Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 29 November 2008

Aku sering kali memikirkan hidup, kebahagian, duit dan kepuasan. Walaupun aku bukanlah seorang Plato atau bagian para filosof, tapi aku merasa bahwa hidup dan pernak-perniknya perlu dipikirkan, direnungkan untuk kemudian ditemukan gelaran hikmah. Aku menyadari pengetahuanku yang sangat minim menjadi keterbatasan bagiku untuk lebih banyak mengurai makna dari sebuah peristiwa. Aku hanya bisa berbagi secuil pengalaman lewat tulisan-tulisan ringan dan renyah yang aku harapkan suatu saat nanti menjadi sebuah catatan sejarah yang bisa aku kenang di hari tuaku kelak.

Sedikit aku ingin menulis pengalamanku yang terkait dengan duit dan kepuasan. Sebelum aku menginjakkan kakiku di kota Jogja, aku hidup di dalam pesantren dengan pendapatan secara finansial sangat minim sekali. Empat tahun aku hidup dengan honor dibawah satandart minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara logika honor dibawah seratus ribu itu memang tidak cukup untuk menghidupi seseorang selama satu bulan, namun kenyataannya aku malah bertahan sampai empat tahun di pesantren itu yang juga sekaligus pondokku. Kehidupanku lancar-lancar saja, tidak melarat, tidak kekuarangan malah bisa dibilang cukup.

Waktu itu semua kebutuhanku serba tercukupi dengan honor yaang minim itu. Hidipku malah penuh tawa rasanya sangat sedikit sekali guratan kesedihan yang tertimpa padaku waktu itu. Hidup begitu sangat nikmat sehingga semuanya menjadikan aku penuh tawa dan suka, begitulah aku empat tahun di pondokku. berbeda dengan saat ini, aku sekarang hidup di kota besar serta mempunyai pemasukan yang lebih lima kali lipat dari penghasilanku sebelumnya. Secara nominal apa yang aku dapatkan dari sisi finansial cukup banyak untuk ukuran orang sepertiku. Aku dulu menyangka dengan mendapatkan jumlah nominal yang lebih banyak dari apa yang aku dapatkan maka kebahagian dan kepuasan akan semakin terasa dan seakin gampanag aku gapai. Begitulah alam pikiranku sebelum mendapatkan pendapatan seperti sekarang ini.

Setelah aku terjun langsung dan merealisasikan impianku untuk medapatakan jumlah nominal pendaptan yang jauh lebih banyak dari pendapatanku di pondok ternyata fakta menyodorkan kenyataan lain. Honor lima kali lipat dari sebelumnya yang aku gengggam mejadikan aku bermimpi jauh lebih tinggi dari kemapuanku sehingga aku merasakan honor yang sudah besar itu terasa begitu sedikit dan sama sekali tidak memeberiku ketenangan. Aku menajdi gundah, kebutuhan membengkak, gaya hidup ikut-ikutan berubah sehingga kenyataan akhirnya menjadikan aku terhimpit. Honor itu habis sebelum satu bulan. Aku kembali dirundung keresahan.

Keterhimpitanku itu menjadikan aku bertafakkur sambil memohon petunjuk kepada-Nya. Kemudian lahirlah sebuah hasil dari refleksi ringanku yang menyatakan "Bahwa hidup tidak pernah meminta jumlah nominal finansial tapi hidup hanya meminta kepuasan". Dari hasil refleksiku ini kemudian aku berdo'a, bersujud di hadapannya dengan perohonan agar diturunkan gelaran kepuasan bagi hidupku sehingga aku tidak lagi mengejar jumlah rupiah, dolar atau apa saja nilai harga yang menjadikan semua orang buta mata hatinya dan jauh dari syukur.

Jumat, 21 November 2008

Ulang Tahunku yang ke-23

Hujan mengguyur kota Jogja hampir semalam suntuk. Undara dinginpun mengalir menyelimuti lenguhan senyap tidurku. Aku pulas dibelai mesra selimut desiran mimpi indahku. Namun tak satupun mimpi-mimpi itu yang terseret oleh otak sadarku, sehingga tak satupun dari mimpi-mimpi itu yang mampu aku ceritakan kembali. Tapi aku yakin kalau saat itu mimpi menghampiriku dengan keindahan dan keseramannya. Mungkin hujan yang mengguyur itu yang membuat aku lupa tentang mimpi-mimpi malam itu. Ah...sudahlah aku lupakan saja mimpi-mimpi itu.

Semestinya malam itu aku harus bahagia, seperti laiknya orang-orang lain yang bahagia tatkala umurnya bertambah. Malam itu malam tanggal 21 November 2008 yang merupakan malam terakhir di lembaran tahun ke-22 . Artinya tepat jam 00.00 aku akan beralih pada lembaran berikutnya yaitu menginjak awal tahun ke-23 dari perjalanan hidupku. Namun kenyataan berkata lain, malam itu aku jalani seperti malam-malam sebelumnya. Tapi tetap aku sadar kalau pada dini hari kala itu umurku akan bertambah menjadi 23 tahun.

Waktu terus saja mengalir tanpa tersendat oleh apapun akhirnya sampailah jarum jam pada titik yang menunjukkan tepat jam 00.oo. Aku tetap tertidur pulas diantara pergantian dan bertambahnya umurku. Sepertinya pergantian itu bukanlah berarti apa-apa. Aku lebih memilih memanjakan tubuhku di hamparan kasur busa tipis di kamarku. Sudah berlalu pergantiaan yang mempunyai nilai sejarah itu begitu saja, tanpa perayaan apapun. Akhirnya di awal aku membuka mataku aku dikejutkan dering HP-ku, lalu di ujung telepon sana seorang cewek yang mempunya nama Fina mengucapkan kata selamat ulang tahun dengan menggunakan bahasa Inggris " happy birthday to you" begitulah kira-kira yang aku dengar. Aku cuma diam kemudian aku membalasnya dengan simpel "terima kasih" begitu kata terakhir dialogkku di awal pagi di tahun yang ke-23.

Begitu berartikah bertambahnya umur seorang manusia, sehingga harus dirayakan?. Pertanyaan ini menggumpal bagai kabut yang menyelimuti kota Jogja kala itu. Akhirnya aku diseret untuk berfikir menggelayuti makna filosofi dari sebuah perayaan bertambahanya umur. Aku duduk tenang di kamarku sambil mencoba mengais makna di balik kebiasaan orang-orang yang merayakan hari ulang tahun. Kemudian di titik akhir dengan kesadaran dan kemampuan yang aku miliki dan setelah aku menyebrangi samudera tanda tanya tadi, aku menemuka kata sepakat kalau hari ulang tahun itu perlu diperingati namun tidak perlu dirayakan.

Dari refleksi yang aku lakukan di atas aku menemukan dua kosa kata yang hampir mempunyai makna yang sama namun tetaplah menyimpan perbedaan yang mendasar. Dua kata itu adalah "memperingati dan merayakan". Dua kata ini mempunyai kemiripan tapi mempunyai konteks yang berbeda. Kata memperingati mempunyai konteks yang lebih sederhana dibandingkan dengan kata merayakan yang mempunyai kedekatan dengan konteks kemewahan. Konkretnya merayakan adalah peringatan yang diikuti dengan kemewahan. Dari dua kata tadi nampaknya yang paling dekat dan paling pas dengan keadaanku adalah kata memperingati. Selain sederhana konteksnya di dalanya ada nilai yang bisa dikorelasikan pada hal yang relegi.

Akhirnya akupun memutuskan untuk memperingati ULTAH-Ku walau hanya seorang diri. Aku mencoba merefleksikan gelaran 22 tahun masa laluku. Terasa begitu sangat cepat waktu menggulung sisa umurku yang aku tak tahu kapan akhir hamparan umur ini. Hanya sedikit yang bisa aku lakukan selama 22 tahun itu. Rasanya tidak ada prestasi dapat aku banggakan. Dosa bersimbah mem-pasir bak gurun yang bertepi. Rasanya aku malu pada diriku sendiri yang tak mampu mempersembahkan prestasi terbaik untuk hidupku. Sambil menunduk malu aku beristighfar dengan harapan Tuhan Allah-ku menyiramiku dengn guyuran maghfiroh.

Terus aku hanyut dalam gelayut refleksiku sambil juga aku ucapkan syukur, karena Tuhan Allah masih memeberiku kesempatan untuk melanjutkan ibadah kepada-Nya. Semoga Dia selalu menambah iman, umur dan rizkiku hingga akhirnya aku bisa mempersembahakan bagi-Nya pengabdian yang sungguh-sungguh dan mencerminkan 'abdan syakuro.

Minggu, 16 November 2008

Yuk Berpakaian yang Benar,Nyaman & Aman

Bagaimanapun hidup itu perlu diperjuangkan, karena perjuangan itu sendiri adalah kehidupan. Banyak hal yang perlu diperjuangkan. Yang paling utama untuk diperjuangkan adalah harga diri. Harga diri merupakan esensi hidup paling mahal yang harus tetap dijunjung tinggi. Selain itu tak ada nilai tukar yang sejajar dengan harga diri, karenanya harus diperjuangkan agar esensi dari harga diri dan hidup itu sendiri tetap menjadi nilai tertinggi dari sekian nilai-nilai yang lain dalam hidup ini. Harga diri erat sekali dengan keberadaan kita sebagai manusia secara umum, namun lebih itu harga diri yang paling mahal adalah harga diri kita sebagai seorang muslim yang mu'min.

Demikian berat perjuangan yang harus dilakukan oleh seorang manusia demi menjaga harga diri. Banyak hal yang akan menjadi korban karenanya. Kadang kala bisa menyisakan lara yang begitu menyayat, sehingga untuk beberapa orang yang lemah akan rela menjual harga dirinya dengan harga yang sangat murah. Mempertahankan harga diri merupakan sebuah konsekwensi logis dari penciptaan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna. Adapun prihal konkret yang berkaitan dengan harga diri manusia adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Sebenarnya konsep amru bil ma'ruf & naha anil munkar merupakan hal yang mendasar yang setiap orang mengetahuinya. Walau demikian tidak sedikit dari kita yang hilaf atau mungkin malah dengan sengaja tidak mengindahkan kewajiban tersebut. Pada akhirnya kewajiban mendasar itu menjadi hal yang terlupakan. Pada saat hilaf dan melupakan kewajiban yang mendasar itu pada hakikatnya seorang manusia telah dengan sengaja menghancurkan harga dirinya sendiri. Begitu sebaliknya ketika seorang individu dengan gigih menjalankan konsep atau kewajiban di atas dengan konsekwen maka secara tidak langsung dia telah mempertahankan harga dirinya sendiri. Sekali lagi mempertahan kan harga diri adalah berat dan menyakitkan.

Kalau dikaji lebih dalam antara kewajiban dengan harga diri adalah dua kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya keduanya ada keterkaitan yang memungkinkan adanya efek kausalistis. Secara umum tugas dan kewajiban seorang hamba begitu sangat banyak sehingga dengan demikian juga banyak harga diri yang harus diperthankan. Satu hal kecil yang terasa terlupakan di tengah-tengah banyaknya kewajiban yaitu cara berpakaian. Bagi seorang muslim pakaian selain sebagai hiasan juga merupakan penutup aurat. Jadi patokan utama dan menjadi kewajiban bagi setiap muslim agar berpakaian yang menutup aurat namun juga tidak melupakan harus mempunyai nilai-nilai keindahan sebagai unsur dari hiasan. Ketikan kewajiban ini terpenuhi maka dengan tidak sengaja berarti seorang muslim tadi sudah mempertahan harga dirinya dalam hal cara berpakaian.

Kalau kita mencoba menilik dari fakta konkrit di sekitar kita banyak didapat pakaian hanya sebatas hiasan dengan mengesampingkan patokan utama sebagai penutup aurat. Sehingga yang disajikan dari pemadangan model yang semacam ini adalah penjajaan aurat yang vulgar dan mengundang syahwat. Disadari atau tidak, di-iyakan atau tidak yang namanya sajian bokong semok dari balik model pakaian yang tidak syar'ie tetap akan mengundang syahwat. Model pakaian seperti ini adalah pakaian yang tidak layak bagi seorang muslim, karena secara tidak langsung harga dirinya sebagai manusia telah diinjak-injak akibat dari tidak mengindahkan kewajiban-Nya untuk menutup aurat.

Namun untuk beberapa kelompok muslim yang mengaku modern, ini bagian dari perkembangan dunia yang harus diikuti. Bagitu sangan dangkalnya pemahaman tentang komodernan kelompok ini. Banyak hal yang mereka lakukan demi melegalkan tontonan vulgar tersebut, demo menolak UU pornografi sampai aksi telanjang bulat yang pernah dikukan ratusan orang di Amerika. Lucu bukan?!

Secara jujur model pakaian dengan mempertontonkan bokong tersebut tidaklah terlalu keren-keren amat sih, bahkan terkesan sangat kuno. Coba kita lihat suku Indian dengan pakaian serba kekurangan yang persis sama dengan pakaian-pakaian saat ini yang dianggap modern. Apa bisa dikatakan modern kalau bercermin pada orang-orang kolot di tengah hutan sana?? jawabannya terserah Anda......

Senin, 10 November 2008

Untuk Pahlawanku

Tanggal 10 November merupakan hari Pahlawan yang hampir semua orang tahu tentang itu. Aku sebaga bagian dari orang yang tahu mencoba menapak tilasi makna dari pahlawan itu sendiri. Aku tidak tahu banyak tentang makna terdalam dari pahlawan itu sendiri, bagiku pahlawan adalah orang yang sengaja meleburkan dirinya dalam perjuangan tampa pamrih demi kelangsungan hidup orang-orang yang ada dibawah tanggung jawabnya. Untuk konteks saat ini dalam ke-akuanku nampakanya makna tersebut cukup layak, walaupun orang-orang pada umumnya menyandarkannya pada para pejuang yang telah gigih mengusir penjajah dar Nusantara ini.

Dalam suasana hari Pahlawan ini aku mempunyai pahlawan sendiri yang berbeda dari para pahlwan yang lainnya, walaupun aku juga tidak mengingkari jasa-jasa para pahlawan negeri ini. Namun pahlawan yang sangat kental memberikan dedikasinya kepadaku mulai dari kecil hingga saat ini adalah ibu dan bapakku. Mereka adalah dua orang pahlawanku yang sampai kapanpun akan tetap aku hormati, junjung tinggi dan akan aku bela sampai titik darah penghabisan. Keduanya telah menjadikan aku sebagai manusia yang mampu beribadah kepada-Nya walau masih terus berproses menuju penyempurnaan.

Ibu, bapak saat ini aku mengingatmu sebagai seorang pahlawan. Anakmu yang jauh di tanah rantau ini selalu mendo'akan kalian berdua agar tetap selalu dalam lindungan Allah. Kalian telah memberikan segalanya bagiku tanpa meinta balasan apapun. Begitu sangat besar cinta dan kasih sayangmu hingga kalian tak menghiraukan letih dan peluh yang bercucuran demi kelangsungan hidupku. Kini saatnya anakmu ini ingin membalas walaupun sebenarnya tak ada balasan yang setimpal dibandingkan kesucian dan keikhlasan dari cinta kalian yang telah tercurahkan padaku. Tapi walau demikian senyum merekah dari bibir kalian adalah siraman kesejukan untukku sebagai balsan kecil dari perjuangan besarmu. Terima kasih ibu, terima kasih bapak do'akan anakmu semoga tetap dalah lindungan dan hidayah Allah.

Selasa, 04 November 2008

Sepenggal Cerita dari Pantai Depok

Begtu indah dunia ciptaan Allah ini. Sore tanggal 30 Oktober 2008 aku berkesempatan menguntit kebesaran Allah lewat jendela-jendela kecil kebesaran-Nya. Deburan ombak setinggi tiga metaran menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Memutih, menyisakan busa yang menggulung di tepian pantai Depok Bantul Yogyakarta. “Subhanallah,Allahu Akbar” aku takjub terhadap ciptaan-Mu Allah. Aku bergumam dalam hati dengan tulus mengakui kebesaran-Nya.

Hamparan pasir hitam yang dilukis indah bekas pijakan ombak yang menggempur membentuk pemandangan menakjubkan. Membukit kadang juga melembah seumpama dibentuk oleh arsitektur handal yang meyajikan pukauan hebat bagi siapa saja yang melihatnya. Suara deburan ombaknya menderu memecah butiran-butiran kegelisahan setiap pengunjungnya. Sejenak para pelancongnya titipkan semua problem pada belaian angin kencang yang mengurai rambut mereka, seumpama bendera yang berkibar.

Gunung di arah berlawanan dengan samudera meninggi seakan menyentuh langit. Sementara gumpalan kabut hitam menyelimuti bagian paling atasnya. Antara pemandangan pantai yang berdapingan dengan gunung yang menjulang ini bagai pengantin serasi yang diarak oleh jubelan intipan manusia. Ada yang mengintip lewat bidikan kamera HP, ada juga yang sengaja membawa seperangkat instrument pengabadian yang cukup modern. Begitu sangat berharganya pemandangan di Pantai Depok ini, hingga harus menjadi tilasan sejarah bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Matahari semakin bergerak ke arah barat seakan tertelan samudera di ujung sana. Sinarnya memudar, panasnya mendingin, namun para penikmat pantai seakan semakin bertambah. Pantai memadat dengan gemuruhnya suara-suara teriakan anak-anak kecil yang beramuk dengan deburan kecil ombak. Hatiku terpingkal dengan tingkah lucunya. Ingin aku bersama mereka membenamkan kebosananku dengan sentuhan jujur sumringahnya, tapi air dan basah menghalangiku untuk melangkah. Karena saat itu aku memang tak punya celana pengganti jika nanti aku harus tunaikan Maghribku di pantai ini. Akhirnya cukuplah aku bersimpuh sekitar 10 meter dari bekas-bekas kaki kegembiraan mereka. Aku diam ………

Tersentak, aku kaget!!! Di balik bukit-bukit pasir yang menggnung ada yang memulai menjajal kemurkaan Allah. Aku dingin, seakan ada semburan tenaga birahi yang membekukan tulang putihku, sehingga aku tak mampu untuk berucap. Aku diamuk kegelisahan yang ditontonkan oleh sebagian pelancong. Sepasang muda-mudi duduk berdua menghadap deburan ombak, terlihat seoang wanitanya membenamkan mukanya di pangkuan sang pria sambil memainkan uraian rambutnya yang terurai sampai bahu bagian belakang pasangan laki-lakinya. Terbelalak mataku tat kala sambaran maut dua insan yang beradu lisan diperontonkan sekitar lima meter dari tempatku duduk. Mataku berhenti berkedip, aku takut, secepat kilat aku beranjak dari tempaku, aku malu, malu pada diriku sendiri.

Istighfar tak hentinya aku latunkan di hatiku, berdosakah diriku menikmati tontonan live yang tesuguhkan di pantai ini??Hatiku bertanya, sambil terus mengadu, merendah memohon ampun pada-Nya. Imanku masih dangkal, takwaku masih tanda tanya, Islamku masih kropos, aku ngiler dengan tipuan syetan yang terkutuk, hingga akhirnya aku putuskan menuju ke masjid untuk tunaikan kewajiban sambil membawa kesan yang berupa pesan sekaligus indzar bagiku. Ampunilah aku “Astaghfirullah……………………..!!!

Aku Juga Sakit Loh

Tiga hari aku tidak bisa beraktifitas, demam yang dideritaku karena perubahan musim membawaku terbaring lemas di atas kasur. Batuk, pilek serta badan terasa ngilu bak remuk ditubruk benda keras. Perasaan mulai tidak tenang, nafsu makanpun ikut turun, tekesan nampak kurang bergairah. Dalam keadaan seperti itu kadang perasaan diajak untuk mengingat kampung halaman nan jauh disana. Diri ini hanya sebatang kara, tanpa sanak keluarga, hanya bisa mendesah dengan nafas seakan dapat mengurangi rasa sakit.
Walau seorang diri, jiwaku aku ajak untuk tenang menghadapi musibah ini. Aku tegarkan hati sambil mencoba menimang perasaan sedihku sambil melantunkan do'a kepada Allah. Semua ini adalah bukti kebesaran Allah yang harus kaji untuk menemukan gelaran hikmah. Musibah ini paling tidak mempunyai dua makna penting bagiku, bisa berupa gelaran cobaan atau naudzubillah sebagai adzab. Antara dua sisi ini memungkinkan diriku ditemukan, jika memang aku berada pada gelaran coba, maka aku memohon agar Allah memberikan kekuatan, namun jika aku berada dalam adzab maka aku memeohon agar Allah mengampuni dosaku.
Terus aku bebrbicara pada hatiku sambil mengais dan merefleksikan adakah diantara sekian tingkahku yang berpotensi menjadi dosa atau pahala. Keduanya bagai dua sisi yang terus mengikuti jalan hidupku, sehingga antara dosa dan pahala bagaikan butiran pasir yang sama-sama menggunung. Dengan kerendahan diri ini, aku bersujud, nersimpuh di hadapan-Nya meohon ampun dari bukitan pasir dosa-dosaku. Hati merintih, malu begitu besarnya dosa ini sehingga aku tak mampu untuk menghitungnya. Aku tertunduk, air mataku mengalir menangisi waktu-waktuku yang terbuang sia-sia.
Diantara himpitan penyesalanku, dengan yakin aku memantapkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, sehingga dosaku yang menggunung-pun kalau Allah menghendaki untuk diampuni akan habis. Astaghfirullah aku berujar dalam ampunku, memelas kasih sayang-Nya, kemudian aku menyudahi semuanya dengan tekad memperbaiki semua salah dan dosa dan menggapai Ridla-Nya.
Semua sudah selesai, akupun hari ini mulai baik kembali walau masih belum sembuh total. Aktifitasku harianku mulai aku jalankan kembali walai masih tertatih-tatih oleh sisa sayatan demam. Aku berharap Allah mengembalikan semuanya kepadaku shingga sujud dam Syukurku semakin bertambah pada-Nya. Terima Kasih Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, kini Engkau sembuhkan aku.

Selasa, 28 Oktober 2008

BT Nihhh....!!!

Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Enthalah kebingungan itu kerap kali muncul di saat aku sedang sendiri. Kesendirian memang seringkali menggelar angan yang menjauh sehingga yang di depan mata menjadi asing. kenhangatan dunia hayal membawaku pada kebingungan, kebingunan yang tentunya tidak menguntungkan. Karena bingun memang sebuah penyakit, walau tidak se-bahaya kanker atau penyakit menyeramkan lainnya tapi sering kali menghanguskan kesempatan.

Otakku kemudian bertanya,"kenapa aku harus bingung?". Jawabannya tidak aku temukan. Malah yang muncul kenginan untuk melukiskan kebingungan ini di bloggku. Sesegera mungkin aku langkahkan kakiku menuju warnet terdekat untuk aku lemparkan kebingungan tersebut dengan mencurahkan sepenuhnya di depan komputer. Sambil menulis aku tetap berfikir penyebab dari kebingunganku. Aku ingin mengumpat diriku, tapi apa dengan cara itu kemudian sebab dari kebingungan itu bisa kau dapati?. Aku terus saja mengalirkan laju kehidupanku sambil menatap hasil tulisanku di layar monitor.

Malam ini tidak terlalu ramai pengunjung warnet langgananku.Hanya ada beberapa ruangan saja yang terisi. Aku sendiri duduk di ruang tiga, sementara ruang yang berhadapan dengan ruanganku adalah ruangana tujuh dan delapan. Aku berangkat dengan niat membuang kebingungan, tapi entahalah para pengunung yang lain apa juga sama denganku. Tentunya masing-masing mempunyai motif yang berbeda-beda. Aku tak mau tau apa alasan mereka mengunjungi warnet, yang paling penting aku bisa membuang kebingunganku. Itu saja sudah cukup buatku!!!

Aku terus saja ngoomel dengan kalimat-kalimat yang tidak tentu arahnya. Aku tak lagi menghiraukan tulisan ini enak unutk dikonsumsi atau tidak. Tombol keyborad seakan menjadi pembuangan yang tepat daripada harus termenung di kamar sambi lmengumpat kecil pada diri sendiri. Entahlah setan apa yang membuatku tak terkontrol seakan lepas dari kesegaran otakku. menurutku umurku tidak terlalu tua, lalu kenapa penyakit bingung yang mungkin orang lain membahsakan keberdaanku ini dengan sebutan BT (bosan Total) atau semcamnya harus sering muncul di kebeliaan umurku. Bahaya nih....!!!

Semestinya aku harus dinamis serta mempunyai planning yang jelas selama sehari. Sehingga memungkinkan aku bisa terhindar dari penyakit BT. Bingung dan BT walaupun memiliki perbedaan, namun dampaknya pada seseorang memepunyai persamaan yaitu menjadikan orang kaku untuk melakukan aktifitas. Defenisi ini cuma apa yang aku rasakan, aku tak menghiraukan hal itu benar atau salah. Yang jelas penyakit begitu tidak mengenakkan,menjadikan hati mandeg dan menghentikan laju gerak dinamisasi keeksistensian seseorang sebagai manusia yang diciptakan untu berkarya. 

Aku cukupkan saja torehan kebingunganku ini, agar tidak terlalau mahal membayar sewanya. Maklum aku disini kan anak rantau yang harus pandai menghemat uang agar tetap bisa hidup. BT, Bingung......!!! awas datang lagi tak jitak matamu...... he..he...emang manusia apa???????

Sabtu, 25 Oktober 2008

Malam Minguan sebuah Tradisi Mesum yang Dilegalkan

Malam ini malam yang panjang bagi kebanyakan pemuda. Malam minggu yang bisa memberikan kepuasan batin bagi seseorang yang menjadikan malam ini sebagai malam spesial. Acaranya biasanya sekitar cur-per (Curahan Perasaan) LUSSEKDA (Nge-Lus Sekitar Dada) atau beberapa hal lain yang pada intinya pergumulan terlarang tapi dilegalkan. Romantika kehidupan seperti ini hampir pasti terjadi di seluruh kota di tanah air ini. Enthlah siapa yang memulai kebiasaan tak tertuliskan ini menjadi sebuah tradisi yang mengakar kuat pada lini kehidupan para pemuda dan pemudi penerus bangsa ini. Rasanya kebiasaan ini terus mengalir deras tanpa halangan sehingga lambat laun pelosok desa-pun ikut-ikutan meng-kramatkan malam ini.

Secara tidak sadar tradisi yang dianggap legal ini telah banyak merubah sikap keseharian seorang pemuda yang sejatinya merupakan harapan hari esok bangsa ini. Sejujurnya ketika seorang manusia mengoptimalkan fungsi hatinya dan kecerahan otaknya akan mengaktakan bahwa tradisi ini tak lebih dari sekadar hura-hura belaka. Namun demi sang Nafsu birahi tradisi malam Mingguan menjadi ritual wajib yang tak boleh terlewatkan begitu saja.

Untuk merubah tradisi ini memang sangat sulit, butuh waktu dan pengorbanan. Secara histori, tradisi ini memang sudah muncul puluhan tahun yang silam atau bahkan sudah mencapai ratusan tahun yang silam. keberadaannya yang sangat tua menjadikan akar ideologi tradisi ini mengakar dengan kuat pada bagian kehidupan masyarakat umum. Menumbangkan secara cepat dan kilat adalah hal yang mustahil. Untuk itu perlu kiranya sebuah gerakan yang serempak dari para pemuda yang merasa bagian dari bangsa yang terpuruk ini agar kembali bangkit untuk memperbaiki moral sesama pemuda.

Dari tradisi ini banyak bermunculan masalah. Mulai dari hubungan gelap tanpa status sampai pada hiburan yang over yang mencerminkan penjajaan aurat yang akhirnya merusak karakter para pemuda. Pantat seksi, bokong semok, atau malah vagina gratis menjadi bagian dari hiruk pikuk dari taradisi malam kramat ini. Begitu sangat memprihatinkan dan sangat jauh dari khittah penciptaan manusia. Masyarakat nampaknya tenggelam dalam pelukan romantis kehingar-bingaran kehidupan kota, sehingga permasalahan ini menjadi fakta yang sengaja dikubur dari kenyataan.

Deskriptif permasalahan dari tardisi malam mingguan di atas sengaja disajikan dengan Vulgar se-vulgar realitanya yang terjadi di lapangan. Karena nampaknya masyarakat kita memang tidak bisa diajak untuk bermetafora, sehingga penulis menyajikannya dengan mencampakkan kode etik jurnalistik. Hal ini dimaksudkan agar masyrakat secara umum dapat cepat dengan sadar kalau tradisi malam mingguan memang merupakan dari tali tipuan syetan yang terkutuk. Maka sebagai sebuah harapan bagi kita sebagai bagian dari masayrakat agar menjadi pengontrol (public control) dari lingkungan dimana kita hidup. Sehingga bagian dari kenistaan tradisi malam mingguan itu jauh dari lingkungan kita.