pemeberlakuan pajak pedagangan yang tentunya sangat mendukung perekembangan ekonomi Negara. Kemudian dalam perkembangan politik yang berkaitan dengan demokrasi tentunya semakin baik, dengan dibentuknya majlis Syura yang mewadahi masukan dari rakyat. Yang paling monumental apa yang dilakukan oleh kholifah dalam menentukan penggantinya dengan jalan voting dibawah panitia khusus yang dibentuknya. Hal ini tentunya merupakan suatu pembelajaran demokratis yang cukup baik bagi umat Islam secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Usman Ibn ‘Affan&lt;br /&gt;Di antara Khulafaur Rasyidun adalah Usman kholifah ketiga yang memerintah Islam paling lama jika dibandingkan dengan ketiga kholifah lainnya. Ia memerintah selama kurun waktu 12 tahun. Dalam pemerintahannya, sejarah mencatat telah banyak kemajuan yang dicapai oleh umat Islam saat itu, wlalau tentunya juga tidak sedikit polemic yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara gamblang pada masa pemerintahan Usman dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, pemerintahan Usman mampu menapaki titik klimaksnya hingga bendera Islam meluas hingga perbatasan AlJazair bahkan sebagian riwayat menyebutkan sampai pada Tunisia di Al-Maghrib, sedangkan di Utara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia Kecil, di Timur Laut sampai ma wara al-Nah,dan si sebelah Timur seluruh Persia bahkan sampai pada perbatasan Balucistan (wilayah Pakistan sekarang). Selain daripada itu Usman berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan di pihak Islam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian periode kedua yang diidentkkan dengan dengan kemunduran dengan huru-hara dan kekacauan yang luar biasa sampai Usman wafat. Hal itu ditandai dengan adanya nepotisme yang dilakukan Usman. Ia mengangkat sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan strategis, kemudian beurjung dengan rasa pahit yang dirasakan oleh kabilah-kabilah lainnya .  Hampir semua pejabat di era Umar dipecat oleh Usman lalu kemudian mengangkat keluarganya sendiri. Oleh karena itu Usman disinyalir telah ber-KKN. Sebagai contoh apa yang dilakukan Usman yang mengindikasikan adanya praktek KKN adalah, ditempatkannya Mu’awiyah ibn Abi Sofyan sebagai Gubenur di Syam, selain dia sebagai keluarga dekat kholifah juga sesama dari satu suku yaitu umayah .  &lt;br /&gt;Pihak kholifahpun menepis tudingan miring yang dialamatkan pada dirinya. Kholifah berpendapat bahwa para pejabat itu dipilh berdasar kapabilitas serta loyalitasnya yang tinggi, hal itu bisa dilihat pola kerja yang diperlihatkan oleh masing-masing pejabat yang dipilih Usman yang mampu menampilkan pencapaian prestasi yang gemiliang. Sebagai tameng dari semua tudingan tersebut bisa dilihat bagaimana Abdullah Ibn Amir merupakan orang yang mempunyai andil yang besar dalam penaklukan Persia, maka kemudian wajar jika kemudian Kholifah menghadiahkan padanya sebagai Gubenur di Basrah. Begitu juga dengan pejabat-pejabat lainnya, kholifah mengangkat mereka berdasar kemampuan, loyalitas dan prestasinya . Jika memang hal ini adalah kebenaran, maka tudingan praktek nepotisme yang dialamatkan padanya adalah bentuk manuver politik yang biasa terjadi di tengah-tengah laju sebuah pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kontroversial Usman memang lebih condong gegabah dan memicu prasangka politik yang tidak sedap. Penunjukan pejabat-pejabat yang mempunyai hubungan kekerabatan semakin mempertajam wacana nepotisme yang terjadi di tengah laju pemerintahannya. Walaupun ternyata Usman mempunyai pertimbangan-pertimbangan rasional, tetapi hal itu tidak mampu membendung hembusan isu politik saat itu. &lt;br /&gt;Beberapa kasus yang sengaja diangkat untuk membendung isu politik yang berkembang, seperti dihukumnya Walid yang merupakan pejabat memiliki hubungan keluarga dengan Usman setelah Walid terbukti bermasalah. Hal ini seakan-akan menggambarkan ketegasan Usman dalam menjalankan hukum serta ketidak-berpihakan dirinya. Akan tetapi setelah melalui telaah, ternyata Usman masih setengah-setengah dalam menjalankan hukum yang berlaku, hal itu terbukti dengan dibiarkannya Walid, kemudian pada akhirnya menjadi batu sandungan pada diri Usman sendiri, karena ternyata pada episode yang lain Walid menjadi orang yang melawan pemerintahan Usman . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain lain lagi yang menjadi catatn penting dalam pemerintahan Usman adalah, mengenai kebijakan pertanahan yang diberlakukan pada masa Umar tidak dijalankan sepenuhnya oleh Usman. Beberap kasus yang terkait pada konteks ini adalah, banyak kaum kerabat Usman menjadi kaya raya dan mengusai banyak tanah diluar Arab. Hal itu tentunya sangat meresahkan rakyat seperti di Kufah dan Mesir. Dominasi tanah subur tersebut dari kalangan orang Arab dan keluarga dekat Usman menjadi catatan hitam pemerintahan Usman sekaligus dapat merugikan Negara seperti pada salah satu pertimbangan diberlakukannya regulasi petanahan yang dicanangkan pada masa Umar . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Usman terkait penyelewenagan regulasi pertanahan tersebut, lambut laun menjadikan para keluarga dekatnya dari bani Umayah mejadi deretan orang-orang kaya. Pada saat itu terjadi semacam ketimpangan sosial, seperti adanya kesenjangan kesejahteraan diantara rakyatnya, sekaligus pada saat yang sama semakin menanjaknya angka kemiskinan waktu itu. Pada saat yang sama, muncullah Abu Dzar Al-Ghifari sebagai seorang yang sholeh di zamannya yang menyarankan agar orang-orang kaya waktu itu diharuskan memberikan hartanya untuk menyantuni fakir miskin. Akan tetapi usulan mulia ini disikapi sebagai manuver politik yang kemudian akhirnya Al-Ghifari dibuang ke Rabaza, daerah gurun pasir, kemudian meninggal di sana dalam keadaan lapar . Sikap Usman yang demikian tentunya sangat memicu terjadinya kemarahan rakyat, sehingga bisa diprediksikan situasi politik waktu itu mendekati taraf gejolak yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu politik yang memanas tersebut kemudian dijadikan kesempatan oleh banyak pengacau untuk meruntuhkan pemerintahan Usman, salah satunya adalah seorang Yahudi yang bernama Ibn Saba’. Kesempatan emas yang digunakan Ibn Saba’ tatkala kholifah membujuk para pembangkang dari Mesir untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Pada saat mereka pulang, mereka mendapati surat dari kurir pemerintah yang menyatakan فاقتلوهم (bunuhlah mereka) yang seharusnya فاقبلوهم  (terimalah mereka) namun karena tulisan kholifah waktu itu merupakan B.Arab Gundul akirnya dipahami dan dislahbacakan. Keadaan yang demikian digunakan oleh Ibn Saba’ untuk membakar emosi mereka, lalu kemudian mereka mendatangi rumah kholifah yang kemudian berakhir dengan terbunuhnya kholifah dalam keadaan membaca Al-Qur’an . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian perjalanan pemerintahan Usman yang mempunyai banyak polemik politik dengan dihembuskan isu sentral nepotisme yang kemudian merembet pada persoalan ekonomi. Sekaligus bisa diindikasikan dalam pemerintahan Usman terkesan gegabah, sehingga sering kali digunakan oleh pihak luar untuk kepentingan golongan tertentu. Artinya kondisi Usman waktu itu yang sudah senja secara usia digunakan oleh pihak kerabatnya untuk memperkaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ali Ibn Abi Thalib&lt;br /&gt;Terbunuhnya Usman meninggalkan polemik yang cukup serius di peredaran politik umat Islam saat itu. Kemudian Ali maju menjadi kholifah atas desakan kelompok para pembunuh Usman dari Mesir. Hal itu diterima oleh Ali setelah adanya permintaan serius dari sahabat-sahabatnya, tepat hari ke-enam pasca terbunuhnya Usman, Ali resmi menjadi Kholifah pengganti Usman bin Affan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesoalan pertama yang dihadapi Ali adalah perang melawan kelompok yang tidak mengakui kekholifahan Ali yang bermarkas di Hijaz dan Iraq, termasuk di dalamnya ummul Mu’mnin Aisyah yang bergabung dengan mereka yang menentang Ali. Peristiwa tersebut dikenal dengan perang jamal (unta), karena Aisyah menunggangi seekor unta. Pada saat itu dua rival politiknya terbunuh pada malam hari yang tidak diketahui siapa pembunuhnya, sementara Aisyah kalah perang lalu kemudian dipulangkan ke Madinah serta diperlakukan secara terhormat selayaknya seorang “ibu Negara”. Kemudian, salah satu langkah pentingnya pada awal Ali memangku jabatan sebagai kholifah adalah mengembalikan stabilitas politik seperti masa pemerintahan Umar yaitu dengan memecat para gubernur yang sewenang-wenang. Selain darip ada itu Ali juga mengambil alih kepemilikan tanah-tanah yang dihadiahkan kepada para pendukung Usman ke kas Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang paling monumental pada masa pemerintahan Ali adalah terjadinya perang Shiffin yang mempertemukan dua kekuatan antara kubu Ali dengan Mu’awiyah. Melalui perang ini melahirkan dua front ekstrem yang kemudian berpijar hingga saat ini. Tentunya bukan sesuatu yang asing ketika disebut sebuah kelompok yang bernama khawarij dan syi’ah. Dua kubu ini bermula dari perang shiffin tadi. Kelompok yang keluar dari kubu Ali dan Mu’awiyah lalu kemudian membentuk pandangan politik dan keagamaan sendiri. Secara politik kubu khawarij mempunyai pandangan bahwa seorang kholifah itu harus dipilih langsung oleh rakyat serta tidak terbatas pada laki-laki orang Arab saja. Bagi mereka sangat legal seorang perempuan jadi seorang pemimpin selama perempuan tersebut teruji secara kemampuan. Dengan demikian secara konkret mereka menolak kekholifahan Ali dan Mu’awiyah karena keduanya tidak berangkat dari pemilihan oleh rakyat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam pandangan keagamaan kelompok khowarij terkesan keras dan tegas. Misalnya saja salah satu pandangannya yang mewajibkan sesorang muslim itu dibunuh jika meninggalkan sholat. Sedangkan seseorang yang tidak berhati bersih maka ia termasuk murtad dan baginya nerak selamanya. Kemudian yang paling ekstrim dari pandangannya menganggap Ali dan Mu’awiyah sebagai kafir. Pada perkembangan berikutnya kelompok khawarij banyak melakukan kerusuhan, kemudian kahirnya berujung pada pembunuhan kholifah Ali oleh Abdurrahman ibn Muljam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu yang kedua adalah kubu yang setia pada Ali yang kemudian disebut dengan Syiahtu Ali. Pada awalnya kubu syi’ah ini juga dikenal pada pengikut Mu’awiyah namun yang bertahan dan yang lebih dominan adalah kubunya Ali, sehingga lambat laun syiah Muawiyah hilang tertelan dominasi syiahnya Ali. Sejatinya benih-benih syiah sudah bermula sejak masa Abu Bakar, namun istilah syi’ah secara riil baru muncul kemudian setelah wafatya Ali, hal itu muncul karena rivalitas politik yang cukup ketat. Kelompok syiah begitu sangat ekstrim dalam mendukung Ali, bahkan mempunyai pandangan agama yang seakan-akan kurang mengakui kenabian Muhammad dengan sebuah pandangannya yang menyatakan bahwa wahyu sesungguhnya diperuntukkan untuk Ali, kelompok ini dinamai dengan kelompk syi’ah ghurobiyah (ekstrem). Sejak terbunuhnya Ali oleh Abdurahman ibn Muljam hal itu sekaligus juga menandai berakhirnya kepemimpinan khulafaur Rasyidun .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teurai sudah kilasan perjalanan khulafaur rasyidun dengan bebagai prestasi dan kekurangannya. Tentunya hal itu merupakan kekayaan sejarah Islam yang patut untuk diungkap dalam rangka membangun pemahaman yang komprehensif tentang sejarah masa lalu sekaligus sebagai upaya ‘itibar bagi muslim saat ini sebagai kelanjutan perjalanan Islam. Banyak hal yang dapat dipahami dari sejarah peradaban Islam masa khlafaur rsyidun diantaranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Masa khulafaur rasyidun merupakan masa awal yang cukup sulit setelah nabi yang berhasil dapat dilewati dengan baik oleh Abu Bakar. Hal itu ditandai dengan diberunggusnya para kaum murtad dari dunia Islam, sehingga kemudian akhirnya Islam dapat berlanjut hingga sampai pada masa Umar. &lt;br /&gt;2. Pada masa Umar bisa dibilang sebagai awal perintisan kekuatan Islam untuk melakukan ekspansi ke luar jazirah Arab. Hal itu kemudian dilanjutkan oleh Usman sehingga secara peta kekuasaan pada masa Usman dunia Islam sudah mapan.&lt;br /&gt;3. Pada masa Ali merupakan puncak rival perpolitikan yang disinyalir bermula sejak masa Usman dengan indikasi adanya tindak nepotisme yang dilakukan Usman. Pergolakan politik yang berupa perebutan kekuasaan pada masa Ali ini begitu sangat kentara, hal itu sangat wajar mengingat keadaan Islam sebagai sebuah kekuasaan memang cukup menggairahkan untuk dikuasai oleh masing-masing kubu politik waktu itu. Hal itu ditandai dengan memburamnya solidaritas antar sesama muslim, namun yang dikedepankan adalah kepentingan politik dan kekuasaan. Kawan dan lawan-pun sudah tidak jelas, tikam menikam adalah tradisi politik secara umum, dan seterusnya tetap menjadi lebel abadi hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Al-Jabiri, Mohamed Abed, Problem peradaban: penelusuran atas jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, Yogyakarta: Belukar, 2004 &lt;br /&gt;Husaini, Arab Administration, Madras: Soldent &amp; Co, 1949&lt;br /&gt;Lewis,Bernard, Islam Forom the Muhammad to The Capture of Constantinople, New York: The Macmilan Press Ltd, 1974&lt;br /&gt;Maryam, Siti (edit), Sejarag Perdaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern ,Yogyakarta: Lesfi, 2004&lt;br /&gt;Mutahhari ,Murtadha, Masyrakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme terj. M.Hashem, Bandung: Mizan, 1986&lt;br /&gt;Maulana Muhammad Ali, Early Caliphate, terj. Imam Musa , Jakarta: Darul Kutubil Islam, 2007&lt;br /&gt;M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam ,Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2004&lt;br /&gt;Muir ,Wiliam, The Caliphate: Its Rice, Declain , and Fall ,Esinbagh: The RT. Society, 1982&lt;br /&gt;Maududi,  Abul al-‘Ala, Nazariyah al-Islamiyah wa Hadihi fi al-Siyasah wa al-Qonun wa al-Dustur  t.tp: Dar Fikr,1967&lt;br /&gt;Rahman ,Syaikh Muhammad Lutfar, Islam, (Dhaka: Bangla Academy, 1977&lt;br /&gt;Sardar ,Ziuddin, Rekayasa Masa Depan Peradaban Islam, terj. Rahmani AstutiBandung: Mizan, 1986&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8787262647340915925?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8787262647340915925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8787262647340915925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8787262647340915925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8787262647340915925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/03/sejarah-peradaban-islam-masa-khulafaur.html' title='SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDUN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2686722671143949492</id><published>2010-02-27T20:08:00.001-08:00</published><updated>2010-02-27T20:13:46.129-08:00</updated><title type='text'>PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MEMAHAMI AGAMA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A.Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama merupakan sisi kehidupan manusia yang cukup menarik untuk dipelajari, hal itu merupakan bagian dari konsekwensi posisi agama sebagai sebuah jalan yang menfasilitasi secara institusi kepada manusia untuk mencapai Tuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajarinya dari berbagai sisi atau sudut pandang adalah hal yang sangat mungkin, mengingat agama memang merupakan institusi sakral yang mewadahi berbagai dimensi kehidupan manusia. Artinya, agama membidangi berbagai dimensi kehidupan manusia, kemudian dalam tahap yang sama kemunculan agama sebagai institusi sakral tadi juga muncul dari sub dimensi kehidupan manusia. Secara lebih konkret terdapat keterkaitan yang saling aktif antara agama itu sendiri dengan sub dimensi kehidupan, pada sisi tertentu sub dimensi menjadi bagian dari agama, tetapi di sisi lain agama merupakan bagian dari sub dimensi kehidupan manusia. Berlandaskan gejala ini, mendekati agama dari berbagai sudut pandang adalah hal yang absah selagi dapat dituturkan secara berimbang dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kasus terkait adanya hubungan dua arah yang aktif antara agama dan sub dimensi kehidupan bisa dilihat pada proses keberagamaan pemeluk agama itu sendiri. Banyak diceritakan seorang hamba pada agama tertentu bisa mensinergikan kesadaran keberagamaannya setelah beberapa proses kehidupan yang dilewatinya. Proses itu penulis bahasakan dalam tulisan ini sebagai sub dimensi kehidupan, misalnya ketika Tuhan sebagai sesuatu yang transenden mampu disadari oleh seorang indiividu setelah mengalami keterhimpitan dalam kehidupan. Tidak hanya itu, bisa saja gejala-gejala itu tidak melulu dari keterhimpitan, tetapi juga bisa saja datang dari gelimangan kesenangan, kematangan atau kemegahan duniawi yang diraih oleh seorang individu tadi. Artinya konteks yang melingkupi seorang individu bisa saja mematangkan kesadaran religiuitas, sehingga kemudian Tuhan bisa hadir pada kehidupan orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan-kemungkinan tersebut di atas walau masih sebatas pada tataran pemahaman subyektifiatas penulis, akan tetapi hal tersebut adalah hal yang ada, serta perlu didialogkan dengan berbagai hal, entah itu pada teks ataupun antar sesama. Secara garis besar kesadaran relegius yang kemudian terbahasakan dengan sebutan agama memang tidak terlalu jauh dengan pengalaman yang melingkupi manusia. Adapun pengalaman yang begitu sangat beragam, bisa muncul dari gesekan dengan alam, antar sesama manusia, teks atau apa saja yang memungkinkan adanya perjumpaan pada manusia. Adanya pengalaman yang beragam tersebut, mengukuhkan bahwa, mendekati studi agama dari berbagai sudut pandang adalah wajar. Pluralitas sudut pandang dalam mempelajari agama memungkinkan berkecambahnya berbagai macam pemahaman, sekaligus pada tahapan berikutnya akan menambah khazanah keilmuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari pengalaman subyektif penulis yang tertuturkan di atas, maka dapat diruntut benang merah dari kajian yang akan diangkat oleh penulis dalam tulisan ini. Secara garis besar penulis ingin memberikan kejelasan adanya pluarilatas pendekatan dalam mengkaji agama. Kajian yang dimaksudkan penulis disini hanya merupakan review beberapa teori yang digulirkan oleh beberapa tokoh, lalu kemudian dipilah-pilah sebagai upaya memahami konstribusi dari tokoh-tokoh tersebut untuk diimplikasikan pada konteks studi keislaman.Adapun tekanan tema yang akan dipaparkan dalam kajian ini berupa pendekatan psikologi. Memahami agama dari gejala-gejala psikologi cukup menarik, walau memang juga ada sisi kesulitannya mengingat pendekatan ini memang cukup unik. Demikian kiranya ulasan penghantar ini cukup untuk menghantarkan pada penuturan pembahasan berikutnya.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B.Pendekatan Psikologi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pada kajian ini secara spesifik akan dibahas satu pendekatan dalam studi agama, yaitu psikologi. Beberapa pandangan para ahli sangat beragam dalam hal ini, misalnya saja ada yang menyatakan bahwa tekanan terhadap seorang pribadi yang kemudian melahirkan pengalaman individu yang mempunyai keterkaitan kepada yang transenden (Tuhan), pendapat lain ada yang beroposisi dengan pendapat ini yang menyatakan bahwa, tekanan atau pengalaman seorang individu merupakan persoalan murni psikologi. Secara khusus ada beberapa pemikir yang menempatkan persolaan psikologi tersebut sebagai bagian yang mempunyai hubungan dengan yang transenden atau bagian dari kesadaran religius. Beberapa tokoh yang berada pada kubu ini menggabungkan keduanya antara persoalan psikologi dan persoalan transenden terdapat adanya saling keterkaitan. Jung, Campbel dan Eliade adalah tokoh yang menyandarkan agama pada sebuah ketidaksadaran kolektif yang merupakan bagian dari gejala psikologi universal. Kemudian Freud juga berpendapat bahwa agama secara esensial mempunyai gejala-gejala yang cukup unik yang perlu disingkap dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar kajian ini akan lebih dikonsentrasikan pada dua hal, yang pertama, pengujian teori agama sebagai sebuah keutuhan. Tekanannya adalah, pada sisi psikologi yang berkaitan pada agama dan perseorangan yang di dalamnya juga dikaitkan pada struktur keagamaan. Kemudian pada konsentrais yang kedua akan difokuskan pada pencarian platform atau landasan teoritis dalam mendekati dan memetakan kajian kegamaan sebagai sebuah disiplin ilmu yang terus menjadi bahan diskusi sepanjang zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pendapat para tokoh yang akan penulis uraikan secara singkat adalah sebagai berikut :  &lt;br /&gt;1.Willian James &lt;br /&gt;Sebagai pembuka dari kajian ini, William James ditempatkan sebagai tokoh pertama yang akan dijadikan bahan diskusi dalam kajian ini. Selayaknya para pendahulunya, William James mengembangkan teori keagamaan berlandaskan pengalaman pribadinya. Pengalamannya dengan pendekatan psikologi dan subyektivitas yang diusungnya menjadi pondasi bagi agama sebagai sebuah fenomena  dan sebuah lembaga sosial. Dalam hal ini walau tidak secara vulgar, William menempatkan agama sebagai fenomena dan institusi sosial yang memungkinkan untuk didekati secara psikologi. William mendiksusikan agama sebagai sesutau yang muncul dari bagian terluas  pengalaman manusia. Karenanya, dia menyatakan bahwa, perasaan keagamaan adalah hal yang serupa dengan perasaaan-perasaan yang lain. Dengan demikian maka agama merupakan bagian ekspresi dari pengalaman psikologi individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi agama yang dibangun oleh James juga meliputi beberapa hal yang terkait dengan obyek agama. Definisi yang dibangunnya tidak hanya berkisar pada satu obyek spesifikasi  tipe keberagamaan, akan tetapi juga difokuskan pada karakteristik perseorangan atau kelompok dengan penekanan bahwa obyek keberagamaan adalah segala sesuatu yang mempunyai sifat ketuhanan. Definisi ini membuka kemungkinan masuknya ruang luas aktifitas dari mansuia sebagai sebuah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang diusung James tidak hanya mempertahankan eksistensi dari dunia lain, dia juga tidak menolak keistimewaan umum dari gejala pengalaman keagamaan. Pengalaman tersebut berakar dari gejala psikologi yang kemudian secara tidak sadar terbawa pada obyek eksternal. Secara gamblang agama kemudian ditampilkan sebagai sebuah akumulasi dari gejala-gejala kejiwaan yang dirasakan oleh masing-masing individu lalu kemudian termanefestasikan pada sebuah obyek di luar dunia manusia, berupa keyakinan adanya yang maha Tinggi yaitu, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama jika dilirik pada bagian-bagiannya mempunyai aturan-aturan yang membentuk sisi-sisi kehidupan manusia atau pengalaman yang bergulir di tengah-tengah kehidupan. Sedangkan agama itu sendiri menjadikan sesuatu yang dibutuhkan dengan mudah dan tepat. Bila boleh disederhanakan yang dimaksudkan oleh James disini adalah, agama sebagai bagian dari fenomena psikologi yang dapat memberikan konstribusi kemudahan dan tepat untuk kepentingan manusia. Demikianlah kira-kira pemahaman yang dapat penulis rekam dari uraian rumit James dalam menuturkan definisi agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James juga berpendapat bahwa ada gejala pengalaman umum religius yang terseret pada konteks pengalaman relegius individu, lalu kemudian dibahasakan dengan pengalaman mistis. Mistis tersebut kemudian terdefinisikan pada empat kategori : (1) pendongengan (pengumpamaan), (2) kesementaraan, (3) pasif, dan (4) pelepasan dari nilai etika. Dari sekian pendapat yang dilontarkan oleh James, kemudian sampailah pada kesimpulan akhir yang menempatkan agama sebagai sebuah perjumpaan dari esensi dan sekian banyak fenomena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dari sekian pendapat James tidak terlepas dari beberapa kritik terhadapnya. Adapun titik yang menjadi pusat diskusi terhadapnya adalah, teori yang digagasnya hanya sebuah upaya pemberian penjelasan tentang kepercayaan seorang individu, belum sampai pada penjelasan tentang ketekunan keagamaan sebagai institusi sosial manusia secara luas. Banyak hal penjelasannya tidak sinkron dengan komplektisitas obyek dan praktek yang ditemukan dalam struktur keagamaan. Hal itu ditandai dengan terpotongnya makna dan peran agama sebagai hal yang sangat penting sebagai sebuah institusi sosial. Artinya teori James hanya beberapa penjelasan yang sifatnya individual lalu kemudian dicoba untuk diseret pada ruang yang lebih luas tanpa mau tau ada struktur-struktur penting lainnya yang tersisihkan atau terlupakan. Sehingga beberapa penjelasannya tentang agama menjadi tidak akurat dan kurang, dikarenakan agama tidak bisa dia terjemahkan sebagai institusi sosial. Walau kesadaran akan adanya Tuhan sebagai akibat dari pengalaman individu, namun di lain sisi agama tetaplah mempunyai sisi-sisi praktis yang bersinggungan dengan ruang yang lebih luas dari sekadar individu. Dengan demikian signifikansi dari teori James ini lebih tepatnya digunakan pada penelusuran-penulusuran kesalihan individu bukan pada tataran memahami agama secara utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sigmund Freud      &lt;br /&gt;Analisis yang dibangun oleh Freud dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama merupakan penilaian agama sebagai sebuah khayalan yang kemudian dikembangkan dalam bukunya yang berjudul The Future of an Ilusion (1961) sedangkan yang kedua adalah, dasar-dasar agama dan ritual yang kemudian dikembangkan juga dalam bukunya yang berjudul Totem and Taboo (1950). Agama yang diseret sebagai sebuah khayalan adalah akibat dari titik pandang yang bertolak dari psikologi, sedangkan yang berkaitan dengan bahasan kedua dari apa yang didiskusikan oleh Freud merupakan dampak dari titik pandang yang bertolak dari fungsi agama bagi persorangan dan masyarakat umum. Maka kemudian jika boleh disedrhanakan apa yang akan digagas Freud disini merupakan pendekatan studi agama lewat psikologi dan fungsi agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba mengenal lebih dekat pada apa yang digagas pertama oleh Freud mengenai agama sebagai sebuah khayalan. Menurutnya agama merupakan bagian gejala psikologi yang berupa penggabungan pengalaman pribadi dengan pengalaman masyarakat. Sebagai sebuah analogi yang dibangunnya adalah, tatkala seorang bayi atau anak bepersepsi  tentang pengendali dunia lalu kemudian sang bayi atau anak  menisbatkan pengendali tersebut pada ayahnya. Pada tahap berikutnya masyrakat membawa image ini  ke ruang yang lebih luas, kemudian akhirnya ayah sebagai seorang Tuhan menjadi kesadaran umum masyarakat yang mengakar kuat. Dari sinilah kemudian agama itu terbentuk, begitulah pengamatan Freud dalam memahami agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara prinsip garis besar teori yang digagas oleh Freud berikisar pada model perkembangan budaya yang terjadi di tengah-tengah masyrakat yang progresif. Sebagai misal, apa yang ada pada kebudayaan Eropa yang tergolong sebagai bentuk budaya yang tinggi. Pada sisi ini Freud melihat peran agama yang bermain di tengah-tengah manusia dan masyarakat, kemudian juga tidak luput dari perhatiannya yaitu agama sebagai sebuah institusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freud menyatakan yang dimaksud dengan khayalan bukanlah sesuatu yang janggal, akan tetapi sebagai bentuk kepercayaan yang dipegang untuk mengharap ketenangan dari berbagai bentuk pandangan yang saling bertubrukan. Banyak hal yang dipertentangkan oleh manusia, termasuk masalah pencipta dunia ini. Untuk menjadikan diri seseorang tenang maka kemudian seorang individu berilusinasi sebagai jawaban atas kegalauannya yang bergelimang dalam dirinya, hal tersebut dilakukan untuk menyingkirkan banyaknya argumen yang saling bertubrukan tadi. Hal ini juga merupakan upaya agar kehidupan seseorang tadi dapat berlanjut dan dapat berdampingan dengan Tuhan yang dicarinya. &lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas maka agama secara tidak sadar akan memberikan peran pada kehidupan manusia. Namun diperkirakan oleh Freud peran-peran agama di masa yang akan datang akan diambil alih oleh science. Pada perkembangan berikutnya manusia dengan secara sadar tidak akan menyediakan tempat untuk agama. Walau ini hanya berupa teori, tetapi juga sangat terkesan janggal, karena ilusi yang dibangun oleh Freud mengenai ilusi masa depan sangat memojokkan umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mengundang kontroversi dari uraian Freud mengenai pembunuhan dan perzinahan sedarah yang dilakukan oleh seorang anak yang membunuh ayahnya kemudian menzinahi ibunya. Menurutnya kejadian ini merupakan salah satu yang kemudian melahirkan pelarangan-pelarangan hukum terhadap perbuatan tercela tersebut yang terkemas dengan sebutan aturan agama. Menurutnya seluruh agama berkembang dan terbentuk lewat prilaku keras dan kesalahan. Secara lebih sederhana Freud menganggap agama merupakan sebuah kesadaran yang terbentuk lewat pengalaman kesalahan masa lalu yang kemudian memunculkan rumusan-rumusan aturan untuk menangani kejanggalan yang terjadi. Kisah ini memang terlalu mengejutkan bagi kalangan tertentu dengan contoh vulgar yang diangkatnya. Akan tetapi, hal itu merupakan cara Freud memberikan pemahaman bagi para pembaca idenya, agar apa yang digagasnya benar-benar dapat dipahami dengan baik. Menyisihkan kisah yang kontroversinya, terdapat pesan yang menyatakan bahwa agama merupakan sebuah kesadaran yang bermula dari prilaku asusila.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga kegamangan dalam teori yang digulirkan oleh Freud dikarenakan saking terlalu intimnya terhadap persolan perkembangan budaya dan individu, sehingga pada prakteknya sangat dekat dengan etnografi. Teori yang diwariskan Freud mengenai perkembangan budaya yang menyatakan bahwa semua budaya akan maju melewati satu jalan perkembangan saja tidak sejalan dengan data-data etnografi yang menyatakan setiap kelompok masyarakat berkembang dengan jalan dan pilihannya sendiri yang mengambil atau menolak dari kelompok masyarakat yang lain. Artinya, setiap masyarakat mempunyai karakteristik tersendiri mengenai kemajuan dan perkembangannya, bisa saja pada satu sisi sama dengan kelompok masyarakat lainnya tapi juga bisa terdapat  sisi yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Carl Gustav Jung&lt;br /&gt;Jung melihat bahwa agama merupakan landasan positif yang mengayomi aspek psikologi. Pandangannya yang lebih luas menyatakan bahwa, agama merupakan sebuah institusi yang tercipta dari pengalaman keagamaan. Adapun pengalaman keagamaan itu merupakan sekumpulan perasaan yang datang dari luar dunia manusia yang melewati perorangan ataupun kesadaran kelompok masyarakat tertentu. Apa yang ingin dikatakan Jung secara lebih sederhana adalah, agama secara institusi pada posisinya dalam kerangka kehidupan sosial merupakan suatu kesadaran yang datang dari luar dunia manusia lewat pengalaman-pengalaman individu ataupun kelompok yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah institusi yang dapat mewadahi persoalan psikologi manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu yang lain, Jung menyatakan bahwa agama merupakan wadah yang menyimpan warisan spiritual yang kemudian menjangkiti kelompok masyarakat tertentu setelah melewati berbagai macam transmisi. Akhirnya, secara tidak sadar kelompok-kelompok tersebut menerima warisan spiritual tersebut tanpa memperhitungkan rasinolitasnya. Untuk itu kemudian Jung menempatkan agama sebagai sesuatu yang berkembang pada kehidupan manusia tanpa melewati titik tekan rasionalitas. Secara komunal manusia menerima warisan spiritual itu dengan berlandaskan hati, sehingga kemudian Jung berkesimpulan bahwa hati merupakan landasan dari agama. Dengan demikian, manusia secara kolektif menerima agama tanpa pertimbangan rasio, lalu kemudian Jung membahasakan proses ini sebagai teori ketidaksadaran kolektif (collective unconscious). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ketidak sadaran atau dibawah sadar merupakan pola dasar yang secara signifikan mempersentasikan Tuhan sebagai basis perhatian obyektif psikologi. Pola dasar ini berkaitan dengan perkembangan aspek lain kemanusiaan dan kepribadian. Sehingga kemudian Jung berkesimpulan bahwa dasar dari setiap agama bermula dari ketidaksadaran. Selain konsep ketidaksadaran konsep lain yang disodorkan Jung adalah mengenai pendongengan. Yang dimaksud pendongenan disini adalah suatu fantasi yang dibangun dari dalam dan luar kesadaran manusia yang berbentuk cerita-cerita bijak orang tua kepada anaknya mengenai Tuhan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa agama merupakan bentuk fantasi atau imajinasi yang dibangun dari dalam dan luar diri manusia yang dialamatkan kepada Tuhan sebagai obyek fantasi. Lalu secara garis besar dari seluruh uraian teori yang yang digagas oleh Jung tidak jauh beda dengan para pendahulunya (Freud) yaitu hanya sebagai bagian sebuah pendekatan mistik serata belum sampai bisak representif sebagai bagian dari pendekatan ilmiah.&lt;br /&gt;C.Implikasinya dalam Konteks Keislaman&lt;br /&gt;Tiga tokoh psikologi di atas mencoba memahami agama dari sudut pandang yang dgeluti oleh mereka.Secara garis besar semua tokoh sepakat bahwa agama merupakan bagian dari ekspresi kejiwaan yang diejawantahkan dalam bentuk penyerahan dan pengenalan kepada Tuhan. Akan tetapi sudut pandang ini sebenarnya belum mampu mewadahi makna agama secara komprehensif. Apalagi ketika pendekatan ini diseret pada konteks ke-Islaman. Terkesan bengitu sangat dangkal untuk melahirkan sebuah pemahaman mengenai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dipahami bahwa agama dalam konteks keislaman tidaklah melulu membahas ketertundukan manusia kepada Tuhan (Mu’amalah ma’a Allah),  tetapi ada dua aspek lain yang juga menjadi bagian dari agama, yaitu hubungan antar sesama (mu’amalah ma’an nas) serta hubungan terhadap lingkungan (mua’amalah ma’al bi’ah). Karenanya sangat naïf jika agama ditempatkan sebagai bagian dari dongeng dan imajinasi bebas tanpa akar dan tujuan. Walau ekspresi kejiwaanjuga ada dalam Islam, tetapi pada bagian lain, Islam membentangkan ruang yang cukup luas terhadap rasio untuk berkreasi dalam rangka menerima dan menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling kentara dari keganjilan pendekatan yang digunakan oleh tokoh di atas adalah, ketika pendekatan yang digunakan oleh mereka dengan secara egois dipaksakan untuk mendefinisikan agama. Padahal jika didekati lebih detil, apa yang mereka gunakan untuk mendekati agama baru bisa mengurai bagian kecil dari agama. Sehingga kemudian, definisi yang dibangunpun belum bisa mewakili dari agama. Kiranya lebih tepatnya pendekatan mereka baru saja pada salah satu tangga dari sekian tangga lainnya untuk menuju definisi yang valid. Kenisacyaan untuk bergandenan dengan pendekatan-pendekatan lainnya merupakan sebuah keharusan agar definisi yang dibangun bisa lebih mendekati kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara partikular pendekatan psikologi yang digagas oleh beberpa tokoh di atas bisa diimplikasikan pada suatu bagian prilaku keagamaan saja, dan tidak bisa digunakan untuk memahami agama secara keseluruhan. Adapun yang relevan pada konteks Keislaman dari pendekatan psikologi ini menurut hemat penulis lebih tepatnya bisa diimplikasikan pada kasus mistisism (sufi). Sufisme dalam Islam yang lebih bersifat individu, kiranya memang sangat bisa didekati lewat psikologi, mengingat secara riil banyak para pelakunya lebih mengendepankan perasaan-perasaan halusnya dalam menjalani hidup, serta pada sisi yang lain para sufi cenderung mengesampingkan rasio dan mengedapankan perasaan (nafs,jiwa,psikologi).        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D.Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui uraian serta pembacaan secara cermat dari penuturan tokoh psiiklogi di atas, dapat dipahami bahwa persoalan pendekatan psikologi dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Pendekata psikologi yang digagas oleh para tokoh di atas belum bisa mendefinisikan agama secara utuh, karena teori-teorinya hanya berkisar pada kesadaran individu serta hubungannya dengan Tuhan. Maka tidak tepat jika mencomoti pendekatan ini berdiri sendiri dengan angkuh dan mengabaikan pendekatan lainnya. Hal ini sangat terkait dengan agama yang mempunyai sisi-sisi yang sangat kompleks.&lt;br /&gt;2.Dalam konteks keislaman, pendekatan psikologi ini cukup relevan untuk mengawal gejala atau prilaku mistisism (sufi),hal itu dinyatakan dengan adanya sisi sinkronisitas antara persoalan psikolgi yang berkaiatan dengan rasa. Demikian dengan gejala Sufism yang juga sangat erat dengan kerja-kerja perasaan (Nafs,jiwa,psikologi).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2686722671143949492?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2686722671143949492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2686722671143949492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2686722671143949492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2686722671143949492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/02/pendekatan-psikologi-dalam-memahami.html' title='PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MEMAHAMI AGAMA'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6893834444508494428</id><published>2010-01-22T17:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T17:10:06.292-08:00</updated><title type='text'>APA YANG DAPAT KITA KETAHUI TENTANG TUHAN (I)</title><content type='html'>Pemahaman paling sedikit yang bisa didapat dari penuturan panca Indera tentang Tuhan adalah, Tuhan sebagai pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu dalam konteks ketaatan atau ibadah, tuhan dapat ditemukan di dalam setiap sesuatu, sekaligus disadari sebagai sumber dari kesenangan sederhana yang dapat mengatasi dari kesulitan kehidupan nyata. Tuhan biasanya hadir sebagai sesuatu yang baik. Akan tetapi menjadi sesuatu yang menyulitkan dalam menjustifikasi karakteristik Tuhan yang melekat pada sesuatu yang bermacam-macam serta bentangan alam yang cukup luas, disitu terdapat banyak hal yang baik dan yang buruk, pada akhirnya tedapat keburaman pada bagian yang mana Tuhan menjadi pencipta dari sekian hal yang tercipta di jagat semesta tersebut jika Tuhan disandarkan sebagai sayap kanan dengan sifat-sifat baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian lain, Tuhan sebagai pencipta menjadi persoalan yang trasendental yang melampaui segala sesuatu yang tertuang dalam konsep kepastian. Sebagai tanda bahwa Tuhan pencipta yang transenden adalah, ketika dunia ini tercipta dengan kondisi yang harmonis serta dengan berbagai keunggulan di dalamnya. Segala sesuatu tercipta dengan bentuk, di dalamnya tersusun komponen yang membentuknya lalu kemudian menjadi sebuah bentuk dengan performa yang sempurna. Tersusunya kokplektifitas yang rigid tesebut menjadikan kesimpulan bahwa Tuhan sebagai sang pencipta tidak bisa ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang Tuhan terus bergulir sepanjang waktu dengan berbagai interpretasi yang diambil dari pengalamana-pengalaman umum. Namun ternyata banyak manusia yang datang mengapresiasikan Tuhan sebagai sang pencipta dari dunia yang indah untuk tempat manusia ini dengan membuat polusi dan merusaknya. Padahal Tuhan benar-benar menciptakan dunia ini begitu sangat elok, mulai dari hal yang paling kecil hingga sesuatu yang sangat besar seperti menyebarnya gemerlap bintang di malam hari. Semua yang tercipta itu mempunyai keterkaitan secara natural (sistemik) dalam pemeliharaan Tuhan yang telah menciptakannya, hal ini begitu sangat rasional dengan beberapa kegunaanya yang tedapat pada tiap ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan selanjutnya pengetahuan tentang Tuhan bisa didapat dari wahyu-wahyunya. Wahyu merupakan media pengetahuan tentang Tuhan yang terputus dari segala media penghantar lainnya. Jika dikaitkan dengan media penghantar lainnya maka akan terdapat banyak hal yang controversial, pada konteks ini Tuhan dikenal sebagai bagian dari sebuah kepercayaan bukan pengetahuan.&lt;br /&gt;Sedangkan media selanjutnya adalah kosmos atau aturan yang berlaku di alam raya ini,baik itu yang bersandar pada fenomena-fenomen alam ataupun yang berkenaan dengan fenomena-fenomena sosial. Pada tataran yang berkiatan dengan alam maka sins sebagai medianya. Adapun yang berkaitan dengan fenomena sosial maka institusi sosial dan individu yang menjadi medianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi secara garis besar, manusia dapat mengenal Tuhannya lewat tiga media :1) panca indera,2)wahyu dan 3) sains (kosmologi) atau humaniora (institusi social dan individu).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6893834444508494428?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6893834444508494428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6893834444508494428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6893834444508494428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6893834444508494428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2010/01/apa-yang-dapat-kita-ketahui-tentang.html' title='APA YANG DAPAT KITA KETAHUI TENTANG TUHAN (I)'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5703703943928655415</id><published>2009-11-06T17:33:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T17:39:46.121-08:00</updated><title type='text'>CHELSESA vs MAN.UNITED, DUEL PENENTU PENGUASA PREMIER LEAGUE</title><content type='html'>Jelang duel besar klub papan atas Premier League antara The Blues julukan Chelsea kontra Red Devils julukan Manchaster United di kandang Chelsea Stamford Bridge Minggu 10 November 2009 nanti mengundang banyak perhatian para penikmat bola di seluruh dunia. Sangat wajar, karena dua klub raksasa Inggris ini memang mempunya tipe permainan yang cukup impressive bagi setiap penikmat bola. Berbagai macam prediksi pun banyak digulirkan. The Blues yang dalam pekan ini memang berada di puncak klasemen dengan torehan 27 poin mengukuhkan mental para punggawa klub London Barat ini semakin kukuh untuk menjamu tamunya. Akan tetapi, MU yang mengekor berada persis pada posisi kedua dengan selisih 2 poin di bawah The Blues tentunya tidak boleh diabaikan begitu saja. Kenyataan inilah yang menjadikan Big Match ini semakin mengairahkan untuk dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Blues yang akan bermain di depan pendukungnya sendiri merupakan modal utama menjemput kemenangannya. Selain dari pada itu, data statistic menunjukkan permainan The Blues hingga pekan ke-11 di Stamford Bridge menorehkan catatan yang sangat gemilang dengan hanya kebobolan sekali saja. The Blues berbekal pengalaman yang gemilang pada duel kandang yang diraihnya selama ini, menjadikan MU harus berhati-hati bertamu di Stamford Bridge yang nota benenya Stamford Bridge bagian dari stadion yang mengerikan bagi MU. Tercatat sejak tahun 2002 Iblis Setan Merah belum pernah menundukkan The Blues di stadion tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Chelsea semakin kukuh menjadi salah satu club Eropa yang paling manakutkan daripada Barcelona sekalipun. Saat ini berbagai macam rentetan catatan spektakuler berhasil ditorehkan. Tercatat 17 gol pada empat laga terakhir dalam melibas lawan-lawanya di segala kompetisi tanpa kebobolan sekalipun. Torehan spektkuler itu dimulai dengan kemenangannya melawan Atletico Madrid 4-0, Blackburn Rovers 5-0 kemudian disusul sepekan kemudian menggilas Bolton 4-0 sebanyak dua kali, total gol keseluruhan mencapai 17 gol. Sebuah hasil cukup membelalakkan mata, tentunya bagi Fergie arsitek MU, hal ini menjadi catatan yang harus menjadi bahan kegelisahannya sebelum akhhirnya bertandang ke Stamford Bridge.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Carlo Ancelotti pertemuan nanti adalah kali keduanya melawan Sir Alex Ferguson sejak dia menangani Chelsea. Kedua pelatih ini memang mempunyai catatan karir luar biasa, walau secara fakta diakaui bahwa Fergie mempunyai pengalaman yang lebih padat ketimbang Carletto. Diakui secara fakta bahwa Anceloti baru mengoleksi sekali menjuarai liga domestik, yaitu menghantarkan Milan menjadi juara serie A 2003/04, menunjukkan secara gelar Domestik Fergie memang lebih unggul dengan koleksi prestasinya sebanyak 11 mahkota menjuarai liga Domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang didominasi Fergie bukan berarti mengubur keinginan Ancelotti untuk memenagi duel bergengsi tersebut. Karena, jika dirunut lebih detil Ancelotti mempunyai perbedan tipis dengan Fergie, keduanya sama-sama mengoleksi dua trofi Liga Champion. Fakta inilah yang menjadikan duel Chelsea versus MU sebagai duel maut yang tetap memendam teka-teki. Akankah Lampard yang akan tertawa ataukah Rooney yang akan membawa kemenangan??kita lihat saja nanti, siapa yang pantas menyandang Club paling ganas di Premier League musim ini…!!! [IJAN]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5703703943928655415?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5703703943928655415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5703703943928655415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5703703943928655415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5703703943928655415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/11/chelsesa-vs-manunited-duel-penentu.html' title='CHELSESA vs MAN.UNITED, DUEL PENENTU PENGUASA PREMIER LEAGUE'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5687851063277865472</id><published>2009-11-03T18:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T18:37:45.561-08:00</updated><title type='text'>MEMULAI MENULIS ADALAH METODE TERBAIK MENJADI PENULIS</title><content type='html'>“Wah susah sekali ya memulai menulis itu”. Petikan keluhan ini yang mungkin banyak dirasakan oleh para pemula dalam menuliskan idenya. Terbayang dalam benak si penulis berbagai macam pertimbangan yang menghalangi untuk memulai. Kemapanan serta keharmonisan bahasa menjadi persoalan untuk memulai. Sedap tidak sedap menjadi bumbu yang selalu tidak lepas dari kerangka berfikir sang calon penulis. Seakan kebutuhan terhadap bahasa yang harmonis dan sedap menjadi syarat bagi seseorang dalam bertutur secara tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh disederhanakan, sebenarnya bumbu penyedap itu hanya bagian kecil dari komponen sebuah tulisan. Titik pusat terpenting dari sebuah tulisan adalah ide dari tulisan itu sendiri. Penulis hanya punya tugas menyampaikan idenya kepada pembaca tanpa dibebani oleh penyedap tadi. Hanya saja biar ide menjadi ide yang gampang dipahami, maka ide tersebut perlu penghantar yang baik, berupa kemasan bahasa yang familiar di tengah-tengah pembacanya. Akan tetapi pada tahapan ini hanya bagi mereka yang sudah mampu, bagi mereka yang baru memulai maka cukup bertutur saja sesuai dengan kemampuannya dengan menyisihkan terlebih dahulu faktor idealitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari penjelasan di atas, maka sangat mungkin bagi setiap individu untuk melakukan aktifitas menulis. Tidak ada halangan apapun yang bisa dikategorikan sebagai halangan. Adapun ide tulisannya tidak terbatas, dari yang konkret atau nyata hingga yang sifatnya abstrak. Memulai menulis adalah lebih baik daripada berfikir bagaimana memulai menulsi itu sendiri. Hanya menulis itu sendiri yang akan menunjukkan bagaimana metode menulis yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, secara teori cukup banyak para ahli menyampaikannya secara naratif, tetapi semua teori itu pada akhirnya akan mengajak para peserta latihnya untuk memulai menulis. Walau teori tidak selamanya menjadi hal yang terabaikan akan tetapi memulai menulis itu sendiri tetap yang paling awal yang harus dmulai dibandingkan teori yang banyak digulirkan oleh para ahli tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya setiap orang memberanikan dirinya untuk memulai menulis. Pada mulanya menulis itu untuk diri sendiri, namun setelah beberapa rentang waktu menulis untuk orang lain cukup penting untuk dimulai. Karena, makna dari menulis itu merupakan bentuk komonikasi yang dituangkan secara tetulis sebagai upaya agar hidup ini lebih berarti dan bisa menjadi pelajaran bagi orang setelah ini. Inillah pentingnya kenapa menulis itu perlu menjadi tradisi masing-masing individu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang duntungkan dari kreatifitas menulis ini. Mungkin yang paling sangat dekat dengan kehidupan pribadi adalah membantu seorang individu dalam mengikat makna dari sebuah momen. Disadari atau tidak banyak momen atau peristiwa yang terlewati dan terbuang begitu saja tanpa bekas apapun pada diri seorang individu. Dengan menulis makna-makna itu akan gampang tersimpulkan menjadi pelajaran dan kenangan bagi diri seseorang atau orang lain. Jika mungkin memang tidak terdapat nilai-nilai pelajaran di dalamnya, minimal eksistensi kemanusiaan bisa tersuguhkan secara riil dengan keterlibatan di dalamnya kreatifitas berfikir sebagai cermin dari makhluk yang paling sempurna. Namun sangat minim sebuah tulisan itu tidak mempunyai nilai apapun, paling tidak tulisan itu mempunyai arti bagi penulisnya sendiri. Jadi, sebuah tulisan tetaplah kekayaan kemanusiaan yang sangat berarti yang tak ternilai harganya. “Mulailah menulis dari sekarang…..!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5687851063277865472?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5687851063277865472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5687851063277865472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5687851063277865472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5687851063277865472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/11/memulai-menulis-adalah-metode-terbaik.html' title='MEMULAI MENULIS ADALAH METODE TERBAIK MENJADI PENULIS'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-838650878897265309</id><published>2009-10-31T17:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T17:38:55.808-07:00</updated><title type='text'>AKU DIRAJAM DENGAN PELUKAN MESRA</title><content type='html'>Aku dirajam habis oleh teman-teman sekelas dalam persentasi paperku yang dinilai amburadul oleh banyak orang waktu itu. Komentar  bemunculan bermacam-macam, mulai dari kritik sampai pada lontaran komentar anarkis yang mencemooh begitu kentara terdengar jelas di telingaku. Hari Kamis sore 29 Oktober 2009 di ruang kuliah 203 Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga menjadi saksi bisu kebobrokanku. Paper tentang Francis Bacon dan Rene Descartes yang dikorelasikan untuk mengkritik tradisi Keilmuan Islam dinilai kurang sinkron dan dangkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpojok, seakan disorong oleh banyak orang pada salah satu sudut di ring pergulatan intelektual. Walau masih mempertahankan wajah simpelku dalam performa, tetapi pada hakikatnya darah emosi melonjak menapaki titik paling menggemaskan. Gemas ingin memuntahkan kekesalan dengan berjingkra-jingkrak sambil mempelintir telinga mereka satu persatu. Kekesalan yang begitu sangat bergejolak itu tak mampu malabrak kesadaran etikaku. Sehingga raut muka dan nada suaraku tetap mengalun sahdu serta menebar sinyal-sinyal persaudaaan yang begitu erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bergulir kritik dan komentar dari teman-temanku membabat habis hasil kajianku selama seminggu. Pengetahuan mereka seakan mengakar ke bumi dan menjulang ke langit. Begitu mudah mementahkan olahan masak buah pikirku. Sodoran wacana yang digagas olehku seakan menjadi bahan lelucon yang menggelikan. Sejarah dan akar epistemologi dari kedua tokoh yang menjadi kajian utamaku terlihat begitu renyah, kering-kerontang dan kropos. Ulasan panjang yang menghabiskan 18 halaman itu seakan hanya butiran-butiran pasir belaka tanpa adanya serpihan mutiara yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dalam  posisi yang terpojok, aku tetap bergairah meladeni mereka dengan terus memberikan kalarifikasi walau hanya sebatas mencari celah untuk mengelak dan bertahan dalam kekalahan. Senyam-senyum dari teman-teman dengan raut mengecilkan kedigdayaanku sebagai manusia seakan menjadi siraman menghangatkan naluri dan hatiku untuk bangkit dari tidur lama dan kegelapan. Renaisanse yang digagas Bacon layaknya memang pantas dikobarkan dalam merevolusi diriku. Saatnya aku arus beranjak dari kegelapan menuju titik terang yang menghantarkan aku pada kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen pembimbing juga tak mau kalah memberikan komentar yang mencambuki habis kebobrokanku. Judul paper “Epistemologi Keilmuan Islam Transformatif, Studi atas Pemikiran Francis Bacon dan Rene Descartes dalam Menformulasikan Keilmuan Islam” menjadi judul pertama paperku yang mengajakku untuk lebih dalam menyelami lautan buku. Kebobrokanku saat itu walau tidak secara implisit menunjukkan otensitas kemampuanku, tepapi aku sadar bahwa untuk masa yang akan datang perlu keseriusan lebih intensif lagi dalam studiku. Aku yakin kemampuanku secara natural masih layak untuk diikut sertakan dalam studi di program magister ini, walau mungkin harus lebih ekstra dibandingkan teman-temanku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui hasil kajianku ini merupakan paper pertama yang dipersentasikan dalam studi tema-tema epistemologi pada semester ini di kelasku. Kekurangan serta berbagai macam kedangkalan tentunya menjadi hal yang tidak bisa dielakkan, mengingat belum ada contoh yang mendahului kajianku ini. Alasan ini walau bukan satu-satunya yang mejadikan hasil kajianku begitu sangat kering, tetapi paling tidak cukup untuk memberikan siraman sejuk (hiburan) bagi diriku. Sejatinya kendala serta satu-satunya yang menempatkan kajianku menjadi hambar karena tema yang aku angkat merupakan tema luas yang memerlukan ulasan panjang. Tema yang luas serta kemampuan intelektualku yang begitu minim semakin mengukuhkan kajian yang aku angkat tidak menemukan titik jelas (gamang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari semua itu, aku ingin mengentas diriku dari tudingan peremehan yang mungkin sempat tersirat di benak teman-teman atau dosen. Tudingan miring itu bisa berupa sangkaan negative yang menempatkan aku sebagai seorang pemalas yang tidak mau belajar. Tudingan ini tidak sepenuhnya benar, karena secara jelas aku sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada kajian ini. Usaha itu dimulai dengan pencarian bahan bacaan yang sedikit menguras tenaga dan materi. Beberapa buku memang aku beli langsung di ‘Shoping”, serta sebagian yang lain dari usaha pinjam ke teman yang tempat tinggalnya cukup jauh dari tempatku. Usaha tersebut di atas cukup membuktikan bahwa aku secara konkret telah serius dan antusias dalam mengerjakan tugas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merinci usaha serta keseriuasanku di atas memang tidak akan bisa menjadikan kajian yang aku angkat menjadi lebih baik. Tetapi dengan rincian tersebut persepsi miring itu tidak mengubur dengan serta merta usaha kerasku. Walau bagaimanapun hasil buruk dari kajianku ini adalah bagian pemahamanku yang secara pribadi menjadi pengetahuan. Penilaian keliru, kurang tepat atau mungkin penilaian salah terhadap kajianku merupakan bagian dari hasil usaha. Hasil usaha dalam tradisi keagamaan adalah tangga kedua setelah proses. Walau kevalidan hasil dari sebuah kerja adalah penting tetapi proses itu sendiri aku anggap bagian yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Dalam kacamata agama, paling tidak dari proses dan apresiasiku terhadap tugas kuliah ini aku akan mendapat pahala dari Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dari pengalaman yang berharga ini, aku mencoba meramu diriku lebih energik lagi dalam mengeksplorasi ilmu Tuhan yang sangat luas. Kesibukanku yang banyak bersinggungan dengan para santri serta pekerjaan-pekerjaan teknis di linkungan pendidikan, setidaknya menjadi nilai lebih dari sekian banyak kekurangan dan kebobrokanku dalam bidang ini. Melalui pengalaman tersebut, aku akan mencoba bangkit untuk lebih baik lagi. Bagi ustadz Dr. Alim Ruswantoro, M.Ag serta seluruh rekan-rekan kuliah, ucapan terima kasih yang mendalam bagi kalian atas pecutan dan sikap kooperatifnya bagi perkembangan intelektualku ke depan adalah hal yang tidak akan aku lupakan. Kajian telah merajamku dalam peluk mesra. Terima kasih teman, aku yakin tidak hanya aku yang duntungkan dari kejadian ini. I Love U Full….. [ijan]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-838650878897265309?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/838650878897265309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=838650878897265309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/838650878897265309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/838650878897265309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/10/aku-dirajam-dengan-pelukan-mesra.html' title='AKU DIRAJAM DENGAN PELUKAN MESRA'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2638591134103810822</id><published>2009-10-26T18:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T18:48:44.600-07:00</updated><title type='text'>FILSAFAT SEBAGAI MODEL PENDEKATAN PENAFSIRAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prawacana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak al-Qur’an adalah Firman Allah yang merupakan salah satu bukti atau tanda konkret kebesaran-Nya. Di dalamnya merupakan pijakan dari setip gerak konkret hayati manusia. Bermunculan darinya berbagai macam dinamika, mulai dari ilmu pengetahuan sampai pada gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan. Sebut saja Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dua pilar terbesar gerakan ormas Islam di negeri ini. Berkecambahnya kelompok, golongan, madzhab atau yang sejenisnya merupakan pengejawantahan pemahaman terhadap isi kandungan al-Qur’an. Sangat bisa dipastikan bahwa al-Qur’an memang merupakan sumber dari semua gerak dinamika dan dialektika yang tidak pernah habis dieksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otensitas al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi tidak mungkin terbantahkan lagi. Selain telah menyuguhkan berbagai macam dinamika seperti yang telah disebutkan di atas, al-Qur’an pada sisi relegius merupakan pesan ilahi sebagai petunjuk (hudan) bagi kehidupan manusia. Pada dimensi ini, al-Qur’an diposisikan sebagai landasan dan sentral dari gerak hidup manusia agar tidak tergelincir  dan jauh dari jalan Tuhannya. Demikian vital keberadaan al-Qur’an bagi kehidupan manusia menjadikan setiap  manusia harus berupaya untuk terus melakukan interpretasi terhadap al-Qur’an, agar nantinya tercipta inspirasi dan pemahaman baru yang menghantarkan pada perkembangan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik pada suguhan realitas yang sebenarnya, banyak orang yang membaku bekukan al-Qur’an sebagai sebuah petunjuk yang kaku, sehingga kadang begitu sangat jauh dari kehidupan. Makna dan isi dari pesan Tuhan menjadi begitu kaku dan kadang begitu sangat belawanan dari kebutuhan manusia. Lihat saja arogansi dan egoisme yang dipaksakan di tengah-tengah umat muslim untuk mengikuti dan menerapkan hasil interpretasi abad ke-7 pada abad ke-21, tentu penerapan tersebut sangat tidak cocok pada ranah dan konteks sosial . Walau demikian, gaung dan hegemoni yang berlatar egoisme ini mendapat posisi yang strategis, mengingat awal munculnya pemaksaan penerapan interpretasi tersebut dari para ulama Timur Tengah yang notabenenya dijadikan panutan oleh masyarakat muslim di belahan dunia. Al-Ghazali misalnya, Sang Hujjatul Islam menjadi sandaran utama, seolah dia telah merangkum segala problem umat muslim sepanjang zaman, padahal tanpa disadari oleh sebagian besar umat muslim, bahwa problem dan wacana kehidupan terus berkembang dan butuh  solusi yang segar dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab dari fenomena di atas bisa berawal dari berbagai macam kepentingan yang sifatnya bisa kelompok atau per-orangan. Salah satu sebab yang banyak dilontarkan oleh para pemerhati adalah, kepentingan politik. Al-Qur’an sebagai sentral dan pijakan utama kehidupan telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan yang sifatnya provan (duniawi) sehingga lahirlah tafsir ideolois-politis . Dari penafsiran yang bertolak kepentingan politik ini kerap kali menjadi pemicu terjadinya fenomena seperti yang terpaparkan di atas. Kemudian juga ada beberapa penafsiran radikal yang melahirkan tindakan-tindakan kriminal, seperti merebahnya tindakan-tindakan teror yang baru-baru ini mengguncang negeri ini. Contoh yang satu ini merupakan implikasi dari penyaduran secara buta (taqlid  a’ama) terhadap penafsiran isi kandungan al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik sebagai pemicu lahirnya tafsir al-Qur’an yang subyektif dijabarkan cukup  rinci oleh Al-Jabiri. Seperti yang dikutip di sebuah situs internet , Al-Jabri memperinci apa sebenarnya dibalik kepentingan politik tersebut. Secara garis besar ada tiga kepentingan dibalik politik tersebut yaitu, ideologis (al-‘aqidah), hubungan darah (al-qobilah) dan materi (al-ghanimah) .  Interpretasi ini merebah ke seluruh penjuru negeri muslim dengan sedikit saja dari kaum muslim yang mau mengkritisinya. Bahkan beberapa golongan dengan tanpa pertimbangan apapun membumikan hasil pemikiran tersebut sebagai ajaran Islam. Pada titik konkretnya realitas abad ke-21 ini dipaksakan untuk selaras dengan isi interpretasi abad ke-7 tadi. Meminjam istilah Shahrur, umat Islam saat ini layaknya seekor gagak yang mencoba meniru suara bulbul. Tetapi karena tidak bisa, maka kemudian berniat untuk jadi gagak lagi, sayang lupa caranya untuk kembali . Artinya walau bagaimanapun saat ini dan masa lalu mempunyai jarak dan rentang waktu yang cukup jauh, sehingga tatanan dan konstruk kehidupan tentu juga sangat berbeda. Pemaksaan penerapan hasil interpretasi di masa lalu hanya mengakibatkan stagnasi yang akut. Bahaya selanjutnya tidak hanya mandeg begitu saja, tetapi justru menghasikan hal yang kontraproduktif dari apa yang diharapkan, seperti terjadinya kebingungannya kaum muslim yang digambarkan Shahrur di atas dalam mencari jati dirinya di penggalan peradaban yang semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di atas merupakan bagian dari akar miskinnya pemahaman umat muslim terhadap kitab sucinya. Maka untuk mengembalikan al-Qur’an pada fungsinya sebagai petunjuk bagi manusia, metode yang tepat untuk memahaminya adalah hal yang vital keberadaannya. Sebelum akhirnya menentukan metode yang pas dan sesuai dengan konteks saat ini, perlu disadari bahwa al-Qur’an sebagai firman Tuhan mempunyai kemungkinan untuk ditakwilkan atau ditafsirkan dengan cara beragam. Pluralitas pentakwilannya adalah kenisacayaan sekaligus hal ini dapat menguatkan bahwa al-Qur’an secara teks dan isi benar-benar sebagai wahyu. Jika hal ini menjadi kesadaran bagi setiap muslim maka relevansi al-Qur’an dan dinamika zaman akan selalu sinkron dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diskursus pencarian Metode dan Pendekatan Penafsiran al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita yang tersuguhkan dalam kehidupan nyata seperti yang terdeskripsikan di atas, menghantarkan pada babak baru bagi para cendikiawan muslim dalam mencari metode yang tepat sebagai upaya solutif terhadap problem yang dihadapi umat. Pada babak inilah kemungkinan munculnya beraneka ragam langkah solutif yang ditawarkan sekian banyak para cendikiawan muslim. Agar kajian ini menuju pada kesimpulan yang rasional-obyektif, penelusuran peta penafsiran secara historis adalah mungkin untuk dilalui terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai wahyu telah melahikan berbagai macam penafsiran terhadap isinya. Penafsirannya secara historis-priodik telah bermula dari awal diturunkannya hingga saat ini. Perbedaan corak penafsiran dan pola pendekatan yang digunakan oleh para mufassir bertolak dari dua factor vital dalam kehidupan yaitu, faktor internal yang terkait kapabilitas intelektual sang mufassir sendiri, serta yang kedua adalah, faktor eksternal yaitu, relasi kekuasaan (politik) dengan sang mufassir itu sendiri  &lt;br /&gt;Secara historis-priodik, perjalanan penafsiran dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Pertama, priode klasik. Pada priode ini menggunakan metode penafsiran oral-pragmatis. Ayat-ayat al-Qur’an ditafsirkan dalam rangka kepentingan pragmatis untuk mengaplikasikan perintah dan larangan Allah pada kehidupan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam penyampaiannya adalah, secara langsung disampaikan lewat lisan oleh rosul kepada para sahabat tanpa ada metode sistematis-formal, karena pada masa awal, kebutuhan umat muslim tidak pada academic exegesis tapi pada tatbiq mubasyir (direct action). Kedua, priode petengahan. Pada masa inilah al-Quran menjadi instrument politik, isinya banyak dibajak oleh kepentingan para penguasa sebagai afirmasi terhadap kekuasaannya, priode ini berlangsung sekitar abad ke-13. Ketiga, priode kontemporer-modern. Pada priode ini al-Quran diletakkan sebagai sebuah kitab yang bersinggungan dekat dengan kehidupan, yaitu sebagai pentunjuk bagi manusia hudan linnas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pembagian lain tentang pembagian dinamika tafsir yang didasarkan pada tipikalnya. Dalam pembagian ini tafsir dapat dibedakan menjadi tiga bagian. Pertama,Tafsir awam. Tipe yang pertama ini adalah model pemahaman orang awam terhadap al-Qur’an yang hanya bekisar pada penghayatan terjemah kata saja tanpa diikuti dengan pertanyaan yang radikal. Tipe yang kedua adalah tafsir klasik, adapun tema dan sunbstansi yang menjadi perbincangan didalamnya adalah, menyangkut polemik teologis. Sedangkan yang ketiga adalah, tafsir Modern, model tafsir modern lebih banyak mebicarakan hubungan akal dengan Tuhan, tanggun jawab, fenomena social action dan sains . Pembagian secara tpikal ini jika dilirik lebih dekat didasarkan pada factor kemampuan sang pembaca teks.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diselami lebih dalam, dialektika runtutnya perjalanan penafsiran di atas dari masing-masing priode mewakili pergumulan teks al-Qur’an dengan konstruk sosial kehidupan umat. Secara lebih detil disitu terjadi hubungan dialogis-pragmatis antara kebutuhan pragmatis umat dan substansi teks. Hubungan antara teks dan kehidupan tersebut menghantarkan para mufassir melakukan pembacaan yang berbeda-beda terhadap isi al-Qur’an. Secara umum metode yang digunakan para mufassir berupa tesktual yang sifatnya lebih mengedepankan makna harfiah kebahasaan, metode berikutnya adalah, kontekstual. Pendekatan kedua lebih mengedepankan hal-hal ekstrinsik di luar teks. Dua metode tersebut adalah keniscayaan terhadap al-Qur’an sebagai firman Allah. Walau al-Qur’an tersuguhkan lewat teks, namun secara eksplisit al-Qur’an juga banyak membicarakan sejarah, dalam dimensi berikutnya menghantarkan al-Qur’an pada pemaknaan sebagai teks suci yang mempunyai sepasang makna yaitu, sebagai teks langit  dan teks bumi  . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemetaan umum metode pendekatan yang selama ini menjadi trend di kalangan para mufassir seperti yang terdeskripsikan di atas, pada rentetan berikutnya melahirkan diskursus yang cukup pelik antara kubu pengusung pendekatan tekstual dan kubu pengusung kontekstual. Walau secara eksplisit masing-masing kubu mempunyai argument yang memadai, tetapi kesadaran akan adanya kemungkinan kebenaran dari luar masih sangat minim dimiliki oleh para pakar muslim. Sehingga kadang pergumulan itu rentan kurang dewasa, pada titik akhir, perbedaan itu bukan menambah khazanah keilmuwan, tetapi malah membangun sikap sintementil yang menggorogoti keikhlasan dan ketulusan dalam mengeksplorasi ilmu Tuhan yang sangat luas. Gejala yang seperti itu adalah fenomena yang harus dihindari. Sebagai upaya menghindari sikap sintementil yang akut, hendaknya diupayakan dari setiap para mufassir untuk membangun kesadaran dan sikap terbuka (open recommended). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana asumsi umum yang meletakkan al-Qur’an mempunyai tiga makna yang inhern yaitu, sebagai petunjuk (hudan), pembeda (furqon) dan penjelas (tibyan) telah melahirkan ide baru penyuguhan tafsir secara tematis, dalam hal ini digagas oleh cedikiawan muslim negeri ini yaitu, Dawam Rahardjo, tema ini dikupas singkat dalam salah satu kumpulan artikel pada ulang tahun beliau yang ke-65. Disebut di dalamnya,  bung Dawam (panggilan akrab beliau) telah berani mengangkat metode penafsiran tematis (maudlu’ie) dalam konteks komodernan. Walau upaya bung Dawam bukanlah suatu hal yang baru, karena metode sejenis sudah berada sejak puluhan tahun yang silam, sepeti karya-karayanya al-Aqqad, tapi dari upaya kecil tersebut paling tidak beliau merupakan sosok yang mencoba memberikan penyegaran baru dalam dinamika penafsiran al-Qur’an di negeri ini, yang selama ini cenderung dikuasai oleh satu model dan persepsi  . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ini tergolong masih dalam naungan besar pembacaan tekstual-historis. Untuk itulah dalam ulasan penafsiran tematis yang digagas Bung Dawam masih menyertakan penguasaan bahasa Arab sebagai salah satu komponen dasar untuk dapat menjalankan metode ini. Di sisi lain konteks asbabun nuzul masih menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sebuah tema dalam suatu ayat . Kajian Dawam dalam hal ini belum benar-benar memberikan perbedaan yang berarti dari format-format tafsir sebelumnya. Mungkin letak kontribusinya terhadap dinamika Ulumul Qur’an adalah, pemberian kemudahan dalam mencari tema-tema dari setiap ayat dalam al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus ini memungkinkan akan menemukan titik terang jika sekiranya tedapat dalam tulisan ini penyebutan tokoh-tokoh yang berkompoten dan capable dalam masalah metode. Dari penyebutan tersebut serta dengan mendekatinya alam  pikiran yang diusung oleh masing-masing tokoh, akan muncul darinya pemahaman-pemahaman yang menghantarkan pada beberapa kesimpulan yang obyektif. Corak dan tipikal dari masing-masing tokoh menjadi sebuah pijakan untuk memungkinkan terwujudnya dinamika metodologi penafsiran al-Qur’an ke arah yang lebih matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakar rentetan para tokoh yang cukup memberikan penawaran monumental dalam kancah dinamika metodologi penafsiran, maka secara tidak sengaja kebutuhan tersebut akan menggiring pada penyebutan seorang Mawlana Abul Kalam Azzad. Beliau seorang alim yang terlahir di Mekkah dengan latar belakang keluarganya yang berasal dari India. Buah sumbangsihnya pada metodologi penafsiran al-Qur’an dimulai dengan mengkritisi penafsiran rasional secara bebas. Menurut beliau, penafsiran rasional adalah bentuk penafsiran yang memaksakan buah pikiran pada substansi teks. Pada hakikatnya pesan yang terdapat dalam al-Qur’an bukanlah pesan-pesan rasional yang tidak memerlukan perdebatan-perdebatan, sehingga untuk menangkap isinya tidak perlu pendekatan rasional akan tetapi melalui perasaan. Tafsir bil-Ra’yi  hanya sampai pada hubungan antar ayat saja guna untuk mendukung makna yang sebenarnya. Sedangkan menyeret al-Qur’an secara serta merta pada koteks di suatu masa, merupakan bentuk pemerkosaan terhadap watak asli dari al-Qur’an itu sendiri . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azzad dengan kritikannya terhadap para pengusung peran rasio tersebut di atas menempatkan posisi beliau sebagai seorang muffassir yang melintasi ranah teologis saja. Tolok ukur penafsirannya diselaminya melalui perasaan (dzauq). Peran perasaan dalam menyelami isi al-Qur’an dianggapnya sangat sinkron dengan watak al-Quran sebagai sebuah pesan Tuhan terhadap manusia, dengan anggapan bahwa, pesan itu berupa upaya untuk memberikan kesadaran kepada manusia terhadap nilai-nilai keuniversalan Tuhan. Tawaran solusi setelah kritiknya berupa penafsiran bil ar-riwayat dengan metode penafsiran al-Qur’an bil Qur’an. Angapan ini didasarakan pada anggapan bahwa al-Qur’an sebagai riwayat yang mutawatir dai setiap generasi ke generasi serta terjaga dai kesalahan dalam periwayatannya. Namu, pada pada sisi lain tenyata Azzad juga mengunakan pemahaman rasional dalam menghubungkan antar berbagai ayat, sehingga tafsirnya juga disebut tafsir bil ra’y . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Azzad mengkritisi penafsiran bil ra’y ternyata dia juga belum bisa mengesampingkan rasio dalam penafsirannya. Hal tesebut merupakan bagian dari tanda bahwa, seorangg mufassir tidak akan pernah berdiri dalam satu posisi, akan tetapi terus begerak menghampiri sisi-sisi yang lain. Bagaimanapun peran akal dalam memahami al-Qur’an menjadi keniscayaan yang tak terelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari penafsiran Azzad yang hanya berkisar pada pesoalan teologis yang merupakan persoalan inhern Islam. Fazlurrahman seorang pembaharu muslim asal Pakistan juga ikut memberikan sumbangsih pemikirannya pada pola dan metode penafsiran. Tipikalnya lebih menginjak area luas yang bekaitan dengan hubungan antar umat beragama. Dia memulai penafsirannya dengan bertumpu pada sebuah persepsi bahwa al-Qur’an sebagai korektor dari kitab-kitab lawas yang diturunkan pada umat terdahulu. Kebaradaan al-Qur’an sebagai korektor tercermin dengan pembenaran ajaran nabi-nabi terdahulu. Misalnya, dalam kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an, Isa digambarkan sebagai pribadi yang lemah lembut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pemahaman global mengenai al-Qur’an seperti yang tersebut di atas menempatkan al-Qur’an sebagai kitab suci yang inklusif serta kitab suci yang ramah terhadap umat lain. Terhampar di dalamnya sikap persahabatan dengan membuang jauh-jauh sikap miopik-narsistik yang biasa tergelar dalam kehidupan para ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan sikap merendahkan umat lain. Ajaran al-Qur’an yang ramah itu harus benar-benar dieksplorasi dengan tafsiran yang gamblang dengan sikap terbuka. kritis dan empati tehadap agama lain . Tipikal penafsiran Fazlur Rahman ini lebih dekat sebagai sebuah penafsiran pluralis-liberalis yang berorientasi terciptanya toleransi yang tinggi terhadapa hubungan antar umat beragama. Hal tersebut juga dimaksudkan agar pertikaian dan konflik yang selama ini dicumbui oleh motive agama agar cepat tergusur dari kehidupan, sehingga kehidupan ini benar-benar menjadi kehidupan yang indah dan penuh keromantisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika metodologi terus bergulir, seiring dengan perkembangan wacana dan interaksi intelektual manusia. Hassan Hanafi memperbincangkan al-Qur’an sebagai hasil pewahyuan , terdapat di dalamnya tiga komponen dasar penting yang harus lebih awal dipahami sebelum akhirnya melakukan penafsiran terhadap wahyu itu sendiri.Tiga komponen tersebut adalah pengirim pesan (tuhan), informasi (pesan), dan penerima. Menurutnya selama ini tradisi keintlektualan Islam tidak proporsional menyikapi dan menempatkan tiga komponen tadi. Para mufassir lebih banyak membicarakan Tuhan dan nabi sebagai pembawa pesan dan mengesampingkan hubungan pesan dan manusia sebagai penerima pesan. Semestinya pembahasan tentang penerima pesan (manusia) juga harus mempunyai porsi yang sama dengan dua komponen lainnya. Dengan demikian memunguti realitas menuju teks (pesan) serta dari teks mengembalikannya pada realitas (gerak ganda) adalah cerminan dari sikap proporsional dalam menyikapi teks .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran Hassan Hanafi begitu cukup bijak dalam mengakomodir ruang lingkup yang mewadahi al-Qur’an sebagai teks suci dan petunjuk bagi manusia. Tidak hanya dengan egois mengedepankan realitas lalu menggugurkan keniscayaan al-Quran sebagai wahyu Tuhan. Sebaliknya dia juga tidak picik menempatkan al-Qur’an sebagai teks sakral dan transenden, tetapi beliau berani menjamah al-Qur’an dengan diikuti pergulatan yang harmonis bersama realitas yang dia bawa, kemudian beliau kembali mengejawantahkan hasil perugumulan pengkajiaannya pada realitas. Gerak ganda ini menjadi karakteristik tersendiri pemikirannya sebagai sebuah metode tafsir yang biasa dikenal dengan metode penafsiran realis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Shahur yang memulai kajiannya dengan mengungkap kekurangan-kekurangan metodologi mufassir terdahulu. Beberapa mufassir enggan menggunakan metode ilmiah obyektif dalam menafsirkan teks, mereka sebagian besar masih lebih sering terdekti oleh sistem politik yang melingkupinya. Prankonsepsi terhadap sebuah substansi teks lebih awal tercipta sebelum sebuah teks itu benar-benar ditelusuri. Pada akhirnya kesimpulan serta hasil akhir dari penafsiran yang bertumpu pada metode ini cenderung subyektif. Kemudian satu hal lagi yang dia sebutkan sebagai bagian dari kekurangan metodologi para mufassir muslim terdahulu yaitu, minimnya pemanfaatan konsep filsafat dalam setiap tema-tema humaniora .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kelanjutan dari kritiknya, maka Shahrur juga memberikan tawaran-tawaran solusi. Melakukan pembacaan karakter linguistic Arab serta mengikutinya dengan kesadaran adanya interaksi sejarah dari tiap generasi. Shahrur dalam melakukan eksplorasinya menjunjung tinggi akal dengan asumsi bahwa tidak ada pertentangan antara akal dan wahyu . Pendekatan Shahrur yang menyeluruh inilah yang menjadi karakterisik dan menarik untuk diungkap sebagai bagian dari metodologi yang menjadi pertimbangan munculnya kesimpulan pasca kajian ini berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan linguistik yang dimaksudkan dari pendekatan yang dilakukan Shahrur adalah, pemahaman konsep dari suatu kata (simbol) yang dikaitkan dengan konsep dari simbol-simbol yang lain yang mendekati dan yang berlawanan . Berdasar dari metode inilah berbagai macam tema yang dubahas oleh Shahrur dalam tafsirnya cukup memberikan wajah baru dalam gerak dinamika  tafsir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi dari sekian banyak tawaran yang terangkum di atas, penyebutan Nasr Hamid Abu Zaid beserta sumbangsihnya dalam  kajian ini merupakan keniscayaan yang tidak bisa dilupakan. Secara singkat, beliau melakukan penafsiran dengan dua metode. Pertama dari yang mutlak dan ideal kepada yang konkret. Metode ini artinya penafsiran yang dilakukan dari pembacaan teks terlebih dahulu kemudian diseret pada realitas sosial. Sementara metode kedua dari yang konkret menuju yang ideal dan mutlak. Pendekatan ini secara gamblang diawali dari fakta-fakta empiris kemudian dibawa pada teks sebagai sebuah sumber yang berasal dari Tuhan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya dinamika dan penawaran metodologi penafsiran masih sangat luas. Suguhan pada kajian ini masih sangat sempit dan miskin. Keterbatasan akan kemampuan penulis untuk menulusurinya secara keseluruhan adalah keniscayaan yang diakui oleh penulis. Peyebutan beberapa tokoh di atas beserta karakter pemikirannya walau masih sangat terbatas diharapkan bisa mewakili dari sekian banyak para tokoh lainnya yang belum bisa penulis suguhkan dalam kajian ini. Beberapa hasil cernaan pembacaan tehadap sekian tokoh tersebut di atas, mewakili sebagai kesimpulan kecil dari penulis. Tentunya kesimpulan kecil ini hanya perspektif subyektif penulis yang masih sangat jauh dari kesempurnaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kesimpulan penulis pada kajian ini adalah, al-Qur’an sebagai kitab suci merupakan wahyu Tuhan yang otentik. Keberanian memahaminya secara komprehensif-integrated (pembacaan teks dan realitas konkret) dengan menggunakan akal (filsafat)  sebagai instrument adalah bagian paling mendekati titik valid. Tentunya dalam mengkajinya juga diharapkan agar terhindar dari pengaruh-pengaruh asing seperti kepentingan-kepentingan politik dan kelompok. Proporsionalitas penggunaan rasio dan intuisi menjadi penting agar nantinya pembacaan komprehensif-integreted di atas bisa mencapai klimaks yang bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)disampaikan pada diskusi kelas mata kuliah Studi Al-Qur’an : Teori dan Metodologi program pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa, 27 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Daftar Bacaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;al-jabiri dan kritik nalar arab, kommabogor.wordpress.com,diakses oktober 2009&lt;br /&gt;Fauzi, Ihsan Ali dkk, Demi Toleransi Demi Pluralisme, Jakarta: PRAMADINA 2007&lt;br /&gt;Masduki, Irwan, Fundamentalisme Islam dalam Tafsir Hirarki: Tafsir fi Dhilal al-Quran karya Sayid Qutub Sebagai Sample, http://irwanmasduqi83.blogspot.com diakses oktobe 2009&lt;br /&gt;Mustaqim, Abdul dkk, Studi Al-Qur’an Kontemporer Wacana Baru dalam Metodologi Tafsir, Yogyakarta: Tiara Wacana,2002&lt;br /&gt;Mustaqim, Abdul, Madzahibut Tafsir :Peta Metodologi Penafsiran al-Qur’an Periode Klasik Hingga Kontemporer, Yogyakarta: Nun Pustaka, 2003&lt;br /&gt;Shahrur, Muhammad, Prinsip Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, Yogyakarta: eLSAQ press,2008 &lt;br /&gt;Zayd, Nasr Hamid Abu, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2638591134103810822?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2638591134103810822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2638591134103810822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2638591134103810822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2638591134103810822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/10/filsafat-sebagai-model-pendekatan.html' title='FILSAFAT SEBAGAI MODEL PENDEKATAN PENAFSIRAN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7270703636257809819</id><published>2009-10-24T18:47:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T18:53:56.769-07:00</updated><title type='text'>ANALAISIS HISTORISITAS SINGKAT FEMINISME</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Interakasi antar sesama yang selama ini terjadi dalam kehidupan manusia menghantarkan munculnya beragam macam wacana. Pergolakan beragam wacana tersebut beruntut pada beberapa kajian yang berkecambah di kalangan kaum intelektual. Hal itu adalah wajar, mengingat dunia ini secara otomatis akan bergerak pada kondisi yang semakin kompleks. Bermunculannya beragam macam isu dan wacana tadi, selain menjadi kajian baru, pada akhirnya melahirkan gerakan-gerakan publik yang secara konkret akan menyuarakan dan memperjuangakan wacana yang diusung. Salah satu wacana yang masih cukup hangat dan banyak diperjuangkan oleh beberapa kalangan adalah, masalah gender yang tertuang dalam gerakan feminisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana gender dan gerakan feminisme tersebut di atas, walau pada hakikatnya sudah cukup lama diperbincangkan di berbagai macam acara formal-intelektual, namun bagi beberapa orang keberadaannya masih kabur atau buram serta butuh penjelasan yang gamblang. Sangat wajar, karena wacana tersebut merupakan perbincangan yang hanya tersuguhkan pada kalangan elit-intelektual saja, belum sepenuhnya menjadi perbincangan publik secara umum. Dengan demikian, sebelum mengeksplorasi lebih jauh tentang gender, penulusuran kemunculannya secara historis adalah penting, agar nantinya tersuguhkan makna dan maksud dari mencuatnya wacana dan maraknya gerakan feminisme sebagai kelanjutan dari isu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian secara historis, selain mengenalkan secara lebih dekat pada publik tentang isu yang dibahas, diharapkan juga nantinya akan melahirkan sikap dan tanggapan yang bijak dari kalangan yang mengkajinya. Sikap arogansi dan beberapa sikap yang tidak mencerminkan kebijakan bukanlah yang diharapkan pasca kajian ini berlangsung. Pro dan kontra dalam suatu isu atau fenomena selamanya akan berjalan berdampingan, selama masing-masing kubu saling memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam kubunya, hal tersebut adalah wajar dan sah-sah saja. Berikut akan dikaji sekilas sejarah gender dan gerakan femenisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merinci Sejarah Kemunculan Wacana Gender dan Feminisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarah secara umum berbincang tentang rentetan kejadian-kejadian, di dalamnya terdapat nama, waktu dan tempat dari kejadian yang dimaksudkan. Ketika sejarah menjadi frame pembacaan terhadap sebuah wacana dan gerakan, sangat dianjurkan jika di dalamnya terdapat kajian filosofis dari setiap kejadian. Gender sebagai bagian dari model isu yang mencuat ke permukaan, maka dalam merinci kesejarahannya, penulis akan lebih awal melakukan pembacaan filosofis, agar nantinya substansi terdalam dari kejadian tersebut bisa terkuak lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gender sebagai wacana, telah lama terbentuk melewati ruang dan waktu yang cukup panjang. Wacana ini lahir sebagai akibat dari hasil kreasi manusia yang didasari oleh tiga faktor paling signifikan dalam membentuk pola pikir. Tiga faktor tersebut adalah, budaya, ajaran agama dan kebijakan politik (Mulia,2001: 58). Budaya sebagai sebuah kebiasaan praktis dalam suatu kelompok yang tertuang dalam ritual harian, mulai dari pola makan, berpakaian sampai pada hal-hal yang paling kecil dalam kehidupan, tanpa disadari akan merembes pada pola pikir dari masyarakat tersebut. Selanjutnya, agama yang kerap kali menjadi bagian tersakral dalam kehidupan, menempatkan posisinya menjadi bagian yang sangat menentukan terhadap pola pikir manusia. Pembacaan terhadap kitab suci sebagai komponen vital dari sebuah agama menghantarkan beberapa pemahaman yang menjadi dogma bagi penganutnya, sekaligus dalam episode yang sama, menjadi bagian dari pola pikir bagi umatnya. Dalam pergumulan manusia secara horizontal, politik dan kehidupan bernegara merupakan bagian yang paling melekat dalam berkehidupan. Nuansa dan percaturan politik dari suatu Negara yang berbentuk berbagai macam putusan-putusan, pada gilirannya akan menggiring masyarakatnya pada satu jalur yang dikehendaki oleh Negara tersebut. Giringan yang muncul dari kebijakan-kebijakan politik tadi lambut laun dengan natural akan menjadi pola pikir rakyat dari suatu Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi singkat dar ketiga aspek material pembentuk pola pikir manusia di atas, walau masih bertaraf sangat abstrak, tapi sedikit akan memberikan ruang untuk meniti lebih tajam akan pemahaman eksplorasi historis kemunculan gender dan feminisme di tengah-tengah kehidupan. Dari pola pikir yang terbentuk tadi, menjelma dalam kehidupan realistis pada pembagian peran laki-laki dan perempuan yang timpang. Akibat ketimpangan yang mewakili ketertindasan kaum wanita dalam mewadahi hak-haknya memunculkan gerakan feminisme dan wacana gender (Munhanif, 2002: 1). Memungut dari realita ini, maka ketertindasan dan perlakuan yang tidak adil terhadap kaum wanita menjadi titik tolak melajunya wacana tersebut, dibalik kejadian konkret historis di permukaan. Kegerahan inilah yang berada dibalik suguhan dan gerakan kasat mata yang kadang terlupakan, karena beberapa kalangan, kadang hanya melakukan pemungutan sejarah secara simbolis-praktis, bukan pada latar non aksi  di balik dari setiap kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertumpu dari kajian histosris-filosofis di atas, kajian ini akan semakin lugas untuk dibicarakan lebih jauh, walaupun pada hakikatnya penjelasan di atas masih sangat miskin dan sempit. Tapi secara ekplisit sudah cukup refresentatif untuk membicarakan pada tahapan berikutnya yaitu, pembacaan historis-simbolis yang meliputi penyebutan tokoh, tempat dan waktu berlangsunya sejarah tersebut. Namun, pendekatan secara filosofis tentunya tetap akan disertakan, hal itu sebagai upaya agar penuturan sejarah ini akan lebih renyah untuk dinikmati sepanjang waktu dalam lintas golongan dan kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana gender dan munculnya gerakan feminisme berawal dari tanah Eropa pada tahun 1785 di kota Middelburg sebelah selatan Belanda. Pada awalnya gerakan ini adalah kegiatan pembelajaran filsafat yang berupa kumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan yang ditokohi oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Namun menjelang abad ke-19 kegiatan ilmiah ini berubah menjadi sebuah gerakan public yang mendapat apresiasi dari para wanita Eropa untuk memperjuangkan apa yang disebut dengan sisterhood (persarikatan wanita-wanita) (Reyrey, 2008: halaman website).&lt;br /&gt;Gender tecatat sebagai sebuah gerakan yang mengundang perhatian publik, sekitar tahun 1800-an dengan problem yang memicu bertolak dari hak politiknya untuk ikut pemilu waktu itu. Elizabet Cady salah satu tokohnya yang berhasil memotori kaum wanita untuk turun jalan kala itu (Bafagih, 2008: halaman website). Secara konkret istilah feminisme mulai digunakan pada tahun 1837 oleh Charles Fourier, kemudian dilanjutkan oleh John Stuart Mill, seorang Amerika dengan publikasi karyanya yang berupa Subjection of Women (Reyrey, 2008: halaman website).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan feminisme kemudian benar-benar menjadi isu Internasional tatkala tergusurnya Uni Soviet dan runtuhnya pluralisme serta mengemanya gaung diktatorisme yang dikomandani oleh Amerika Serikat (Abu Zayd, 2003: 157). Kebijakan politik Amerika yang bernuansa patriaki, tentunya banyak memojokkan kaum perempuan dan hal itu berarti semakin akan memicu gerakan feminisme tersebut untuk bermanover.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tahun 1960-an pasca perang dunia kedua  berakhir, gerakan feminisme mulai mendapati hasil gerakannya yang ditandai dengan berhasilnya beberapa wakil dari mereka bisa duduk di kursi parlemen. Fenomena ini menandai semakin menajamnya gerakan feminisme di kancah pergumulan politik dan kehidupan luas (Reyrey, 2008: halaman website).&lt;br /&gt;Sedangkan awal embrio wacana gender dan feminisme di tanah air sudah mempunyai usia yang cukup tua, hal itu tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh Kartini sebagai pejuang gender yang meperjuangkan hak perempuan dalam pendidikan sekitar menjelang tahun 1900-an. Isu gender itu semakin berkembang ketika memasuki dekade tahun 80-an. Pada gilirannya isu gender tersebut kemudian tidak hanya jadi isu kebangsaan, tapi juga terseret pada area problem keagamaan.  Beginilah penuturan Budi Munawar Rahman dari lansiran wawancaranya yang dirilis dalam sebuah situs internet (Rubiyanti, 2008: hlmn website).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membicarakan gerakan feminisme di Indonesia, selain tokoh Kartini juga terdapat beberapa tokoh lainnya yang juga telah memberikan perannya pada percaturan politik bangsa ini. Bahkan memasuki era reformasi pada tahun 2000-an salah satu puteri dari bangsa ini berhasil menempati posisi nomor satu di negeri ini yaitu, Megawati sebagai presiden. Walau pada beberapa sisi dari kehidupan wanita negeri ini masih ada yag kurang terpenuhi hak-haknya, tapi secara garis besar perkembangan femenisme boleh dibilang menapaki tahap keberhasilan. Semua perkembangan tersebut, merupakan cermin dari apresiasi dan kedewasaan dari bangsa ini. Kemajemukan budaya, adat, agama etnis dan bahasa bukanlah menjadi kendala, akan tetapi malah semakin mengokohkan wacana dan gerakan feminisme sebagai kebenaran yang perlu disadari oleh masing-masing individu dan kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Madzhab-madzhab Feminisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suguhan fakta riil lewat penuturan historis belum sepenuhnya dapat menggambarkan struktur ideologis dari kejadian yang bekaitan dengan gerakan ini. Masing-masing kejadian mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, dari sudut motivasi sampai pada tujuan-tujuan pragmatis-praktis yang akan digapai dari setipa pergerakan. Gerakan femenisme juga mempunyai beragam karakteristik, sehingga di dalam penulusuran sejarah sudah menjadi kebutuhan agar juga diulas dari sisi tipikalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar gerakan feminisme terbentuk menjadi dua tipikal. Pertama Femenisme Ortodoks. Tipikal feminisme ini barkarakter fanatik terhadap wacana-wacana patriarchal (masculinity) yang menempatkan kaum wanita sebagai makhluk lemah yang selalu tertindas dan menjadi korban. Kubu ini lebih menekankan pada permintaan persamaan hak yang bersifat biologis, dengan anggapan bahwa perbedaan yang terbentuk antara male dan female merupakan bias dari wacana patriarchal. (Bafagih, 2008: hlmn website).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Postfeminisme. Kubu ini menghindari kesetaraan (equality) tapi malah menajamkan perbedaan (difference). Pedebatan yang diusung bertolak belakang dengan tipikal sebelumnya yang lebih mengupayakan persamaan, paradigm baru ini menjadikan wacana femnisme mempunyai wajah baru yang minim diketahui oleh khalayak luas. Psikoanalisa menjadi model pendekatan pembacaan dari kubu ini terhadap semua fenomena, semangat humanisme yang diusung oleh kubu sebelumnya, dalam hal ini melebur menjadi semangat esensialisme. (Bafagih, 2008: hlmn website).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila lebih dalam menyelami pembacaan secara prporsional terhadap dua model feminisme di atas, maka kesadaran akan menggiring pada sebuah pesepsi bahwa, manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya serta dengan berbagai benturan masalah yang menopang interaksinya akan melahirkan reflek-eflek tertentu sesuai dengan problem yang menjadikan posisi seorang individu terancam. Terancam dalam artian luas, terancam secara kenyamanan pada hak-haknya privasinya dan terancam pada hak-hak sosialnya. Kegerahan dan ketidaknyamanan tersebut, akan melahirkan wacana dan gerakan-gerakan yang variatif. Dua kerangka besar yang mewadahi wacana feminsme tersebut di atas, merupakan bagian dari kausalitas gerak reflek yang berangkat dai ketidaknyaman tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dua tipikal feminisme di atas diseret pada kenyataan yang melingkupi kehidupan saat ini, tipikal pertama lebih mendapat sokongan dari berbagai kalangan. Sifatnya yang sering pada posisi kontrofersial, menjadikan tipikal ini lebih menggairahkan untuk didekati. Keberadanyapun lebih dikenal dan berkembang dibanding tipikal yang ke-2 yang hanya bergerak lurus pada area qudrati (esensial) saja. Dianggapnya tipikal yang ke-2 ini hanya lontaran wacana ringan saja, sehingga pada tataran berikutnya kurang menarik untuk didekati secara mendalam. Keberadaannyapun kurang mempublik dan tidak berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana realita dari tipikal yang pertama dengan perkembangannya yang cukup meluas melahirkan anak tipikal di bawahnya. Setidaknya dari perkembangannya sampai saat ini ada lima anak turunan. Pertama Femenisme Liberal. Tipe ini menyokong kebebasan penuh terhadap perempuan yang berlandaskan rasio dengan menafikan sekat keterpasungan serta membangun persaingan yang bebas antara laki-laki dan perempuan (Herlianto,2009 : halaman website).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;ipikal Kedua adalah, Faminisme Radikal. Tipe ini bertolak dari kultur seksisme, utamanya untuk melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Ketiga feminisme Anarkis. Tipe ini mengidetifikasi bahwa laki-laki dan Negara adalah sumber petaka, karenanya cita-cita dari feminism yang bertipe anarkis ini adalah menghancurkan Negara dan laki-laki. Keempat  Feminisme Sosialis. Tipe ini mengarah pada pembebasan dari satatus sosial seperti, menghapuskan kepemilikan harta oleh seorang suami terhadap istrinya. Tipe ini bedasar Ideologi Marxisme. Kelima Feminisme Post Modern. Tipikal ini memaknai gender terlepas dari identitas dan struktur sosial. (Herlianto,2009 : hlmn website). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kajian sejarah di atas terasa masih dangkal, banyak hal yang belum tersuguhkan secara jelas. Keterbatasan tersebut sangat terkait dengan pembacaan penulis teradap literatur. Namun, tidak bisa dikesampingkan adanya beberapa kesimpulan yang dapat dikuak dari pembacaan ini. Secara singkat penuturan sejarah di atas sudah refresentatif untuk melampaui ranah kesejarahan, termuat didalamnya fakta dan ideologi yang mewadahi dari setiap penuturan. Secara konkret femenisme dan wacana gender adalah bagian dari gerak natural dialektika manusia dalam menyikapi suguhan kehidupan. Keniscayaan kemunculannya adalah bagian dari kekayaan kajian keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dengan karakteristiknya yang beragam, tentunya secara qodrati mempunyai persamaan dan perbedaan dengan laki-laki. Keniscayaan adanya persamaan dan perbedaan itu menempati secara terstruktur dari susunan psikologis, bilogis,spiritual dan sosial. Persamaan dan perbedaan itu menghendaki sikap proporsional dari semua pihak, baik laki-laki ataupun perempuan. Kadangkala realitas itu menempatkan masing-masing pihak berada pada kedudukan atau penempatan yang sama, tapi juga bukan mustahi jika pada beberapa hal realitas meminta kedudukan atau tempat yang berbeda. Kesamaan kedudukan atau tempat, tidak selalu menunjukkan adanya keadilan dan meghantarkan keanyamanan. Perbedaan penempatan juga tidak berarti penindasan. Karenanya gerakan femenisme oleh kauam wanita untuk meminta haknya terkoyak oleh sikap arogansi bisa dibenarkan. Dibenarkan jika hak itu memang semestinya didapatkan, namun menjadi tidak normal jika gerakan ini berpotensi melahirkan persoalan lain. Misalnya, penodongan emansipasi yang berlebihan tanpa lebih dulu mempersoalkan hak-hak orang lain dan kemampuan diri.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Munculnya dua wadah besar tipikal feminisme (ortodoks dan postfemenisme) yang tertutur di atas, cukup untuk dijadikan cermin untuk bersikap proporsional, tidak tergesa-gesa dan tidak gampang teracuni oleh wacana yang sering kali bernuansa profokatif. Mengedepankan akal sehat serta menyelimutinya dengan nurani yang suci merupakan tindakan yang dapat menghindari dangkalnya persepsi serta akan menghantarkan pada sikap yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memihak pada sisi manapun, menempatkan perempuan sebagai mitra bagi laki-laki dalam ruang kehidupan merupakan sikap yang tepat dalam menyikapi wacana semisal feminisme yang rentan dan berpotensi menjadi konflik jika sampai salah bersikap. Prinsipnya, semua manusia adalah sama di sisi Tuhan, yang membedakan adalah amal baiknya. Maka seharusnya antara laki-laki dan perempuan berlomba untuk mengumpulkan kebaikan, bukan membuat problem yang saling menjauhkan dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) disampaikan pada diskusi kelas, Mata kuliah Analisa Gender dalam Perspektif Islam Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kamis, 15 Oktober 2009 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Daftar Bacaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bafagih, Hikmah, SejarahGerakanPerempuan,http://www.averroes.or.id/thought/sejarah-gerakan-perempuan.html: diakses 10 Oktober 2009&lt;br /&gt;Herlianto,Bagus Pramono,Feminisme, http://artikel.sabda.org/feminisme: diakses 10 Oktober 2009&lt;br /&gt;Mulia, Siti Musdaf, Keadilan dan Kesetaraan Jender Pespektif Islam, Jakarta: Tim Pemberdayaan Perempuan Bidang Agama, Depag RI, 2001&lt;br /&gt;Munhanif, Ali, Mutiara Terpendam Perempuan dalam Literatur Islam Klasik, Jakarta: Gramedia 2002&lt;br /&gt;Reywasario,Sejarah Feminisme dan Aliran-alirannya, http://reyrey.blog.friendster.com/2008/02/sejarah-feminisme-aliran2nya/: diakses 10 oktober 2009&lt;br /&gt;Rubiyanti, Dwi, Wacana Gender Dalam Gerakan Perempuan Islam Indonesia,edisi petikan wawancara berasama Budi Munawar  Rachman,http://www.rahima.or.id/ : diakses 10 Oktober 2009&lt;br /&gt;Zayd, Nasr Hamid Abu, Dekonstruksi Gender : Kriktik Wacana Perempuan dalam Islam, terjemah edisi Moch. Nur Ikhwan, Yogykata: UIN PSW SAMHA 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7270703636257809819?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7270703636257809819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7270703636257809819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7270703636257809819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7270703636257809819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/10/analaisis-historisitas-singkat.html' title='ANALAISIS HISTORISITAS SINGKAT FEMINISME'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6377672890478659425</id><published>2009-10-16T18:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T18:44:07.254-07:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN NASIONALISME DARI KEJADIAN GEMPA DI BUMI ANDALAS</title><content type='html'>Seminggu ini wajah media di tanah air dipenuhi dengan berita musibah gempa bumi yang tejadi di Padang Pariaman Sumatera Barat, Rabu 30 Setember 2009 seminggu yang lalu. Gempa bumi berkuakatan 7,6 skala Richter itu meluluh lantakkan bumi Andalas. Korban tergeletak dimana-mana, menurut data yang disajikan oleh berbagai media, korban jiwa melebihi angka seribu. Cukup mebuat bulu kuduk merinding, meringis dan mengiris hati. Musibah di akhir bulan September ini benar-bena telah mengejutkan seluruh penghuni negeri ini. Gerakan peduli tergelar di mana-mana. Sikap kemanusiaan mengalir deras dari berbagai macam kalangan dan ormas di negeri ini. Semua merasa tergerak untuk ikut serta membantu para korban yang tertimpa gempa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerit para korban yang tergenjet beton-beton keras mengalun menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya. Sementara media televisi berlomba-lomba menyajikan gambar terkini situasi yang terjadi di tempat kejadian.Tayangan live menjadi menu utama dan head line dari setiap acara berita. Salah satu rekaman paling teraktual adalah hasil rekaman kamera cctv di hotel Ambacang yang terekam jelas ketika kejadian berlangsung. Para penghuni hotel terlihat berlarian menyelmatakan dirinya, namun akhirnya tidak semua dari mereka itu dapat lolos dari reruntuhan bangunan hotel. Mengenaskan…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian meteri tentunya sangat besar, disitu banyak kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum yang menghalangi aktifitas penduduk yang selamat. Bantuan lokal dan dunia Internasional mengalir, namun sempat terhalang dengan banyaknya jalur transpotasi yang terputus. Sehingga ada beberapa tempat yang terisolir telat dalam menerima bantuan. Sementara pemerintah dalam hal ini mendapat tekanan agar secara cepat menyalurkan batuan tersebut kepada yang berhak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para korban yang selamat selain kehilangan rumah dan harta milik mereka, di lain sisi juga tertekan dengan trauma psikologis dengan adanya sebagian mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Tentunya hal ini merupakan masalah baru yang harus segera ditangani oleh pemerintah pasca musibah. Dinilai oleh para pemerhati, pemerintah terkesan lamban dalam menangani musibah. Lihat saja bantuan kemanusiaan yang mengalir dari masyarakat lokal dan internasional menumpuk di posko penanggulangan gempa, tanpa adanya pendistrubusian yang cepat. Fenomena ini merupakan gejala yang sering terulang setiap kali musibah menimpa negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memihak pada sisi manapun, masyarakat dan seluruh penghuni negeri ini agar lebih bijak menanggapi sikap pemerintah dalam penanggulangan setiap musibah. Walau bagaimanapun pemerintah tentunya masih sangat membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat dalam menjalankan amanahnya, termasuk dalam penanggulangan gempa di Sumatera Barat ini. Kemudian di lain sisi, musibah merupakan fenomena alam yang kadang datang tanpa pemberitahuan, sehingga memungkinkan setiap individu akan panik menaggapinya. Tentunya pemerintah dan orang-orang yang memanggul pemerintahan juga tidak terlepas dari rasa panik tersebut. Maka, tindakan dan langkah pemerintah perlu mendapat arahan dan masukan dari masyarakat luas, terutama dalam langkah rekonstruksi pemulihan daerah pasca gempa ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap beberapa orang yang terkesan provaktif hendaknya agar disikapi lebih bijak agar nantinya tidak muncul masalah yang baru. Adapun sikap yang tepat adalah, membangun kesadaran pada masing-masing individu dengan sebuah kesadaran bahwa, setiap apa yang terjadi di muka negeri ini adalah, bagian dari tanggung jawab bersama. Saling menuduh, menyalahkan dan melempar tanggung jawab adalah kurang tepat dalam situasi multi problem yang menimpa negeri ini. Mari kita miliki Bangsa ini  secara utuh dan bersama-sama. Semoga saja negeri tercinta ini akan terus lebih baik lagi, walau kadang para birokrat belum maksimal dalam menjalankan tugasnya, tapi yang paling penting diharapkan dari para birokrat tidak mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi dari musibah ini. Kesadaran dan keharmonisan dalam berbangsa agar terus tercipta di seluruh lapisan masyarakat, sehingga Indonesia ini benar-benar menjadi Negeri yang besar dan kuat, walau saat ini terguncang oleh musibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, teriring do’a kepada seluruh korban gempa di Pariaman Padang Sumetera Barat, semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan YME. Bagi korban selamat semoga mampu untuk bersabar, tentunya diharapkan agar tetap semangat untuk terus maju menyusuri hidup yang masih panjang dan berliku. I Love U all……&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6377672890478659425?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6377672890478659425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6377672890478659425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6377672890478659425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6377672890478659425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/10/membangun-nasionalisme-dari-kejadian.html' title='MEMBANGUN NASIONALISME DARI KEJADIAN GEMPA DI BUMI ANDALAS'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5527505903147520891</id><published>2009-10-04T18:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T18:57:16.089-07:00</updated><title type='text'>MAKNA BERTERIMA KASIH</title><content type='html'>Hari ini benar-benar hari yang cukup menguras tenaga. Sejak dari jam pertama hingga penghujung dari rangkaian pembelajaran di hari ini secara terus menerus aku berada di depan para santri. Semua rangkaian pembelajaran itu walau harus tetatih-tatih melawan dengan rasa kantuk, capek dan malas, tetap harus aku jalani demi sebuah amanah. Melelahkan…!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 2 siang kurang sepuluh menit semua kesibukan pembelajaran dapat aku selesaikan dengan tuntas. Wajah lelah tergores jelas di relung mukaku, tapi di lain sisi ada rasa puas dengan keberhasilan mencapai garis finish dari sebuah perjuangan dan pegorbanan. Perjuangan dan pegnorbanan adalah pondasi pokok dalam menjalankan amanah. Bermakna perjuangan karena pekerjaan mengajar memang sebuah rutinitas yang bernilai tinggi di sisi agama dan kemanusiaan yang harus dipejuangkan, sedangkan bermakna pengorbanan karena di sisi lain ada hal yang harus dikorbankan dari seorang individu demi sebuah perjuangan. Konkritnya antara perjuangan dan pengorbanan harus bejalan dengan sinkron dan proporsional. Walaupun perjuangan harus meminta pengorbanan tapi bukan berarti harus ada yang jadi korban. Pengorbanan disini tetunya masih sangat terkait dengan kemampuan dari masing-masing individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ada sisi manis yang dapat dirasakan ketika sebuah pekerjaan itu dapat dilalui dan diakhiri dengan husnul khotimah. Rasa puas, senang gembira serta sekian banyak perasaan lainnya yang menggambarkan kepuasan, adalah wajar diekspresikan oleh seorang manusia. Maka adalah langkah yang teapt ketika ekspresi itu kemudian berujung dengan rasa syukur kepada Tuhan Allah SWT yang telah menganugerahkan ma’unah-Nya dari setiap langkah yang telah terlewati selalu berada dibawah irodah dan qodrah-Nya.Intervensi Tuhan sebagai zat yang Maha Besar adalah tak terelakkan, maka pada dimensi relegius berterima kasih pada-Nya adalah mutlak menjadi kesadaran dari setiap manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada Tuhan yang telah mengintervensi dari setiap usaha manusia ada perantara lain yang menjadi bagian skenario Tuhan dalam menyampaikan pertologannya. Manusia lain yang berada di sekitar kehidupan adalah bagian perantra yang sering kali kadang terlupakan. Dalam hubungan horizontal kemanusiaan maka berterima kasih pada sesama merupakan bagian yang tidak boleh terlewati dari siapa saja yang baru saja dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dengan berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa, secara tidak langsung dalam kehidupan ini sudah berlangsung sebuah pembangunan kemanusiaan yang mahal harganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua gerak vertical dan horizontal di atas merupakan gerak proporsional cermin dari seorang manusia yang bijak dan beriman. Semakin pandai seseorang berterima kasih pada Tuhan dan sesamanya maka semakin luas pula pemberian Tuhan padanya. Jalan kemudahan dan keramahan dari sesama akan terus mengiringi perjalanan hidup. Sehingga pada tahapan berikutnya hidup ini akan terasa lebih nikmat dan menggairahkan. Inilah mungkin cerminan tafsiran dari seorang hamba yang bersyukur yang berimplikasi pada penambahan nikmat yang diturunkan oleh Tuhan pada manusia. Lain Syakarum La azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasyadid. [ijan09]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5527505903147520891?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5527505903147520891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5527505903147520891' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5527505903147520891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5527505903147520891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/10/makna-berterima-kasih.html' title='MAKNA BERTERIMA KASIH'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1564698431520589364</id><published>2009-08-14T19:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T19:22:35.539-07:00</updated><title type='text'>KADO BUAT PESANTREN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Telaah Reflektif-Filosofis Upaya Penyegaran Ideologi Pesantren dari Kejumudan Menuju Pendakian Progresif-Dinamis &lt;br /&gt;Oleh: Ach. Tijani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sketsa Wajah Pesantren&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Negeri ini sudah 64 tahun menikmati kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda. Kemerdekaan itu diperoleh dengan perjuangan dan pertumpahan darah dari para pejuang negeri ini. Salah satu unsur institusi pendidikan yang dengan getol memperjuangkan kemerdekaan adalah, Pesantren. Pesantren dalam sejarahnya adalah lembaga pendidikan Islam yang dengan gigih melawan penjajahan. Perannya dalam mengupayakan bangsa ini merdeka dari penjajahan, terbukti dengan banyaknya perlawanan dari dalam pesantren, baik perlawanan secara kontak fisik ataupun secara ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat lebih dekat, keberadaan dan peran pesantren dalam membangun negeri ini sudah bermula sebelum datangnya kaum penjajah di negeri ini. Selain basis perlawanan melawan penjajah pada zaman sebelum kemerdekaan, pada mulanya pesantren merupakan institusi penyebaran Islam. Dari pesantren inilah Islam menjadi sebuah agama yang ramah dan dekat pada masyarakat luas. Pada dimensi yang lain pesantren menjadi media sentral dakwah ke-Islaman pada awal penyebaran Islam di bumi Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pesantren di negeri ini membawa realitas Islam sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Pesantren selain mengemban misi suci penyebaran Islam, di sisi lain sebagai penjaga nuansa keaslian negeri (indigenous), karena secara historis lembaga sejenis telah berdiri sejak masa Hindu-Budha, sedangkan pesantren merupakan kelanjutan dalam bentuk Islamisasi dari warisan nenek moyang. Dengan demikian tanpa bisa dibantahkan, pesantren merupakan salah satu warisan kekayaan sistem pendidikan bangsa yang seharusnya dan sewajarnya menjadi kebanggan bagi setiap insan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau jujur di era kemerdekaan, pesantren tetap eksis menelorkan alumninya sebagai para pemimpin bangsa ini. Sebut saja Gus Dur, orang pesantren sekaligus sebagai bapak bangsa yang kemudian berhasil menjadi orang nomor satu di negeri ini. Selain itu ada beberapa tokoh lain seperti, Din Syamsuddin, Hidayat Nurwahid, Hasyim Muzadi dan lain-lain yang tidak mungkin untuk disebutkan satu-satu. Mereka adalah sebagian saja dari sekian juta lainnya yang mempunyai peran penting dalam membangun bangsa ini. Dengan demikian, pesantren tetap berada pada posisinya sebagai institusi relegius-nasionalis dengan orientasinya yang luhur yaitu, memajukan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran dan misi suci pesantren yang gemilang itu nampaknya tidak banyak dipahami oleh para pemimpin negeri ini. Bahkan para pemimpin negeri ini lebih banyak mengadopsi warisan penjajah Belanda yang mengarah pada pendiskreditan pesantren. Lihat saja perjalanan putusan-putusan pemerintah yang sedikit memojokkan dunia pesantren dan Islam. Kalau boleh menakar lebih rinci putusan-putasan pemerintah itu bermula dari awal perjalanan pemerintahan pasca deklarasi kemerdekaan hingga pemerintahan saat ini. Diskrimnasi dan pendikreditan itu bermula pada tahun 1950 oleh Presiden Soekarno dengan pola pandang dualisme-dikotomisme (lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan agama) yang memandang pesantren hanya sebagai gerakan ritual belaka. Tendensi pemerintah lebih memilih pendidikan sekuler warisan penjajah ketimbang pesantren yang lebih dulu membangun negeri ini. Aksidensi sejarah itu terjadi ketika ditetapkannya Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai kawah canderadimuka bagi kaum nasionalis serta Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) bagi umat Islam pada tahun 1950. Aksedensi sejarah ini merembes pada eksistensi pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam. Sehingga kemudian pesantren hanya sebagai cagar budaya yang minim akan perhatian pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan picik serta serangan yang memojokkan pesantren tidak berhenti sampai disitu. Saat ini pesantren dan dunia Islam sedang dideru agresi maha dahsyat dengan tudingan miring sebagai sarang teroris. Dentuman dan meledaknya bom pada 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Calton menambah borok pandangan publik terhadap pesantren dan dunia Islam. Santernya pemberitaan media, bahwa salah satu dari pelaku yang terlibat dalam kejadian itu adalah alumni pesantren. menjadi salah satu faktor semakin memburamnya wajah pesantren di tengah-tengah masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sketsa pesantren saat ini, keberadaannya sangat memprihatinkan serta membutuhkan langkah kuratif yang tepat untuk mengembalikan citra pesantren di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Problem dan solusi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gambaran di atas merupakan deskripsi dunia pesantren yang berada diantara peran dan agresi dunia luar yang mencoba menggusur pesantren  dari bumi Nusantra ini. Sudah saatnya pesantren bangkti dari tidurnya dengan mencoba membangun kesadaran agar terus bisa survive menghadapi tantangan yang membentang. Tudingan dan pandangan miring dari dunia luar pesantren setidaknya menjadi stimulan agar pesantren tidak melulu sibuk dengan aktifitas kognitif-normatif (pengajaran) saja, tapi lebih dari itu agar mulai melihat secara integral-universal pada dunia dan problematika yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kelebihan yang bisa dibanggakan dari dunia pesantren, tentunya menjadi sebuah kesadaran adanya kekurangan yang perlu dibenahi di tubuh pesantren itu sendiri. Pesantren dengan kelebihannya kadang telah membutakan insan pesantren itu sendiri dengan bersikukuh pada romantisme historis kejayaan masa lalu. Kejayaan dan prestasi masa lalu menjadi kebanggaan yang menghilangkan nuansa dinamisasi, sehingga kadang dunia pesantren mengisolasi diri dari perkembangan yang datang dari luar. &lt;br /&gt;Determinisme historis ini mengakar kuat di kalangan orang pesantren. Salah satu penyebabnya adalah pandangan ideologi orang pesantren yang bersifat miopik-narsistik. Sebuah pola pandang yang sempit serta pengagungan yang kelewatan terhadap milik dan diri sendiri. Pola pandang ini tersuguhkan dengan pola prilaku searah dalam sistem pengajaran dan budaya yang berjalan di dunia pesantren. Salah satu contoh adalah, pengkultusan yang berlebihan pada figur sentral (kiyai) serta pengkerdilan sikap kritis para santri. Walaupun ada beberapa pesantren yang mencoba mengikis pola pandang ini, tapi itu semua jika ditilik lebih dalam hanya berupa apologi-difensif yang sifatnya artifisial saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu yang lebih sering didentikkan dengan budaya yang berkembang di pesantren adalah, corak kepimimpinannya yang bersifat kharismatik-feodalis. Corak kepemimpinan seperti itu dinilai untuk saat ini sudah tidak tepat lagi, mengingat dinamika dan perubahan zaman sudah jauh lebih berkembang, sedangkan corak kepemiminan tersebut cenderung mengabaikan kualitas. Dunia modern selalu meminta kualitas ketimbang garis keturunan, untuk itulah tradisi ini perlu juga mendapat penyegaran dengan beralih pada corak kepemimpinan rasional, harapannya agar pesantren bisa benar-benar menjadi milik umat bukan milik kelompok apalagi individu. Corak kepemimpinan ini merupakan kelanjutan dari ideologi kultus yang berkembang di pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya akar ideologi di atas mempunyai tautan kuat pada era masa keemasan Islam di Timur Tengah. Lihat saja beberapa kitab yang digunakan untuk membekukan ideology ini di tengah-tengah santri, sebut saja Ta’limul Muta’llim yang lebih menekankan pada amaliyah-sufistik dengan metode personal-monolog  dan mementahkan sikap kritis. Sikap ini kemudian diterjemahkan pada pola pandang yang menghegemoni dengan sebutan iktisab barokah. Maka tidak jarang pada realitanya banyak kalangan muslim yang sengaja masuk pesantren dengan berorientasi pada barokah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celah ataupun kekurangan lain yang perlu disadari adalah menghegemoninya Arabisasi atau gerakan meng-arabkan pesantren secara penampilan dan isi (performa-dan substansi). Maka tak jarang di sebagian besar pesantren di negeri ini, Bahasa Arab (Nahwu-Shorrof), Fiqh, Tafsir, Hadits dan Aqidah saja yang menjadi materi ajarnya. Kemudian yang lebih menjenuhkan, ketika materi ajar itu hanya diupayakan pada batas pengamalan saja tidak sampai pada mengkaji dan mengkritisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui beberapa pesantren ada yang sudah berupaya memadukan ilmu pengetahuan secara integral tanpa memetak-metakkan lagi. Namun tradisi naqdu ilmi  belum secara utuh diterapkan didalamnya. Sehingga pola atau system yang berjalan hanya pada tataran iktisab ilmi belum pada tataran intaj ilmi. Sesuatu yang langka ini seharusnya sudah disadari oleh para elit pesantren untuk memasukkannya dalam sistem pesantren sebagai upaya penyegaran yang berarah pada pendakian positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala lain dalam menanamkan sikap progresif pada dunia pesantren adalah, mengakarnya antipati terhadap Belanda yang berlebihan (Dutch sentimental). Antipati yang membabibuta ini kemudian berujung pada sentiment luar biasa pada sesuatu yang datang dari Barat. Apapun perkembangan yang dibawa oleh Barat (dunia luar pesantren) dianggap oleh sebagian kalangan pesantren sebagai sesuatu yang sesat. Pandangan dangkal inilah yang sering kali memunculkan sikap anarkis, sehingga tak jarang ada beberapa alumni pesantren yang terjerumus dalam kubangan paham taklidiyah yang terimplikasi lewat tindakan-tindakan teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenisacayaan pesantren untuk membuka diri dan keluar dari pola regresif pada pola progresif adalah tak terbantahkan sebagai langkah preventif dari tergususnya pesantren dari negeri tercnta ini. Hal ini merupakan solusi tunggal agar pesantren tetap eksis dan kembali mendapat citranya dari pandangan publik dan pemerintah. Solusi ini sebenarnya bagian dari kekayaan adagium pesantren yang selama ini banyak dilupakan oleh kalangan orang pesantren itu sendiri yang berbunyi ‘’almuhafadhah ‘ala qodimis sholeh wal akhdu min jadidil aslah”. Harapan final dari upaya ini adalah terciptanya pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya sebagai hasil budaya (muntaj tsaqofah) tapi di sisi lain pesantren juga sebagai penghasil budaya (muntij tsaqofah). [ijan09]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*)ditulis sebagai kado buat Pesantren menjelang Dirgahayu RI yang ke-64&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1564698431520589364?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1564698431520589364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1564698431520589364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1564698431520589364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1564698431520589364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/08/kado-buat-pesantren.html' title='KADO BUAT PESANTREN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1140948815862105961</id><published>2009-08-06T06:55:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T06:59:06.807-07:00</updated><title type='text'>MEMBUKA KESADARAN BARU UNTUK BERFILSAFAT</title><content type='html'>Dunia tidak pernah lepas dari hiruk pikuk dinamika wacana pemikiran. Perkembangan dari berbagai sisinya memunculkan banyak problema yang melahirkan banyak persepsi dan wacana. Laju model kehidupan ini terus saja mengalir tanpa bisa dielakkan lagi sebagai sebuah konsekwensi logis dari adanya dunia sebagai tempat yang mewadahi segala bentuk hasil prilaku manusia yang mewujudkan peradaban. Untuk itu, peradaban dan wacana pemikiran, menjadi pasangan serasi yang terus mewarnai laju dinamika kehidupan. Lepas dari itu semua, agama sebagai salah satu komponen dinamika yang berpijak di bumi ini, tidak luput menjadi bagian yang terus diperbincangkan. &lt;br /&gt;Agama menjadi sebuah perbincangan, tentunya sangat beralasan. Selain sebagai sentra kontrol yang selama ini menjadi daya dari gerak laju perkembangan manusia, juga menjadi sentra dari segala perkembangan dunia ini. Namun, agama tidaklah satu-satunya sentra yang menisbikan daya-daya lain penggerak dinamika. Ada sisi lain yang juga menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia ini, yaitu akal. Agama dan akal inilah dua sisi penting yang terus mendampingi dan bertanggungjawab atas semua bentuk perkembangan yang terjadi.&lt;br /&gt;Agama diwakili wahyu sebagai sebuah sumber dari berbagai implikasi dari gerak konkret yang bersentuhan dengan prilaku nyata. Sedangkan akal, berdiri sendiri sebagai sumber yang terwakili dengan sistem pencarian kebenaran yang dikenal dengan filsafat. Wahyu dan filsafat berjalan menuju sebuah sentra titik, yaitu kebenaran. Keduanya adalah, dua kubu yang berbeda yang bertolak dari titik yang berbeda, namun tertumpu pada satu tujuan yang sama tadi. Titik tolak yang berbeda inilah menjadi perbincangan sengit antara kaum agamawan dan para filosof. Kaum agamawan berpendapat bahwa, realita ini harus bertolak dari ketertundukan terhadap otoritas tuhan lewat wahyu yang diturunkannya. Pada sisi lain para filosof dengan percaya diri mengatakan tiada kebenaran tanpa menyoal kebenaran tersebut, lewat akal sebagai sumber dan penuntun yang absah dan nyata. &lt;br /&gt;Diskursus akal sebagai penuntun dalam hidup ini, melahirkan banyak pendapat. Pada sisi tertentu diakui kalau kajian keagamaan begitu sangat membutuhkan rasio atau akal. Di sisi lain ada yang menyoal, kapan dan dimana akal akan ditempatkan. Akankah rasio menjadi hal primer menggusur kedudukan wahyu sebagai penuntun yang datang dari Tuhan. Bertolak dari wacana inilah perbincangan antar agamawan dan para filososf dimulai.  &lt;br /&gt;Pada perjalanan selanjutnya ternyata keberadaan filsafat banyak ditentang oleh para kaum agamawan. Pada saat itulah filsafat mengalami masa suram, tepatnya tatkala al-Mutawakkil (847-861M)  berkuasa. Keberpihakan al-Mutawakkil pada kaum agamawan salafi (ortodok) begitu sangat nampak dengan dipecatnya Al-Kindi  seorang ahli filsafat dari posisinya sebagai guru istana. Kesuraman filsafat kala itu benar-benar berada pada titik yang mengkhawatirkan. Muncul berbagai kecurigaan yang begitu mendalam terhadap filsafat serta berbagai macam tudingan miring terhadapnya.&lt;br /&gt;Reaksi penolakan terhadap filsafat ini tertuang dari berbagai pernyataan para kaum salafi (ortodok) di berbagai kitab yang ditulisnya. Pada kitab Fiqh Akbar III misalnya, terdapat 33 fasal yang menolak filsafat. Filsafat dianggap sebagai bidáh, kufurat, zandiq, mulhid, haram dan majusi. Pada kitab Ibtal al-Falsafah karangan Ibnu Kholdun, menempatkan filsafat sebagai golongan-golongan ilmu tolol setingkat sihir, tenung, alkemi dan klenik. &lt;br /&gt; Reaksi penolakan tersebut tidak hanya terendus lewat teks, namun juga telihat pada aksi konkret. Sultan Abu Yususf An-Nasr (1196) misalnya, melarang keras pelajaran filsafat di lingkungan kekuasaannya. Pada tataran akdemik formal beberapa perguruan tinggi dan sekolah memposisikan fisafat sebagai Úlum al-Ajam (ilmu-ilmu asing) dan ilmu alat (álliyah) saja. Jika pun ada beberapa perguruan tunggi yang mengajarkannya itu hanya sebatas apologi difensif yang hanya berada pada tataran kulit luarnya saja, bukan pada sisi substansialnya. Artinya filsafat dianggap sebagai ilmu  yang tidak penting dan tidak perlu dikembangkan.&lt;br /&gt;Dua gejala konket inilah mewakili bentuk penolakan terhadap filsafat. Penolakan itu tentunya mempunyai alasan-alasan jelas. Salah satu alasan yang menjadi dalil ditolaknya filsafat untuk berkecambah dan berkembang di tengah-tengah muslim adalah, lahirnya pernyataan ar-Rozi (865-925) yang menolak konsep kenabian. Pernyataan kontrofersial ini memunculkan emosi penolakan yang tinggi dari kaum ortodok, ditambah lagi dengan pernyataan Ibn. Rawandi (lahir825) yang juga menolak konsep kenabian. Penolakan konsep kenabian ini dianggap oleh kaun ortodok sebagai pengerogotan yang membahayakan, akhirnya dijadikan tameng untuk menolak filsafat.&lt;br /&gt;Selain dari yang disebutkan diatas, permulaan ketegangan dan meruncingnya kecemburuan kaum salafi tersebut, disebabkan adanya agresi dari para filosof yang dituding sebagai sebuah pelecehan pada hirarki penempatan ilmu teologi pada tataran yang paling rendah. Kala itu kaum salafi menolak filsafat sebagai penuntun akal, kemudian memilih teologi sebagai rival yang bisa menyaingi filsafat. Jelas saja mereka para kaum salafi marah ketika al-Farobi  seorang filosof yang kemudian menempatkan teologi pada ranking paling rendah. Kejadian tersebut menjadikan ketegangan dan penolakan kaum slafi terhadap filsafat semakin kentara saja.&lt;br /&gt;Tudingan dan klaim miring terus datang beruntun hingga saat ini. Penolakan tersebut juga dilontarkan para kaum ortodoks nasional kontemporer. Hamka dalam bukunya yang berjudul Pelajaran Agama Islam menyatakan bahwa, filsafat hanya mengacaukan fikiran. Tudingan miring ini adalah bentuk kecemburuan yang begitu sangat dalam dan mengakar. Selain Hamka, Munawar Halil dalam bukunya yang berjudul Kembali Kepada Al-Qurán dan Assunnah menyatakan, kaum muslimin agar menghindari pemakaian akal dan raý dalam urusan agama. Munculnya kekhawatiran ini menandakan secara eksplisit para cendikiawan ortodok masa kini juga menaruk kecurgaan yang mendalam pada filsafat.&lt;br /&gt;Filsafat berada titik yang paling kritis tatkala diserang oleh lontaran al-Ghazali sang Hujjatul Islam lewat kitabnya Tahafut Falasifah, kemudian diulanginya pada kitab lainnya Munqid mina al-Dlolal. Serangan tersebut dititikberatkan pada persoalan metafisika dan logika. Posisi al-Ghazali saat itu sebagai seorang teolog benar-benar berada pada puncak persetagangan yang cukup akut, seklaigus juga menghanguskan wacana filosofis yang dihasilkan oleh al-Farobi dan Ibn Sina. Gaung persetagangan ini berujung pada antipasti yang sangat dalam dari kalangan muslim pada umumnya.&lt;br /&gt;Selain dariapada antipati lainnya, ada pandangan pragmatis yang muncul di kalangan umat muslim terhadap filsafat. Filsafat dianggapnya tindakan sia-sia tanpa menghasilkan apa-apa. Misalnya seperti yang didengungkan oleh seorang seniman, menganggap filsafat hanya mencegah peleburan emosi dalam menikmati seni. Pandangan pragmatis ini merebah cukup luas sampai pada sisi kehidupan lainnya yang sedikit menyentuh area mterealisme. Lihat saja fenomena sosial di kalangan mahasiswa, mereka berpandangan kajian filsafat tidak bisa memberikan harapan masa depan dari sisi ekonomi. &lt;br /&gt;Mencermati berbagai tudingan dan penolakan di atas, perlu kiranya pengkajian lebih dalam dan konprehensif mengenai wacana ini. Bila ditilik lebih dalam semua penolakan di atas bisa disimpulkan menjadi dua bagian. Pertama kecemburuan yang berangkat dari kekhawatiran adanya pengrusakan pada prisnsip-prinsip agama, karena filsafat dianggapnya ilmu asing yang berangkat dari Yunani dengan klaim adanya kepentingan-kepentingan penyerangan. Kedua, munculnya pandangan picik yang berorientasi pada pencapaian mater,biasa ikenal sebagai paham pragmatisme.&lt;br /&gt;Semua fenomena di atas menstimulan siapa saja yang menghendaki kedinamisan. Beranjak  dari peresetegangan ini, maka kajian filsafat menjadi kajian tak terelakakan lagi untuk menjadi sebuah pilihan bagi penulis secara pribadi. Hal itu dimaksudkan agar warisan kajian filsafat para pendahulu kita tidak usang termakan gosip miring, pada sisi yang lain mengharmoniskan hubungan kaum ortodoks dengan para filosof. Harapan terakhir adalah, mengembangkan, menambah dan menyempurnakan khazanah keilmuan Islam. [ijan09]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1140948815862105961?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1140948815862105961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1140948815862105961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1140948815862105961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1140948815862105961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/08/membuka-kesadaran-baru-untuk.html' title='MEMBUKA KESADARAN BARU UNTUK BERFILSAFAT'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6041646388929358526</id><published>2009-06-28T19:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T20:29:22.071-07:00</updated><title type='text'>BATURRADEN MENGESANKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/Skg013RK3JI/AAAAAAAAACU/RTq-9Xaj7DY/s1600-h/4891_1077418095839_1237838356_30186501_1229011_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/Skg013RK3JI/AAAAAAAAACU/RTq-9Xaj7DY/s200/4891_1077418095839_1237838356_30186501_1229011_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352586257103510674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang bertolak sekitar jam 07 di hari Minggu terakhir di bulan Juni 2009 memberikan banyak kesan yang menakjubkan . Hari itu adalah hari ke-28 di bulan Juni yang merupakan bagian dari hari libur panjang di tahun ajaran ini. Walau Mu'allimin belum libur secara resmi, tapi hari itu adalah hari penantian nasib bagi setiap siswanya. Apakah mereka berada pada kubu yang " &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Man utiya kitabahu biyaminih, atau sebaliknya&lt;/span&gt;. Dalam penantian yang mendebarkan ini mereka berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan melakukan aktifitas tour ke Baturraden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus yang ditumpangi peserta tour melaju dengan mulus tanpa ada halangan yang berarti. Banyak keindahan yang disuguhkan alam selama perjalanan. Ada gunung yang menjulang tinggi, kali yang dialiri air yang jernih, tanah pertanian yang menghijau, serta deretan toko-toko perkotaan yang berhimpit-himpitan. Semuanya berpadu menjadi mozaik eksotis menghibur hati yang gundah. Suara nyanyian peserta tour terdengar manambah hiruk pikuk keadaan dalam bus. Semuanya begitu bahagia, terasa penat dan payah selama di asrama tershempaskan berganti keriangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bus kemudian berhenti di area parkir pariwisata setelah 4 jama perjalanan. Nampak beberapa bus para pengunjung lain berjejer rapi di area parkir, begitu ramai pengunjung di hari itu. Ada yang tua, muda, anak-anak sampai pada yang masih cabang bayi juga ikut meramaikan suasana Baturraden. Entahlah apa sebenarnya yang mereka cari di tanah pegunungan yang berudara cukup dingin ini. Keindahan, keramaian atau ketengangan?? Tak jelas apa yang dicari, tapi yang jelas Baturraden adalah magnet mengesankan yang menyeret beribu-ribu manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju lokasi wisata menanjak tajam, namun semua itu tidak menjadi kendala bahkan menjadi tantangan yang menggairahakan untuk ditaklukkan. Suasana keriangan mengumbar dari seluruh peserta tour, masing-masing mereka mempunyai gaya tersendiri yang unik dan menggelikan. Maklum mereka adalah anak-anak yang berada pada masa puber, masa pencariaan jati diri, karenanya berbagai cara mereka lakukan untuk mengeksiskan dirinya. Semuanya nampak wajar-wajar saja, sewajar dengan perkembangan psikoogi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di lokasi, semuanya berkumpul di bundaran ikon Baturraden untuk berpose bersama, kemudian setelahnya mereka memilih untuk berjalan-jalan sendiri menikmati suasana alam yang indah nan menggairahkan. Sebagian ada yang ke kolam renang,sebagian yang lain ada yang ke air terjun. Semuanya benar-benar menikmati suguhan Baturraden. Nampak beberapa juga masih ada yang enggan untuk mengeksplorasi seluruh wisata. Enggan karena ada suguhan yang berada di luar pengelola wisata, yaitu ulah para pengunjungnya. Pokoknya ada deh yang aneh..... !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengunjungnya yang multi ragam menyuguhkan banyak keragaman juga. Ada yang konyol, lucu tapi yang paling mengerikan dan menarik adalah ulah para pengunjung yang sengaja mengumbar birahi tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Mereka adalah pasangan-pasangan muda yang mencoba mengeksiskan dirinya lewat dekapan-dekapan birahi di balik kerumunan dan keindahan Baturraden. Tanpa sengaja dan tidak dapat dielakkan lagi suguhan mencengangkan itu akan dengans sendirinya mudah diakses oleh siapa saja yang datang. Walau risih dengan pemandangan ini, para peserta tour tetap tersenyum dan tertawa lepas tak hiraukan semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga jam penjelajahan Baturraden akhirnya harus diakhiri juga. Tepat jam 15.00 WIB semua peserta sudah berkumpul di bundaran Ikon Baturraden untuk bersiap pulang. Puas rasanya melepas semua gumpalan penat yang selama ini menggurendel, kini semuanya lega. Setelah semua peserta sudah lengkap, para peserta melangkah meninggalkan Baturraden. Sementara di parkiran, bus yang ditumpangi para peserta tour sudah menunggu dari tadi. Tepat jam 4 sore bus meninggalkan lokasi menuju Jogjakarta setelah sebelumnya mampir di ruamahanya Alfan untuk makan bersama. Tepat jam 22.00 akhirnya kami anak-anak II C dapat kembali dengan selamat sampai di kampus tercinta Mu'allimin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6041646388929358526?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6041646388929358526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6041646388929358526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6041646388929358526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6041646388929358526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/06/baturraden-mengesankan.html' title='BATURRADEN MENGESANKAN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/Skg013RK3JI/AAAAAAAAACU/RTq-9Xaj7DY/s72-c/4891_1077418095839_1237838356_30186501_1229011_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8097197092210160155</id><published>2009-06-25T18:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-25T18:24:42.297-07:00</updated><title type='text'>MENIKMATI MALAM LIBURAB EKSOTIS DI MALIOBORO</title><content type='html'>Bulan Juni merupakan bulan yang cukup dinanti oleh kalangan pelajar dan perangkatnya. Karena pada minggu terakhir di bulan tersebut mereka bisa melepas penat setelah setahun penuh disibukkan dengan rutinitas yang cukup memeras otak. Banyak cara untuk melepas penat tersebut, ada yang di rumah saja dengan seabrek kegiatan santai, sampai pada kegiatan piknik dan berpariwisata bersama teman-teman sejawat. Pada hakikatnya akhir bulan Juni bagi para pelajar di Indonesia adalah masa melepas lelah dan masa linburan panjang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta sebagai salah satu kota yang tidak pernah sepi dari pengunjung, baik yang hanya sekadar datang per-orangan, ataupun yang datang secara kolegial, tetap menjadi magnet tersendiri yang menyeret para pelajar ke kota ini. Sejak seminggu kemarin kota yang dikenal dengan nasi Gudegnya ini disesaki dengan deretan bus-bus paraiwisata yang datang dari luar kota. Meraka nampakanya adalah para pelajar yang ingin melihat secara dekat kota yang pernah menjadi ibu kota Negara ini. Kamera dan perangkat penangkap gambar lainnya menjadi teman sejati mereka untuk memonomentalkan  moment-moment liburan yang bergairah tersebut. Tak jarang di bantaran trotoar Malioboro, tepatnya di depan Tugu Serangan Umum 11 Maret mereka berjejer sambil memintakan foto pada pengguna jalan yang kebetulan melintas di area tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup beragam para pengunjung baru Kota gudeg ini, mulai dari mereka yang baru duduk di Sekolah Dasar sampai para mahasiswa. Di kota Yogyakarta ini mereka akan banyak menemukan tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi. Sejarah dan budaya menjadi menu menggairahkan bagi para visitor, sekaligus sebagai satu-satunya yang unik pembeda dari kota-kota lainnya. Selain kawasan keraton yang masih sangat kental dengan adat dan budaya Jawanya, di lain sisi Jogja juga merupakan kota pelajar tertua di tanah air ini. Mereka para pengunjung akan menyaksikan sekian ratus kampus perguruan tinggi yang beridiri hampir di setiap sudut kota ini. Pokoknya Jogja tiada duanya di negeri ini…..!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang hobi mengoleksi barang-barang bernuansa khas Jawa-Jogja, sangat mudah dijumpai di kota ini. Cukup berjalan di sepanjang trotoar Malioboro barang-barang tersebut akan berderet rapi mulai dari selatan hingga ujung paling selatan. Tinggal memilih sesuai dnegan budget dari masing-masing pengunjung. Malam hari di kawasan ini akan dijejali oleh ribuan manusia. Karena nuansa Malioboro memang snagat enak bila dinikmat pada malam hari, seolah pada malam hari ruh dari ruas jalan ini benar-benar menampakan keeksotisannya. Tidak ke Malioboro sama dengan tidak pernah ke Joga. [ijan]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8097197092210160155?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8097197092210160155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8097197092210160155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8097197092210160155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8097197092210160155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/06/menikmati-malam-liburab-eksotis-di.html' title='MENIKMATI MALAM LIBURAB EKSOTIS DI MALIOBORO'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-4353251407863768327</id><published>2009-06-12T06:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T06:29:30.175-07:00</updated><title type='text'>Pelepasan Santri Kelas VI Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Prof. Din Syamsudin :"Why we Not The Best") &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mua'llimin Muhammadiyah Yogyakarta untuk kali ke-83 melepas alumninya. Pelepasan itu dilaksanakan kemarin 7 Juni 2009 di halaman tengah madrasah. Pelaksanaannya terkesan sederhana untuk ukuran Jogja sebagai salah satu kota pendidikan ternama di negeri ini. Hanya menggunakan empat terop yang menaungi sekitar empat hingga lima ratusan undangan yang terdiri dari wali santri, guru, karyawan dan undangan umum lainnya. Walau Nampak sederhana tapi prosesi pelepasan ini tetap menjadi momentum bersejarah bagi Mu'allimin dan para siswa terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu ada kesan yang cukup melekat di benak setiap undangan yang hadir, walau secara kemasan luarnya nampak sederhana, tapi pada hakikatnya pelepasan santri kelas akhir kali ini mempunyai arti penting bagi setiap yang hadir waktu itu. Menjadi penting  karena pelepasan kali ini dihadiri langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsudin. Untuk pertama kalinya saya secara pribadi bisa melihat langsung orang penting nomor satu di persyarikatan Muhammadiyah ini. Wajahnya yang sejuk serta suguhan senyumannya yang dilemparkan pada para undangan menandakan kalau beliau adalah seorang tokoh yang mampu menjadi bagian dari umat. Begitu mengesankan….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan beliau dengan mengendarai sedan hitam disambut hangat oleh Direktur Mu'alliminnUst. Ikhwan Ahada dan para hadirin. Selang beberapa menit setelah kedatangan beliau, pembawa acara langsung mempersilahkan beliau untuk memberikan tausiyah, pesan dan penyerahan kembali para sntri kepada masing-masing wali santri. Dimulai dengan salam serta muqoddimah B. Arab yang sangat fasih menjadikan saya sangat terkesimak oleh pukauan penampilan beliau. Lulusan KMI Gontor ini selain B. Arabnya sangat fasih tapi secara artivisial mempunyai gaya retorika yang sangat menarik. Gaya retorikanya mampu menghangatkan suasana, banyak guyonan-guyonan tulusnya yang sesekali membuat para hadirin tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai harapan agar para kader Muhammadiyah mampu bersaing di tengah-tengah perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Untuk itulah diharapkan kader-kader Muhammadiyah, khususnya santri yang baru dilepas mampu dan bisa memasuki bidang-bidang terapan ilmu yang ada. Karena menurut beliau saat ini tidak berlaku lagi dikotomi Ilm pengetahuan, bagi beliau tidak ada Ilmu Agama dan Imu Umum, keduanya adalah perpaduan yang tidak bisa dipisahkan. Mu'allimin sebagai kawah candradimuka-nya Muhammadiyah harus bisa melahirkan kader-kader yang tidak hanya menjadi ulama-ulama agama tapi juga mampu melahirkan ulama ekonomi, ulama politik dan ulama-ulama di bidang-bidang lainnya. Walau demikian Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga harus mempunyai kader-kader khusus yang benar-benar paham dan mengerti tentang agama (mtafakkih fiddin). Penyiapan kader-kader khusus itu merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan, begitu ulas beliau yang menganalogikan pada adanya Kopasus di tubuh TNI sebagai sebuah contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah pidatonya, beliau juga menyempatkan untuk berdialog dengan para santri yang baru dilepas dengan memanggil dua orang untuk maju ke depan. Sengaja beliau memanggil santri yang sudah diterima di perguruan-perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri, untuk yang di dalam negeri beliau meminta santri yang diterima di ITB dan yang dari luar negeri beliau meminta yang diterima di Al-Azhar Kairo. Kemudian beliau mengajak dua orang santri yang dimaksudkan tadi berdialog mengenai alasan memilih perguruan tinggi pilihannya dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Untuk yang di terima di Al-Azhar beliau menggunakan dialog B. Arab, walau dapat dijawab tapi jawabannya masih terkesan kurang lancar dan terlihat tergagap-gagap. Menurut hematku tidak selayaknya untuk ukuran seorang alumni menjawab dengan gagap, tapi begitulah suguhan kenyataan yang harus menjadi bahan renungan bagi setiap guru di Mu'allimin. Dialog dilanjutkan pada santri yang diterima di ITB dengan menggunakan B. Inggris. Jawabannya lumayan lebih baik dari sebelumnya, walau harus disadari memang ada kekurangan yang juga harus menjadi perhatian para guru. Begitulah dialog ini berlangsung hingga kemudian diakhiri dengan tepuk tangan para hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari pada itu beliau juga mencurahkan harapannya pada Mu'allimin untuk terus berinovasi dengan mencampakkan rasa puas pada apa yang telah digapai. Artinya apa yang telah digapai oleh Mu'allimin saat ini jangan sampai menjadikan Mu'allimin puas, karena masih ada sekian banyak tujuan-tujuan yang lain yang belum tersentuh. Seperti planning masalah Madrasah bertarap Internasional adalah sebuah rencana yang harus bisa dilakukan oleh Mu'allimin sebagai lembaga kader. Muhammadiyah secara umum belum memiliki lembaga pendidikan Ideal tersebut, padahal umat di luar Islam sudah banyak yang memilikinya. Maka harapan yang begitu besar ini menjadi agenda utama yang benar-benar harus dijalankana oleh Mu'allimin. Peluang-peluang itu sudah mulai ada, misalnya dengan adanya tawaran tanah 10 H di daerah Godean adalah sebuah realitas yang mengisyaratkan kalau Mu'allimin sebagai lembaga pendidikan kader bisa menggapai impian itu. Sekarang tinggal kapan mau memulai. Motivasi dan impian baik itu diharapkan secepatnya dimulai walau disadari memulai itu sangat sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih cepat lebih baik (Fastabiqul Khoirot)" ini adalah petikan pidato beliau yang meminjam slogan salah satu kandidat presiden. Beliau sangat setuju dengan slogan ini dalam tanda kutip niat dan maksud yang baik bukan dalam konteks mengkampanyekan kandidat presiden terkait. Begitulah petikan pidato beliau yang kemudian diiringi dengan tepuk tangan dan tawa dari para hadirin. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa semua yang nyata saat ini berawal dari sebuah mimpi, untuk itulah beliau menginginkan kader-kader Muhammadiyah menjadi pemimpi ulung dalam artian realistis-logis, serta penggila-penggila (pekerja-oekerja keras) sebagai implikasi dari makna gerakan yang ada di tubuh Muhammadiyah itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari satu jam beliau berpidato menyampaikan harapan-harapannya pada para siswa dan Mu'allimin. Akhirnya di penghujung pidatonya beliau menyerahkan kembali para siswa yang baru dilepas itu pada walinya masing-masing. Sebelum akhirnya kembali ke tempat duduk, beliau diminta untuk memberikan amanah tertulis yang berbunyi " Kenapa kita tidak lebih baik, why we not the best". [ijan]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-4353251407863768327?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/4353251407863768327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=4353251407863768327' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4353251407863768327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4353251407863768327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/06/pelepasan-santri-kelas-vi-muallimin.html' title='Pelepasan Santri Kelas VI Mu&apos;allimin Muhammadiyah Yogyakarta'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7282599814385427165</id><published>2009-05-13T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T21:55:53.186-07:00</updated><title type='text'>MENGEJAR MIMPI INDAH (Pertemuan IKBAL Jogja)</title><content type='html'>Pertemuan dengan teman-teman alumni tanggal 12 Mei 2009 kemarin merupakan pertemuan yang memberiku banyak arti. Pertemuan itu adalah kali pertama selama hampir 6 bulan keberadaanku di kota Gudeg. Pantas kalau hampir semua diantara mereka mempertanyakan seputar kedatanganku di kota yang pernah menjadi ibu kota Negeri ini. Sambutan mereka sebagai seorang alumni terhadap teman sealmamaternya cukup hangat, mengingatkanku pada pondok yang selama ini telah menorehkan benih-benih kedewasaan dan persaudaraan. Tawa dan sapaan keakraban begitu sangat kental, menjadi pelipur kerinduanku pada Madura sebagai pijakan pertamaku mengawali proses perjuangan mengarungi bahtera kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang berlangsung di rumah Ust. Fathurrahman itu walau jauh dari kesan istimewa secara kemasan, namun mempunyai kesan yang cukup istimewa bagi diriku. Perhatian pertama yang memukau perasaanku tat kala bertatap dengan Ust. Fathurrahman seorang alumni tahun 1995 kelahiran asli tanah Prenduan itu yang kini bisa dibilang sudah bisa menuai jerih payahnya. Kepribadiannya yang santun serta loyalitasnya yang tinggi pada Al-Amien menjadikan kami (aku dan teman-teman) tidak canggung untuk bertegur sapa, walau kini beliau boleh dibilang sebagai salah seorang yang mempunyai posisi penting di ranah intelektual UIN Sunan Kalijaga. Posisi beliau sebagai dosen pada Fakultas Syari'ah di UIN tidak menjadikan beliau menjaga jarak pada kami yang kebetulan salah seorang diantara kami adalah Mahasiswanya. Aku benar-benar kagum...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kagum dan takjub dengan beliau yang kini bisa berdiri dengan tegak di tanah bukan kelahirannya. Aku dapat merasakan kalau beliau ini seorang pejuang, pekerja cerdas dan tangkas yang bisa membaca peluang dan tantangan. Tidak mungkin posisi yang cukup strategis saat ini didapat dengan berpangku tangan. Beliau benar-benar telah mampu melewati sengitnya multi-agresi di tanah rantau. Mengagumkan....!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kekagumanku tiba-tiba terbesit untuk mengorek diriku yang saat ini masih berproses. Timbul pertanyaan bisakah aku dengan keterbatasan serta kelebihan yang aku miliki bisa mencapai target-target impianku?. Pertanyaan sederhana yang tidak membutuhkan jawaban leteral atau verbal, tapi lebih dari itu adalah aksi nyata. Hidup menyuguhkan realitas yang selalu bersinggungan dengan sentuhan konkret. Hidup tidak cukup hanya berada dalam naungan ide, sehingga tidak perlu terlalu diidealiskan. Pada beberapa sisi ide memang tidak sepenuhnya dicampakkan tapi juga sering kali harus diikutkan sebagai penyeimbang dari gerak konkret yang dikhawatirkan tergelincir. Selama gerak konkret itu tidak menyimpang dari rel-rel agama maka sejauh itu ide harus diikutkan sebagai identitas seorang pejuang yang bekerja dengan Ilmu&lt;span style="font-style:italic;"&gt;('ala ilmin)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Inilah mungkin pembeda antara pekerja yang hanya mengandalkan otot dengan pejuang-pejuang ulung ala Ust. Fathurrahman yang beprinsip bekerja cerdas bukan bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpiku jauh membumbung tinggi ke angkasa melampaui batas rongga-rongga langit alam ini. Mulai dari mimpi kesuksesan secara finasial sampai pada menduduki tahta yang penuh dengan gemerlap kenikmatan. " Hah..." sedikit aku menghela nafas sambil sunggingkan senyum tipis seakan menertawakan diri sendiri. Kemudian sunggingan senyum itu aku akhiri dengan perasaan optimis seumpama mimpi itu adalah masa depan yang dekat yang bisa kapan saja aku gapai. Aku sadar mungkin teman-teman IKBAL atau bahkan Ust. Fathurrahman sendiri akan ikut menertawakan diriku seandainya mereka tahu saat itu aku bermimpi indah di tengah gelaran mesra persaudaraan. Tapi aku akan dengan cueknya meneruskan mimpi itu dengan sambil berucap canda pada mereka " Bermimpi itu kan tidak usah bayar, jadi gak usah ditertawakan lah, apalagi sampai dilarang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus mengobrol rencana-rencana IKBAL Jogja ke depan, mimpi-mimpi itupun berlalu seiring ludesnya kripik kepeng ala Prenduan bersambelkan kacang pedas di depanku."Wuuuh...." rasa pedas nikmat itu memintaku untuk minum  untuk hilangkan pedas. Keringat membasahi kening walau saat itu hembusan angin malam di depan rumahnya Ust. fathurrahman tak hentinya menerpa wajahku. Teman-teman yang lain tanpa dikomando juga berdesis nikmat. Benar-benar malam itu adalah malam yang memeprtemukan aku dengan mimpi, dan kenikmatan yang menyisakan semangat menggelora untuk menggapai mimpi itu. Semoga saja mimpi itu tidak tertelan pagi lalu lenyap digusur siang,aku akan selalu dengan semangat mengejar mimpi-mimpi itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7282599814385427165?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7282599814385427165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7282599814385427165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7282599814385427165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7282599814385427165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/05/mengejar-mimpi-indah-pertemuan-ikbal.html' title='MENGEJAR MIMPI INDAH (Pertemuan IKBAL Jogja)'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8251449112398452510</id><published>2009-04-13T18:19:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T19:34:02.978-07:00</updated><title type='text'>Kilas Contrengan di Balik Keindahan Borobudur</title><content type='html'>Sudah berlalu contrengan untuk pemilihan calon legislatif, namun sayang sekali aku tidak bisa memberikan suara pada contrengan kali ini. Aku tidak terdaftar sebagai pencontreng di tempat baruku ini, toh walaupun terdaftar aku juga tidak bisa menentukan contrengan yang tepat. Selain tidak pernah mengenal sosok para calon, juga karena aku bukanlah orang asli Jogja. Ya ....masih beruntung tidak terdaftar, daripada terdaftar lalu kemudian bingung he...he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statusku pada contrengan kali ini benar-benar menjadi Golput tulen namun masih beralasan karena kendala tekhnis, kemudian di beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai golput tekhnis. Artinya mereka kelompok yang tertahan suaranya karena terbentur dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk memeberikan suara, baik itu karena lokasi atupun kendala-kendala yang lain yang disebabkan oleh sistem yang buruk. Anehnya para golput di ibukota mencapai 40 persen bahkan konon hal ini berlaku untuk Nusantara secara umum. Jumlah yang cukup besar, untuk sementara persentase golput jika dibandingkan dengan jumlah perolehan suara partai yang mempunyai suara terbanyak (Demokrat), golput masih mengunggulinya. Dengan demikian golput menempati posisi puncak sebelum Demokrat. Terus Golput menang dong he..he...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah aku di pihak golput, karena masih tergolong banyak jika dibandingkan dengan partai pendatang baru yang notabenenya  telah mengeluarkan budget yang lumayan tinggi mencapai milyaran rupiah. Namun golonganku ini sangat ekonomis, bahkan kampanyenya tidak pernah tergelar sekalipun, apalagi iklan di TV, tidak sama sekali. Sebenarnya gejala sosial ini cukup unik serta mengundang banyak praduga dari berbagai kalangan. Ada yang berparduga karena munculnya kebingungan sehingga lahirlah prilaku abstain. Praduga lain ada ketidak puasan dari para golput pada pemerintah serta menganggap pemilu kali ini hanya sekadar formalitas yang tidak akan memebrika perubahan apapun pada bangsa ini. Wah pokoknya banyak deh pertanyaan lain yang tentunya membutuhkan analisis dalam. Ah sudahlah let gone be by gone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengisi hari kosongku tanggal 9 April yang lalu aku duduk manis di depan komputer hanya untuk chat n browsing mengubur sepi yang mengusik. Sepi, karena saat itu hampir semua penghuni asrama mudik untuk mencontreng. tersisa aku dan beberapa orang yang tergolong mempunyai daerah jauh dari Jogja. Bergulir begitu cepat, sehingga tanpa terasa sorepun menjemputku dan menggelar kesunyian di belantara malam. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa ada yang mengangggu ketenangan dan kedamaian hatiku. Sehingga pagipun menyambutku dengan lebih meriah lagi, karena pagi di Jum'at itu aku bermain Futsal yang merupakan agenda mingguan terfaforit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas bermain futsal menajdi rutinitas tak tergantikan yaitu harus mengisi perut yang sudah mulai bermusik ria. Dengan tujuan mengisi perut akhirnya aku meluncur mencari lokasi kuliner. Bertujuan ke depok untuk menikmati ikan cakalan namun akhirnya tujuan itu berbelot menuju Magelang dengan Brobudur sebagai sasaran terakhir. Kurang lebih 2 jam akhirnya aku sampai di daerah Borobudur. Lumayan mengangumkan untuk diriku yang baru akli kedua menginjakkan kaki di lokasi yang pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Udara panas serta waktu yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju candi, akhirnya aku bersama tiga orang temanku duduk santai di salah satu warung di luar lokasi wisata untuk mengisi perut yang sedari tadi meminta haknya. Satu porsi gulai kambing lengkap dengan minumnya dalam hitungan menit dilibas habis tak tersisa. Keringat puas mengguyur seakan memberitahukan nikmat yang baru saja tersaji. Tidak berselang setelah itu, aku tunaikan sholat Jum'atku di masjid yang berada persis di samping warung. Al-Hamdulillah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama aku menikmati Borobudur yang megah memepesona itu. Terhitung menjelang Ashar hingga jam 17.00. Suguhan Brobobudur kali ini free untukku dan teman-temanku karena sebelum ke Brobudur kami sempat singgah ke rumah teman yang kebetulan mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Brobudur.Tanpa dipunguti apapun kami semua dengan leluasa menikmati Brobudur dengan puas. Akhirnya kami tinggalkan brobudur dengan riang, lepas dari berbagai belunggu. Itulah seputar aktifitasku di libur cintrengan lima tahunan kali ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8251449112398452510?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8251449112398452510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8251449112398452510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8251449112398452510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8251449112398452510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/04/kilas-contrengan-di-balik-keindahan.html' title='Kilas Contrengan di Balik Keindahan Borobudur'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1150755914917552478</id><published>2009-03-29T07:35:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T07:40:48.215-07:00</updated><title type='text'>CATATAN SEBELUM MENCONTRENG</title><content type='html'>Pemilu atau pesta demokrasi hampir mempunyai persamaan dengan pesta judi yang mengundang banyak komentar dari masyarakat luas. Agenda lima tahunan negeri ini menyimpan banyak wacana serta realita untuk didiskusikan, didialogkan, dikomentari atau bahkan ada kalangan yang mengapresiasikan dengan tingkah komedi. Beragam bentuk apresisasi tersebut tumbuh dari semua kalangan masyarakat, dari kalangan yang paling elit sampai pada kalangan yang hanya hidup mengandalkan dengkulnya saja. Semua kalangan merasa penting untuk membicarakan wacana dan realita yang terjadi, terkait dengan contrengan yang tak lama lagi akan digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempersepsikan pemilu dengan judi memang sebuah persepsi memungkinkan adanya kedekatan karakter diantara keduanya. Pemilu kali ini dengan bertabur partai dan caleg-calegnya bagaikan beribu penjudi yang datang ke meja judi untuk bertaruh, mengadu nasib dengan taruhan yang variatif. Dari sekian partai dan caleg yang ada, mereka datang dengan jumlah nominal modal materi yang cukup tinggi, bahkan ada yang sampai menelan biaya miliyaran rupiah. Sebuah pertaruhan judi spektakuler demi merebut kursi kedudukan yang empuk bersantapkan kucuran rupiah tak terhingga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika wacana gambaran kursi empuk DPR di atas menjadi target dari masing caleg dan parpol maka agenda sejati demokrasi yang diusung negeri ini telah gagal. Perubahan pada laju pemerintahan yang akan datang tidak akan memberikan arti perubahan apa-apa pada negeri ini. Malah akan terjadi dekonstruksi total yang kemudian akan menambah penyakit pada negeri ini. Karena yang menang dan yang berhak maju untuk duduk di kursi DPR nantinya akan mengerogoti negeri ini dengan mengeruk kekayaan Negara untuk mengembalikan modal taruhan yang dipakai selama masa kampanye. Inilah opsi agenda pertama yang kemungkinan akan dijalankan oleh bapak dan ibu caleg terpilih yang bejat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi di atas memang merupakan prediksi buta, namun jika dilihat dari dana kampanye yang begitu sangat tinggi serta gaji DPR yang tidak memungkinkan dana modal kampanye tersebut kembali, memungkinkan pilihan mengeruk kekayaan milik Negara akan menjadi agenda awal dari beberapa caleg bejat tak bermoral. Wacana ini sering kali terdengar di beberapa warung kopi pinggir jalan sekaligus menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh sebagian besar rakyat di negeri ini. Terkesan sebuah prediksi murahan namun kemungkinannya sangat dekat terealisasi pada fakta yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak semua caleg dan parpol seperti ilustrasi di atas, tapi tipikal caleg sebagian besar memang masih berorientasi pada kesenangan pribadi atau boleh dinamakan Lover of Pleasure. Tipikal pemimpin yang seperti inilah yang terkategorisasikan pada para pemimpin yang berdeketan dengan tipikal para penjudi yang mengharap dengan taruhan duitnya akan mendapatkan  menuai banyak keuntungan yang merugikan orang lain. Makna ekplesitnya pemimpin yang seperti ini para penurun gen hedonisme yang mengagungkan nafsu sebagai motor penggerak dari setiap langkahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta konkrit yang terangkat lewat media dan yang terpampang di depan mata sudah sangat banyak. Salah satunya adalah, wujud janji muluk yang sering dengan ringan mereka celotehkan di depan masyarakat guna mendulang suara di contrengan 9 April nanti. Serasa mulut mereka berceloteh tanpa beban serta tanpa memikirkan kemungkinan tantangan yang akan dihadapinya nanti. Mereka tidak menyadari kalau negeri ini mempunyai banyak problem yang tidak bisa diselesaikan dengan sekali bim-salabim. Janji spektakuler non realistis ini menandai kalau mereka berjajni tidak berdasar kesadaran, namun lebih tepatnya janji-janji mereka bersumber dari nafsu. Janjinya memang sesuatu yang ideal dan harapan seluruh rakyat, namun juga perlu diingat kalau perjalanan tidaklah selalu mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari fakta tersebut di atas adanya kebohongan simpati yang tersajikan lewat aksi konyol mereka yang tidak segan-segan membuat sakit perut karena kelucuannya. Betapa tidak dikatakan sebuah aksi konyol, jika sebelum ini mereka dengan enggan menginjakkan kakinya ke tempat-tempat becek, tapi pada saat ini malah mereka dengan aksi konyolnya turun ke sawah mengetam padi seakan selama ini mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para petani. Begitu sangat kentara kekonyolan dan kebohongan mereka di muka publik. Mereka seakan paling paham penderitaaan rakyak kecil padahal sebelum ini mereka dengan angkuhnya mencibiri dan tidak mau tahu keadaan rakyat kecil. Di pojok lain negeri ini juga terdapat realita konyol lainnya, beberapa caleg dengan senyum fatamorgananya menebar pesona dengan cara membagi-bagi sembako sementara sebelum ini dia adalah orang yang kebal akan penderitaan tetangganya. Kalau demikian keadaannya, dinilai kategori apakah kebaikan tersebut??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari suguhan fenomena riil di atas maka kemudian lahirlah patokan tipikal seorang pemimpin yang bisa dan layak dicontreng. Jika tipikal suguhan fenomena riil ditas adalah mereka para pemimpin yang bertipe Lover of Pleasure maka tentunya pemimpin yang setidaknya mewakili tipikal seabrek tipikal ideal lainnnya adalah para pemimpin yang bertipikal Lover of Wisdom. Hanya para pemimpin yang cinta keadilan saja yang bisa menempatkan diri dan mampu menata  Negeri yang sembraut ini, karena pemimpin yang seperti ini cenderung realistis dan tidak terlalu mengumbar janji yang muluk-muluk. Lebih mengedepankan hati yang kemudian juga tidak mengesampingkan otak sebagai sarana berfikir untuk mengejawantahkan frame keadilan pada kehidupan konkrit. Selanjutnya kemampuan memposisikan dirinya serta membagun dialog terbuka dan konstruktif menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kecintaannya pada keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan terakhir, tulisan ini memang tidak lepas dari sebuah kepentingan, karena hidup memang penuh dengan kepentingan. Tapi perlu disadari kepentingan yang tersajikan lepas dari kepentingan kelompok tertentu, paling penting catatan ini lepas dari mengajak atau melarang seseorang untuk memilih pilihan tertentu. Catatan ini adalah murni bersumber dari endapan emosi penulis selama mengikuti perkembangan hiruk pikuk laju pesta demokrasi di negeri ini. Hak menentukan pilihan semuanya berada di tangan masing-masing pribadi. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat Mencontreng…..!!!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1150755914917552478?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1150755914917552478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1150755914917552478' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1150755914917552478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1150755914917552478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/03/catatan-sebelum-mencontreng.html' title='CATATAN SEBELUM MENCONTRENG'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6693148894013765015</id><published>2009-03-24T05:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T07:06:50.529-07:00</updated><title type='text'>Wajah Negeri Menjelang Contrengan</title><content type='html'>Pesta Demokrasi di neger ini sudah mulai digelar dengan didahului oleh kampanye partai politik beserta calon legislatifnya. Menarik untuk diperbincangkan serta cukup menngemaskan untuk diikuti perkembangannya, sehingga hampir semua stasiun televisi meliput secara khusus pagelaran lima tahunan ini secara lebih serius dan inten. Beranika macam nama program liputan ini dikemas, ada yang menamainya Rakyat memilih, contreng, election Chanel dan lain sebagainya, namun seluruh acara itu sama-sama menyuguhkan liputan seputar pemilu. Begitu sangat semarak media dan rakyat negeri ini menyambut pagelaran pesta demokrasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran semaraknya pesta demokrasi itu tidak terlepas dari harapan masing-masing rakyat di negeri ini. Artinya rakyat saat ini begitu cukup senang dengan pagelaran tersebut dengan harapan nantinya terbangun pemerintahan yang lebih menjamin kemerdekaan dari berbagai macam belenggu penjajahan. Selama ini kalau boleh dibilang negeri ini masih berjalan di tempat atau bahkan mungkin malah tambah ke belakang, banyak program dan cita-cita bangsa ini yang terabaikan begitu saja tanpa adanya perhatian yang serius dari para pemimpin bangsa ini. Sehingga kadang menjadikan rakyat kesal, tak jarang kemudian memunculkan persoalan baru. Salah satu cita-cita negeri ini yang terabaikan adalah menjadikan setiap rakyatnya merdeka, merdeka dari kemeskinan, terpenuhi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraannya. Cita-cita luhur ini memang bukanlah perkara mudah, tapi paling tidak pemerintah dapat mencicil sedikit demi sedikit mewujudkannya, bukan malah merongrong negeri ini dengan tingkah bejatnya yang semakin parah. Kasus Korupsi jumlahnya semakin spektakuler bahkan menjelang contrengan baru-baru ini salah satu wakil rakyat terlibat dalam kasus tersebut. Memilukan...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah wajah negeri ini yang kian carut-marut dengan tingkah para pemimpinnya yang semakin tidak tahu malu. Menyitir komentar Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakrata menyatakan bahawa, "negeri ini telah kehilangan cita-citanya atau telah terjadi fragmentasi cita-cita". Masing para pemimpin mengusung cita-cita individu atau kelompoknya sehingga kerja dan pengabdiaanya tidaklah untuk seluruh rakyat negeri ini tapi melainkan untuk dirinya dan kelompoknya. Pada faktanya kemudian melahirkan praktek amoral seperti mengeruk kekayaan negera serta membuat keputusan-keputusan yang merugikan negara dan rakyat. Inilah gambaran moral dari sebagian para pemimpin negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum Pemilu saat ini benar-benar menjadi harapan terakhir rakyat untuk dipenuhi hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para pemimpin yang rakus. Namun rakyat kembali menuai beberapa problem yang sedikit membuat khawatir, karena beberapa partai dan calon legislatifnya ada yang masih mengusung cita-cita kelompok tanpa mau membangun dialog untuk mengintegralkan cita-cita tersebut menjadi cita-cita bersama untuk membangun negeri ini. Anggapan ini tergambar lewat siaran live salah satu satsiun televisi yang menyguhkan debat partai. Pada acara tersebut cukup terlihat bagaimana tergambar di raut  serta lewat celotehan mereka para petinggi partai dengan gagahnya merasa paling sempurna, bahkan ada yang merasa menang debat dengan menggagahi lawan debatnya. Acara tersebut kalau boleh dibilang sebuah kamuflase yang menyughkan betapa dangkalnya kompetensi dasar yang dimilki para calon para pemimpin  ini dengan memamerkan kebodohannya lewat adu argument yang dikemas dengan pilihan pro dan kontra. Cukup jelas kemasan program debat ini yaitu menggunakan frame pro dan kontra. Sebuah frame yang kurang membangun serta kurang bermartabat bagi sebuah partai di sebuah republik. Acara itu hanya pas bagi anak-anak sekolahan saja untuk melatih kemapuan berbahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tragis lagi ada beberapa caleg dadakan yang boleh dibilang kurang relevan untuk menjadi wadah penampung aspirasi rakyat, karena adanya kompetensi dasar yang belum dikuasai betul oleh calon yang bersangkutan. Terlihat pada beberapa kasus seperti adanya pemalsuan ijazah, tindakan anarkis di beberapa tempat di negeri ini karena ulah caleg dadakan. Kemudian ada lagi beberapa diantara mereka yang berkampanye tidak pada rel yang telah ditentukan. Satu lagi yang menambah problem serta mungkin bisa membuat rakyat bingung untuk memilih yaitu adanya caleg yang pindah-pindah parpol, atau kalau oleh dibilang caleg kutu loncat. Jelas sekali caleg yang seperti ini hanya mengejar kedudukan bukan ikhlas membangun negeri.Jadi samapai saat ini rakyat hanya tenggelam dalam hiruk pikuk hiburan yang digelar pada suatu kampanye tidak pada kemeriahan karena partai dan calegnya yang ideal. Lalu??? terserah Anda bagaimana menyikapi persoalan ini. Selamat Mencontren...!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6693148894013765015?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6693148894013765015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6693148894013765015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6693148894013765015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6693148894013765015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/03/wajah-negeri-menjelang-contrengan.html' title='Wajah Negeri Menjelang Contrengan'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-909524377274213428</id><published>2009-03-20T06:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:41:25.210-07:00</updated><title type='text'>AKU MEMBUNUH MALAS</title><content type='html'>Aku malam ini atau tepatnya beberapa hari di minggu ini tidak menemukan performa hidup yang pas dan menyenangkan. Terasa begitu sangat menggerahkan hidup ini. Panas bak matahari sejengkal di atas jidadku. Enggan untuk melakukan aktifitas, semua gerak kreatif yang biasanya mengalir tiba-tiba terhenti seketika melebur dengan deburan arus malas yang menghanyutkan kendali diriku. Serasa mati namun tak berkafan, tubuh ini tak mampu lagi melahirkan hidmah bagi umat, akhirnya aku luapkan sejenak di paruh malam-malamku lewat senandung do'a dan ampunku kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terus melaju tak menghiraukan aku yang terseok-seok diterjang arus malas yang menelan berbagai macam kesempatan emas. Tertindih diri ini dalam kerugian,sementara beberapa orang di sekitarku banyak yang sudah melangkah melewati levelku, sebagian mereka telah mampu menabung pundi-pundi kebajikan. Sementara yang lain ada yang sibuk menata dirinya dengan menambal beberapa kebobrokannya selama ini. Aku sendiri tertunduk kaku tak sempat melangkah bahkan terasa beku tertutup salju tak bergerak. Hati kecil mulai merintih meneriakkan kejujurannya meminta haknya untuk dipenuhi. Haknya untuk menggubrisi anak didikku yang terbengkalai akibat deraan badai dan arus malas. Terus peperangan sengit itu terjadi antara hati nurani versus nafsu angkara murka. Letupannya tak kalah dengan tebaran roket Israel yang diledakkan di tanah Palestina yang menelan banyak korban itu. Adapun korban terparah pada peperangan itu adalah harga diriku sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir mendekati dua minggu malas itu mengamuk diriku, banyak luka borok di sana sini akibat bacokan para tentara kemalasan. Terasa nyeri tak terhingga sehingga tanpa disuruhpun aku mulai menggeliat mengumpulkan sisa-sisa amunisi untuk kembali berjuang lewat tilawah Wahyu-Nya dalam lima kesemptan berjumpa dengan-Nya. Aku tuturkan secara jujur di Haribaan-Nya dengan muka dan hati yang tunduk pasrah memohon taufik dan hidayah-Nya. Terasa angin segar membawa embun semngat menyapu mukaku yang kusam. Mata hati kembali melihat jernih dan menuntun diri ini untuk kembali berjalan di atas lorong semangat. Tatapan kembali menyoroti masa depan,sehingga lambat laun tubuh ini kembali terasa ringan bergerak dan meniti jalan menuju ridla-Nya lewat titipan yang diamanahkahkan padaku.Entah itu amanah untuk mengayomi anak-anak didik atau kepercayaan lainnya yang berupa tugas untuk menjadi kholifah di muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amukan itu sedikit demi sedikit lenyap dari diriku walau sebenarnya tidak bisa dianggap enteng apalagi menganggapnya telah kapok. Pada suatu saat amukan malas itu akan datang lebih ganas lagi karenanya kewaspadaan terus harus dijaga agar tidak menelan banyak kerugian pada diri ini. Ketegaran perjuangan dan perlindungan Allah saja  yang bisa menyingkirkan rasa malas itu. Kini saatnya aku kembali menjemput performa hidupku yang sempat mendekati kepunahan. Aku berteriak " Aku ingin merdeka dan menang".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-909524377274213428?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/909524377274213428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=909524377274213428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/909524377274213428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/909524377274213428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/03/aku-membunuh-malas.html' title='AKU MEMBUNUH MALAS'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1805819917185567946</id><published>2009-03-06T17:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T17:35:37.863-08:00</updated><title type='text'>HIDUP KEKAL DAN BAHAGIA</title><content type='html'>Umur manusia secara kehidupan fsik_biologisi begitu sangat cepat dan singkat. Hanya dalam hitungan puluhan tahun saja  jatah bagi mereka. Sangat minim sekali seorang manusia yang menyudahi kehidupan hinga ratusan tahun. Namun mayoritas mereka bahkan mungkin kita sendiri bermimpi untuk hidup seratus bahkan ribuan tahun. Jika dilihat dari jatah dan sejarah kehidupan manusia untuk ukuran manusia di zaman kita sekarang ini adalah hal mustahil. Lalu apa sih sebenarnya makna filosofis dari mimpi-mimpi kehidupan ribuan tahun tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja saya memulai bahasan refleksi ini dari pertanyaan sederhana dan deksripsi singkat realita yang bisa saya baca dari kehidupan yang riil. Sejatinya refleksi sederhana ini bukanlah hal yang baru bagi kalangan akademisi, namun tidak salah jika saya memulainya lagi melihat dari dimensi sisi subyektif pengalaman pribadi. Karena saya yakin pengalaman subyektif masing-masing individu mempunyai keunikan tersendiri yang layak untuk diunggah sebagai sebuah wacana untuk dibicarakan bersama guna menemukan kebenaran-kebenaran yang nantinya bisa ditularkan pada masyarakat umum. Inilah hal yang mendasar yang mendorong diri saya untuk menggugah makna dari impian manusia untuk hidup ribuan tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wacana hidup ribuan tahun ini disajikan maka otak kita secara reflek akan memilih sisi filosofis sebagai bentuk konkret dari kehidupan yang dimaksudkan. Artinya kehidupan yang dimaksudkan bukanlah gerak fisik seperti, makan, minum, jalan-jalan atau berbagai hal yang menyangkut prilaku fisik, tapi yang dimaksudkan adalah nilai dari seorang manusia itu sendiri yang akan tetap hidup hingga ribuan tahun. Inilah sisi kehidupan yang langgeng yang terwarisi hingga ke anak cucu kita atau mungkin jika nilai kemanusiaan kita merupakan hal spektakuler bisa saja hingga bumi ini kiamat kita akan tetap hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita sedikit melihat sejarah orang-orang terdahulu kita. Begitu sangat banyak para individu yang mampu memberikan konstribusinya pada kehidupan riil, walau badannya sudah berkalang tanah ratusan tahun yang silam. Kalau boleh saya korelasikan pada kehidupan kita menjelang pesta demokrasi yang akan kita laksanakan (PEMILU 40 hari lagi dari tulisan ini ditulis), beberapa partai sengaja mengkampanyekan partainya lewat nilai-nilai individu seorang tokoh yang wafat puluhan tahun yang lalu. Realita ini menyajikan kalau seorang manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna mempunyai kemampuan untuk hidup melebihi batas-batas waktu yang diberikan pada makhluk-Nya yang lain. Bahkan konstribusi dari seorang individu yang mempunyai kapasitas nilai yang tinggi dapat memberikan segalanya bagi kehidupan riil walau hayatnya secara fisik sudah termakan bumi. Contoh-contoh yang lain bisa kita cari sendiri pada beberapa kasus lain yang sesuai denga konteks dimana kita hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim tentunya Nabi Besar Muhammad SAW tetap menjadi orang nomor satu yang mempunyai kapasitas nilai kemanusiaan yang tinggi tak tertandingi oleh siapapun hingga akhir masa. Kehadiran nilai kemanusiaan beliau sebagai seorang manusia yang menyuguhkan Uswah Hasanah bagi umatnya menjadikan beliau kekal abadi sekekal ajaran yang beliau bawa. Lalu kita sebagai bagian dari umatnya setidaknya mampu meniru beliau walau untuk menandinginya adalah hal yang mustahil, tapi paling tidak kita mampu menjadi individu yang dibanggakan dan dirasakan nilai kamanusiaan kita oleh keluarga dekat kita sendiri di hari dimana kita telah meninggalkan dunia ini. &lt;br /&gt;Hidup kekal dan dikenang oleh orang setelah kita memang menjadi target dari masing-masing kita. Namun perlu didingat agar kenangan yang turun pada orang-orang setelah kita adalah nilai-nilai kebaikan. Sehingga kita sebagai sosok yang dikenang tidak hanya sebatas dikenang tapi juga membuat kita tersenyum di alam kubur sana. Artinya keberadaan kita di alam kubur kelak akan berlinang dengan madu dan kebahagiaan karena peninggalan kebaikan kita bagi orang-orang yang kita tinggalkan. Hidup kekal dan bahagia inilah gambaran dari rencana jangka panjang kita sebelum kita benar-benar meninggalakan dunia fana ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah mewujudkan mimpi indah tersebut, butuh perjuangan yang berat yang sering kali membuat kita terseok-seok menanggung cobaan dan derita. Disitulah pertarungan baru digelar untuk mewujudkan mimpi indah berlinang madu tersebut. Sebagian ada yang mampu melewati pertarungan gigih itu dengan sempurna sehingga hasilnya cukup memuaskan, namun tidak sedikit yang kemudian harus terhunus buaian nafsu, akhirnya bukanlah dikenang ketiadaannya tapi malah mungkin disyukuri oleh halayak ramai. Naudzubilahi min dzalik....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada potongan kata bijak China yang mungkin mempunyai kaitan erat dengan kunci sukses menuju hidup abadi dan bahagia. Pepatah China itu berbunyi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;" Jika kamu ingin hidup bahagia satu jam maka pergilah memancing. Jika kamu ingin hidup bahagia satu bulan maka cepatlah kawin lagi. Tapi jika kamu ingin hidup bahagia sepanjang masa maka cukuplah kalian mencintai sekelilingmu"&lt;/span&gt; Renungkanlah......!!!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1805819917185567946?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1805819917185567946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1805819917185567946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1805819917185567946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1805819917185567946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/03/hidup-kekal-dan-bahagia.html' title='HIDUP KEKAL DAN BAHAGIA'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-9047862391191296184</id><published>2009-02-25T17:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T18:02:39.955-08:00</updated><title type='text'>PERJALANAN KE MADURA 4 (Habis)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SaX3jitvxtI/AAAAAAAAACE/_UVndFvwhqg/s1600-h/kyai_idris.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SaX3jitvxtI/AAAAAAAAACE/_UVndFvwhqg/s200/kyai_idris.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306919925912159954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tausiyah KH.Muhammad Idris Jauhari&lt;br /&gt;Ba'da Subuh Hari Rabu 11 Pebruari tepat tanpa dzikir aku bersama Jamal segera menuju Idaroh Ammah kediaman pinpinan KH. Muhammad Idris Jauhari. Duduk di teras musholla pribadi beliau yang berhimpitan dengan dapur asatidz.Tidak banyak yang berubah, bahkan masih kelihatan sama dengan sebelum aku meninggalkan pondok. Bunga dan tanaman hias yang tumbuh di halaman rumah beliau masih kelihatan segar,menandakan kalau taman itumasih terurus dengan baik. Terasa sangat sejuk, indah dan nyaman. Tidak terlalu lama aku menunggu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor mio milik beliau mendekati tempat aku menunggu. Terlihat K. Idris masih bugar dan dapat mengontrol laju kendaraannya. Tepat sekitar 2 meter dari tempat aku menunggu beliau memarkir motornya, kemudian diikuti oleh respon sopanku untuk berjabat tangan dengan beliau. Terasa begitu hangat uluran tangannya seumpama orang tua yang menyalami anak kandungnya sendiri. Sambil menyuruh aku duduk  kemudian beliau menuju kediaman, sementara aku dengan penuh hormat duduk kembali menunggu beliau hingga keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang 10 menit K. Idris kembali keluar menemui aku, Jamal dan Imron.Wajah beliau begitu sangat cerah sambil mengumbar sapaan hangat seorang kiyai kepada santrinya. Sapaan pertama beliau dimulai dengan menanyakan tempat dimana aku sekarang berdomisili dan berkecimpung dalam kesibukan apa aku saat ini. Aku hanya menjawab seadanya saja sesuai dengan apa yang aku alami. Arah obrolan beliau tetap bernuansa pendidikan, dakwah dan perjuangan. Obrolanpun berlanjut pada hal-hal yang sifatnya tausiyah seorang guru pada santrinya, seperti beberapa hal yang cukup menarik dan masih dengan sanagt lengket melekat di benakkau masalah kebutuhan-kebutuhan manusia dalam mengarungi kehidupan. Menurut beliau manusia sering lupa akan kebutuhan-kebutuhan yang siifatnya abstrak atau spritual. Kadang hanya mengedepankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah saja tanpa menghiraukan kebutuhan ruhaniahnya. Makan, minum, pakaian serta kebutuhan-kebutuhan jasmani begitu sangat  dicari oleh manusia, rasanya jika salah satu dari kebutuhan jasmani itu tidak terpenuhi manusia secara reflek akan langsung cekatan untuk segera memenuhinya. Bebeda tat kala seseorang belum memenuhi kebutuhan rohaniahnya mereka dengan santai tidak respek bahkan mungkin sengaja ditinggalkan.Dalam hal ini beliau menkankan agar seorang manusia itu mampu memenuhi dua kebutuhan itu secara tepat dan seimbang atau bahasa agamanya biasa disebut adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut pada hal berikutnya, beliau juga menyinggung pada apa yang telah manusia terima dan ia rasakan . Secara umum banyak hal yang telah manusia dapati dari kehidupan yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ini menandakan bahwa Allah SWT begitu sangat sayang pada setiap makhluknya. Dalam pengrtian lainnya Allah lebih merespon dan merealisasikan apa yang manusia inginkan, beliau membahasakan hal ini dengan sebutan taufik. Taufik berarti kehendak manusia yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu mewajibkan seorang hamba agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya. Selain daripada itu ternyata taufik belum cukup menjadikan seseorang bisa menjadi hamba yang sesungguhnya. Banyak orang yang mendapatkan taufik tapi malah semakin jauh dari-Nya. Adapun kebutuhan manusia setelah taufik adalah Hidayah. Hidayah inilah yang akan menjadi penuntun seorang hamba menjalani realita atau kehendak yang telah terealisasi agar selalu tepat berjalan di atas rel yang telah ditentukan yaitu Islam. Untuk itu beliau menginginkan santri-santrinya agar tidak hanya mendapat taufik yang berupa kemudahan-kemudahan hidup, tapi juga sekaligus penerima Hidayah agar benar-benar menjadi hamba-Nya yang dijaga dari kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lupa beliau juga berpesan agar kita selaku umat muslim yang santri atau secara khusus sebagai santri dan alumni Al-Amien agar terus meningkatkan kualiatas hubungan antar sesama agar tercipta sebuah power atau kekuatan. Bagi beliau seorang individu yang tangguh tidak akan berarti apa-apa jika dia hanya bekerja sendiri dengan mengesampingkan hubungan bersama. Namun juga beliau tidak menginginkan individu yang lemah walau tidak mengesampingkan kerja sama.Hasil dua kubu ini sama-sama tidak akan mengahasilkan sesuatu yang produktif malah bisa saja menghambat dinamisasi perkembangan umat. Adapun yang beliau inginkan adalah oarang-orang yang tangguh secara skill individual tapi juga tidak mengesampingkan kerja sama inilah yang beliau bahasakan dengan al-Qowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih pada singgungan masalah perjuangan membangun umat, yang kemudian beliau melanjutkan konsep tentang al-Qowi  tadi. Ternyata dalam pandangan beliau, kuat saja tidak cukup untuk membangun umat yang beraneka ragam. Untuk memberikan keadilan dan kebijaksanaan yang meliputi lintas perbedaan tersebut perlu orang-orang yang dapat dipercaya. Orang yang jujur dan menjauhi peneyelewengn dan pengingkaran dengan berbagai tipenya, beliau membahasakan orang-orang seperti ini dengan sebutan al-Amien. al-Amien juga tidak bisa berdiri sendiri untuk memenuhi keadilan dan kebijaksanaan yang dinginkan oleh semua kalangan, tapi ia butuh orang-orang kuat. Artinya Al-Qowi akan selalu bergandengan Al-Amien jika ingin menciptakan dan menyuguhkan keadilan dan kebijaksanaan bagi seluruh kalangan umat yang majemuk. Untuk itu beliau bermimpi agar para alumni dan santri-santrinya menjadi Al-Aqwiya Al-Umana'  atau pribadi yang Al-Qowiyul Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tiga poin penting tausiyah K. Idris di pagi itu, beliau benar-benar masih menjadi sosok pribadi yang tak mengenal lelah dalam belajar. Setiap ketemu beliau, beliau selalu memberikan ilmu baru bagi santrinya. Rasanya sangat jarang setiap pertemuan tanpa hal yang baru, beliau benar-benar sosok pribadi berjuta ide. Aku kagum sekaligus iri sebagai santrinya yang masih muda kadang terseok-seok melawan bualan romantisme dunia yaang menwarkan racun. Semoga dari pertemuan singkat bersama beliau akan menambah semangat dan kerja nyata dalam diriku untuk terus menjadi Tholibul Ilm hingga akhir hayat. Amien....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari Kamis 12 Pebruari jam 03.00 setelah pertemuanku dengan K. Idris aku balik menuju Jogja. Begitu sangat terkesan lawatan singkat ini, kangen, rindu pada teman serta pada pondok dan teman kini dapat terobati. Sekarang aku harus lebih semangat lagi untuk menjadi hambanya yang al-Qowi sekaligus al-Amien yang mampu menjadi pengemban amanah umat serta dapat memenuhi dua kebutuhan pokok kehidupan secara proprosional seperti yang diharapkan K. Idris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-9047862391191296184?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/9047862391191296184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=9047862391191296184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9047862391191296184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/9047862391191296184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/perjalanan-ke-madura-4-habis.html' title='PERJALANAN KE MADURA 4 (Habis)'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SaX3jitvxtI/AAAAAAAAACE/_UVndFvwhqg/s72-c/kyai_idris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8364280788895193271</id><published>2009-02-22T19:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T19:12:00.220-08:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALANAN KE MADURA 4</title><content type='html'>TSI dan Nasi Bungkus Reuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas tunaikan Shubuh di awal pagi Selasa 10 Pebruari 2009 di Kastil damai Workshop aku bersama-sama teman-temanmulai menikmati siraman mentari pagi bersama butiran-butiran putih embun pagi tutupi rerumputan hijau di hamparanlapangan nostalgia tempat aku melepas penat untuk bermain si kulit bundar. Tampak beberapa santri dengan tawa sumringahnyahiasi pemandangan di pagi itu yang semakin membuat aku teringat pada tahun-tahun pertama aku menginjakkan kakiku di bumiJauhari di tahun 1998 yang silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau masih dalam suasana santai aku terus menggulirkan langkahku untuk menapaki beberapa acara di pagi itu untuksegera diselesaikan.Acara pertama seperti yang telah diagendakan bersama teman-teman yaitu ziarah ke kubur Al-MarhumKH. Moh. Tidjani.Dalam ziarahku banyak perasaan yang meletup-letup mengenang perjuangan beliau yang gigih dalammengembanamanah sebagai seorang pendidik yang merdeka dari segala jeratan bualan duniawi. Kepribadian beliau yangsantun dan beriwibawa tidak menjadikan beliau lupa akan tugasnya sebagai pelanjut dari perjuangan K. Djauhari, walausebenarnya banyak rayuan kedudukan yang mengiurkan secara finasial.Beliau lebih memilih hidup bersama-sama santrinyahingga akhir hayantnya. Sungguh merupakan figur seorang kiyai yang keberadaanya di saat sekarang sulit untuk mendapatisepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya rasa kagumku saja yang kian meletup memercikkan genangan air mata, tapi juga rasa terima kasih yang takterhingga untuk beliau guru yang tanpa pamrih telah mengasuh dan telah menjadikan aku dewasa. Rasanya aku sebagai anak didiknya masih belum bisa memeberikan apa-apa untuk beliau, sehinggga semakin membuat aku merasa punya hutang. Banyak titipan beliau yang belum sepenuhnya dapat aku laksanakan dengan maksimal. Terlalu cepat beliau meninggaklkan aku yang masih buta, kini aku harus meraba apa yang dapat aku raba dari  peninggalan-peninggalan beliau sekaligus berusaha mewujudkan mimpi-mimpi beliau untuk melahirkan santri-santrinya yang mutafaqqih fiddin. Akhirnya aku kirimkan do'a untuk beliau agar Allah menempatkan beliau bersama hamba-hambanya yang sholeh di surga Firdaus-Nya yang penuh dengan nikmat. Amien.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun dari simpuhku sambil aku usap sisa-sisa butiran-butiran air mata. Do'a dan mengenang aku akhiri walau sebenarnya ingin rasanya kembali mencium tangan beliau. Aku berlalu dari lokasi makam menlanjutkan agenda selanjutnya untuk mengurus  ijazah ke IDIA. IDIA tempat aku kuliah masih berdiri tegak dengan cat putih sucinya. Dengan cepat aku menyelesaikan proses pengambilan ijazah karena memang temanku yang menjadi penanggung jawab ijzah tersebut sehingga aku tak harus berlama-lama di kampus putih tersebut. Akhirnya penungguan untuk mendapatkan ijazah S1 berakhir dengan keberadaan ijazah yang kini benar-benar telah berada di genggamanku. Ada perasaan bangga yang meliputi hati dan perasaanku, aku menilai adalah hal yang wajar yang bisa terjadi pada siapa saja ketika mendapatkan kepuasan. Kini segala jerih payahku dapat aku lihat dengan 2 lembar kertas putih yang berada di tanganku. Al-Hamdulillah aku melanntunkan syukur untuk Allah Tuhan sekalian alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mulai merangkak naik menghinggapi waktu Dzhuhur, sesegera mungkin aku tunaikan sholat Dzuhur. Tepat jam 13.00 aku bersam-sama teman meuju Sahe Cafe tempat kucurkan keluh kesah sambil menikmati kopi racikan Pak Sahe. Selang beberapa menit kembali personil Averose merapat mendekati pondok untuk hanya sekadar temu kangen saja. Kali ini yang datang si Sulaiman anak Bangkalan dengan mobil Kijang Kristanya. Ternyata Sulaiman tidak hanya datang sendir, tapi dia datang 2 orang anggota roses lainnya si Kholil Lora dan si Iin Imut. Keadaan semakin tambah ramai ja dan tentunya semakin menggelikan. Satu persatu menuangakan kangennya dengan ekspresi yang berfariasi, mulai dari hanya jabat tangan sampai pada cubit pipi, ih geli deh he...he......!!! Itulah gambaran keakraban yang tersulam di siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup sampai disistu, ternyata sulaman keakraban ini berlanjut hingga bibir kolam TSI (Kolam renang di daerah Sumenep). Disitu ditumpahkan segala ekspresi kangen lewat adu renang, lompat indah sampai pada pamer bodi indah he...he.... Aku yang belum sempat bisa berenang terpaksa harus ikut walau hanya pakai gaya batu. Awalnya aku menampik untuk terjun ke air biru kolam TSI tersebut tapi tingkah usil teman-teman membuatku harus menceburkan diri juga walau hanya berbalut CD karena memang aku tidak membawa peralatan renang. Tak ayal dua teman cewek si  Iin Imut dan satu lagi yang belum sempat aku ingat namanya langsung menutup mata menghindar dari pemandangan yang menggelikan. Beberapa kali aku sempat mendapat sorakan dari teman-teman, tapi akhirnya lama-lama keadaan dapat terkontrol hingga pada suatu saat sempat si Iin Imut mendekatiku di kolam dengan jarak yang cukup dekat serta dengan keadaan diriku yang hanya berbalut CD yang membuatku berdesir (sensor deh......)he...he.. gak kok cuma adu renang. kakakakkk.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa sudah 2 jaman aku berendam di kolam TSI kini tersisi rasa capek, segera aku menyudahi renang gaya batuku itu.Teman-teman juga memutuskan untuk menydahinya juga kemudian akhirnya kami menuju TB (Taman Bunga) untuk mengisi perut yang mualai kembali menyanyikan lagu khas bertema lapar. Nasi bungkus cukup memebuat aku dan teman-teman kembali bergairah. Sementara di tengah-tengah makan gemuruh canda tawa tetap terdengar menjadikan makan di saat itu begitu nikmat. Aku yang tergolong mempunyai perut agak meng-karet terpaksa harus menongkrongi nasi bagian teman-teman. Tanpa disengaja kembali aku berkesempatan untuk makan bersama Iin Imut karena dia satu-satunya yang mau di-duain nasi bungkusnya. Awalnya agak risih sih tapi lama-kelamaan menjadi enak dan mungkin jadi terkenang kali he...he.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah rangkaian acara di hari Reuni kecilan-kecilan yang dihadir oleh teman-teman Roses diantaranya ada Jamal Mu'asyiq, Also, Dhofir, Hermanto. Kholil, Imam Swandi, Nur hasan Jun Humaidi,  Muhaimin, Nur Alim, Saiful Bhari, Dedi Setiawan, JOni, Kholil Lora,Sulaiman, Muhsin Ma'ruf, Iin Imut, Luluk dan aku sendiri. Acara inii adalah acara temu  kangen perdana pasca aku keluar dari pondok di bulan September 2008 yang lalu. Untuk semua teman-teman Roses U R all  Always my best friends. I LOVE U all....!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Cerita ini untuk didedikasikan untuk Teman dan Sahabat kita Jun Humaidi sekitar seminggu setelah melepas kangen bersama teman-teman Roses mengalami kecelkaan yang menjadikan dia kehilangan tangan kanannya. Semoga Allah memeberikan ketabahan untuk menanggung beban berat itu. Amien....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8364280788895193271?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8364280788895193271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8364280788895193271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8364280788895193271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8364280788895193271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/catatan-perjalanan-ke-madura-4.html' title='CATATAN PERJALANAN KE MADURA 4'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8205166678282344956</id><published>2009-02-16T18:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T18:14:25.123-08:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALANAN KE MDURA 3</title><content type='html'>Obrolan dan Buaian Angin Malam Workshop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di hari pertama Senin 9 Pebruari 2009 selepas menyapu bersih menu makan siang di dapurnya Ust. Abd. Salam tiba-tiba aku dikejutkan nada dering pesan khas HP-ku yang berisi sebuah informasi kedatangan seorang temanku dari tanah betawi si  Jamal Mu'asyiq anak betawi yang telah lama hidup di lingkungan pesantren, bahkan menurut penuturannya dia masuk pesantren mulai dari SD sampai pada level perguruan tingginya, pada pesantren yang berbeda dan yang terakhir Al-Amien dipilihnya. Lumayan lama bukan…!!? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian hidupnya yang begitu sangat kental dengan tradisi pesantren menjadikan dia kelihatan sangat familiar dengan siapa saja, termasuk denganku. Mengenalnya sekitar 7 tahun yang silam ketika aku duduk sekelas dengannya di kelas V TMI. Walau waktu itu keakrabannya masih belum kelihatan, namun sosoknya yang tegas dan santunn menjadikan aku dan teman-temanku senang bergaul dengannya. Persahabatanku dengannya semakin kental ketika masa-masa pengabdian di pondok, bahkan pada beberapa moment aku sempat diajak olehnya hanya sekadar santai take a rest Madura-Surabaya. Wajar saja jika dia yang selalu mengajakkku karena budget kesehariannya memang di atasku atau boleh sedikit mendekati tajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan emosional sebagai seorang alumni Al-Amien menambah keakraban itu, sehingga begitu dia datang dan tahu kalau aku juga ada di pondok kontan langsung menghubungiku. Sebagai seorang teman aku juga merespon dengan baik uluran kangen seorang sahabat jauh dengan beranjak menemuinya ke kamar Dhofir kurus yang menjadi persinggahan Jamal. Walau kurun waktu perpisahan tidak terlalu lama tapi nampak perbedaan yang terlihat pada dirinya, secara fisik Nampak sedikit gemuk. Melihat perubahan tersebut kontan keluar guyonan khas keakraban "Makan apa ja kamu Mal di Jakarta?". Jamal hanya tersenyum sambil menjawab dengan nada tidak meyakini perubahan fisiknya yang semakin gemuk." Masa sih Gw Gemuk, kayaknya gak deh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyonan keakraban terus mengalir hingga waktu Ashar mendekati. Suara tawa menghiasi kamar sahabatku Dhofir, yang dikenal mempunyai tipikal dan kemampuan membuat orang terpingkal-pingkal. Gaya bicara dan gerak refleknya tidak kalah dengan Budi Anduk-nya tawa sutra. Pokoknya jika Dhofir si pemilik badan lurus dan kurus ini beraksi maka ruangan akan menjadi riuh dengan gelak tawa. Aku cukup senang di siang menjelang sore itu, akhirnya perbicangan itu diakhiri dengan sholat Ashar dan aku beranjak menuju kamar asatidz di ta'mir sekadar bernostalgia bersama mereka hingga maghrib tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pun kembali datang dengan diawali kembalinya matahari ke peraduannya. Alunan ayat-ayat suci al-Qur'an terdengar di pojok-pojok pondok, semua santri menjalankan aktifitasnya lewat ibadah-ibadah lailiyah yang telah diprogramkan oleh pondok, mulai dari ngaji al-Qur'an, Sholat Jama'ah serta ta'lim jama'je atau biasa disebut Muwajjah, masih berjalan seperti dulu. Sementara aku dinner di dapurnya KH. Marzuqi Ma'ruf sekaligus juga bernostalgia dengan masakan yang sering aku lahap dulu. Menunya masih menggairahkan, ada sambel pedas beraroma terasi, udang berbalut tepung, telur dan tak ketinggalan menu wajib tahu produksi dalam negeri he….he…. Dengan lahapnya aku menikmati hidangan tersebut sampai akhirnya rasa laparku lenyap berganti kenyang. "Al-hamdulillah" aku berujar yang kemudian diikuti ucapa terima kasih untuk Ibu dapurnya. "Syukron ya Bu Dapur…….!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu benar-benar malam istimewa bagiku, dimana teman-temanku yang dari Bangkalan juga datang ke pondok. Hal itu baru aku ketahui setelah aku membuka pesan singkat yang dikirim Dhofir anak aneh dari Kangean itu. Mereka telah menungguku di Workshop markasku dulu sebelum kepergianku ke kota Gudeg. Akhirnya dengan perasaan happy aku menyusuri jalan menuju workshop yang masih agak gelap dengan penerangan yang sangat minim. Terlihat wajah Workshop dari jauh masih seperti dulu, lampu remang-remangnya yang menjadikan aku tidak lupa dengan markasku dan teman-temanku selama mengerjakan skripsi itu. Namun sedikit ada perubahan pada ruangan sebelah selatan yang Nampak sangat gelap karena memang tidak ada lampu satupun yang dinyalakan. Setelah aku tahu ternyata ruangan sebelah selatan memang tidak ada orang yang mau menempatinya. Aku sedikit bertanya-tanya, ada apa dengan bekas tempatku itu, apa mereka merasa tidak sopan menempati bekas tempat sang Wali (aku maksudnya) he…..he….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sudahlah aku membiarkan pertanyaan itu mengalir begitu saja sebagai pertanyaan guyonan saja. Sesampainya di Workshop teman-teman sudah pada jungkir balik sambil ketawa-ketawa. Ada yang tiduran, merokok, makan to'am ada yang serius bercerita pengalamannya tidak ketinggalan Dhofir langsung menyambutku dengan pertanyaan yang membingungkan " Bawa tepongan (hanya kalangan tertentu yang tahu artinya) Jan ?". Kontan aku langsung ketawa " Gila ya" singkat padat jawabanku kemudian langsung diikuti tawa teman-teman dan rjabat tangan. Semalam suntuk aku dan teman-temanku bertukar cerita. Waktu itu yang datang ada Muhaimin, Muhsin Ma'ruf, Ali Fadhol, Nur Alim, Jamal, Borju, Imron, Dedi Setiawan, Saiful Bahri dan aku sendiri. Aroma ceritanya macam-macam dari yang paling serius menyangkut masa depan Al-Amien, bisnis dan tidak ketinggalan obrolan tentang cewek-cewek seksi he..he..he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan romantis itu diikuti dengan aroma-aroma kopi Pak Sahe yang masih khas mengalahkan aroma kopi Blandongan Jogja yang sempat aku cicipi. Tanpa terasa waktu telah menggiring aku dan teman-temanku mendekati shubuh. Tanpa disuruh satu per satu teman-temanku mulai ada yang tewas berselimut mimpi, kemudian akhirnya aku tidak tahu lagi tiba-tiba aku hilang ditelan gelayutan siraman angin malam Workshop.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8205166678282344956?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8205166678282344956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8205166678282344956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8205166678282344956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8205166678282344956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/catatan-perjalanan-ke-mdura-3.html' title='CATATAN PERJALANAN KE MDURA 3'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8957624594695058872</id><published>2009-02-14T17:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-14T18:29:27.415-08:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALNAN KE MADURA 2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makan Siang yang Lahap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi seiring mentari yang mulai tebarkan senyumnya aku terbangun dari pulasku. Aku terbangun tidak pada sunah yang diterapkan pondok yaitu se-jam menjelang shubuh. Pagi itu aku terbangun dengan sedikit menginjak waktu pagi  atau bisa dibilang kesiangan, walau demikian aku tunaikan shubuhku diantara shubuh dan duha sekitar jam 05.00 WIB. Suara musik mengalun dari komputer Marhalah Tsanawiyah di pojok timur kamar asatidz Al-Jufri. Komputer itu jelas sengaja diboyong dari kantor seperti kebiasaanku dulu yang memboyongnya ke workshop ruang singgasanaku dulu. Sudah menjadi kebiasaan menjelang ujian, kantor pasti sudah mulai dikosongkan dari barang-barang berharga demi keamanan, mengingat asatidz tidak lagi standby di kantor pada suasana ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas mandi aku mulai menyususri lingkungan pondok dan mengunjungi tempat-tempat tongkronganku dulu sekaligus bernustalgia. Kantor MTs menjadi obyek pertama yang aku singgahi, karena kantor itu mempunyai memorian yang cukup terkesan bagi diriku. Disitulah aku berlatih menjadi seorang leader yang mencoba mengatur teman-temanku sendiri sesama asatidz dengan kapasitasku sebagai seorang sekretaris. Banyak pengalaman yang menjadikan aku semakin bisa mengkristalkan kedewasaanku lewat tugas-tugas struktural yang dimanahkan pondok padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor MTs aku bertemu orang nomor satu di kantor tersebut al-mukarram Ust. H. Bakri Sholihin mantan atasanku 4 bulan yang lalu. Tipikalnya yang sedikit pendiam namun tidak jarang juga memuntahkan kemarahannya lewat nada-nada tegasnya yang sempat aku rasakan berkali-kali  tat kala aku menjadi sekretarisnya. Tapi kali ini senyumnya mengumbar menyambut kedatanganku penuh akrab. Sementara teman-teman asatidz yang lain keluar masuk kantor sambil tak lupa menyapaku. Mereka semua masih segar sumringah tidak jauh beda dari 4 bulan yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai menjelang sore aku hanya menikmati wajah pondokku dengan keriangan bersama-sama teman-teman asatidz yang kebetulan tidak punya tugas waktu itu. Tepat setelah Sholat duhur perutku mulai menyanyikan lagu khasnya yang mendorongku untuk segera mengisinya. Melihat gelagat yang demikian si Brudin pemilik badan gendut itu mengajakku makan di dapur Ust. Abd. Salam. Aku yang menyadari keadaanku yang hanya sebatang kara dengan persediaan duit yang pas-pasan akhirnya aku tidak menolak ajakannya dengan langsung menyerobot masuk ruang makan guru di sebelah selatan Rayon Al-Jufri yang berdampingan dengan kamar asatidz. Dengan lahapnya aku menyapu bersih menu makan siang ala Al-Amien yang pasti tidak lepas dari tahu, telur dan ikan laut. akhirnya kau kenyang, Al-Hamdulillah......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8957624594695058872?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8957624594695058872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8957624594695058872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8957624594695058872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8957624594695058872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/catatan-perjalnan-ke-madura-2.html' title='CATATAN PERJALNAN KE MADURA 2'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5404531937072020869</id><published>2009-02-13T17:29:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T18:30:57.755-08:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALANAN KE MADURA 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jogja hingga Al-Jufri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad 2 Pebruari 2009 tepat jam 07.30WIB aku bertolak dari terminal Giwangan Jogja menuju Madura. Perjalanan memakan waktu 7 jam itu memberiku banyak kesan yang bisa aku rangkai menjadi sebuah deretan kata yang bisa aku kenang di saat aku bersimpuh dalam sepiku. Merupakan perjalanan pertama setelah aku singgah di kota gudeg dalam kurun waktu 4 bulanan terhitung sejak Oktober 2008 yang lalu. Perjalanan ke Madura saat ini menurutku merupakan perjalanan yang mendebarkan, menyita perasaan, hati dan otakku. Perasan mendebarkan itu sudah aku rasakan semalam menjelang perjalanan yang sebenarnya. Ada rasa rindu yang menyumbat di ulu hati, sehingga menjadikan kantukku lenyap jauhi malamku.Tersisa sebuah dimensi hayal tentang kemesraaan sapaan teman-temanku di madura. Diriku diajak menjelajah sumringah bersama tawa sahabat-sahabatku yang telah aku tinggalkan 4 bulan lamanya. Begitulah malamku yang telah melebur dalam gelombang riak pelukan kegembiraan jelang menlepas rindu untuk Maduraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju Bus Eka yang mengangkut penumpang kota antar propinsi menghantarkanku ke terminal Bungurasih Surabaya tepat jam 14.35 WIB. Surabaya dengan wajah lamanya bersama kesembrautan kotanya tetap mengingatkanku untuk melangkah mencari Bus menuju Madura. Tidak sulit untuk menemukan Bus jurusan Madura, cukup melangkahkan kaki menuju tempat tunggu kemudian tak lama setelah itu aku dibimbing oleh para kondektur bus menuju bus yang dimaksudkan. Selang beberapa menit setelah aku duduk pada posisi yang aku pilih di bagian hampir mendekati belakang di dalam Bus, kemudian bus pun melaju menuju dermaga perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial bagiku, bus yang mengangkutku tidak langsung menuju dermaga tapi malah berhenti di pinggir jalan di luar pelabuhan. Aku harus ikut berhenti sambil menunggui sampai semua kursi di dalam bus yang aku tumpangi ini penuh. Selang waktu yang cukup panjang ini membuatku dongkol, marah, kesel atau apa saja yang bisa mewakili rasa tidak terimaku terhadap keputusan si sopir Bus brengsek itu. Lebih 4 jam aku harus bertarung dengan kesalku, beruntung rasa kesel itu sedikit terobati setelah aku mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan memainkan musik khas bertema lapar. Tepat jam 20.30 Bus memasuki kapal dan siap untuk menyebrang ke Madura. Perasan mulai lega berganti rasa kantuk temani perjalananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam perjalanan telah aku lalui akhirnya aku benar-benar sampai pada tujuanku tepat jam 23.00 WIB. Udara Madura dan pondokku kembali bisa aku hirup walau sebagian para penghuninya sudah berselimut mimpi. Banyak lampu-lampu yang sudah tidak menyala mungkin karena sudah larut sehingga harus dimatikan. Terilhat beberapa Bulis menjaga di pintu masuk pondok sambil menyapaku dengan salam. Anehnya mereka menyalamiku layaknya aku masih seorang ustadz di pondok. Sepertinya mereka belum menyadari benar keberadaanku saat ini, atau boleh dibilang mereka masih mengira kalau aku masih berdomisili di pondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat langkahku berada di samping kanan Masjid Jami' aku melihat sosok manusia berbadan gemuk dengan gaya tipikalnya yang masih belum terlupakan olehku. Aku sengaja menghentikan langkahku untuk memastikan kalau apa yang aku lihat itu adalah Zainuruddin (Brudin teman-teman memanggilnya) si pemilik body kentung. Benar dugaanku dia langsung menyapaku dengan suara bulatnya yang keras memecahkan kesunyian "Jan kapan datang?". Aku sunggingkan senyum khas setengah mengeluarkan bunyi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bahak&lt;/span&gt; atau bisa dibilang miniatur ketawa yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian si Gemuk Brudin ini menggiringku ke Al-Jufri MABES  laskar-laskar TMI Marhalah Tsanawiyah yang dulu juga orang-orang dekatku di kantor. Pemandangan tidak jauh berbeda dengan 4 bulan yang lalu, mereka para penghuninya masih tergeletak di atas kasur busa tipis sambil menikmati hujaman angin malam menuangkan mimpi. Tersisa satu orang yang masih belum terlelap, dia Khoiron si boldoser dapur yang dulu sering membabat habis lauk di dapur. Makanya tidak heran kalau perutnya masih kelihatan ke depan walau masih klesemen ke-2 setelah Brudin. Sambil melepas penat terdengar obrolan hangat yang kemudian diakhiri dengan dengkuran pulas melepas kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5404531937072020869?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5404531937072020869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5404531937072020869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5404531937072020869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5404531937072020869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/catatan-perjalanan-ke-madura-1.html' title='CATATAN PERJALANAN KE MADURA 1'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5554575787341345773</id><published>2009-02-01T19:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T21:13:09.366-08:00</updated><title type='text'>Keutuhan Guru Menjadi Penentu Kondisi Anak Didik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah menjadi menu harianku untuk bertatapan dengan santri. Ritual ini sudah berjalan sekitar 6 tahun yang silam hingga saat ini. Rasanya aku belum bisa dengan serta merta meninggalkan dunia pesantren sebagai wadah hidmahku. Wajar saja jika hal itu menjadi pilhanku, karena aku memang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Terhitung sejak tahun 2003 aku secara profesi menjadi seorang guru yang selalu bergumul dengan kehidupan santri selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal hidmahku bermula di AL-AMIEN PRENDUAN  sebagai guru pengabdian wajib yang harus dilewati oleh setiap alumni TMI (Tarbiyatul Mu'allimien Al-Islamiyah). Ketika itu walau masih pada tahapan uji coba sebagai bentuk implikasi dari apa yang aku terima selama menjadi santri, jiwa guru begitu cukup melekat dalam diriku. Sehingga tak jarang dalam usia yang relatif muda atau bisa dibilang ABG aku berhasil menyesuaikan dengan posisiku sebagai seorang guru walau tidak sampai pada tingkat ideal. Hal itu terbukti dengan berhasilnya diriku melewati masa-masa uji coba tersebut dengan  husnul khotimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya pengabdian wajib itu menjadikan aku rindu dengan dunia gelak tawa para santri walau pada beberapa waktu terdapat kasus-kasus yang cukup menguras hati dan otakku. Pada tahun berikutnya tahun 2004 aku memilih kembali untuk melanjutkan pengabdianku sebagai seorang guru di tempat yang sama. Tahun ke-2 ini posisiku bukan lagi menjadi guru pengabdian wajib (magang) tapi sudah benar-benar menjadi pilihan yang harus lebih dibuktikan secara konkrit. Artinya sikap dan prilaku bahkan mungkin keutuhan diriku yang meliputi roh, jiwa dan jasad harus benar-benar berfungsi layaknya seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh santri-santrinya. Tidak mudah untuk menfungsikan keutuhan diri ini menjadi seorang guru, butuh keseriusan dan kematangan hati. Namun tidak boleh tidak pilihan ini menjadikan aku sadar untuk selalu berusaha mencapai batas maksimal kemampuan yang aku miliki. S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus bergulir sementara aku masih tetap pada pilihanku dan saat ini aku mengabdi di lembaga pendidikan Islam Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada beberapa waktu sengaja aku mengajak hatiku untuk berpetualang mencari keutuhan diri dalam rangka menghadirkan sosok seorang guru pada diriku. Di lain sisi tataran darah mudaku juga bergejolak seiring dengan godaan zaman yang kian menajam. Kadang godaan itu menyeretku mendekati prilaku  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fakhsya'. &lt;/span&gt;Contoh kecilnya, tidak sedikit diantara guru termasuk diriku dengan tanpa sadar meninggalkan tugas-tugas formal dan mengedapankan kepentingan diri. Konkritnya seperti dengan seenaknya seorang guru absen pada kelas tertentu sehingga anak didiknya terlantar. Lebih dari itu ada beberapa kasus yang sudah tidak lagi mendekati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fakhsya'  &lt;/span&gt;tapi sudah benar-benar jauh dari dimensi seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di atas masih pada tataran kasat mata belum menyentuh yang sifatnya abstrak berupa prilaku jiwa dan roh. Dua dimensi ini walau tidak nampak secara kasat mata tapi mempunyai dampak luar biasa pada kondisi santri sebagai obyek garapan pembentukan seorang manusia yang berkaitan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lmu nafi' (dalam bahasa K.Idris).&lt;/span&gt; Artinya prilaku jiwa dan roh seorang guru memberikan dampak pada kondisi seorang anak didik entah itu pada saat dimana anak itu sedang belajar atau nantinya setelah terjun ke masyarakat. Prilaku yang abstrak itu sifatnya mendekati hal-hal yang relegi seperti keikhlasan, kesabaran atau beberapa prilaku lainnya yang berkaitan dengan jiwa, hati dan ruh. Jadi mendidik anak itu tidak sekadar melibatkan jasmani kita yang hanya menyampaikan ilmu, tapi ada aspek abstrak yang harus dipenuhi oleh seorang guru. Dalam ilmu pendidikan disebutkan bahwa seorang guru harus sehat dan mampu memaksimalkan fungsi jasmani dan rohani pada titik  seyogyanya seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang sampai saat ini tidak sedikit para guru yang mungkin melupakan sisi terabaikan ini. Sehingga ketika seorang murid atau santri yang tumbuh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, santri tersebut menjadi titik paling salah. Akhirnya pada tahapan yang cukup akut melahirkan prilaku kontak fisik, pemukulan atau apa saja hukuman yang kurang etis dilakukan seorang guru seperti yang marak diberitakan media masa akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba untuk mengimbangi fenomena tersebut, mungkin tidak salah jika aku dan kita yang berprofesi menjadi guru untuk bersama-sama meng-introspeksi diri kita sejauah mana usaha kita menghadirkan keutuhan diri kita untuk menadi seorang guru. Tawaran ini mungkin lebih khususnya aku khususkan untuk lembaga pendidikan yang aku singgahi sekarang Mu'allimin Yogyakarta yang akhir-akhir ini disibukkan dengan maraknya para santri yang melanggar di asrama. Semoga dengan kemauan diri kita untuk menghadirkan keutuhan diri kita sebagai seorang guru serta dengan iringan tuntunan Allah para santri  dapat kembali menjadi santri seperti yang diharapkan. Amien.....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5554575787341345773?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5554575787341345773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5554575787341345773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5554575787341345773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5554575787341345773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/02/keutuhan-guru-menjadi-penentu-kondisi.html' title='Keutuhan Guru Menjadi Penentu Kondisi Anak Didik'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-380499092395658655</id><published>2009-01-24T16:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T18:17:54.839-08:00</updated><title type='text'>Futsal Cerminan Sebuah Kedewasaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersamaan dengan meningginya matahari di awal pagi Jum'at 23 Januari 2009 kembali aku mendapat tawaran untuk mengisi liburan dengan bermain futsal. Sebenarnya futsal sudah menjadi ritual mingguan yang biasa aku lakukan tiap Jum'at selama kurun waktu 2 bulan terakhir ini. Rasanya hari Jum'at dan futsal adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. "Tiada jum'at tanpa futsal". Begitulah kira-kira perasaan ini mengatakannya, entahlah ada apa sebenarnya dengan futsal sehingga menjadikan aku mabuk karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang menarik dari futsal atau sepok bola mini ini yang perlu diexplorasi lebih dalam agar nantinya membuahkan dimensi nilai yang bisa dijadikan rujukan hidup. Rasanya tidak berlebihan jika aku mencoba menggali dan mengenali lebih dekat  olah raga kesukaanku ini. Walau hanya sekadar refleksi ringan semata, tapi paling tidak dengan keberanian mencoba menghikmahi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(menghadirkan hikmah)&lt;/span&gt; dari olah raga ringan ini bisa menjadikan aku lebih dekat kepada-Nya. Karena aku yakin Tuhan Allah akan selalu membumbuhi segala sesuatu di dunia ini dengan hikmah sebagai konsekwensi bahwa Tuhan Allah bisa didekati dari segala sisi kehidupan, walau dari sebuah permainan kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Futsal sejatinya hanya bentuk permainan dengan menggunakan si kulit bundar yang menjadi instrument vitalnya. Si kulit plontos satu inilah yang menjadi kejar-kejaran dari sekian banyak pemain. Satu bola untuk semua begitulah konkrit permainannya. Mengasyikkan permaianan ini, apalagi jika  kebagian menggiring bolanya kemudian sampai bisa merobek jala lawan. Pada titik inilah ada rasa senang, bahagia, puas dan berbagai rasa lainnya yang belum sempat terliteralisasi lewat bahasa apapun. Menyenangkan bukan...... ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak mudah menemukan performa permainan yang mengesankan dan menggairahkan. Mengesankan berarti menjadikan seluruh peserta permainan dalam satu tim terkesan dan ingin mengulangi lagi. Hal seperti ini butuh kedewasaan dan kematangan emosional dari masing-masing individu dalam satu tim. Terutama pada tim-tim amatir seperti tim yang hanya sekadar mengisi waktu senggang layaknya yang diperagakan aku beserta teman-teman musyrif Mu'allimin di lapangan Bardosono. Permainana mengisi waktu senggang ini kadang mengundang aku untuk serius menapak tilasi kadar emosional dan kedewasaan teman-teman. Pada sisi inilah kemungkinan nilai yang bisa aku tunjukkan dari permainan futsal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sebelum permainan dimulai diawali dengan pembagian para pemain menjadi dua tim. Setelah itu baru kemudian penempatan posisi, pada penempatan inilah ada hikmah yang tergelar yang bisa diurai. Rata-rata cerminan subyektif yang bisa aku pancarkan lewat hati dan otakku semua pemain tidak ingin diposisikan sebagai penjaga gawang. Semua ingin menjadi penyerang dan bintang lapangan seperti Ronaldo-nya MU, Del Piero-nya Juventus, Messi-nya Barcelona dan sederet pemain bintang dunia lainnya. Ada ego yang tinggi dan mengalahkan kedewasaan, sehingga pada tahapan terakhir harus ada yang mengalah untuk menjadi penjaga gawang. Keputusan mengalah itu adalah hal yang berat dan pahit tapi tetap harus dipilih agar permainan dapat dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran yang konkrit sejatinya para bintang dadakan itu lupa bahwa permainan futsal itu tidak akan bisa dilaksanakan tanpa penjaga gawang. Tanpa mengklaim teman-teman musyrif yang lain tidak dewasa aku akhirnya terbiasa mengalah dengan menerima posisiku sebagai penjaga gawang agar permainan dapat berlanjut. Akhirnya dengan adanya yang mengalah  permainan futsal itu tetap menjadi permainan yang menarik dan menggairahkan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari permainan ringan itu aku mencoba mendampingkan dengan realitas kehidupan sosial kemasyarakatan yang terkait dengan pola intraksi antar sesama yang tentunya juga butuh dengan prilaku mengalah. Dalam kehidupan nyata sering kali terjadi seperti apa yang terjadi pada permainan futsal tadi. Ada orang dengan egonya menengadah, membusungkan dadanya tak mau kalah dengan orang lain, beradu dan berebut posisi yang menggiurkan tanpa mempertimbangakan kapabilitasnya. Sehingga  ketika posisi itu berhasil direngkuhnya, orang tersebut hilang keseimbangan dan pada tahapan yang tragis orang tersebut akan hina dengan posisinya sendiri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Na'udzubillahi min dzalik.........&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi di atas salah satu contoh saja dari keberanian dan keangkuhan tanpa mempertimbangkan kapabiltas diri. Mendekati pemilu 2009 aku sebagai bagian dari anak Bangsa ini ingin mengetuk hati dari para pemimpin Bangsa agar bersedia mengalah dengan menjunjung tinggi sikap kedewasaan. Sehingga keadaan Bangsa yang cukup tragis ini dengan multi krisisnya akan sedikit pulih dari boroknya. Kapabiltas dan kedewasaan  adalah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum merangkul posisi atau amanah dari Bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-380499092395658655?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/380499092395658655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=380499092395658655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/380499092395658655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/380499092395658655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/01/futsal-cerminan-sebuah-kedewasaan.html' title='Futsal Cerminan Sebuah Kedewasaan'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7086675980701629673</id><published>2009-01-18T16:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T18:17:32.094-08:00</updated><title type='text'>Januari Menggairahkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SXPir3UIdUI/AAAAAAAAABs/_-xxRZ91888/s1600-h/1_638054096l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SXPir3UIdUI/AAAAAAAAABs/_-xxRZ91888/s200/1_638054096l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292823230301107522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat pagi dunia, kata ini yang mampu aku ucapkan di edisi ke-19 di bulan Januari 2009. Sekian hari terbuang sia-sia tanpa menyisakan pijakan yang berarti dari hidupku. Sekian banyak kegiatan tak mampu aku ikat maknanya, sehingga makna serta sari pati dari sekian kegiatan tersebut hilang seiring dengan berlalunya waktu. Pagi ini aku ingin beranjak dari malasku walau hanya sekadar mengurai kegiatan ringan harianku. Aku ingin mengusir gundah,mengikat makna, mengekspresikan perasaan serta seabrek unek-unek yang ada di hatiku. Entahlah semua itu dikelompokkan pada tipe tulisan apa, yang penting kegiatan menulisku ini tetap terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya di bulan Januari ini banyak sekali kesan serta hal yang menarik dan menggairahkan yang perlu aku tulis. Namun karena malas menyulam batinku sehingga terasa berat rasanya aku untuk menggerakkan tanganku di atas keyboard komputer. Selepas pesta tahun baru kemarin ada tiga acara menarik yang perlu diikat maknanya. Pertama adalah tatkala aku diberi kesempatan untuk menggiring matahari melepas siang di pantai  Depok. Hari itu tepat tanggal 4 Januari alias hari terakhir dari rangkaian libur perayaan tahun baru.Pantai depok dengan deburan khas ombaknya yang mantap tetap menggairahkan dan dijejali ribuan manusia berwarna-warni di hamparan pasir hitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawatanku yang ke-3 di pantai Depok berbeda dengan lawatan-lawatan sebelumnya. Lebih ramai,lebih padat, lebih kencang serta beberapa kelebihan lainnya yang memukau. Kalau pada lawatan sebelumnya pernah aku tuliskan ada kegersangan Iman serta bagaimana aku beristighfar dari pemandangan yang mengundang birahi. Hari itu lebih dari sekadar kegersangan tapi sudah lebih dekat pada hal yang mengkhawatirkan. Khawatir karena rasa malu sebagaian besar pengunjungnya sudah hilang serta khawatir diriku yang lemah ikut-ikutan tidak malu juga. Dua kekhawatiran ini sempat melintas di benakku, ada sesuatu yang melonjak kuat dari diriku,sepertinya birahi mulai mnunggangi diriku yang lemah,lalu kemudian beberapa saat aku terbuai dengan panorama romantis yang menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku beranjak membenahi diriku yang teledor sambil terus mengusir jauh-jauh bisikan birahi. Aku alihkan pada deburan ombak yang menderu. Terlihat ombak saling berlomba untuk mendahului, berlari mendekati bibir pantai,kemudian hempaskan busa putih singkirkan kekelaman hatiku. Menarik sekali pemandangan itu untuk dinikmati apalagi ditambah dengan bilasan cahaya matahari yang memerah di garis laut nun jauh disana. Bersyukur aku bisa terlepas dari romantisme pesta himpit-himpitan pasangan tak tahu malu. Kini aku lebih sibuk menikmati malam menjemput matahari yang kemudian tergulung habis oleh deburan ombak suci yang putih. Al-hamdulillah, Subhanallah Depok mempesona diriku di sore itu.!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari rentetan acara libur akhir semesterku di Mu'allimin Yogyakarta, tepat tanggal 7 Januari 2009 Tuhan kembali menyisihkan kesempatan bagiku untuk mengunjungi kota Kembang Bandung Jawa Barat. Bagiku ini adalah lawatan pertamaku, karenanya aku ingin menikmati kunjungan ini dari awal hingga penghujung akhir dari perjalanan ini. Bahkan aku ingin dari semua jalan yang dilewati dapat aku nikmati centi demi centi agar aku bisa benar-benar puas dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;happy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas sholat Ashar Bus yang membawaku meninggalkan Jogja. Semua pemandangan yang dilalui Bus merupakan pemandangan baru bagiku. Ada jembatan, sungai, laut dan gunung yang menyapa perjalananku. Sepertinya semuanya tersenyum ramah padaku sambil memberikan penampilan terbaiknya.Begitu seksi alam ini dibuat oleh Tuhan sehingga menakjubkan dan membuat batinku mengagungkan-Nya Subhanallah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan itu terus aku nikmati tanpa memajamkan mataku walau selimut malam tergelar diiringi hembusan angin yang menusuk tulang. Rasanya kantuk malam itu enggan menghinggapi diriku,sehingga dengan puasnya aku dapat menikmati perjalanan malamku hingga sampai di tujuan yaitu di Cimahi Bandung. Sejenak rombongan membuang penat di Asrama Militer jam 03.00 dini hari sambil menunggu waktu sholat shubuh setelah sebelumnya beristirahat dan makan malam di restoran Grafika di daerah Jawa Tengah tepat waktu sholat Isya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis sholat shubuh di Asrama militer tersebut makan pagipun sudah tersedia. Namun hatiku kala itu drundung sedih karena ada musibah yang mencoba menjejelai kesabaranku, dompetku hilang. Akupun sedih tidak tahu apa yang harus aku lakukan, setelah beberapa lama aku mencoba mencarinya ke Bus yang membawaku. Ternyata kembali Tuhan menunjukkan belas kasihannya dan dompetku ternyata tertinggal di jok tempat dudukku. Al-Hamdulillah Tuhan  Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kembali dilanjutkan ke kebun strawbery dan ciater tempat pemandian air panas. Dua tempat ini yang menjadi persinggahan. Tidak banyak makna yang dapat aku ikat di dua tempat ini. Masih seputar keindahan alam yang menakjubkan serta panorama pengunjungnya yang menggairahkan. Ada catatan kecil yang sebenarnya adalah pertanyaan hatiku mengenai Bandung sebagai kota kembang. Kata orang, Bandung adalah kota kembang, artinya kembang atau bunga menjadi ikon dari kota ini. Pertanyaan yang mengganjal adalah, apa kembang dalam arti yang sebenarnya dimaksudkan atau kembang yang bersifat metafora yang berarrti bidadari yang berseleweran di trotoar dan tempat wisata itu yang dimaksudkan?. Entahlah....yang jelas kedua makna dari kembang itu memang pantas untuk disandang oleh Bandung. Bandung....Bandung kamu memang kota kembang...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawatanku ke Bandung menjadi catatan kedua yang menarik di Januari ini. Selanjutnya catatan ketiga yang menarik di Januari ini adalah ketika aku diamanahkan Madrasah Mu'allimin untuk menjadi panitia di even Nasional yaitu  Madrasah Science Expo '09 (MSE). Walau posisiku tidak pada posisi strategis secara struktural namun bagiku  yang penting aku bisa melakukan hidmah bagi orang lain. Aku berada di posisi akomudasi dan transportasi yang tugasnya mengatur penginapan para peserta di hotel. Pekerjaan ini baru bagiku setelah sebelumnya biasanya aku di pondok diposisikan sebagai sekretaris atau malah aku pernah menjadi ketua panitia penerimaan santri baru TMI AL-AMIEN PRENDUAN tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi itu memintaku untuk menjadi pekerja lapangan yang langsung berhadapan dengan realita. Tentunya menjadi hal yang sulit bagiku, selain aku belum menguasai medan juga sedikit kaku dalam beristraksi dengan para peserta atau dengan pihak hotel. Kaku tatkala aku harus bicara dengan peserta putri, hal ini terkait karena minimnya instraksi diriku dengan kaum hawa sebelumnya. Tapi kaku bukanlah kendala dalam melaksanakan tugas, hanya beberapa jam aku bisa menetralisir kekakuanku dengan sedikit menyembulkan guyunan-guyunan renyah yang dapat mengusir kegetiranku. Semua berjalan lancar, malah di penghujung akhir tugasku di hotel ada perasaan kangen dan rindu pada mereka yang sempat membuat aku kaku dan membeku. Ternyata kebekuan tidak selamanya menjengkalkan tapi malah sesuatu yang aku rindukan. Dimanakah kalian sekarang ya..ayyatuhal akhwat.....?!! he....he.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku terserang flu karena AC di hotel itu sehingga sebentar-sebentar harus aku membuang air yang mengalir dari hidungku. Tapi itu semua tidak masalah asal kalian balik lagi insya allah flunya akan hilang tapi berganti dengan flu burung kali. He....he......he......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7086675980701629673?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7086675980701629673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7086675980701629673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7086675980701629673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7086675980701629673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/01/januari-menggairahkan.html' title='Januari Menggairahkan'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JVQdL7NQnrA/SXPir3UIdUI/AAAAAAAAABs/_-xxRZ91888/s72-c/1_638054096l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2114817490702758440</id><published>2009-01-02T17:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:43:55.026-08:00</updated><title type='text'>TAHUN BARU 2009 ADALAH PESTA UNTUK TUHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku benci pesta, apalagi hal-hal yang berbau hura-hura. Apapun bentuknya pesta tak lebih dari sekadar berfoya-foya membuang-buang kesempatan serta merajut kemadlaratan. Begitu doktrin yang aku terima dalam lingkungan agama di tempat tinggalku. Sehingga sekian banyak perayaan berlalu begitu saja termasuk pesta tahun baru sebelum ini. Bersyukur semua itu harus berakhir pada akhir tahun 2008 sehingga pada malam awal tahun baru 2009 Tuhan menuntunku untuk menjemput pesta Tahun Baru 2009 di hamparan alun-alun utara Jogjakarta. Berikut aku ingin ulas perasaanku dalam proses serta selama mengikuti prosesi Tahun Baru yang berlangsung cukup hidmat, yang kemudian menjadikan aku cinta pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tanggal 31 Desember 2008 adalah hari yang membuat aku bingung dengan berbagai macam gelaran pesta yang ditawarkan kota Gudeg ini. Mulai gelaran wayang di Monomen 11 Maret, Konser Dangdut di Giwangan, Konser Rock Kobe di alun-alun, pengajian Islam di Masjid Ghede serta seabrek menu lainnya yang tidak mungkin aku sebutkan di guratan suara perasaanku ini. Semua gelaran acara tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru. Aku cukup kagum dengan Jogja  yang begitu sangat antusias menyambut pergantian Tahun. Tidak heran jika kota ini menjadi magnet para touris untuk singgah dan memadati kota ini. Jogja bagai magnet besar yang menyimpan banyak keindahan yang dapat dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku diharuskan memilih dari sekian acara yang dihidangkan kota Gudeg ini. Karena kalau tidak memilih maka sejarah akan kembali mencatatku sebagai orang yang tidak pernah tahu tentang arti dari pergantian tahun. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Tawar-menawarpun terjadi antara otak dan hati. Aku bagai disuguhkan antara baik dan buruk, kemudian aku mencoba berbuat adil pada diriku dengan terlebih dahulu mencampakkan doktrin masa laluku yang menghendaki realitas ini berkotak-kotak. Suguhan yang ditawarkan doktrin masa laluku selalu tidak membuat diriku puas, yang ada cuma pendektian serta kekakuan yang menggerahkan. Aku ingin bebas menjalankan fungsi hati dan otakku yang berarti aku juga menghendaki keseimbangan antara aku yang hidup dalam atmosfer dunia dengan aku yang hidup sebagai makhluk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku hempaskan tubuhku di atas kasur busa di kamarku sekadar memberikan tenggang pada otak dan hatiku untuk memilih. Tidak seberapa lama aku terbuai hembusan angin siang bertiup hantarkan mimpi. Dalam pulasku aku lupa semua suguhan acara perayaan tahun baru, yang ada hanya hanya nikmat yang kemudian terlukis dengan dengkuran-dengkuran halus. Sekitar jam 14.15 aku terbangun dan kaget dengan geseran bumi bagai menarik-narik kasurku. temanku juga terbangun tak jauh dari tempatku tidur,kemudian aku sadar kalau saat itu terjadi gempa. Aku lari ke luar kamar dengan nafas yang tersengal-sengal, aku takut terjadi hal yang buruk di kota Gudeg ini. Kejadian ini menambah bingungku dalam menyambut tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas kekhawatiranku pergi aku mencoba kembali melakukan tawar menawar, menimbang dengan memaksimalkan agar diriku menjadi lebih bijak. Pada titik hampir mendekati klimaks ada dua pilihan antara menyaksikan pesta kembang api di alun-alun dengan mengikuti pengajian di Masjid Ghede. Dua pilihan ini begitu sangat mempunyai titik yang berseberangan. Pesta kembang api yang menyuguhkan kebersamaan serta keharmonisan antar sesama manusia serta pengajian di Masjid Ghede yang hanya sekadar manabur kebajikan  sepihak serta mentelantarkan kebersamaan. Nalar kemanusiaanku berfungsi dengan baik sehingga Tuhan-pun kembali turunkan petunjuk-Nya dengan menuntunku untuk memilih Pesta kembang Api di Alun-alun. "Terima Kasih Tuhan....!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihanku sudah final, tanpa ragu aku mengajak temanku untuk lebih awal menjemput tahun baru dengan langsung memacu motor hanya sekadar melihat keramaian kota pada jam 17.00 WIB. Hatiku girang mengalahkan kepicikanku, kini aku dapat menjadi hamba Tuhan yang akan menebarkan keharmonisan dan kedamaian bersama yang tentunya menuju Surga-Nya yang luas.Malioboro macet, kendaraan menumpuk sesekali hanya bergerak beberpa cm saja. Gerombolan para pejalan kaki menambah sesaknya ruas jalan wisata ini. Aku gelengkan kepala sambil berujuar dalam hatiku "Tuhan benar-benar akan berpesta". Semuanya merasa tergerak memenuhi panggilan pesta Tuhan di alun-alun, tidak peduli keringat panas, yang ada pesta malam tahun baru harus berjalan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin bercerita bagaimana massa menyemut mendekati alun-alun, yang jelas mereka mempunyai hati dan niat yang sama yaitu berpesta menyambut tahun baru. Tepat jam 22.00 aku berhasil berada di tenga-tengah gerumulan massa di tengah-tengah alun-alun. Aku melihat berbabagi macam manusia dari yang berjilbab, buka jilbab, buka seperempat tubuh samapai pada yang buka separuh tubuh. Aku juga melihat orang tua, anak muda, remaja, anak-anak, balita sampai pada yang masih cabang bayi. Tidak hanya itu aku juga melihat mereka ada yang berkulit putih, bermata sipit, berjenggot lebat dan yang jelas mereka semua datang dari berbagai latar belakang. Di tengah-tengah kemajemukan yang harmonis dan damai ini aku terhenyuk malu pada diriku sendiri, kenapa sebelum ini aku begitu buruk sangka pada mereka yang berbeda padahal setelah aku dekat dan berkumpul dengan mereka, mereka mempunyai hati yang sama niat sama tentunya juga mempunyai substansi Tuhan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 00.00 yaitu pada detik peralihan Tahun gema dan gemuruh ekpresi dari masing-masing individu terdengar membesarkan Tuhan lewat bunyi terompet dan letupan kembang api. Indah, damai, harmonis inilah yang aku rasakan bersama mereka dalam kedamaian yang dijanjikan Tuhan, aku persembahkan pesta tahun baru ini untuk Tuhan. Akhirnya diiringi rasa bahagia aku singkirkan doktrin yang mengganjal yang menghendaki realitas berkotak-kotak dengan menggantinya pada keseimbangan serta kedamaian bersama serta merajut rahmat Tuhan bagi sekalian alam . SELAMAT TAHUN BARU 2009  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2114817490702758440?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2114817490702758440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2114817490702758440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2114817490702758440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2114817490702758440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2009/01/tahun-baru-2009-adalah-pesta-untuk.html' title='TAHUN BARU 2009 ADALAH PESTA UNTUK TUHAN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7086372763766446089</id><published>2008-11-29T04:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T05:34:00.305-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sering kali memikirkan hidup, kebahagian, duit dan kepuasan. Walaupun aku bukanlah seorang Plato atau bagian para filosof, tapi aku merasa bahwa hidup dan pernak-perniknya perlu dipikirkan, direnungkan untuk kemudian ditemukan gelaran hikmah. Aku menyadari pengetahuanku yang sangat minim menjadi keterbatasan bagiku untuk lebih banyak mengurai makna dari sebuah peristiwa. Aku hanya bisa berbagi secuil pengalaman lewat tulisan-tulisan ringan dan renyah yang aku harapkan suatu saat nanti menjadi sebuah catatan sejarah yang bisa aku kenang di hari tuaku kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit aku ingin menulis pengalamanku yang terkait dengan duit dan kepuasan. Sebelum aku menginjakkan kakiku di kota Jogja, aku hidup di dalam pesantren dengan pendapatan secara finansial sangat minim sekali. Empat tahun aku hidup dengan honor dibawah satandart minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara logika honor dibawah seratus ribu itu memang tidak cukup untuk menghidupi seseorang selama satu bulan, namun kenyataannya aku malah bertahan sampai empat tahun di pesantren itu yang juga sekaligus  pondokku. Kehidupanku lancar-lancar saja, tidak melarat, tidak kekuarangan malah bisa dibilang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu semua kebutuhanku serba tercukupi dengan honor yaang minim itu. Hidipku malah penuh tawa rasanya sangat sedikit sekali guratan kesedihan yang tertimpa padaku waktu itu. Hidup begitu sangat nikmat sehingga semuanya menjadikan aku penuh tawa dan suka, begitulah aku empat tahun di pondokku. berbeda dengan saat ini, aku sekarang hidup di kota besar serta mempunyai pemasukan yang lebih lima kali lipat dari penghasilanku sebelumnya. Secara nominal apa yang aku dapatkan dari sisi finansial cukup banyak untuk ukuran orang sepertiku. Aku dulu menyangka dengan mendapatkan jumlah nominal yang lebih banyak dari apa yang aku dapatkan maka kebahagian dan kepuasan akan semakin terasa dan seakin gampanag aku gapai. Begitulah alam pikiranku sebelum mendapatkan pendapatan seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku terjun langsung dan merealisasikan impianku untuk medapatakan jumlah nominal pendaptan yang jauh lebih banyak dari pendapatanku di pondok ternyata fakta menyodorkan kenyataan lain. Honor lima kali lipat dari sebelumnya yang aku gengggam mejadikan aku bermimpi jauh lebih tinggi dari kemapuanku sehingga aku merasakan honor yang sudah besar itu terasa begitu sedikit dan sama sekali tidak memeberiku ketenangan. Aku menajdi gundah, kebutuhan membengkak, gaya hidup ikut-ikutan berubah sehingga kenyataan akhirnya menjadikan aku terhimpit. Honor itu habis sebelum satu bulan. Aku kembali dirundung keresahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterhimpitanku itu menjadikan aku bertafakkur sambil memohon petunjuk kepada-Nya. Kemudian lahirlah sebuah hasil dari refleksi ringanku yang menyatakan "Bahwa hidup tidak pernah meminta jumlah nominal finansial tapi hidup hanya meminta kepuasan". Dari hasil refleksiku ini kemudian aku berdo'a, bersujud di hadapannya dengan perohonan agar diturunkan gelaran kepuasan bagi hidupku sehingga aku tidak lagi mengejar jumlah rupiah, dolar atau apa saja nilai harga yang menjadikan semua orang buta mata hatinya dan jauh dari syukur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7086372763766446089?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7086372763766446089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7086372763766446089' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7086372763766446089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7086372763766446089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/aku-sering-kali-memikirkan-hidup.html' title=''/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7460323660807557255</id><published>2008-11-21T17:44:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T18:44:40.260-08:00</updated><title type='text'>Ulang Tahunku yang ke-23</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan mengguyur kota Jogja hampir semalam suntuk. Undara dinginpun mengalir menyelimuti lenguhan senyap tidurku. Aku pulas dibelai mesra selimut desiran mimpi indahku. Namun tak satupun mimpi-mimpi itu yang terseret oleh otak sadarku, sehingga tak satupun dari mimpi-mimpi itu yang mampu aku ceritakan kembali. Tapi aku yakin kalau saat itu mimpi menghampiriku dengan keindahan dan keseramannya. Mungkin hujan yang mengguyur itu yang membuat aku lupa tentang mimpi-mimpi malam itu. Ah...sudahlah aku lupakan saja mimpi-mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya malam itu aku harus bahagia, seperti laiknya orang-orang lain yang bahagia tatkala umurnya bertambah. Malam itu malam tanggal 21 November 2008 yang merupakan malam terakhir di lembaran tahun ke-22 . Artinya tepat jam 00.00 aku akan beralih pada lembaran berikutnya yaitu menginjak awal tahun ke-23 dari perjalanan hidupku. Namun kenyataan berkata lain, malam itu aku jalani seperti malam-malam sebelumnya. Tapi tetap aku sadar kalau pada dini hari kala itu umurku akan bertambah menjadi 23 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus saja mengalir tanpa tersendat oleh apapun akhirnya sampailah jarum jam pada titik yang menunjukkan tepat jam 00.oo. Aku tetap tertidur pulas diantara pergantian dan bertambahnya umurku.  Sepertinya pergantian itu bukanlah berarti apa-apa. Aku lebih memilih memanjakan tubuhku di hamparan kasur busa tipis di kamarku. Sudah berlalu pergantiaan yang mempunyai nilai sejarah itu begitu saja, tanpa perayaan apapun. Akhirnya di awal aku membuka mataku aku dikejutkan dering HP-ku, lalu di ujung telepon sana seorang cewek yang mempunya nama Fina mengucapkan kata selamat ulang tahun dengan menggunakan bahasa Inggris " happy birthday to you" begitulah kira-kira yang aku dengar. Aku cuma diam kemudian aku membalasnya dengan simpel "terima kasih" begitu kata terakhir dialogkku di awal pagi  di tahun yang ke-23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berartikah bertambahnya umur seorang manusia, sehingga harus dirayakan?. Pertanyaan ini menggumpal bagai kabut yang menyelimuti kota Jogja kala itu. Akhirnya aku diseret untuk berfikir menggelayuti makna filosofi dari sebuah perayaan bertambahanya umur. Aku duduk tenang di kamarku sambil mencoba mengais makna di balik kebiasaan orang-orang yang merayakan hari ulang tahun. Kemudian di titik akhir dengan kesadaran dan kemampuan yang aku miliki dan setelah aku menyebrangi samudera tanda tanya tadi, aku menemuka kata sepakat kalau hari ulang tahun itu perlu diperingati namun tidak perlu dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari refleksi yang aku lakukan di atas aku menemukan dua kosa kata yang hampir mempunyai makna yang sama namun tetaplah menyimpan perbedaan yang mendasar. Dua kata itu adalah "memperingati dan merayakan". Dua kata ini mempunyai kemiripan tapi mempunyai konteks yang berbeda. Kata memperingati mempunyai konteks yang lebih sederhana dibandingkan dengan kata merayakan yang mempunyai kedekatan dengan konteks kemewahan. Konkretnya merayakan adalah peringatan yang diikuti dengan kemewahan. Dari dua kata tadi nampaknya yang paling dekat dan paling pas dengan keadaanku adalah kata memperingati. Selain sederhana konteksnya di dalanya ada nilai yang bisa dikorelasikan pada hal yang relegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya akupun memutuskan untuk memperingati ULTAH-Ku walau hanya seorang diri. Aku mencoba merefleksikan gelaran 22 tahun masa laluku. Terasa begitu sangat cepat waktu menggulung sisa umurku yang aku tak tahu kapan akhir hamparan umur ini. Hanya sedikit yang bisa aku lakukan selama 22 tahun itu. Rasanya tidak ada prestasi dapat aku banggakan. Dosa bersimbah mem-pasir bak gurun yang bertepi. Rasanya aku malu pada diriku sendiri yang tak mampu mempersembahkan prestasi terbaik untuk hidupku. Sambil menunduk malu aku beristighfar dengan harapan Tuhan Allah-ku menyiramiku dengn guyuran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maghfiroh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus aku hanyut dalam gelayut refleksiku sambil juga aku ucapkan syukur, karena Tuhan Allah masih memeberiku kesempatan untuk melanjutkan ibadah kepada-Nya. Semoga Dia selalu menambah iman, umur dan rizkiku hingga akhirnya aku bisa mempersembahakan bagi-Nya pengabdian yang sungguh-sungguh dan mencerminkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'abdan syakuro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7460323660807557255?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7460323660807557255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7460323660807557255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7460323660807557255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7460323660807557255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/ulang-tahunku-yang-ke-23.html' title='Ulang Tahunku yang ke-23'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-4814675138616098990</id><published>2008-11-16T17:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T18:35:01.061-08:00</updated><title type='text'>Yuk Berpakaian yang Benar,Nyaman &amp; Aman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanapun hidup itu perlu diperjuangkan, karena perjuangan itu sendiri adalah kehidupan. Banyak hal yang perlu diperjuangkan. Yang paling utama untuk diperjuangkan adalah harga diri. Harga diri merupakan esensi hidup paling mahal yang harus tetap dijunjung tinggi. Selain itu tak ada nilai tukar yang sejajar dengan harga diri, karenanya harus diperjuangkan agar esensi dari harga diri dan hidup itu sendiri tetap menjadi nilai tertinggi dari sekian nilai-nilai yang lain dalam hidup ini. Harga diri erat sekali dengan keberadaan kita sebagai manusia secara umum, namun lebih itu harga diri yang paling mahal adalah harga diri kita sebagai seorang muslim yang mu'min.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian berat perjuangan yang harus dilakukan oleh seorang manusia demi menjaga harga diri. Banyak hal yang akan menjadi korban karenanya. Kadang kala bisa menyisakan lara yang begitu menyayat, sehingga untuk beberapa orang yang lemah akan rela menjual harga dirinya dengan harga yang sangat murah. Mempertahankan harga diri merupakan sebuah konsekwensi logis dari penciptaan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna. Adapun prihal konkret yang berkaitan dengan harga diri manusia adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amru bil ma'ruf &amp;amp; naha anil munkar &lt;/span&gt;merupakan hal yang mendasar yang setiap orang mengetahuinya. Walau demikian tidak sedikit dari kita yang hilaf atau mungkin malah dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban tersebut. Pada akhirnya kewajiban mendasar itu menjadi hal yang terlupakan. Pada saat hilaf dan melupakan kewajiban yang mendasar itu pada hakikatnya seorang manusia telah dengan sengaja menghancurkan harga dirinya sendiri. Begitu sebaliknya ketika seorang individu dengan gigih menjalankan konsep atau kewajiban di atas dengan konsekwen maka secara tidak langsung dia telah mempertahankan harga dirinya sendiri. Sekali lagi mempertahan kan harga diri adalah berat dan menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikaji lebih dalam antara kewajiban dengan harga diri adalah dua kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya keduanya ada keterkaitan yang memungkinkan adanya efek kausalistis. Secara umum tugas dan kewajiban seorang hamba begitu sangat banyak sehingga dengan demikian juga banyak harga diri yang harus diperthankan. Satu hal kecil yang terasa terlupakan di tengah-tengah banyaknya kewajiban yaitu cara berpakaian. Bagi seorang muslim pakaian selain sebagai hiasan juga merupakan penutup aurat. Jadi patokan utama dan menjadi kewajiban bagi setiap muslim agar berpakaian yang menutup aurat namun juga tidak melupakan harus mempunyai nilai-nilai keindahan sebagai unsur dari hiasan. Ketikan kewajiban ini terpenuhi maka dengan tidak sengaja berarti seorang muslim tadi sudah mempertahan harga dirinya dalam hal cara berpakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mencoba menilik dari fakta konkrit di sekitar kita banyak didapat pakaian hanya sebatas hiasan dengan mengesampingkan patokan utama sebagai penutup aurat. Sehingga yang disajikan dari pemadangan model yang semacam ini adalah penjajaan aurat yang vulgar dan  mengundang syahwat. Disadari atau tidak, di-iyakan atau tidak yang namanya sajian bokong semok dari balik model pakaian yang tidak syar'ie tetap akan mengundang syahwat. Model pakaian seperti ini adalah pakaian yang tidak layak bagi seorang muslim, karena secara tidak langsung harga dirinya sebagai manusia telah diinjak-injak akibat dari tidak mengindahkan kewajiban-Nya untuk menutup aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk beberapa kelompok muslim yang mengaku modern, ini bagian dari perkembangan dunia yang harus diikuti. Bagitu sangan dangkalnya pemahaman tentang komodernan kelompok ini. Banyak hal yang mereka lakukan demi melegalkan tontonan vulgar tersebut, demo menolak UU pornografi sampai aksi telanjang bulat yang pernah dikukan ratusan orang di Amerika. Lucu bukan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara jujur model pakaian dengan mempertontonkan bokong tersebut tidaklah terlalu keren-keren amat sih, bahkan terkesan sangat kuno. Coba kita lihat suku Indian dengan pakaian serba kekurangan yang persis sama dengan pakaian-pakaian saat ini yang dianggap modern. Apa bisa dikatakan modern kalau bercermin pada orang-orang kolot di tengah hutan sana?? jawabannya terserah Anda......&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-4814675138616098990?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/4814675138616098990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=4814675138616098990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4814675138616098990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4814675138616098990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/yuk-berpakaian-yang-benarnyaman-aman.html' title='Yuk Berpakaian yang Benar,Nyaman &amp; Aman'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6830461016962543464</id><published>2008-11-10T17:22:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T17:47:19.521-08:00</updated><title type='text'>Untuk Pahlawanku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 10 November merupakan hari Pahlawan yang hampir semua orang tahu tentang itu. Aku sebaga bagian dari orang yang tahu mencoba menapak tilasi makna dari pahlawan itu sendiri. Aku tidak tahu banyak tentang makna terdalam dari pahlawan itu sendiri, bagiku pahlawan adalah orang yang sengaja meleburkan dirinya dalam perjuangan tampa pamrih demi kelangsungan hidup orang-orang yang ada dibawah tanggung jawabnya. Untuk konteks saat ini dalam ke-akuanku nampakanya makna tersebut cukup layak, walaupun orang-orang pada umumnya menyandarkannya pada para pejuang yang telah gigih mengusir penjajah dar  Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana hari Pahlawan ini aku mempunyai pahlawan sendiri yang berbeda dari para pahlwan yang lainnya, walaupun aku juga tidak mengingkari jasa-jasa para pahlawan negeri ini. Namun  pahlawan yang sangat kental memberikan dedikasinya kepadaku mulai dari kecil hingga saat ini adalah ibu dan bapakku. Mereka adalah dua orang pahlawanku yang sampai kapanpun akan tetap aku hormati, junjung tinggi dan akan aku bela sampai titik darah penghabisan. Keduanya telah menjadikan aku sebagai manusia yang mampu beribadah kepada-Nya walau masih terus berproses menuju penyempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, bapak saat ini aku mengingatmu sebagai seorang pahlawan. Anakmu yang jauh di tanah rantau ini selalu mendo'akan kalian berdua agar tetap selalu dalam lindungan Allah. Kalian telah memberikan segalanya bagiku tanpa meinta balasan apapun. Begitu sangat besar cinta dan kasih sayangmu hingga kalian tak menghiraukan letih dan peluh yang bercucuran demi kelangsungan hidupku. Kini saatnya anakmu ini ingin membalas walaupun sebenarnya tak ada balasan yang setimpal dibandingkan kesucian dan keikhlasan dari cinta kalian yang telah tercurahkan padaku. Tapi walau demikian senyum merekah dari bibir kalian adalah siraman kesejukan untukku sebagai balsan kecil dari perjuangan besarmu. Terima kasih ibu, terima kasih bapak do'akan anakmu semoga tetap dalah lindungan dan hidayah Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6830461016962543464?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6830461016962543464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6830461016962543464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6830461016962543464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6830461016962543464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/untuk-pahlawanku.html' title='Untuk Pahlawanku'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-7822158848968501361</id><published>2008-11-04T16:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-04T16:41:16.611-08:00</updated><title type='text'>Sepenggal Cerita dari Pantai Depok</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Begtu indah dunia ciptaan Allah ini. Sore tanggal 30 Oktober 2008 aku berkesempatan menguntit kebesaran Allah lewat jendela-jendela kecil kebesaran-Nya. Deburan ombak setinggi tiga metaran menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Memutih, menyisakan busa yang menggulung di tepian pantai Depok Bantul Yogyakarta. “&lt;i&gt;Subhanallah,Allahu Akbar”&lt;/i&gt;  aku takjub terhadap ciptaan-Mu Allah. Aku bergumam dalam hati dengan tulus mengakui kebesaran-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Hamparan pasir hitam yang dilukis indah bekas pijakan ombak yang menggempur membentuk pemandangan menakjubkan. Membukit kadang juga melembah seumpama dibentuk oleh arsitektur handal yang meyajikan pukauan hebat bagi siapa saja yang melihatnya. Suara deburan ombaknya menderu memecah butiran-butiran kegelisahan setiap pengunjungnya. Sejenak para pelancongnya titipkan semua problem pada belaian angin kencang yang mengurai rambut mereka, seumpama bendera yang berkibar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Gunung di arah berlawanan dengan samudera meninggi seakan menyentuh langit. Sementara gumpalan kabut hitam menyelimuti bagian paling atasnya. Antara pemandangan pantai yang berdapingan dengan gunung yang menjulang ini bagai pengantin serasi yang diarak oleh jubelan intipan manusia. Ada yang mengintip lewat bidikan kamera HP, ada juga yang sengaja membawa seperangkat instrument pengabadian yang cukup modern. Begitu sangat berharganya pemandangan di Pantai Depok ini, hingga harus menjadi tilasan sejarah bagi siapa saja yang mengunjunginya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Matahari semakin bergerak ke arah barat seakan tertelan samudera di ujung sana. Sinarnya memudar, panasnya mendingin, namun para penikmat pantai seakan semakin bertambah. Pantai memadat dengan gemuruhnya suara-suara teriakan anak-anak kecil yang beramuk dengan deburan kecil ombak. Hatiku terpingkal dengan tingkah lucunya. Ingin aku bersama mereka membenamkan kebosananku dengan sentuhan jujur sumringahnya, tapi air dan basah menghalangiku untuk melangkah. Karena saat itu aku memang tak punya celana pengganti jika nanti aku harus tunaikan Maghribku di pantai ini. Akhirnya cukuplah aku bersimpuh sekitar 10 meter dari bekas-bekas kaki kegembiraan mereka. Aku diam ………&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tersentak, aku kaget!!! Di balik bukit-bukit pasir yang menggnung ada yang memulai menjajal kemurkaan Allah. Aku dingin, seakan ada semburan tenaga birahi yang membekukan tulang putihku, sehingga aku tak mampu untuk berucap. Aku diamuk kegelisahan yang ditontonkan oleh sebagian pelancong. Sepasang muda-mudi duduk berdua menghadap deburan ombak, terlihat seoang wanitanya membenamkan mukanya di pangkuan sang pria sambil memainkan uraian rambutnya yang terurai sampai bahu bagian belakang pasangan laki-lakinya. Terbelalak mataku tat kala sambaran maut dua insan yang beradu lisan diperontonkan sekitar lima meter dari tempatku duduk. Mataku berhenti berkedip, aku takut, secepat kilat aku beranjak dari tempaku, aku malu, malu pada diriku sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0); border-width: medium medium 2.5pt; padding: 0in 0in 0.01in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;i&gt;Istighfar&lt;/i&gt; tak hentinya aku latunkan di hatiku, berdosakah diriku menikmati tontonan &lt;i&gt;live &lt;/i&gt;yang tesuguhkan di pantai ini??Hatiku bertanya, sambil terus mengadu, merendah memohon ampun pada-Nya. Imanku masih dangkal, takwaku masih tanda tanya, Islamku masih kropos, aku ngiler dengan tipuan syetan yang terkutuk, hingga akhirnya aku putuskan menuju ke masjid untuk tunaikan kewajiban sambil membawa kesan yang berupa pesan sekaligus &lt;i&gt;indzar&lt;/i&gt; bagiku. Ampunilah aku “&lt;i&gt;Astaghfirullah……………………..!!!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-7822158848968501361?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/7822158848968501361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=7822158848968501361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7822158848968501361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/7822158848968501361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/sepenggal-cerita-dari-pantai-depok.html' title='Sepenggal Cerita dari Pantai Depok'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2152523463679405272</id><published>2008-11-04T01:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-04T02:03:51.364-08:00</updated><title type='text'>Aku Juga Sakit Loh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tiga hari aku tidak bisa beraktifitas, demam yang dideritaku karena perubahan musim membawaku terbaring lemas di atas kasur. Batuk, pilek serta badan terasa ngilu bak remuk ditubruk benda keras. Perasaan mulai tidak tenang, nafsu makanpun ikut turun, tekesan nampak kurang bergairah. Dalam keadaan seperti itu kadang perasaan diajak untuk mengingat kampung halaman nan jauh disana. Diri ini hanya sebatang kara, tanpa sanak keluarga, hanya bisa mendesah dengan nafas seakan dapat mengurangi rasa sakit. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walau seorang diri, jiwaku aku ajak untuk tenang menghadapi musibah ini. Aku tegarkan hati sambil mencoba menimang perasaan sedihku sambil melantunkan do'a kepada Allah. Semua ini adalah bukti kebesaran Allah yang harus kaji untuk menemukan gelaran hikmah. Musibah ini paling tidak mempunyai dua makna penting bagiku, bisa berupa gelaran cobaan atau &lt;em&gt;naudzubillah &lt;/em&gt;sebagai adzab. Antara dua sisi ini memungkinkan diriku ditemukan, jika memang aku berada pada gelaran coba, maka aku memohon agar Allah memberikan kekuatan, namun jika aku berada dalam adzab maka aku memeohon agar Allah mengampuni dosaku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terus aku bebrbicara pada hatiku sambil mengais dan merefleksikan adakah diantara sekian tingkahku yang berpotensi menjadi dosa atau pahala. Keduanya bagai dua sisi yang terus mengikuti jalan hidupku, sehingga antara dosa dan pahala bagaikan butiran pasir yang sama-sama menggunung. Dengan kerendahan diri ini, aku bersujud, nersimpuh di hadapan-Nya meohon ampun dari bukitan pasir dosa-dosaku. Hati merintih, malu begitu besarnya dosa ini sehingga aku tak mampu untuk menghitungnya. Aku tertunduk, air mataku mengalir menangisi waktu-waktuku yang terbuang sia-sia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diantara himpitan penyesalanku, dengan yakin aku memantapkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, sehingga dosaku yang menggunung-pun kalau Allah menghendaki untuk diampuni akan habis. &lt;em&gt;Astaghfirullah &lt;/em&gt;aku berujar dalam ampunku, memelas kasih sayang-Nya, kemudian aku menyudahi semuanya dengan tekad memperbaiki semua salah dan dosa dan menggapai Ridla-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua sudah selesai, akupun hari ini mulai baik kembali walau masih belum sembuh total. Aktifitasku harianku mulai aku jalankan kembali walai masih tertatih-tatih oleh sisa sayatan demam. Aku berharap Allah mengembalikan semuanya kepadaku shingga sujud dam Syukurku semakin bertambah pada-Nya. Terima Kasih Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, kini Engkau sembuhkan aku.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2152523463679405272?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2152523463679405272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2152523463679405272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2152523463679405272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2152523463679405272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/11/aku-juga-sakit-loh.html' title='Aku Juga Sakit Loh'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5939330995456181482</id><published>2008-10-28T06:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-28T07:23:33.011-07:00</updated><title type='text'>BT Nihhh....!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Enthalah kebingungan itu kerap kali muncul di saat aku sedang sendiri. Kesendirian memang seringkali menggelar angan yang menjauh sehingga yang di depan mata menjadi asing. kenhangatan dunia hayal membawaku pada kebingungan, kebingunan yang tentunya tidak menguntungkan. Karena bingun memang sebuah penyakit, walau tidak se-bahaya kanker atau penyakit menyeramkan lainnya tapi sering kali menghanguskan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku kemudian bertanya,"kenapa aku harus bingung?". Jawabannya tidak aku temukan. Malah yang muncul kenginan untuk melukiskan kebingungan ini di bloggku. Sesegera mungkin aku langkahkan kakiku menuju warnet terdekat untuk aku lemparkan kebingungan tersebut dengan mencurahkan sepenuhnya di depan komputer. Sambil menulis aku tetap berfikir penyebab dari kebingunganku. Aku ingin mengumpat diriku, tapi apa dengan cara itu kemudian sebab dari kebingungan itu bisa kau dapati?. Aku terus saja mengalirkan laju kehidupanku sambil menatap hasil tulisanku di layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini tidak terlalu ramai pengunjung warnet langgananku.Hanya ada beberapa ruangan saja yang terisi. Aku sendiri duduk di ruang tiga, sementara ruang yang berhadapan dengan ruanganku adalah ruangana tujuh dan delapan. Aku berangkat dengan niat membuang kebingungan, tapi entahalah para pengunung yang lain apa juga sama denganku. Tentunya masing-masing mempunyai motif yang berbeda-beda. Aku tak mau tau apa alasan mereka mengunjungi warnet, yang paling penting aku bisa membuang kebingunganku. Itu saja sudah cukup buatku!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus saja &lt;i&gt;ngoomel&lt;/i&gt; dengan kalimat-kalimat yang tidak tentu arahnya. Aku tak lagi menghiraukan tulisan ini enak unutk dikonsumsi atau tidak. Tombol keyborad seakan menjadi pembuangan yang tepat daripada harus termenung di kamar sambi lmengumpat kecil pada diri sendiri. Entahlah setan apa yang membuatku tak terkontrol seakan lepas dari kesegaran otakku. menurutku umurku tidak terlalu tua, lalu kenapa penyakit bingung yang mungkin orang lain membahsakan keberdaanku ini dengan sebutan BT (bosan Total) atau semcamnya harus sering muncul di kebeliaan umurku. Bahaya nih....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya aku harus dinamis serta mempunyai planning yang jelas selama sehari. Sehingga memungkinkan aku bisa terhindar dari penyakit BT. Bingung dan BT walaupun memiliki perbedaan, namun dampaknya pada seseorang memepunyai persamaan yaitu menjadikan orang kaku untuk melakukan aktifitas. Defenisi ini cuma apa yang aku rasakan, aku tak menghiraukan hal itu benar atau salah. Yang jelas penyakit begitu tidak mengenakkan,menjadikan hati mandeg dan menghentikan laju gerak dinamisasi keeksistensian seseorang sebagai manusia yang diciptakan untu berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukupkan saja torehan kebingunganku ini, agar tidak terlalau mahal membayar sewanya. Maklum aku disini kan anak rantau yang harus pandai menghemat uang agar tetap bisa hidup. BT, Bingung......!!! awas datang lagi tak jitak matamu...... he..he...emang manusia apa???????&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5939330995456181482?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5939330995456181482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5939330995456181482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5939330995456181482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5939330995456181482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/10/bt-nihhh.html' title='BT Nihhh....!!!'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2322796047851675031</id><published>2008-10-25T05:53:00.001-07:00</published><updated>2008-10-25T06:34:28.011-07:00</updated><title type='text'>Malam Minguan sebuah Tradisi Mesum yang Dilegalkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini malam yang panjang bagi kebanyakan pemuda. Malam minggu yang bisa memberikan kepuasan batin bagi seseorang yang menjadikan malam ini sebagai malam spesial. Acaranya biasanya sekitar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cur-per (Curahan Perasaan) &lt;/span&gt;LUSSEKDA (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nge-Lus Sekitar Dada) &lt;/span&gt;atau beberapa hal lain yang pada intinya pergumulan terlarang tapi dilegalkan. Romantika kehidupan seperti ini hampir pasti terjadi di seluruh kota di tanah air ini. Enthlah siapa yang memulai kebiasaan tak tertuliskan ini menjadi sebuah tradisi yang mengakar kuat pada lini kehidupan para pemuda dan pemudi penerus bangsa ini. Rasanya kebiasaan ini terus mengalir deras tanpa halangan sehingga lambat laun pelosok desa-pun ikut-ikutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meng-kramatkan &lt;/span&gt;malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sadar tradisi yang dianggap legal ini telah banyak merubah sikap keseharian seorang pemuda yang sejatinya merupakan harapan hari esok bangsa ini. Sejujurnya ketika seorang manusia mengoptimalkan fungsi hatinya dan kecerahan otaknya akan mengaktakan bahwa tradisi ini tak lebih dari sekadar hura-hura belaka. Namun demi sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nafsu birahi &lt;/span&gt;tradisi malam Mingguan menjadi ritual wajib yang tak boleh terlewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merubah tradisi ini memang sangat sulit, butuh waktu dan pengorbanan. Secara histori, tradisi ini memang sudah muncul puluhan tahun yang silam atau bahkan sudah mencapai ratusan tahun yang silam. keberadaannya yang sangat tua menjadikan akar ideologi tradisi ini mengakar dengan kuat pada bagian kehidupan masyarakat umum. Menumbangkan secara cepat dan kilat adalah hal yang mustahil. Untuk itu perlu kiranya sebuah gerakan yang serempak dari para pemuda yang merasa bagian dari bangsa yang terpuruk ini agar kembali bangkit untuk memperbaiki moral sesama pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tradisi ini banyak bermunculan masalah. Mulai dari hubungan gelap tanpa status sampai pada hiburan yang over yang mencerminkan penjajaan aurat yang akhirnya merusak karakter para pemuda. Pantat seksi, bokong semok, atau malah vagina gratis menjadi bagian dari hiruk pikuk dari taradisi malam kramat ini. Begitu sangat memprihatinkan dan sangat jauh dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khittah&lt;/span&gt; penciptaan manusia. Masyarakat nampaknya tenggelam dalam pelukan romantis kehingar-bingaran kehidupan kota, sehingga permasalahan ini menjadi fakta yang sengaja dikubur dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskriptif permasalahan dari tardisi malam mingguan di atas sengaja disajikan dengan Vulgar se-vulgar realitanya yang terjadi di lapangan. Karena nampaknya masyarakat kita memang tidak bisa diajak untuk bermetafora, sehingga penulis menyajikannya dengan mencampakkan kode etik jurnalistik. Hal ini dimaksudkan agar masyrakat secara umum dapat cepat dengan sadar kalau tradisi malam mingguan memang merupakan dari tali tipuan syetan yang terkutuk. Maka sebagai sebuah harapan bagi kita sebagai bagian dari masayrakat agar menjadi pengontrol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(public control)&lt;/span&gt; dari lingkungan dimana kita hidup. Sehingga bagian dari kenistaan tradisi malam mingguan itu jauh dari lingkungan kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2322796047851675031?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2322796047851675031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2322796047851675031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2322796047851675031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2322796047851675031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/10/malam-minguan-sebuah-tradisi-mesum-yang.html' title='Malam Minguan sebuah Tradisi Mesum yang Dilegalkan'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5542882459523529037</id><published>2008-10-17T18:30:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T19:11:01.205-07:00</updated><title type='text'>Pelangi Indah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hidup ini untuk ibadah. Makna ibadah begitu cukup luas, sehingga tak mungkin untuk dikonkritkan. Banyak cara dalam melakukan ibadah, tergantung kesiapan dan kemampuan seseorang. Namun yang pasti untuk melakukannya adalah sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar sebagai makhluk-Nya yang beradab. Pada umumnya manusia memilih satu cara, satu jalan dalam merealisasikan ibadah di kehidupannya. Jalan itu berupa ajaran yang selama ini biasa dikenal dengan sebutan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama sebagai sebuah pilihan formal menjadikan bentuk-bentuk ibadah itu berpeta-peta. Hal itu untuk memudahkan manusia dalam menjalankan kewajibannya untuk menyembah Tuhannya. Manusia sebagai makhluk yang berperadaban tumbuh berkembang sejalan dengan nalurinya sebagai identitas kesempurnaan ciptaa-Nya. Dengan kejernihan pikirannya muncullah berbagai macam bentuk ajaran formal yang menjadikan dunia berwarni-warni. Berwarni-warni dengan keaneka ragamannya serta interpretasi yang berbeda mengenai Tuhan sebagai sesembahan. Sehingga dengan perbedaan inilah kemudian pada prakteknya juga bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara saat setiap individu memilih satu pilihan saja dari sekian bentuk warna-warna tawaran formal peribadatan tadi. Karena memang tidak mungkin memilih semua warna-warni tersebut, walau pada hakikatnya semua pilihan tersebut mempunyai dua potensi yang sama yaitu, berpotensi benar pada satu sisi dan di sisi yang lain berpotensi salah. Dengan dua potensi yang dimiliki oleh masing-masing warna, sebagai manusia yang berpendirian maka konsekwensi memilih satu saja adalah pilihan logis dan sangat manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai konsekwensi logis maka pilihan yang menjadi tambatan hati seorang individu harus benar-benar diyakini dan berangkat dari hati. Konkritnya seorang pemilih dengan pilihannya harus sinkron dan teguh menjalankan pola kerja yang diterapkan dalam pilihannya. Hal ini juga harus bisa dilakukan oleh kita sebagai seorang Muslim yang memilih Islam sebagai sebuah jalan hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan kita Allah SWT. Artinya Islam sebagai sebuah pilihan harus diyakini kebenarannya dengan tunduk mengikiuti aturan main yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kembali mencuat semacam ajakan untuk mengakui kebenaran seluruh warna agama. Ajakan ini walau terkesan cukup ilmiah secara garis pandang mereka, tapi sejatinya mempunyai banyak borok yang tidak sejalan dengan dimensi kemanusiaan. Entahlah apa sebenarnya dibalik gerakan ini, sementara ini aku belum mengerti....!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5542882459523529037?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5542882459523529037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5542882459523529037' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5542882459523529037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5542882459523529037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/10/pelangi-indah.html' title='Pelangi Indah'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8757578991899296764</id><published>2008-10-11T18:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-11T19:05:59.331-07:00</updated><title type='text'>Sistem Pendidikan yang Membingungkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadi orang baru di derah yang benar-benar baru buat seseorang adalah hal yang sangat sulit. Perlu semacam adaptasi dan ketangguhan mental. Sudah seminggu aku tingal di kota Jogja pada sebual lembaga pendidikan yang mempunyai akar pemikiran yang berbeda dengan pondasi dasarku. Lembaga ini merupakan anak harapan dari salah satu organisasi yang didirikan A. Dahlan 1921 yang silam. Corak pendidikannya  mengacu pada orientasi persyarikatan, sehingga bagiku terasa kaku dan tidak memberikan ruang untuk berkreatifitas, terutama bagiku yang sebelumnya memang hidup pada ranah lembaga pendidikan yang menghendaki kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara aku hanya bisa bersimpuh dan melihat aktifitas laju pendidikan yang diterapkan di lembaga yang aku singgahi tersebut. Banyak hal yang terasa benar-benar tidak mencerminkan sebuah pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan, kebebasan dan kemerdekaan malah tambah mengekang dan mengebiri gerak pemikiran siswa-siswanya. Kondisi ini yang menjadikan diriku sedikit terbelalak menaha n perahan dari sebuah sistem yang mengigit. Aku menyadari semua ini adalah warna hidup yang merupakan bagian dari sebuah kekayaan sistem pendidikan yang berada di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih lembaga ini bukan untuk menambah sadisnya gigitan, tapi aku ingin menciptakan keharmonisan yang memberikan ruang dinamika bagi para siswanya, khususnya siswa yang menjadi tanggung jwabku. Sebenarnya adalah hal yang sulit namun sulit bukan berarti tidak bisa dajajal. Untuk sementara gerakku hanya sebatas mengenalakan kalau opsi dari sistem yang mereka gunakan bukanlah sistem yang memeberikan kenyamanan. Salah contoh dari sadisnya sengatan sistem yang mengikat ini adalah terkungkungnya gerak dari laju pendidikan yang tertumpu pada gari-garis persyarikatan, sehingga untuk kemaslahatan umat dengan kemajemukan budaya dan kebiasaan masyarakat lembaga ini tidak bisa memberikan apa-apa. Artinya produk dari lembaga ini hanya untuk kelompoknya saja bukan untuk masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara aku menambatkan hidupku pada lembaga ini hanya sebatas profesi saja dan kelanjutan hidup. Rupiah yang menjadi sorotanku, tapi jauh di lubuk hati kejernihan sebaga i seorang manusia normal yang dilatarbelakangi jiwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu'allim&lt;/span&gt; aku ingin lebih dari sekadar pengais rupiah. Aku ingin menempatkan sebuah motivasi suci di bagian kesibukanku untuk beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8757578991899296764?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8757578991899296764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8757578991899296764' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8757578991899296764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8757578991899296764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/10/sistem-pendidikan-yang-membingungkan.html' title='Sistem Pendidikan yang Membingungkan'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-4841158269865494878</id><published>2008-10-06T01:55:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T02:14:19.252-07:00</updated><title type='text'>TITIAN AWAL LEPAS IDUL FITRI-KU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus mengasyikkan buatku. Di hari ke-4 setelah hari kemenangan lepas dari bulan suci, aku kembali mengembara meniti angan yang sempat tergantungkan tak kurang dari setengah bulan menunggu panggilan dari lembaga Mu'allimien Muhammadyah Jogjakarta. Hari itu aku berangkat dari tanah kelahiranku menuju Jogja tongkrongan beradu nasib dengan ribuaan bahkan mungkin sampai jutaan manusia. Aku memenuhi panggilan pimpinan Mu'allimien sebagai jawaban atas lamaranku untuk menjadi tenaga pengajar di lembaga tersebut.&lt;br /&gt;Cukup senang dengan panggilan tersebut, karena ternyata anganku untuk menikmati gemuruhnya kota Gudeg ini bisa terulang lagi, bahkan akan menjadi  kampung halaman baruku untuk beberapa waktu ke depan. Aku datang jogja ini sebenarnya menggendong berbagai macam cita, mulai dari finansial sampai pada melanjutkan studi S2 di perguruan tinggi terkenal di kota Jogja ini. Namun hal itu untuk smentara hanya sebuah angan yang kenyataannya masih perlu perjuangan dan keseriuasan dari diriku.&lt;br /&gt;Jogja terkenal dengan kota pendidikan dengan beratus-ratus perguruan tingginya. Orang sepertiku hanya manusia kecil yang terbungkus dengan kebodohan sehingga sering kali aku berkecil hati dengan keadaan latar belakang pendidikanku yang di dapat dari sebuah kampung di pulau Madura sana. Aku kira perasaan seperti ini sesuatu yang biasa dialami oleh orang pertama di kota ini. Lambat laun perasan ini aku harapkan bisa terbuang jauh ke jurang dalam yang tak terjangkau, sehingga aku terlepas dari purtus asa. Aku harus berani tampil dengan kedirianku. Aku harus jadi pejantan sejati yang memiliki banyak potensi untuk meraih cita-cita kecilku tadi. Tuhan tunjukkanlah aku menuju keridlaan-Mu...!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-4841158269865494878?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/4841158269865494878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=4841158269865494878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4841158269865494878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/4841158269865494878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/10/titian-awal-lepas-idul-fitri-ku.html' title='TITIAN AWAL LEPAS IDUL FITRI-KU'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1883701469019667797</id><published>2008-09-18T19:17:00.001-07:00</published><updated>2008-09-18T19:25:51.454-07:00</updated><title type='text'>TADARUS JOGJA III (Habis)</title><content type='html'>Lepas paroh malam hari ke-19 Romadlan 1429 H, aku mencoba memunguti rentetan kesan pasca penyusuranku di kota Gudeg. Tidak terlalu lama keberadaanku di kota tersebut, tapi wajah kota dan berbagai macam corak warna kehidupannya dapat aku baca dengan baik, walau sesungguhnya masih merupakan rabaan pada kulit luarnya saja. Aku mencoba mentadarusi kota tersebut di sela lapar dan haus di perjalanan puasaku di bulan suci sebagai implementasi dari makna Ulil Albab yang difirmankan Allah dalam kitab suci-Nya. Sangat banyak pernak-pernik kehidupan yang diperlihatkan Allah di daerah Istemewa ini. Dari bangunan historisnya yang mengagumkan dan membuat otakku berfikir pada perjalanan bangsa ini dulu. Di lain sisi, kota ini juga menyuguhkan kebhinnekaan penghuninya.&lt;br /&gt;Di sela penyusuranku di hari ke-2, aku sampai di jalan Malioboro. Sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh lalu lalang manusia, entah yang memakai alat transportasi atau mereka para pejalan kaki. Nampak kesibukan yang sulit aku pahami, yang jelas masing-masing orang mempunyai tujuan sendiri. Shoping atau hanya sekadar menikmati pemandangan kota yang sibuk merupakan dua diantara sekian motivasi dari para pengunjung jalan ini. Jalan ini sangat pas bagi siapa saja dengan tujuan apapun, karena di sepanjang jalan ini semua kebutuhan tersedia. Bagi meraka yang ingin mengais rupiah dengan hanya menengadahkan tangan cukup berdiam saja di pintu-pintu masuk setiap toko atau supermarket dengan wajah memelas. Tidak sedikit orang yang seperti ini, kalau Anda berminat coba saja asal tidak malu pada diri Anda….!!! He….he…..&lt;br /&gt;Malioboro merupakan ikon dari kota ini, dalam arti lain merupakan magnet Jogja yang menarik siapa saja untuk datang ke lokasi tersebut, termasuk juga diriku. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wajah-wajah kota lainnya. Kerawanan akan keamanan tetap menjadi menu peringatan yang tertempel lewat tulisan di fasilitas umum yang tersedia di kota ini. Misalnya di masjid Gedhe Kraton, masih terlihat beberapa peringatan tentang keamanan hak milik. Artinya potensi kriminal di kota ini masih perlu diwaspadai oleh para pengunjungnya. Sebagai bagian dari pengunjung kota ini, aku sedikit khawatir dengan keamanan diriku.&lt;br /&gt;Realitas di atas sedikit membuat nuraniku berdialog dengan kejernihan otentitas nilai kemanusiaanku yang beriman. Dialogku dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana, “kenapa masalah keamanan tetap menjadi hal yang diwaspadai di tengah-tengah kota yang merupakan masih lingkungan terpelajar?”. Kota ini terdengar ke luar hingga sampai pada telingaku yang berada jauh di pulau terpencil di perairan Madura sebagai kota pelajar, tapi kenapa penghuninya harus dihantui oleh prilaku yang mencerminkan kebobrokan. Di benakku dulu sebelum kakiku menginjak kota ini tergambarkan suasana yang aman yang mencerminkan masyarakat madani terpelajar. Keamanan serta kriminal lainnya bukanlah sebuah masalah, jaminan keselamatan serta ketenangan menjadi nuansa kehidupan di kota ini. Begitulah rekaan awal diriku yang sama sekali berbeda dengan apa yang aku lihat saat itu.&lt;br /&gt;Bersyukur selama penyusuranku di kota Gudeg ini aku belum bersentuhan dengan tindak kriminal konkrit fisik. Namun seperti pencekalan, memanfaatan kesempatan di saat keterhimpitanku masih terlihat walau tidak terlalu vulgar. Misalnya, mark up harga barang atau makanan di luar kewajaran selalu menjadi menu benturan tiap waktu bagi orang baru seperti aku. Awal aku menginjakkan kakiku di Jogja pada saat aku menyantap masakan soto Joga, dua porsi berharga Rp 25.000,-. Menurutku soto itu tidak jauh berbeda dengan soto buatan Pak Sahe di warung depan pondokku yang hanya seharga Rp. 4000,-.&lt;br /&gt;Pengalaman di atas begitu terlihat kurang wajar atau juga bisa dibilang kurang ajar. Mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tapi bagi diriku dengan keadaan ekonomi yang mepet hal itu menjadi buah pertanyaan yang perlu dipertanyakan, “kenapa?. Sejatinya aku tidak mempersoalkan kerugian finansial yang aku keluarkan. Tapi aku menangkap ada semacam keganjilan yang terencana dan sepertinya mewabah di kalangan masyarakat kita. Keganjilan menjadi nyata ketika pada suatu saat aku bersama temanku yang sudah lama berada di kota Gudeg ini makan pada menu yang sama dengan harga relatif wajar. Melalui pengalaman yang kedua ini, keganjilan itu benar-benar sebuah problem yang harus dikaji oleh diriku. Aku menilai keganjilan tersebut merupakan tindak kriminal yang bernilai pemerasan.&lt;br /&gt;Diakui atau tidak fenomena yang aku temui tadi merupakan borok sosial yang perlu disembuhkan. Karena dari yang sederhana ini kemungkinan akan berdampak pada tingkat kriminal yang lebih besar. Banyak hal yang harus ditelusuri dari problem ini, dari sisi relegiutas, pendidikan sampai pada ekonomi. Tiga faktor ini menjadi titik kajian yang harus ditelusuri sebagai bentuk kuratif dari bobroknya moral tersebut.&lt;br /&gt;Nampaknya wacana peras-memeras ini tidak hanya tumbuh di kalangan masyarakat bawah, tapi juga para pemimpin bangsa ini lewat praktik KKN yang mewabah. Konteksnya sama dengan problem sederhana tadi, hanya saja bentuk pemerasan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini tidak dilakukan di warung kaki lima tapi di gedung ber-AC dan di atas kursi empuk. Langkah penyembuhannya jelas juga harus lewat tiga titik seperti yang tersebut di atas. Karena pada hakikatnya orang yang berprilaku demikian mengalami ketimpangan pada salah satu dari tiga titik kajian tadi.&lt;br /&gt;Sebagai pesan bagi setiap insan yang mau berfikir dan mengiginkan bangsa ini keluar dari multikrisis agar mewaspadai dan menjauhi tindak pemerasan yang merugikan orang lain atau bahkan bangsa ini. Bagi para pemimpin bangsa yang sudah terlanjur, hubungi aku ya di 081805501428 tak bawa ke KPK biar tau rasa he….he……he…… [ijan08]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1883701469019667797?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1883701469019667797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1883701469019667797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1883701469019667797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1883701469019667797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/09/tadarus-jogja-iii-habis.html' title='TADARUS JOGJA III (Habis)'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8625190186571627543</id><published>2008-09-18T19:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T19:18:57.777-07:00</updated><title type='text'>TADARUS JOGJA II</title><content type='html'>Cukup sulit aku merepro apa yang aku lihat selama 15 hari di kota Gudeg. Catatan ini merupakan catatan tunda, sehingga banyak hal yang tidak bisa secara konkrit aku catat di catatan ini. Aku harus memungut ceceran-ceceran kilasan sejarah yang aku jejali selama separoh bulan suci di kota Jogja ini. Namun secara umum kota ini menurutku mempunyai dua perguruan tinggi yang cukup menarik untuk diurai, diselami, dijejali, dieksplorasi atau apa saja yang mumungkinkan dapat tergelar hikmah atau pelajaran bagi siapa saja yang mau belajar dari kehidupan para pelajar di kota ini. Perguruan tinggi tersebut yang aku anggap sebagai perguruan tinggi menarik adalah UGM dan UIN. Keduanya adalah cerminan dari ratusan perguruan tinggi di kota Gudeg ini. Pernyataan ini bukan berarti mendiskriminasikan PT (Perguruan Tinggi) lainnya. Tapi hanya merupakan keterbatasan diriku dan sangat jauh dari motiv tindak profokatif.&lt;br /&gt;Aku memulai tadarusku pada catatan sebelumnya dari UGM. Banyak romantisme gelora cinta yang melebur pada kehidupan kampus. Aku akui hal itu cukup asyik, karena memang sangat sinkron dengan kedirianku saat ini sebagai manusia yang menginjak kepekaan-kepekaan bualan hangatnya cinta. Panorama tersebut cukup untuk membangkitkan pesona cinta yang bermuara birahi. Tapi aku tidak kehilangan control, sehingga panorama tersebut tetaplah ada di luar dimensiku dan tidak bisa mengusik kejernihan hati dan otakku. Semuanya tetap mengalir, sejernih air mengalir mengikuti lekukan-lekukan tanah, namun tetap menuju lembah hikmah yang aku cari.&lt;br /&gt;Setelah empat hari aku mentadarusi UGM, selanjutnya aku menyusuri sasaran menarik berikutnya yaitu, UIN. Kehidupan di UIN lebih akrab dengan jalan alam fikirku. Di sini aku banyak bersentuhan dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang yang sama denganku. Mahasiswanya banyak berangkat dari pesantren, kebiasaan santri terurai lebih dinamis setelah melebur dengan kehidupan kota. Walau seluruh penghuni UIN ini tidak lagi memakai sarung seperti lazimnya santri tradisional, namun dapat aku baca mereka tetap menyisakan warna-warna santrinya lewat kata dan idealisme mereka.&lt;br /&gt;Semarak keilmuan begitu sangat kental tumbuh berkembang di tengah-tengah para mahasiswa. Diskusi atau berbagai macam halaqotul ‘ilmi terlihat di pojok-pojok kampus. Terlihat cukup menarik, mencengangkan setiap mata yang melihat suasana tersebut. Pembicaraan para mahasiswanya tidak terlepas dengan konteks keintlektualan. Pemandangan ini satu sisi menghantarkan aku untuk mengacungkan jempol.&lt;br /&gt;Lazimnya kehidupan kota yang menyuguhkan banyak tradisi dan budaya, mahasiswa juga menjadi imbas dari dampak kemajemukan budaya tersebut. Satu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak muda yaitu, kehidupan pacaran. Tradisi ini walaupun di sebagian wilayah di negeri ini dianggap legal, namun tetap banyak menyisakan sayatan luka bagi pelakunya. Disadari atau tidak tradisi pacaran lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan dampak positif yang ditimbulkannya. Betapa banyak pelaku pacaran  yang kemudian harus berakhir dengan tragis. Ada yang diakhiri dengan lenyapnya virgin dari seorang wanita, kemudian ditinggalkan kering oleh pasangannya untuk mengejar buaian cinta lainnya.&lt;br /&gt;Tradisi ini sekilas nampak indah, seindah instrument  penghantar kedekatan dua sejoli yang sedang berproses pacaran. Ada kata seindah kata penyair tanpa pengakuan, ada hadiah tanpa kesejukan hati, ada rabaan romantis tanpa legalitas syar’i, semua terasa hambar bagai makanan tanpa garam yang tak mengenal rasa nyaman. Perjalanan proses pacaran ini terjadi dengan berbagai bentuk praktiknya. Seiring dengan majunya tekhnologi yang berkembang, proses ini terimplikasi lewat Short Message Service (SMS), Calling Phone, Chatting Room atau media apa saja yang memungkinkan terjalinnya cinta berbuih birahi. Tataran proses yang melewati media ini bisa dibilang masih wajar, dan kalau boleh aku bilang mereka pelaku pacaran pasif.&lt;br /&gt;Selain media tekhnologi di atas juga tergelar media Natural yang sedikit menggelitik dan membuat bulu roma berdiri. Berdiri karena ngeri dan di lain sisi berdiri karena normal. Media penghantar ini berupa Malioboro, taman kota, kraton, taman kampus, Mall, cafe bahkan kosan sekalipun, atau beberapa tempat indah lainnya yang memungkinkan bisa menggulingkan diri dan menumpahkan luapan cinta. Pada tataran ini aku sebut sebagai para pelaku aktif.&lt;br /&gt;Sebenarnya dua kalsifikasi di atas merupakan kesatuan dan mempunyai kerawanan yang sama serta berpotensi pada tindak zina. Kalau pada media Tekhnologi uraian cinta hanya lewat gulingan kata dan nada, pada media Natural sebagai kelanjutan dari yang pertama berupa gulingan badan dan sentuhan peka erotis yang dapat menghilangkan keseimbangan nilai kemanusiaan. Pada titik kilmaks inilah satu hal yang paling ditakutkan oleh siapa saja yang merasa menjadi manusia bermoral yaitu titik perzinahan. Apapun alasannya yang namanya pergumulan dua insan tanpa ikatan sakral keagamaan yang mencerminkan nilai kemanusiaan sekaligus pembeda antara manusia dan hewan, hubungan tersebut bernilai negative dan berdosa di sisi Tuhan.&lt;br /&gt;Gejala di atas aku dapati di kehidupan anak-anak UIN Jogja, walau wacana ini sebatas hipotesa sementara, namun gejala tersebut tetaplah kenyataan yang tidak bisa aku hindarkan sebagai bagian dari olah tadarusku dalam mengkaji setiap suguhan hidup ini. Kegelisahan dan rasa simpati yang mengharuskan aku mencatat guncangan nilai kemanusiaan ini untuk diperbincangkan di kalangan para ahli dalam mengatur pola hidup para mahasiswa muslim dan muslimah dalam berintraksi. Untuk itu suguhan kontemplasi ini bukanlah mencerca UIN sebagai institusi pendidikan, bagiku UIN tetaplah perguruan tinggi Islam yang diharapkan darinya lahir pejuang-pejuang Islam yang siap hidup bersama Islam hingga di penghujung sejarah ini. Selamat berjuang sobat &amp;amp; buanglah clitoris oriented serta beralihlah pada konsekwensi semual sebagai Tholibul ‘Ilmi. [ijan08]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-8625190186571627543?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/8625190186571627543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=8625190186571627543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8625190186571627543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/8625190186571627543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/09/tadarus-jogja-ii.html' title='TADARUS JOGJA II'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-819681482002383494</id><published>2008-09-03T00:05:00.001-07:00</published><updated>2008-09-03T00:36:30.331-07:00</updated><title type='text'>Tadarus Jogja 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini aku sempatkan untuk pergi ke warnet terdekat dengan tempat bermalamku di kota Gudeg. Sudah lima hari aku bersenggama dengan keramaian kota ini. Banyak hal baru yang mengajriku untuk berfikir,merenungkan atau bahkan sebatas menertawakan saja. Ada yang mengagumkan, tapi juga banyak hal yang membuat hatiku geli, gerah atau malah benci. Kota ini menyajikan banyak hal yang cukup kompleks.&lt;br /&gt;Aku diam di kawasan UGM yang merupakan salah satu perguruan ternamam di kota Jogja ini. Gedungnya besar, menawan, pokoknya indah tidak seperti tempat kuliahku yang kecil dan juga tidak ternama. Sejenak aku kagum dengan penampilan fisik dari perguruan tinggi tersebut. Aku hanya bisa bergumam "wow" saja. Namun hal itu tidak menjadikan akau harus tetap tercengang dalam kekaguman, tapi melainkan mengundang perasaan normalku sebagai seorang manusia untuk tahu lebih dalam di balik penampilan modis universitas megah ini.&lt;br /&gt;Lima hari aku membolak balikkan hamparan UGM sedikit aku mengenal kehidupan di kampus ini. Mahasiswanya yang datang dari seluruh penjuru propinsi menampilkan banyak karakter, sehingga kampus ini layaknya miniatur kehidupan pemuda di negeri ini. Mereka ada yang serius belajar, mencari ilmu namun tidak sedikit yang hanya menghamburkan duit orang tuanya di lorong-lorong penggoda nafsu birahi.&lt;br /&gt;Aku tidak ingin berlebihan, aku hanya ingin mengolah apa yang aku lihat lima hari ini di kampus ini. Hampir tiap waktu dan tempat aku disuguhi dengan kemesraan, cengkrama-cengkrama cinta sepasang pemuda dan pemudi yang memadu kasih terpampang di depan mata. Aku merasa risih, kadang aku harus malu sendiri untuk melihat adegan-adegan tersebut. Sebenarnya aku tidak ingin membohongi diriku sendir, sebagai manusia normal aku juga bisa berpotensi terjebak seperti mereka, tapi Tuhan Allah masih memberikan pilihan lain kepadaku sehingga sampai saat ini aku tetap mencerminkan sosok laki-laki yang bebas dar cengkraman rayuan gombal gadis-gadis pasaran.&lt;br /&gt;Aku berujar demikian bukan berarti menyalahkan mereka, tapi hanya menyayangkan jika waktu yang begitu luas itu hanya habis ditimang oleh rengkuhan-rengkuhan birahi. Karena sejauh yang aku lihat dan aku dengar, sangat sedikit diantara mereka yang memadu asmara kemudian berlanjut pada pernikahan. Faktanya, hanya berakhir dengan kerenggangan kemudian berpisah, lalu mencari gelaran asmara lain yang lebih panas dan hot.&lt;br /&gt;Gelaran kehidupan asmara kampus ini menjadi tadarus awalku di bulan suci ini. Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan atau mencemoohkan seseorang atau golongan tertentu, tapi itu hanya bagian kegiatan tadarusku mengkaji ayat-ayat tuhan yang terhampar luas di bumi ini. Harapanku semoga tadarusku di kota Gudeg ini bisa semakin membuatku bijak dalam menapaki kehidupanku di masa yang akan datang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bersambung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-819681482002383494?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/819681482002383494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=819681482002383494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/819681482002383494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/819681482002383494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/09/tadarus-jogja-1.html' title='Tadarus Jogja 1'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-1255201184600204075</id><published>2008-08-18T21:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-18T21:47:11.549-07:00</updated><title type='text'>BYE AL-AMIEN.........!!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku terlahir di Pulau terpencil, namun hampir separuh hidupku tinggal di Pesantren. Pesantren Al-Amien Prenduan aku pilih sebagai tempat meremajakan dan mendewasakan diriku. Selepas studiku di Sekolah Dasar, aku menjadi salah satu santri dari pesantren tersebut, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan studi di perguruan tinggi di pesantren ini juga. Apa yang ada pada diriku saat ini adalah bagian wajah kecil dari Al-Amien. Walaupun aku bukanlah profil alumni yang sempurna, tapi aku berusaha mencapai kesempurnaan tersebut dengan beberapa kelemahan yang harus aku benahi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; rasa sesal, bangga, khauf, roja’ serta sekian banyak ekspresi seorang pemuda normal yang akan terjun pada kehidupan sesungguhnya. Hiruk pikuk kehidupan nyata dalam hitungan hari akan aku hadapi. Wajah kehidupan yang sangat kompleks akan menjadi bagian dan titian hidupku. Tahun ini menjadi tahun terakhirku di Al-Amien. Aku harus tinggalkan Al-Amien secara fisik, tapi semangat dan ruh Al-Amien akan terus aku bawa sebagaimana dia dulu dengan semangat membangun diriku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak kesan, kenangan yang tak bisa aku tumpahkan lewat kata, numun aku berusaha menjaring hikmah dari pengalaman masa laluku lewat suka, duka, tawa, air mata serta sederetan panjang lilitan sejarah perjalanan hidupku. Walau tidak ada catatan emas sepanjang perjalananku di Al-Amien, tapi aku yakin wejangan para kiai dan ustadz senantiasa diharapkan mampu menggerakkan hatiku untuk selalu dinamis menyungongsong masa depan. Bagi mereka hanya ucapan &lt;i&gt;terima kasih, syukron, thanks &lt;/i&gt;atau kata apa saja yang menggantikan kata terdalam terima kasih hatiku. Tanpa bimbingannya aku tidak akan bisa sperti sekarang. Terima kasih&lt;i&gt; kiai, ustadz, teman-teman serta semua orang yang menjadikan aku dewasa.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kini aku harus mandiri tanpa mereka lagi. Aku harus mampu berdiri bahkan harus lari menapaki tangga-tangga kehidupan yang menjulang. Kehidupan ini aku anggap adalah tangga, sehingga nantinya aku harus naik bukan hanya berjalan datar. Beberapa hari ke depan aku menapaki tangga pertama, namun setelahnya aku harus menaiki tangga berikutnya, demikian seterusnya hingga akhirnya aku sampai di puncak mengibarkan bendera Islam, Islam yang dapat menaungi semua golongan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semua itu adalah target dan aturan main hidupku. Aku tidak peduli orang lain akan bicara apa, yang jelas aku tetap hidup layak dan tidak tergantung sama mereka. Aku harus menjadi diriku dengan kelebihan dan kekuranganku. Sebenarnya aku tidak pernah menganggap adanya kekurangan. Rumusan hidup bagiku adalah, semua yang ada di hadapanku adalah potensi yang harus dijejali dan digali hingga akhirnya mewujudkan angan dan cita. Hanya waktu, kesempatan, usaha dan kemauan yang bisa merubah kelemahan menjadi kelebihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selebihnya aku tidak lupa untuk selalu tunduk bersujud di depan sang Penguasa Jagad Tuhan Allah SWT. Antara Tuhan dan aku adalah wujud realitas konkrit hidupku. Aku punya super power luar biasa yang akan menuntunku, sehingga kemungkinan komplektifitas tantangan hidup akan menjadi tantangan menarik yang akan membangkitkan kejantananku untuk terus maju dan dinamis. Al-Amien dan masa laluku tetap kukenang, sedangkan saat ini dan masa depan adalah kesuksesan yang akan aku raih. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Good bye Al-Amien and Welcome kehidupan baru&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-1255201184600204075?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/1255201184600204075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=1255201184600204075' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1255201184600204075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/1255201184600204075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/08/bye-al-amien.html' title='BYE AL-AMIEN.........!!'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6297740122758656096</id><published>2008-08-17T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T00:26:41.003-07:00</updated><title type='text'>REFLEKSI KEMERDEKAAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Enam puluh tiga tahun yang silam bangsa ini mulai bangkit menapaki lorong kemerdekaan yang dibangun oleh para pemudanya. Waktu itu suara Bung Karno mewakili seluruh rakyat negeri ini menyuarakan tekat kemerdekaan. Tepatnya Tanggal 17 Agustus 1945 itulah seluruh rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bersuara yang sama lewat dentuman kata-kata proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno sang Proklamator. Tanpa terasa pagi ini 17 Agustus 2008 aku ikut menyimak isi dari proklamasi tersebut. Walau tidak persis sama dengan konteks 63 tahun yang lalu, tapi aku dapat merasakan bahwa negeri ini adalah milik bersama yang harus dijaga dari berbagai macam bentuk penjajahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penuh hidmat aku mengikuti upacara HUT kemerdekaan negeri ini di depan Puspagatra (Pusat Gagasan dan Kreativitas Santri TMI Putra) mulai awal hingga akhir acara. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; rasa nasionalis yang tumbuh dalam diri. Sesekali aku lihat orang-orang di sekitarku begitu khusuk mengikuti acara ini, pertanda mempunyai kesamaan rasa dengan apa yang aku rasakan. Dalam hati ada dialog bentangkan berbagai persoalan Negeri ini yang tak kunjung habis. Walau sebelumnya aku bukanlah pemerhati sejati laju perpolitikan, tapi secara garis besar laju perpolitikan bangsa ini masih mempunyai banyak kekurangan yang menjadi tanggung jawab kita bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Entah sebuah kekurangan atau merupakan tabiat dari bangsa ini, dalam usia kemerdekaanya yang lebih dari separuh abad, masih tersisa berbagai persoalan terkait pada bentuk penjajahan. Sudah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kali bangsa ini mengganti pemimpinnya, tapi persoalan &lt;i&gt;makan-memakan&lt;/i&gt; (yang kuat memakan yang lemah) terus saja berjalan dengan berbagai macam tipologinya. Kalau masa Belanda dahulu bangsa ini dijajah secara nyata oleh Bangsa lain, tapi sekarang lahir penjajahan tipe baru dan keganasannya jauh lebih kejam dari penjajah sebenarnya. Kekayaan Negeri ini dikuras untuk kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga menyisakan luka dan duka di tengah-tengah rakyatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Derita bangsa ini terus berlanjut memunculkan banyak gesekan di tengah-tengah rakyatnya. Pada tahun 1998 muncul gerakan Reformasi yang memunculkan percaturan babak baru dari perjalanan Negeri ini. Sejenak rakyat cukup gembira dengan beberapa perubahan yang mengarah pada perbaikan. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena persoalan lama mencuat kembali dengan tipologi yang berbeda. Negeri ini kembali digegerkan dengan beberapa kasus pengerukan kekayaan Negara oleh para pemimpinnya. Laju kemerdekaan yang menjanjikan rakyat aman sentosa menjadi isapan jempol belaka, bahkan yang tersuguhkan adalah luka dan luka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Luka borok terus berlanjut. Berbagai macam kesusahan silih berganti. Penderitaan yang satu hilang, datang penderitaan yang lain, begitu terus keadaan bangsa ini yang semakin tidak karuan. Rakyat diajak berkelana dalam penderitaan dan luka. Berbagai macam sisi mencekik ketenangan rakyat. Kegelisahan menjadi menu utama tiap hari. Keadaan ekonomi mencekik rakyat dengan melonjaknya harga BBM yang berimbas pada naiknya barang-barang lainnya. Rakyatpun semakin &lt;i&gt;teler&lt;/i&gt; tak mampu hidup layak sehingga lahirlah berbagai macam bentuk krisis lainnya yang lebih berbahaya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika hal itu terus berlanjut, maka pada suatu saat rakyatpun akan semakin gerah. Sehingga pada kegerahan yang sangat gerah akan memunculkan sikap anarkis yang berakibat pada pelecehan terhadap pemerintahan Negeri ini. Artinya segala bentuk keputusan yang diambil oleh para pemimpin Negeri ini tidak akan diindahkan lagi oleh rakyat. Wibawa pemerintahan akan diinjak-injak oleh rakyat yang gerah. Mereka akan menuntut kemerdekaan. Kemerekaan yang sebenar-benarnya yang memberikan kebebasan serta kedamaian bagi rakyatnya. Kalau seandainya ini yang terjadi kemungkinan besar nanti anak cucuku atau anak cucuk Anda tidak akan lagi memperingati HUT kemerdekaan tanggal 17 Agustus, tapi akan beralih pada tanggal yang lain dimana mereka memuntahkan kegerahannya karena ulah para pemimpinnya yang rakus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau hal di atas hanya sebuah prediksi kosong tapi kenyataan tetaplah tanda tanya yang menyuguhkan kemungkinan. Bukti sejarah yang berkaiatan dengan kegerahan tersebut sangat banyak, dan yang paling berkaitan dengan persoalan bangsa ini telihat dari berbagai aksi gerakan kemerdekaan yang akhir-kahir ini muncul di tengah-tengah kita. Dari yang paling barat &lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt; di Aceh ada GAM, kemudian di derah timur &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ada gerakan Maluku merdeka, kemungkinan di daerah lain juga akan ada gerakan yang serupa, jika para pemimpin ini tetap tidak mau puas dengan &lt;i&gt;duit.&lt;/i&gt; “&lt;b&gt;Wahai para pemimpin yang terlaknat Berhentilah mengeruk kekayaan negeri ini, jika tak ingin HUT kemerdekaan ini akan berubah !!!”. &lt;/b&gt;[ijan]&lt;b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6297740122758656096?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6297740122758656096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6297740122758656096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6297740122758656096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6297740122758656096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/08/refleksi-kemerdekaan.html' title='REFLEKSI KEMERDEKAAN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-5067519612732024539</id><published>2008-08-14T18:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T18:46:11.396-07:00</updated><title type='text'>EXPLORASI JIMAT DALAM TINJAUAN ANTROPOLOGI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pengertian Jimat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagian ini merupakan bagian penting sebelum pembahasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lainnya. Karena pada bagian ini akan dijelaskan apa sebenarnya jimat pada tataran teoritis. Menjadi penting, karena pembahasan berikutnya akan tidak jelas tanpa lebih dulu mengetahui makna dari jimat tersebut. Pembahasan sengaja ditilik dari hal yang paling luas agar nantinya bisa didapatkan pengertian yang valid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebelum mengeskplorasi labih jauh tentang fenomena jimat maka langkah awal yang tepat adalah mencoba memahami jimat dari sisi pengertiannya. Hal ini menjadi penting karena jimat bukanlah benda yang hanya bersifat fisik, namun dibalik yang nampak terdapat ada kekuatan yang sifatnya metafisik yang diyakini oleh para penggunanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam mencari makna jimat yang relatif konkrit dan tepat perlu kiranya menarik dari istilah yang jauh lebih luas dari sekadar jimat. Istilah yang sering digunakan oleh orang dalam hal yang berbau metafisik adalah mistik. Mistik ini merupakan istilah terluas dari jimat. Secara bahasa mistik berasal dari bahasa Yunani yaitu, &lt;i&gt;Mystikokos &lt;/i&gt;yang artinya rahasia &lt;i&gt;(geheim)&lt;/i&gt; serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman (Wikipedia, 2008: Tanpa halaman). Menempatkan mistik sebagai istilah yang menaungi jimat cukup tepat, karena jimat juga menyimpan sesuatu yang rahasia. Pada pendapat lain dikatakan bahwa mistik adalah, penyatuan total dengan realitas yang lebih tinggi (Chodjim, 2003:300).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari arti di atas maka mistik berarti adanya sesuatu yang terselubung dan rahasia yang bersatu total dengan realitas tinggi atau dalam hal ini adalah Tuhan. Pengertian tersebut sangat terkait dengan fakta hidup yang hampir ada pada lini strata sosial masyarakat luas. Dalam kehidupan nyata banyak ditemukan di masyarakat sebuah kepercayaan terhadap adanya kekuatan, namun kekuatan tersebut tidak bisa dipantau secara inderawi. Termasuk kepercayaan tentang adanya kekuatan gaib pada sebuah benda tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Benda-benda yang diyakini mempunyai kekuatan gaib banyak dicari orang sebagai barang pegangan. Barang pegangan yang mempunyai kekuatan tersebut, orang jawa menyebutnya sebagai jimat (Suyono, 2007 : 236). Kekuatan gaib yang terdapat pada benda tersebut kemudian diyakini oleh para pemiliknya dapat membantu mengatasi permasalahan hidup (Sukarto, 2007:241).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jimat dalam bahasa Arab disebut dengan &lt;i&gt;Tamimah&lt;/i&gt; yang berarti pernik-pernik yang digantung, yang diyakini dapat memberikan manfa’at agar terhindar dari bencana (Qordlawi, 2003 : 151). Dalam hal ini orang berkeyakinan bahwa di dalam barang atau benda yang berupa jimat tersebut diyakini mempunyai kekuatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pendapat lain ada yang mengatakan kalau jimat adalah, sebuah benda yang dianggap mempunyai kekuatan sebab akibat yang tidak masuk akal pikiran. (Hasyim, 1975: 207). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Setelah mengurai dari istilah terluas serta pendapat dari berbagai orang, maka dapat disimpulkan bahwa jimat adalah benda dengan berbagai macam bentuknya yang diyakini mempunyai kekuatan supranatural di luar jangkaun pikir manusia, serta diyakini dapat membantu menyelesaikan persoalan hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;B. Jimat dalam Praktik Dagang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada bagian ini akan dijelaskan bagaimana jimat sebagai barang yang diyakini mempunyai kekuatan yang digunakan oleh para pedagang dalam praktik dagangnya. Penelusuran yang akan menjadi bahasan pada bagian ini akan dimulai dari yang paling luas hingga pada bagian-bagian yang semakin konkrit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Dalam arti lain manusia dalam kehidupannya selalu hidup berdampingan, maka dengan keadaan yang seperti itu akhirnya manusia menghasilkan budaya. Hal ini sesuai dengan tiga fungsi manusia dalam hidupnya yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai makhluk Tuhan, individu dan sosial-budaya (Setiadi dkk, 2005 : 48).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Disebutkan di atas bahwa budaya bagian dari fungsi manusia. Sedangkan budaya sendiri mempunyai cakupan yang sangat luas dan terus berkembang. Budaya adalah keseluruhan yang sangat kompleks yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian moral, hukum dan adat istiadat (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Taylor&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 2008: tanpa halaman). Dalam pengertian ini terdapat poin yang menunjukkan pada sistem kepercayaan. Pada poin ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan manusia pasti ada sebuah kepercayaan yang menjadi pola atau pegangan hidupnya. Kepercayaan tersebut bisa berupa kepercayaan kepada Tuhan atau hal-hal lain di luar dunia fisik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam budaya itu terdapat empat unsur penting salah satunya adalah sistem ekonomi (Kovits, 2008: tanpa halaman). Selain dari apa yang tersebut sebelumnya, sistem ekonomi juga menjadi bagian dari budaya. Sistem ekonomi yang paling dekat pada dunia riil yang bisa diamati setiap hari adalah, perilaku perdagangan yang terjadi diantara manusia. Perilaku perdagangan tidak bisa dipungkiri sebagai bagian dari sistem ekonomi yang selama ini sudah ribuan tahun berjalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sistem kepercayaan dan sistem ekonomi merupakan bagian kecil dari sekian banyak budaya yang kompleks yang berkembang di tengah-tengah manusia. Dari setiap bagian yang ada mempunyai relefansi yang dekat, sehingga memungkinkan adanya titik temu yang bisa diungkap ke permukaaan. Begitu juga dengan kepercayaan serta sistem ekonomi juga bisa ditemukan titik relefansinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Untuk memudahkan menemukan titik relefansi diantara keduanya maka tidak bisa dielakkan lagi pembahasan ini harus feed back pada sejarah dari manusia itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa manusia juga berfungsi sebagai makhluk Tuhan. Makhluk tuhan disini berarti bahwa, manusia mempunyai kecenderungan mempercayai Tuhan, fakta konkrit ini biasa tertuang dalam bentuk agama. Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan gaib (Agus, 2005: 1). Jadi jauh beribu-ribu tahun yang lalu manusia sudah mempunyai kepercayaan terhadap kekuatan di luar fisik. Kepercayaan tersebut dalam sejarah nenek moyang kita tertuang dalam bentuk kepercayaan animisme dan dinamisme (Wikipedia, 2008: Tanpa Halaman).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kepercayaan nenek moyang dalam bentuk di atas walau tidak disebut sebagai agama, namun substansinya sama dengan agama itu sendiri. Persamaan yang ada di dalamnya adalah, adanya ritual dan anggapan akan adanya kekuatan gaib yang menempati suatu benda. Pengakuan adanya kekuatan gaib ini bermakna agama yang merupakan gejala universal dari manusia secara umum, begitulah yang diakui oleh Begrson (Agus, 2005: 3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kepercayaan pada dunia luar menjadi keunikan mendasar dalam kehidupan manusia. Pada masyarakat primitif, kepercayaan menjadi sistem yang terpadu dengan segala aspek kehidupan lain (Agus, 2005: 9). Artinya segala aspek kehidupan manusia dari yang paling kecil hingga pada hal yang paling besar berada pada tatanan kepercayaan atau agama. Tradisi ini kemudian direduksi oleh masyarakat kita saat ini termasuk dalam dunia dagang. Dalam dunia dagang muncul sebuah kepercayaan terhadap kekuatan di luar yang fisik atau supranatural yang diyakini dapat membantu profesi mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kepercayaan kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunia supranatural dari zaman manusia dahulu hingga saat ini akan terus berlangsung. Sebagi contoh berikut survei yang dilakukan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Australia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Amerika Serikat 80 % penduduknya mengaku memiliki satu atau lebih keyakinan metafisika (Daruputra, 2007: 21). Fakta ini cukup untuk dijadikan sebagai pijakan tentang kehadiran kepercayaan pada dunia supranatural di zaman modern saat ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Fakta riil di atas bisa dilihat dari beberapa fenomena yang terungkap. Diantaranya adalah kepercayaan terhadap kekuatan pada benda. Benda tersebut kemudian dikenal dengan azimat atau jimat. Azimat ini sangat populer diperjual belikan antara dukun dan kliennya (Daruputra, 2007: 32). Keberadaan jimat di tengah-tengah masyarakat cukup dikenal dan dalam praktiknya juga telah melebur pada setiap sisi kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai macam dukun yang mengeluarkan jimat. Dunia dagang pun juga mengenal hal tersebut, salah satu dukun yang mengeluarkan jimat dengan kegunaan pada bidang ekonomi adalah, dukun pesugihan (Daraputra, 2007: 113). Adanya dukun pesugihan ini, menunjukkan kalau praktik perdagangan sangat berkaitan dengan jimat, jadi jimat mempunyai peran dalam dunia dagang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa jimat menjadi bagian dari kehidupan dagang. Fenomena yang terangkat dari fakta riil serta dari sejarah dan budaya menjadi hal yang tak terbantahkan bahwa jimat sampai saat ini masih jadi &lt;i&gt;life style &lt;/i&gt;dari perilaku perdagangan. Karena antara budaya dan kepercayaan selamanya akan tetap menjadi bagian dari hidup manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;C. Fenomena Jimat dalam Tinjauan Antropologi Agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pembahasan pada sub ini akan lebih ditekankan pada posisi jimat dalam kajian Antropologi Agama. Namun akan dimulai dari beberapa penjelasan pengantar dari kajian Antropologi Umum guna mengantarkan pada pemahaman yang jelas serta agar didapat akar teoritis dari kajian fenomena ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Gejala pengunaan jimat merupakan salah satu gejala produk dari budaya yang berkembang di tengah-tengah kehidupan manusia. Gejala riilnya sudah dijelaskan pada sub di atas. Sebelum fenomena tersebut menjadi populer lalu kemudian menjadi sebuah budaya. Fenomena tersebut berangkat dari perseorangan. Untuk itu fakta ini tidak salah jika ditempatkan pada ruang lingkup pembahasan Antropologi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Antropologi berasal dari dua kata Yunani yaitu, &lt;i&gt;Anthropos &lt;/i&gt;yang berarti manusia, dan &lt;i&gt;logos&lt;/i&gt; yang berarti kajian. Jadi, dalam arti yang lebih luas Antropologi berarti kajian tentang manusia baik yang masih hidup atau yang sudah mati, yang sedang berkembang ataupun yang sudah punah. (Coleman, 2005: 8). Demikian cukup luas kajian Antropologi mengenai manusia dengan segala aspeknya. Pada tataran pembahasan ini yang dimaksudkan adalah, fenomena jimat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Antropologi dengan cakupannya yang begitu luas mempunyai pembagian sebanyak tiga kelompok besar yaitu, Antropologi Fisik, Antropologi Budaya serta yang terakhir Antropologi Linguistik (Huky, 1994 : 16). Tiga kelompok besar ini membawahi berbagai macam bagian kecil. Hirarki kalsifikasi ini ternyata akhir-akhir ini mengalami perkembangan sehingga Antropologi tidak hanya terbagi menjadi tiga bagian saja. Perkembangannya memunculkan dua bidang garapan baru yaitu Antropologi Politik dan Hukum (Coleman, 2005: 10). Sedangkan bagian baru yang kedua adalah Antropologi Agama (Coleman, 2005: 130).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pembagian Antropologi seperti yang disebutkan di atas mempunyai cakupan pembahasan dan batasan-batasan yang jelas. Sehingga di dalamnya tidak memungkinkan adanya kerancuan, kemudian jika dikorelasikan dengan fenomena jimat, maka jimat bisa ditilik dari dua bagian Antropologi yang berbeda. Jimat sebagai produk dari budaya menjadi garapan dari Antropologi Budaya, sedangkan jika kehadiran jimat dilihat dari sisi kepercayaan maka jimat masuk pada bidang garapan Antropologi Agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Agar lebih konkrit dalam memetakan posisi jimat dalam kajian Antropologi, maka perlu kiranya mengkomparasikan antara gejala yang berbentuk budaya dengan gejala kepercayaan. Maka dalam hal ini perlu adanya diskusi mendalam dalam memahami dua gejala tersebut. Sebagai langkah yang bijak, perlu penelusuran dari dua unsur gejala tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Budaya merupakan sebuah karya dari manusia. Budaya menurut Coon adalah jumlah menyeluruh dari cara-cara dimana manusia tinggal dari generasi yang satu ke genarasi yang lain (Huky, 1994: 64). Artinya budaya hanya sebatas karya dari pola pikir manusia yang terealisasi dalam bentuk perilaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kemudian pada sisi yang kedua bisa dilihat dari uraian mengenai kepercayaan yang terurai dalam agama. Agama merupakan sifat esensial manusia (Morris, 2007: 21). Selain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu agama juga sebagai watak esensial manusia (Morris, 2007: 22). Jadi segala bentuk macam kepercayaan, baik yang sudah terealisasi dalam bentuk agama ataupun hanya sebatas kepercayaan merupakan satu hal yang paling esensi dalam diri manusia sebelum yang lainnya. Kepercayaan bukan sebuah karya, tapi bisa dikatakan sebagai sifat bawaan sejak lahir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dua sisi dari fenomena jimat di atas sudah terurai, kini tinggal mebandingkan mana yang lebih dominan diantara keduanya. Kalau yang pertama berupa hasil produk yang tertuang dalam bentuk perilaku, pada sisi kedua yaitu dari kepercayaan yang merupakan watak atau sifat esensi dari diri manusia. Artinya sisi tinjauan Antropologi Agama lebih dominan, karena sifat dan watak datang lebih awal dari pada perilaku. Dalam maksud yang lebih konkrit, setiap manusia dalam berkarya atau beperilaku berangkat dari wataknya atau kebiasaan bawaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari penjelasan simpel di atas akhirnya melahirkan sebuah kesimpulan bahwa perilaku jimat lebih dekat dan tepat sebagai bagian dari kajian Antropologi Agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Motivasi Penggunaan Jimat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Setelah menetapkan jimat sebagai bagian Antropologi Agama, maka dalam poin ini akan diuraikan motivasi penggunaanya dilihat dari sudut pandang Antropologi Agama. Uraian pada kajian ini berangkat dari pandangan-pandangan umum kemudian mengkrucut pada pembahasan yang lebih konkrit dan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mengakui adanya kekuatan gaib merupakan pengakuan universal manusia (Agus, 2006: 3). Jadi berkepercayaan merupakan pembawaan murni dari seorang individu. Kepercayaan tersebut tentunya sebuah kepercayaan yang bersentuhan dengan hal yang gaib atau metafisik. Seperti yang terjadi pada fenomena penggunaan jimat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Manusia memang tidak akan lepas dari hal yang berbau metafisik. Keberadaan manusia saja dibentuk oleh hal yang fisik biasa dsebut dengan badan, dan metafisik yang biasa disebut dengan rohani. Pada sisi roh inilah manusia dapat dibedakan dengan makhluk lainnya. Karena pada sisi ini terdapat tipe yang bercorak ilahi (Bakker, 2000: 97). Berangkat dari material ini manusia akhirnya mempunyai kecenderungan untuk selalu bertatutan dengan dunia di luar manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dunia di luar manusia itu merupakan daerah kelam yang tidak bisa disentuh dengan pengamatan fisik. Untuk area ini orang menyebutnya sebagai mistik. Dalam aplikasinya pada kehidupan riil menurut Van Herringen dalam bukunya Nederlands Woordennboek 1948, dia menyatakan bahwa mistik adalah adanya kontak manusia di bumi &lt;i&gt;(aardse mens)&lt;/i&gt; dan Tuhan (Wikipedia, 2008: tanpa halaman). Kontak yang dimaksudkan disini adalah bentuk kesadaran manusia yang berangkat dari tipe ilahi yang menjadi material pembentuknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mensejajarkan fenomena jimat pada fenomena agama secara umum merupakan keterkaitan yang cukup dekat. Seperti apa yang tertulis dalam sejarah panjang kehidupan manusia, yaitu mengenai tentang kehidupan nenek moyang kita dahulu. Mereka berangkat dari kesejajaran nilai badan dan roh ilahiahnya serta dengan kesadaran universalnya mengakui adanya kekuatan di luar mereka. Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan, kala itu nenek moyang kita mengekspresikannya dengan mendatangi dan menyembah pohon-pohon besar yang dianggap di dalamnya terdapat kekuatan luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Gambaran di atas mencerminkan bahwa secara umum nenek moyang kita percaya pada dinamisme dan animisme (Daraputra, 2007: 20). Bentuk kepercayaan nenek moyang kita merupakan bagian dari fitrah dia sebagai seorang manusia yang disebut dengan ekspresi relegius (Agus, 2006: 5). Bentuk kepercayaan ini tereduksi pada perilaku penggunaan jimat yang merupakan benda yang diyakini mempunyai kekuatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Semua uraian di atas kemudian melahirkan sebuah kesimpulan bahwa motivasi penggunaan jimat adalah bentuk ekspresi relegius murni seorang individu yang berangkat dari kelemahannya untuk meminta pertolongan lewat dimensi-dimensi pengantar yang berupa jimat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bentuk dan kegunaan Jimat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kehadiran jimat sebagai benda yang mempunyai kekuatan sudah diakui oleh banyak orang. Pada sub bahasan ini akan diulas bagaimana Antropologi Agama menempatkan posisi jimat sebagai sebuah benda yang bermuatan mistik. Berikut ulasan mengenai jimat pada aspek bentuk yang dihantarkan melalui berbagai sisi. Hal ini dilakukan agar nantinya melahirkan kesimpulan yang memuaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berawal dari keyakinan animisme dan dinamisme banyak diantara masyarakat umum yang masih menyimpan beberapa pusaka yang dianggapnya mempunyai kekuatan serta dapat berpengaruh pada sukses dan gagalnya usaha manusia (Daruputra, 2007: 25).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada masyarakat Jawa mereka lebih banyak menggunakan keris sebagai barang pegangan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sebuah kepercayaan Jawa yang dilekatkan pada keris sebagai barang pegangan yaitu mnifestasi do’a, harapan dan cita-cita atau disebut dalam bahasa Jawa dengan &lt;i&gt;‘sipat kandel’&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada keris tersebut (Bangunjiwo, 2007: 20). Orang Jawa begitu cukup dekat dengan keris hingga harapan dan do’a mereka lekatkan pada keris, sebuah kepercayaan yang kemudian menjelma menjadi budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menurut orang Jawa jimat mempunyai bentuk yang beragam, namun secara umum jimat itu berupa lembaran tipis dengan panjang kurang lebih 10 cm dan lebar 4 cm. Lembaran tersebut kemudian ditulisi beberapa huruf atau mantra yang hanya diketahui oleh pemiliknya (Suyono, 2007: 236).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Begitu sangat beragam bentuk jimat, diantaranya juga disebutkan yaitu, batu akik, keris, tomba, rajah (transkip tertulis) dan lain-lain (Daruputra, 2007: 32). Jadi jimat pada sisi bentuk fisiknya tidak mempunyai bentuk yang permanen. Sangat beragam, namun kekuatan supranatural yang ada pada benda tersebut tetap ada sejalan dengan keyakinan yang ada pada masing-masing penggunanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari bentuk fisik jimat seperti terurai di atas, Antropologi mempunyai persepsi yang berbeda terhadap jimat dalam segi bentuk. Antropologi menyebutnya sebagai benda sakral atau suci (Agus, 2006: 80).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebutan ini terlepas dari pengertian bentuk fisiknya, tapi apa yang dianggap oleh orang pada benda tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sakral menurut Roger Cailois adalah, sejenis perasaan relegius yang ditempatkan pada suatu benda (Agus, 2006: 81). Jadi benda sakral yang kali ini adalah jimat, merupakan benda yang diletakkan padanya sebuah perasaan relegius terkait pada keuatan supranutural yang terdapat di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada bentuk fisiknya jimat sebenarnya adalah benda biasa, namun ketika benda tersebut dimasuki oleh perasaan relegius nilai benda tersebut berubah. Eliade mendeskripsikan hal ini sebagai bentuk transformasi dari yang profan menjadi sakral (Pals, 2006: 242). Artinya pada sisi fisiknya jimat hanya berupa benda biasa layaknya benda yang lain, kemudian menjadi wujud baru ketika ditempati perasaan relegius tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Benda-benda yang mengalami tranformasi tadi dalam bahasa Eliade disitilahkan dengan benda-benda imajinatif atau simbol (Pals, 2006: 244). Simbol-simbol tersebut kemudian dikaitkan pada yang di atas atau Tuhan, kemudian termanefestasi pada bentuk kehidupan riil (Pals, 2006: 252)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jimat sebagai wujud benda yang mengalami tranformasi bernilai simbol yang menghubungkan dengan kekuatan Tuhan yang diletakkan padanya. Manifestasi konkritnya adalah manusia menggunakannya dalam kehidupan riil dengan mempercayai dapat membantu kehidupannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Penggunaan kekuatan untuk kepentingan dunia disebut dengan magi (Wach, 1992: 80). Jimat sebagai sebuh simbol imjinatif dari adanya kekuatan suprantural menjadi sandaran manusia untuk mengatasi hidupnya. Menurut Frazer hal itu merupakan karakter dari manusia yang berkepercayaan (Agus, 2006: 126).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Penjelasan di atas cukup singkat namun cukup untuk memberikan penjelasan konkrit tentang bentuk jimat dan kegunaannya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa jimat dalam bentuk fisiknya bermacam-macam, namun dilihat dari ssisi Antropologi Agama adalah benda sakral dan simbol imajinatif dari kekuatan supranatural. Pada sisi kegunaannya jimat dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan hidup, layaknya benda sakral dan simbol lain yang ada. Dalam hal kegunaan, Antropologi Agama tidak mengulas secara konkrit tetapi hanya disebutkan dapat membantu permasalahan duniawi yang disitilahkan dengan magi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;D. Kesimpulan Teoritis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada ulasan yang terakhir ini akan dijelaskan kesimpulan dari tiga sub di atas sebagai penyimpul umum sekaligus temuan dari kajian teoritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Fenomena jimat merupakan fenomena yang cukup unik. Didalamnya tedapat hal-hal penting yang perlu diperhatikan lebih dalam. Uraian atau paparan di atas mengenai fenomena jimat terasa cukup jelas, sehingga kemudian menghasilkan beberapa kesimpulan teoritis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dapat disimpulkan bahwa fenomena jimat dilihat dari sisi istilah mempunyai arti benda dengan berbagai macam bentuknya yang memiliki kekuatan luar biasa. Sedangkan jika dikaitkan pada dunia dagang jimat diakui dapat memberikan kemaslahatan dalam dunia dagang. Kemudian yang terakhir ketika ditinjau dari sisi Antropologi Agama maka fenomena dapat disimpulkan menjadi tiga bagian besar yaitu sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 68.25pt; text-align: justify; text-indent: -32.25pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Motivasi penggunaanya merupakan ekspresi relegius murni seorang manusia yang berangkat dari kelemahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 68.25pt; text-align: justify; text-indent: -32.25pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bentuknya secara fisik sangat beragam, namun pada tataran fenomena yang nampak dalam kajian ini diistilahkan dengan benda sakral dan simbol imajinatif dari kekuatan supranatural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 68.25pt; text-align: justify; text-indent: -32.25pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sedangkan kegunaannya dapat membantu manusia dalam ururusan dunia sebagaimana kegunaan benda sakral dan simbol yang lain lewat praktek magi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Antroplogi Agama menilai fenomena ini sebagai agama baru yang belum disadari oleh penganutnya. Pernyataan ini sesuai dengan kajian Antropologi Agama yang menyatakan bahwa setiap kepercayaan yang sudah mempunyai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; aspek dasar sebuah agama disebut dengan agama. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; aspek dasar agama yaitu, kepercayaan pada kekuatan gaib, ada unsur sakral, ada umat yang menganutnya, ritual serta yang terakhir ada unsur mistisme dan keyakinan. (Agus, 2007: 61-106). &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; aspek ini tereduksi pada fenomena penggunaan jimat. Berdasar pada teori inilah pandangan Antropologi Agama tersebut berpijak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:12;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-5067519612732024539?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/5067519612732024539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=5067519612732024539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5067519612732024539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/5067519612732024539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/08/explorasi-jimat-dalam-tinjauan.html' title='EXPLORASI JIMAT DALAM TINJAUAN ANTROPOLOGI'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-6307471731261141353</id><published>2008-08-14T18:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T18:35:53.426-07:00</updated><title type='text'>HIDUP ADALAH PERBUATAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Penyusunan skripsi sudah berakhir. Kini datang sebuah babak baru yang lebih menantang dan lebih rumit dari sekadar penyusunan skripsi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; rasa gerah dalam diri, babak baru itu memberikan beberapa prediksi yang sering membuat langkah terhenti. Tapi waktu akan terus bergulir menggiring diri melewati kenyataan tersebut. Salah satu problem umum yang sering menimpa seseorang pada level ini adalah muncul dari sebuah pertanyaan mendasar. “Mau kemana setelah kamu diwisuda atau setelah sarjana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Deskripsi di atas sebuah gambaran yang terjadi di tengah-tengah angkatan sarjana baru, kemudian muncul sebuah problem semacam kekhawatiran untuk mengarungi kehidupan, yang ditumpahkan lewat kegerahan perasaannya dengan pertanyaan di atas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kegerahan tersebut menjadi semakin alot ketika didialogkan dengan hati dan keseluruhan diri. Antara kemampuan dan fakta menjadikan pertanyaan tersebut semakin bertambah besar. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; rasa takut selimuti diri, ada kepercayaan diri menggiring langkah agar terus maju lewati kegerahan tersebut. Walau pada tataran fisik keriangan dan kegembiraan tetap mengumbar, hal itu hanya sebagai bukti efek kemanusiaan sebagai orang yang baru lolos dari sebuah persaingan yang cukup ketat dalam sekian kegiatan perkuliahan. Namun dibalik itu pertanyaan di atas tetap akan menjadi bagian tak akan terlewati begitu saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Walau gejala ini bukanlah yang pertama dalam sejarah kehidupan manusia, tapi tetap menjadi gejala paling monomental dalam sejarah seorang individu yang mengalami taransisi menuju kehidupan yang sesungguhnya. Masa transisi ini adalah masa yang paling menentukan. Jika berhasil melewati kegerahan dan kegetiran yang tersuguhkan maka langkah selanjutnya bisa dipastikan akan terlewati dengan lancar. Tapi jika tidak berhasil, maka kegelisahan itu akan membawa pada kehancuran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disadari atau tidak kegerahan di atas disebabkan oleh sebuah suguhan kehidupan yang serba instan sebelum orang tersebut menapaki masa transisi ini. Kebiasaan menikmati, memakan, memakai yang sudah tersedia melupakan akan adanya kehidupan yang mengharuskan sebuah kerja keras dan keseriusan. Kehidupan kampus yang penuh dengan teori kadang menjadikan seseorang idealis sehingga sulit untuk diajak realistis, pada tahapan berikutnya ketika kehidupan yang sesungguhnya tersuguhkan di depan mata, yang tercipta cuma sebuah kebingungan yang tak terumuskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kehidupan sebenarnya bukanlah sesuatu yang kejam dan mengancam, sehingga harus ditakuti. Namun kehidupan harus dilewati sedikit demi sedikit dengan kemampuan dan kerja keras. Kehidupan menjadi kejam, ganas, membunuh atau istilah mengerikan lainnya yang lebih menegangkan, ketika seorang pribadi mengharap terlalu besar dari hidupnya sebelum ia bekerja. Mengharap kesuksesan di genggaman, sementara di lain sisi dia hanya penghayal, pengagum orang-orang di sekitarnya serta meniggalkan rumusan hidup atau &lt;i&gt;sunnatullah&lt;/i&gt; yang berlaku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karena kehidupan bukanlah hal yang perlu ditakuti, maka sebagai langkah awal bagi mereka yang mengalami transisi seperti di atas adalah memahami hidup dengan merealistiskan ide bukan &lt;i&gt;meng-idealiskan realita&lt;/i&gt;. Kehidupan menyuguhkan kenyataan, hanya kesadaran yang bisa membacanya, sedangkan ide hanya sebuah wacana bukanlah kenyataan, maka jika Anda bagian dari orang yang idealis maka beralihlah pada seorang &lt;i&gt;idealis yang realistis&lt;/i&gt;. Berhentilah Anda menghayal tapi beralihlah untuk berbuat, karena &lt;i&gt;hidup adalah perbuatan.&lt;/i&gt;[ijan]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;*)Tulisan ini refleksiku sebelum aku diwisuda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-6307471731261141353?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/6307471731261141353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=6307471731261141353' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6307471731261141353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/6307471731261141353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/08/hidup-adalah-perbuatan.html' title='HIDUP ADALAH PERBUATAN'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-2775914510390528584</id><published>2008-07-07T23:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-07T23:42:16.240-07:00</updated><title type='text'>TASYAKURAN SEBUAH NYANYIAN NAFSU BIOLOGIS</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menyelenggarakan tasyakuran bagi lembaga pendidikan di Madura setelah pengumuman kelulusan adalah sebuah tradisi yang sudah melekat lebih dari puluhan tahun yang silam. Acara tersebut bias any diadakan pada sekitar mulai awal bulan Juni hingga pertengahan bulan Juli. Acara yang cukup menelan biaya tidak sedikit ini, masyarakat menyebutnya dengan &lt;i&gt;Haflatul Imtahan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Imtihanan. &lt;/i&gt;Masyarakat sekitar atau para orang tua wali murid begitu cukup antusias mengikuti dan ikut serta dalam penyelenggaraan acara tersebut. Terlihat dari apa yang mereka lakukan untuk acara &lt;i&gt;imtihanan &lt;/i&gt;ini dengan beberapa sumbangan yang mereka berikan, dari sesi financial hingga keterlibatan emosi mereka untuk melancarkan acara tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terdapat berbagai macam acara dalam &lt;i&gt;imtihanan &lt;/i&gt;ini. Penyelenggaraanya bisa satu hari penuh, bahkan di beberapa daerah lebih dari sehari hingga ada yang seminggu. Rentang waktu pelaksanaan tersebut sangat tergantung pada besar dan kecilnya lembaga terkait penyelenggara acara tersebut. Bagi lembaga besar bisa terdapat berbagai macam acara hingga akumulasi dari semua acara bisa memakan waktu lebih dari sehari. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengemas acaranya dengan dimulai dari lomba-lomba lefel lembaga antar sesama siswa, kemudian diakhiri dengan acara puncak yaitu pelepasan siswa kelas akhir. Semua acara tersebut merupakan bentuk perayaan dari apa yang mereka rasakan setahun penuh di lembaga tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kemarin hari Sabtu 5 Juli 2008 aku berkesempatan menyaksikan acara rangkaian &lt;i&gt;mtihanan &lt;/i&gt;di Kec. Bluto dari awal rangkaian hingga pada acara inti. Cukup ramai, jalanan desa dengan ukuran standart dipenuhi oleh jejalan para pengunjung. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; calon wisudawan diarak mengelilingi kampung dengan iring-iringan berbagai macam hiburan. Drumband dan musik-musik tradisonal khas Bluto yang aku sendiri belum tahu namanya, ikut meramaikan acara tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Para wisudawan dari lulusan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Tk&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;MI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;, MTs dan MA berada pada posisi depan dengan menggunakan pakaian kebanggan mereka. Unik dan cukup menarik serta yang lebih dari itu bisa dinikmati. Aku walaupun tidak lahir di pulau garam, namun adat serta budaya yang berkembang di rumahku tidak jauh beda dengan masyarakat Madura pada umumnya. Hiburan yang seperti itu sudah lama tidak pernah aku nikmati sejak aku berada di Pesantren. Cukup kangen dengan bentuk keramaian seperti itu. Akhirnya pucuk ulam pun tiba, hari itu aku pun dengan puas dan bisa mengobati rasa kangenku pada tradisi lama yang sudah terasa asing pada diriku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Saat aku menikmati tontonan tradisional tersebut, ada perasaan yang berbeda dengan perasaan yang dulu pernah aku rasakan jauh sebelum aku menjadi pria dewasa. Tontonan itu tidak lagi hanya sekadar tontonan yang bernuansa hiburan ramai-ramai saja, tapi melahirkan gejolak perasaan kedewasaanku yang berkaitan dengan perasaan-perasan halus sebagai seorang pria terhadap lawan jenisnya. Keramaian serta hiruk pikuk berbagai jenis suara, suara senar, drum, trompet dan berbagai macam suara bising lainnya menjadi pengiring khayal kelaki-lakianku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mataku berbinar, lihat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, lihat sini seperti orang sedang menacari barang yang hilang. Sempat aku geli merasakan gejala tersebut ketika sejenak aku berdialog dengan hati dan otakku. Aku bertanya “&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; apa denganku?”. Walau tidak sepenuhnya aku menolak gejolak tersebut, tapi aku berusaha menetralisirnya. Aku tidak ingin dikatakan kampungan atau apa saja yang sifatnya memalukan untuk orang seperti aku yang nota benenya seorang santri. &lt;i&gt;Bukan sok suci sih loh,&lt;/i&gt; cuma aku ingin alami seperti orang-orang normal lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Diriku yang terasa aneh ini membawaku pada rengkuhan hati untuk memahami apa yang terjadi pada diriku, sehingga suguhan pestaporia orang-orang kampung tersebut tidak menjadi suguhan yang membawaku pada ketenangan. Aku mulai mengganjal otakku untuk berfikir keras di tengah-tengah keramaian. Dari setiap yang terlihat aku ingin mengolahnya menjadi hal yang bermakna pada diriku. Moment ini harus memeberiku pengetahuan yang menjadikan aku lebih bijak dan normal menjadi manusia sejati. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Banyak hal yang dapat aku lihat, namun satu hal yang sangat berkaitan dengan gejolak normal kedewasaanku yaitu, penontonnya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penonton yang kurang lebih banyak dipadati oleh para wanita membuatku silau untuk melihat lebih laluasa. Orang desa yang dulunya lugu, halus, sopan, rapi serta memegang teguh tradisi ke-desaanya, kini sudah berubah. Mereka kini mempunyai tren mode yang jauh berbeda dengan apa yang aku lihat sepuluh tahun silam. Cara berpakaian, berintraksi, berjalan, melihat, menyapa dan segala aspek prilaku keseharian tidak lagi mencerminkan orang desa yang pernah aku kenal dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Lipstik merah serta pakaian seksi hampir tidak bisa dielakkan. Aku sih tidak risih-risih amat dengan hal seperti itu. Itu syah-syah saja, hanya aku sepertinya bingung dalam memperlakukan mereka, terutama beberapa orang yang sempat dulu aku kenal, dan sekarang dia datang menyapaku tentunya dengan suguhan penampilan seperti yang aku gambarkan. Nafsu biologisku bernyanyi dengan riang, namun hati kecil serta prinsip yang aku pegang risih dan terpojokkan. Entahlah…?! aku tertarik karena aku deawasa, atau karena aku dipancing?”. Dua pertanyaan ini yang membuat aku bingung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/616254474129045747-2775914510390528584?l=ijan28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ijan28.blogspot.com/feeds/2775914510390528584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=616254474129045747&amp;postID=2775914510390528584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2775914510390528584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/616254474129045747/posts/default/2775914510390528584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ijan28.blogspot.com/2008/07/tasyakuran-sebuah-nyanyian-nafsu.html' title='TASYAKURAN SEBUAH NYANYIAN NAFSU BIOLOGIS'/><author><name>A. Tijani Shodiq</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13819839910217839309</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_JVQdL7NQnrA/SHMM4yMJirI/AAAAAAAAABM/14zm5yMkQXk/S220/DSC00095.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-616254474129045747.post-8142214144300350376</id><published>2008-07-04T10:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-04T10:32:43.714-07:00</updated><title type='text'>PESANTREN DI AMBANG AJALNYA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah lama aku menjadi bagian dari dunia pesantren. Sejak kecil aku sudah mengenal pesantren, bahkan di tahun ke-22 dari kelahiranku aku masih bersentuhan erat dengan pesantren. Pesantren telah memberikan segalanya bagiku. Mulai dari hal yang paling sederhana seperti, berpakaian, makan, bergaul sesama manusia, beribadah serta pola berfikir dalam menghadapi sebuah problem atau wacana kehidupan. Watak, karakter dan penampilan fisikku saat ini adalah cerminan dari dunia pesantren sebagai background dari kehidupanku.&lt;br /&gt;Keberadaan pesantren sebagai sebuah produk tradisional masyarakat Indonesia merupakan asset budaya yang perlu dipertahankan keberadaannya. Lebih dari 400 tahun yang silam pesantren telah membaur pada kehidupan riil bangsa ini. Praktik politik, berniaga, berkepercayaan serta berintraksi sosial pada kehidupan masyarakat banyak mereduksi dari pola hidup yang berkembang di pesantren. Artinya wujud dari bangsa ini tidak lepas dari peran serta pesantren dalam membangunnya.&lt;br /&gt;Usia pesantren yang terbilang tua ini menjadikan aku berfikir, mungkinkah pesantren akan terus berjalan seiring dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks. Sebuah problem bagi insan pesantren, karena jika kita mencoba melihat realita yang terjadi, banyak hal yang menjadikan keberadaan pesantren semakin kritis. Disadari atau tidak perubahan yang dibawa oleh pola sikap modern orang-orang terkini memberikan dampak negative bagi dunia pesantren. Manusia saat ini mempunyai frame pemikiran yang jauh berbeda dengan manusia sepuluh tahun yang silam. Sehingga di beberapa sisi dari frame pemikiran mereka memandang pesantren sebagai sebuah wadah yang kurang r
