Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 20 Maret 2009

AKU MEMBUNUH MALAS

Aku malam ini atau tepatnya beberapa hari di minggu ini tidak menemukan performa hidup yang pas dan menyenangkan. Terasa begitu sangat menggerahkan hidup ini. Panas bak matahari sejengkal di atas jidadku. Enggan untuk melakukan aktifitas, semua gerak kreatif yang biasanya mengalir tiba-tiba terhenti seketika melebur dengan deburan arus malas yang menghanyutkan kendali diriku. Serasa mati namun tak berkafan, tubuh ini tak mampu lagi melahirkan hidmah bagi umat, akhirnya aku luapkan sejenak di paruh malam-malamku lewat senandung do'a dan ampunku kepada-Nya.

Hidup terus melaju tak menghiraukan aku yang terseok-seok diterjang arus malas yang menelan berbagai macam kesempatan emas. Tertindih diri ini dalam kerugian,sementara beberapa orang di sekitarku banyak yang sudah melangkah melewati levelku, sebagian mereka telah mampu menabung pundi-pundi kebajikan. Sementara yang lain ada yang sibuk menata dirinya dengan menambal beberapa kebobrokannya selama ini. Aku sendiri tertunduk kaku tak sempat melangkah bahkan terasa beku tertutup salju tak bergerak. Hati kecil mulai merintih meneriakkan kejujurannya meminta haknya untuk dipenuhi. Haknya untuk menggubrisi anak didikku yang terbengkalai akibat deraan badai dan arus malas. Terus peperangan sengit itu terjadi antara hati nurani versus nafsu angkara murka. Letupannya tak kalah dengan tebaran roket Israel yang diledakkan di tanah Palestina yang menelan banyak korban itu. Adapun korban terparah pada peperangan itu adalah harga diriku sebagai manusia.

Hampir mendekati dua minggu malas itu mengamuk diriku, banyak luka borok di sana sini akibat bacokan para tentara kemalasan. Terasa nyeri tak terhingga sehingga tanpa disuruhpun aku mulai menggeliat mengumpulkan sisa-sisa amunisi untuk kembali berjuang lewat tilawah Wahyu-Nya dalam lima kesemptan berjumpa dengan-Nya. Aku tuturkan secara jujur di Haribaan-Nya dengan muka dan hati yang tunduk pasrah memohon taufik dan hidayah-Nya. Terasa angin segar membawa embun semngat menyapu mukaku yang kusam. Mata hati kembali melihat jernih dan menuntun diri ini untuk kembali berjalan di atas lorong semangat. Tatapan kembali menyoroti masa depan,sehingga lambat laun tubuh ini kembali terasa ringan bergerak dan meniti jalan menuju ridla-Nya lewat titipan yang diamanahkahkan padaku.Entah itu amanah untuk mengayomi anak-anak didik atau kepercayaan lainnya yang berupa tugas untuk menjadi kholifah di muka bumi ini.

Amukan itu sedikit demi sedikit lenyap dari diriku walau sebenarnya tidak bisa dianggap enteng apalagi menganggapnya telah kapok. Pada suatu saat amukan malas itu akan datang lebih ganas lagi karenanya kewaspadaan terus harus dijaga agar tidak menelan banyak kerugian pada diri ini. Ketegaran perjuangan dan perlindungan Allah saja yang bisa menyingkirkan rasa malas itu. Kini saatnya aku kembali menjemput performa hidupku yang sempat mendekati kepunahan. Aku berteriak " Aku ingin merdeka dan menang".

Jumat, 06 Maret 2009

HIDUP KEKAL DAN BAHAGIA

Umur manusia secara kehidupan fsik_biologisi begitu sangat cepat dan singkat. Hanya dalam hitungan puluhan tahun saja jatah bagi mereka. Sangat minim sekali seorang manusia yang menyudahi kehidupan hinga ratusan tahun. Namun mayoritas mereka bahkan mungkin kita sendiri bermimpi untuk hidup seratus bahkan ribuan tahun. Jika dilihat dari jatah dan sejarah kehidupan manusia untuk ukuran manusia di zaman kita sekarang ini adalah hal mustahil. Lalu apa sih sebenarnya makna filosofis dari mimpi-mimpi kehidupan ribuan tahun tersebut ?

Sengaja saya memulai bahasan refleksi ini dari pertanyaan sederhana dan deksripsi singkat realita yang bisa saya baca dari kehidupan yang riil. Sejatinya refleksi sederhana ini bukanlah hal yang baru bagi kalangan akademisi, namun tidak salah jika saya memulainya lagi melihat dari dimensi sisi subyektif pengalaman pribadi. Karena saya yakin pengalaman subyektif masing-masing individu mempunyai keunikan tersendiri yang layak untuk diunggah sebagai sebuah wacana untuk dibicarakan bersama guna menemukan kebenaran-kebenaran yang nantinya bisa ditularkan pada masyarakat umum. Inilah hal yang mendasar yang mendorong diri saya untuk menggugah makna dari impian manusia untuk hidup ribuan tahun lagi.

Ketika wacana hidup ribuan tahun ini disajikan maka otak kita secara reflek akan memilih sisi filosofis sebagai bentuk konkret dari kehidupan yang dimaksudkan. Artinya kehidupan yang dimaksudkan bukanlah gerak fisik seperti, makan, minum, jalan-jalan atau berbagai hal yang menyangkut prilaku fisik, tapi yang dimaksudkan adalah nilai dari seorang manusia itu sendiri yang akan tetap hidup hingga ribuan tahun. Inilah sisi kehidupan yang langgeng yang terwarisi hingga ke anak cucu kita atau mungkin jika nilai kemanusiaan kita merupakan hal spektakuler bisa saja hingga bumi ini kiamat kita akan tetap hidup.

Mari kita sedikit melihat sejarah orang-orang terdahulu kita. Begitu sangat banyak para individu yang mampu memberikan konstribusinya pada kehidupan riil, walau badannya sudah berkalang tanah ratusan tahun yang silam. Kalau boleh saya korelasikan pada kehidupan kita menjelang pesta demokrasi yang akan kita laksanakan (PEMILU 40 hari lagi dari tulisan ini ditulis), beberapa partai sengaja mengkampanyekan partainya lewat nilai-nilai individu seorang tokoh yang wafat puluhan tahun yang lalu. Realita ini menyajikan kalau seorang manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna mempunyai kemampuan untuk hidup melebihi batas-batas waktu yang diberikan pada makhluk-Nya yang lain. Bahkan konstribusi dari seorang individu yang mempunyai kapasitas nilai yang tinggi dapat memberikan segalanya bagi kehidupan riil walau hayatnya secara fisik sudah termakan bumi. Contoh-contoh yang lain bisa kita cari sendiri pada beberapa kasus lain yang sesuai denga konteks dimana kita hidup.

Sebagai muslim tentunya Nabi Besar Muhammad SAW tetap menjadi orang nomor satu yang mempunyai kapasitas nilai kemanusiaan yang tinggi tak tertandingi oleh siapapun hingga akhir masa. Kehadiran nilai kemanusiaan beliau sebagai seorang manusia yang menyuguhkan Uswah Hasanah bagi umatnya menjadikan beliau kekal abadi sekekal ajaran yang beliau bawa. Lalu kita sebagai bagian dari umatnya setidaknya mampu meniru beliau walau untuk menandinginya adalah hal yang mustahil, tapi paling tidak kita mampu menjadi individu yang dibanggakan dan dirasakan nilai kamanusiaan kita oleh keluarga dekat kita sendiri di hari dimana kita telah meninggalkan dunia ini.
Hidup kekal dan dikenang oleh orang setelah kita memang menjadi target dari masing-masing kita. Namun perlu didingat agar kenangan yang turun pada orang-orang setelah kita adalah nilai-nilai kebaikan. Sehingga kita sebagai sosok yang dikenang tidak hanya sebatas dikenang tapi juga membuat kita tersenyum di alam kubur sana. Artinya keberadaan kita di alam kubur kelak akan berlinang dengan madu dan kebahagiaan karena peninggalan kebaikan kita bagi orang-orang yang kita tinggalkan. Hidup kekal dan bahagia inilah gambaran dari rencana jangka panjang kita sebelum kita benar-benar meninggalakan dunia fana ini.

Tidak mudah mewujudkan mimpi indah tersebut, butuh perjuangan yang berat yang sering kali membuat kita terseok-seok menanggung cobaan dan derita. Disitulah pertarungan baru digelar untuk mewujudkan mimpi indah berlinang madu tersebut. Sebagian ada yang mampu melewati pertarungan gigih itu dengan sempurna sehingga hasilnya cukup memuaskan, namun tidak sedikit yang kemudian harus terhunus buaian nafsu, akhirnya bukanlah dikenang ketiadaannya tapi malah mungkin disyukuri oleh halayak ramai. Naudzubilahi min dzalik....

Ada potongan kata bijak China yang mungkin mempunyai kaitan erat dengan kunci sukses menuju hidup abadi dan bahagia. Pepatah China itu berbunyi " Jika kamu ingin hidup bahagia satu jam maka pergilah memancing. Jika kamu ingin hidup bahagia satu bulan maka cepatlah kawin lagi. Tapi jika kamu ingin hidup bahagia sepanjang masa maka cukuplah kalian mencintai sekelilingmu" Renungkanlah......!!!!!!

Rabu, 25 Februari 2009

PERJALANAN KE MADURA 4 (Habis)



Tausiyah KH.Muhammad Idris Jauhari
Ba'da Subuh Hari Rabu 11 Pebruari tepat tanpa dzikir aku bersama Jamal segera menuju Idaroh Ammah kediaman pinpinan KH. Muhammad Idris Jauhari. Duduk di teras musholla pribadi beliau yang berhimpitan dengan dapur asatidz.Tidak banyak yang berubah, bahkan masih kelihatan sama dengan sebelum aku meninggalkan pondok. Bunga dan tanaman hias yang tumbuh di halaman rumah beliau masih kelihatan segar,menandakan kalau taman itumasih terurus dengan baik. Terasa sangat sejuk, indah dan nyaman. Tidak terlalu lama aku menunggu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor mio milik beliau mendekati tempat aku menunggu. Terlihat K. Idris masih bugar dan dapat mengontrol laju kendaraannya. Tepat sekitar 2 meter dari tempat aku menunggu beliau memarkir motornya, kemudian diikuti oleh respon sopanku untuk berjabat tangan dengan beliau. Terasa begitu hangat uluran tangannya seumpama orang tua yang menyalami anak kandungnya sendiri. Sambil menyuruh aku duduk kemudian beliau menuju kediaman, sementara aku dengan penuh hormat duduk kembali menunggu beliau hingga keluar lagi.

Selang 10 menit K. Idris kembali keluar menemui aku, Jamal dan Imron.Wajah beliau begitu sangat cerah sambil mengumbar sapaan hangat seorang kiyai kepada santrinya. Sapaan pertama beliau dimulai dengan menanyakan tempat dimana aku sekarang berdomisili dan berkecimpung dalam kesibukan apa aku saat ini. Aku hanya menjawab seadanya saja sesuai dengan apa yang aku alami. Arah obrolan beliau tetap bernuansa pendidikan, dakwah dan perjuangan. Obrolanpun berlanjut pada hal-hal yang sifatnya tausiyah seorang guru pada santrinya, seperti beberapa hal yang cukup menarik dan masih dengan sanagt lengket melekat di benakkau masalah kebutuhan-kebutuhan manusia dalam mengarungi kehidupan. Menurut beliau manusia sering lupa akan kebutuhan-kebutuhan yang siifatnya abstrak atau spritual. Kadang hanya mengedepankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah saja tanpa menghiraukan kebutuhan ruhaniahnya. Makan, minum, pakaian serta kebutuhan-kebutuhan jasmani begitu sangat dicari oleh manusia, rasanya jika salah satu dari kebutuhan jasmani itu tidak terpenuhi manusia secara reflek akan langsung cekatan untuk segera memenuhinya. Bebeda tat kala seseorang belum memenuhi kebutuhan rohaniahnya mereka dengan santai tidak respek bahkan mungkin sengaja ditinggalkan.Dalam hal ini beliau menkankan agar seorang manusia itu mampu memenuhi dua kebutuhan itu secara tepat dan seimbang atau bahasa agamanya biasa disebut adil.

Berlanjut pada hal berikutnya, beliau juga menyinggung pada apa yang telah manusia terima dan ia rasakan . Secara umum banyak hal yang telah manusia dapati dari kehidupan yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ini menandakan bahwa Allah SWT begitu sangat sayang pada setiap makhluknya. Dalam pengrtian lainnya Allah lebih merespon dan merealisasikan apa yang manusia inginkan, beliau membahasakan hal ini dengan sebutan taufik. Taufik berarti kehendak manusia yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu mewajibkan seorang hamba agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya. Selain daripada itu ternyata taufik belum cukup menjadikan seseorang bisa menjadi hamba yang sesungguhnya. Banyak orang yang mendapatkan taufik tapi malah semakin jauh dari-Nya. Adapun kebutuhan manusia setelah taufik adalah Hidayah. Hidayah inilah yang akan menjadi penuntun seorang hamba menjalani realita atau kehendak yang telah terealisasi agar selalu tepat berjalan di atas rel yang telah ditentukan yaitu Islam. Untuk itu beliau menginginkan santri-santrinya agar tidak hanya mendapat taufik yang berupa kemudahan-kemudahan hidup, tapi juga sekaligus penerima Hidayah agar benar-benar menjadi hamba-Nya yang dijaga dari kesesatan.

Tidak lupa beliau juga berpesan agar kita selaku umat muslim yang santri atau secara khusus sebagai santri dan alumni Al-Amien agar terus meningkatkan kualiatas hubungan antar sesama agar tercipta sebuah power atau kekuatan. Bagi beliau seorang individu yang tangguh tidak akan berarti apa-apa jika dia hanya bekerja sendiri dengan mengesampingkan hubungan bersama. Namun juga beliau tidak menginginkan individu yang lemah walau tidak mengesampingkan kerja sama.Hasil dua kubu ini sama-sama tidak akan mengahasilkan sesuatu yang produktif malah bisa saja menghambat dinamisasi perkembangan umat. Adapun yang beliau inginkan adalah oarang-orang yang tangguh secara skill individual tapi juga tidak mengesampingkan kerja sama inilah yang beliau bahasakan dengan al-Qowi.

Masih pada singgungan masalah perjuangan membangun umat, yang kemudian beliau melanjutkan konsep tentang al-Qowi tadi. Ternyata dalam pandangan beliau, kuat saja tidak cukup untuk membangun umat yang beraneka ragam. Untuk memberikan keadilan dan kebijaksanaan yang meliputi lintas perbedaan tersebut perlu orang-orang yang dapat dipercaya. Orang yang jujur dan menjauhi peneyelewengn dan pengingkaran dengan berbagai tipenya, beliau membahasakan orang-orang seperti ini dengan sebutan al-Amien. al-Amien juga tidak bisa berdiri sendiri untuk memenuhi keadilan dan kebijaksanaan yang dinginkan oleh semua kalangan, tapi ia butuh orang-orang kuat. Artinya Al-Qowi akan selalu bergandengan Al-Amien jika ingin menciptakan dan menyuguhkan keadilan dan kebijaksanaan bagi seluruh kalangan umat yang majemuk. Untuk itu beliau bermimpi agar para alumni dan santri-santrinya menjadi Al-Aqwiya Al-Umana' atau pribadi yang Al-Qowiyul Amien.

Itulah tiga poin penting tausiyah K. Idris di pagi itu, beliau benar-benar masih menjadi sosok pribadi yang tak mengenal lelah dalam belajar. Setiap ketemu beliau, beliau selalu memberikan ilmu baru bagi santrinya. Rasanya sangat jarang setiap pertemuan tanpa hal yang baru, beliau benar-benar sosok pribadi berjuta ide. Aku kagum sekaligus iri sebagai santrinya yang masih muda kadang terseok-seok melawan bualan romantisme dunia yaang menwarkan racun. Semoga dari pertemuan singkat bersama beliau akan menambah semangat dan kerja nyata dalam diriku untuk terus menjadi Tholibul Ilm hingga akhir hayat. Amien....

Dini hari Kamis 12 Pebruari jam 03.00 setelah pertemuanku dengan K. Idris aku balik menuju Jogja. Begitu sangat terkesan lawatan singkat ini, kangen, rindu pada teman serta pada pondok dan teman kini dapat terobati. Sekarang aku harus lebih semangat lagi untuk menjadi hambanya yang al-Qowi sekaligus al-Amien yang mampu menjadi pengemban amanah umat serta dapat memenuhi dua kebutuhan pokok kehidupan secara proprosional seperti yang diharapkan K. Idris.

Minggu, 22 Februari 2009

CATATAN PERJALANAN KE MADURA 4

TSI dan Nasi Bungkus Reuni

Selepas tunaikan Shubuh di awal pagi Selasa 10 Pebruari 2009 di Kastil damai Workshop aku bersama-sama teman-temanmulai menikmati siraman mentari pagi bersama butiran-butiran putih embun pagi tutupi rerumputan hijau di hamparanlapangan nostalgia tempat aku melepas penat untuk bermain si kulit bundar. Tampak beberapa santri dengan tawa sumringahnyahiasi pemandangan di pagi itu yang semakin membuat aku teringat pada tahun-tahun pertama aku menginjakkan kakiku di bumiJauhari di tahun 1998 yang silam.

Walau masih dalam suasana santai aku terus menggulirkan langkahku untuk menapaki beberapa acara di pagi itu untuksegera diselesaikan.Acara pertama seperti yang telah diagendakan bersama teman-teman yaitu ziarah ke kubur Al-MarhumKH. Moh. Tidjani.Dalam ziarahku banyak perasaan yang meletup-letup mengenang perjuangan beliau yang gigih dalammengembanamanah sebagai seorang pendidik yang merdeka dari segala jeratan bualan duniawi. Kepribadian beliau yangsantun dan beriwibawa tidak menjadikan beliau lupa akan tugasnya sebagai pelanjut dari perjuangan K. Djauhari, walausebenarnya banyak rayuan kedudukan yang mengiurkan secara finasial.Beliau lebih memilih hidup bersama-sama santrinyahingga akhir hayantnya. Sungguh merupakan figur seorang kiyai yang keberadaanya di saat sekarang sulit untuk mendapatisepertinya.

Tidak hanya rasa kagumku saja yang kian meletup memercikkan genangan air mata, tapi juga rasa terima kasih yang takterhingga untuk beliau guru yang tanpa pamrih telah mengasuh dan telah menjadikan aku dewasa. Rasanya aku sebagai anak didiknya masih belum bisa memeberikan apa-apa untuk beliau, sehinggga semakin membuat aku merasa punya hutang. Banyak titipan beliau yang belum sepenuhnya dapat aku laksanakan dengan maksimal. Terlalu cepat beliau meninggaklkan aku yang masih buta, kini aku harus meraba apa yang dapat aku raba dari peninggalan-peninggalan beliau sekaligus berusaha mewujudkan mimpi-mimpi beliau untuk melahirkan santri-santrinya yang mutafaqqih fiddin. Akhirnya aku kirimkan do'a untuk beliau agar Allah menempatkan beliau bersama hamba-hambanya yang sholeh di surga Firdaus-Nya yang penuh dengan nikmat. Amien.....

Aku bangun dari simpuhku sambil aku usap sisa-sisa butiran-butiran air mata. Do'a dan mengenang aku akhiri walau sebenarnya ingin rasanya kembali mencium tangan beliau. Aku berlalu dari lokasi makam menlanjutkan agenda selanjutnya untuk mengurus ijazah ke IDIA. IDIA tempat aku kuliah masih berdiri tegak dengan cat putih sucinya. Dengan cepat aku menyelesaikan proses pengambilan ijazah karena memang temanku yang menjadi penanggung jawab ijzah tersebut sehingga aku tak harus berlama-lama di kampus putih tersebut. Akhirnya penungguan untuk mendapatkan ijazah S1 berakhir dengan keberadaan ijazah yang kini benar-benar telah berada di genggamanku. Ada perasaan bangga yang meliputi hati dan perasaanku, aku menilai adalah hal yang wajar yang bisa terjadi pada siapa saja ketika mendapatkan kepuasan. Kini segala jerih payahku dapat aku lihat dengan 2 lembar kertas putih yang berada di tanganku. Al-Hamdulillah aku melanntunkan syukur untuk Allah Tuhan sekalian alam

Matahari mulai merangkak naik menghinggapi waktu Dzhuhur, sesegera mungkin aku tunaikan sholat Dzuhur. Tepat jam 13.00 aku bersam-sama teman meuju Sahe Cafe tempat kucurkan keluh kesah sambil menikmati kopi racikan Pak Sahe. Selang beberapa menit kembali personil Averose merapat mendekati pondok untuk hanya sekadar temu kangen saja. Kali ini yang datang si Sulaiman anak Bangkalan dengan mobil Kijang Kristanya. Ternyata Sulaiman tidak hanya datang sendir, tapi dia datang 2 orang anggota roses lainnya si Kholil Lora dan si Iin Imut. Keadaan semakin tambah ramai ja dan tentunya semakin menggelikan. Satu persatu menuangakan kangennya dengan ekspresi yang berfariasi, mulai dari hanya jabat tangan sampai pada cubit pipi, ih geli deh he...he......!!! Itulah gambaran keakraban yang tersulam di siang itu.

Tidak cukup sampai disistu, ternyata sulaman keakraban ini berlanjut hingga bibir kolam TSI (Kolam renang di daerah Sumenep). Disitu ditumpahkan segala ekspresi kangen lewat adu renang, lompat indah sampai pada pamer bodi indah he...he.... Aku yang belum sempat bisa berenang terpaksa harus ikut walau hanya pakai gaya batu. Awalnya aku menampik untuk terjun ke air biru kolam TSI tersebut tapi tingkah usil teman-teman membuatku harus menceburkan diri juga walau hanya berbalut CD karena memang aku tidak membawa peralatan renang. Tak ayal dua teman cewek si Iin Imut dan satu lagi yang belum sempat aku ingat namanya langsung menutup mata menghindar dari pemandangan yang menggelikan. Beberapa kali aku sempat mendapat sorakan dari teman-teman, tapi akhirnya lama-lama keadaan dapat terkontrol hingga pada suatu saat sempat si Iin Imut mendekatiku di kolam dengan jarak yang cukup dekat serta dengan keadaan diriku yang hanya berbalut CD yang membuatku berdesir (sensor deh......)he...he.. gak kok cuma adu renang. kakakakkk.....

Tanpa terasa sudah 2 jaman aku berendam di kolam TSI kini tersisi rasa capek, segera aku menyudahi renang gaya batuku itu.Teman-teman juga memutuskan untuk menydahinya juga kemudian akhirnya kami menuju TB (Taman Bunga) untuk mengisi perut yang mualai kembali menyanyikan lagu khas bertema lapar. Nasi bungkus cukup memebuat aku dan teman-teman kembali bergairah. Sementara di tengah-tengah makan gemuruh canda tawa tetap terdengar menjadikan makan di saat itu begitu nikmat. Aku yang tergolong mempunyai perut agak meng-karet terpaksa harus menongkrongi nasi bagian teman-teman. Tanpa disengaja kembali aku berkesempatan untuk makan bersama Iin Imut karena dia satu-satunya yang mau di-duain nasi bungkusnya. Awalnya agak risih sih tapi lama-kelamaan menjadi enak dan mungkin jadi terkenang kali he...he....

itulah rangkaian acara di hari Reuni kecilan-kecilan yang dihadir oleh teman-teman Roses diantaranya ada Jamal Mu'asyiq, Also, Dhofir, Hermanto. Kholil, Imam Swandi, Nur hasan Jun Humaidi, Muhaimin, Nur Alim, Saiful Bhari, Dedi Setiawan, JOni, Kholil Lora,Sulaiman, Muhsin Ma'ruf, Iin Imut, Luluk dan aku sendiri. Acara inii adalah acara temu kangen perdana pasca aku keluar dari pondok di bulan September 2008 yang lalu. Untuk semua teman-teman Roses U R all Always my best friends. I LOVE U all....!!!!

*) Cerita ini untuk didedikasikan untuk Teman dan Sahabat kita Jun Humaidi sekitar seminggu setelah melepas kangen bersama teman-teman Roses mengalami kecelkaan yang menjadikan dia kehilangan tangan kanannya. Semoga Allah memeberikan ketabahan untuk menanggung beban berat itu. Amien....

Senin, 16 Februari 2009

CATATAN PERJALANAN KE MDURA 3

Obrolan dan Buaian Angin Malam Workshop

Masih di hari pertama Senin 9 Pebruari 2009 selepas menyapu bersih menu makan siang di dapurnya Ust. Abd. Salam tiba-tiba aku dikejutkan nada dering pesan khas HP-ku yang berisi sebuah informasi kedatangan seorang temanku dari tanah betawi si Jamal Mu'asyiq anak betawi yang telah lama hidup di lingkungan pesantren, bahkan menurut penuturannya dia masuk pesantren mulai dari SD sampai pada level perguruan tingginya, pada pesantren yang berbeda dan yang terakhir Al-Amien dipilihnya. Lumayan lama bukan…!!?

Kepribadian hidupnya yang begitu sangat kental dengan tradisi pesantren menjadikan dia kelihatan sangat familiar dengan siapa saja, termasuk denganku. Mengenalnya sekitar 7 tahun yang silam ketika aku duduk sekelas dengannya di kelas V TMI. Walau waktu itu keakrabannya masih belum kelihatan, namun sosoknya yang tegas dan santunn menjadikan aku dan teman-temanku senang bergaul dengannya. Persahabatanku dengannya semakin kental ketika masa-masa pengabdian di pondok, bahkan pada beberapa moment aku sempat diajak olehnya hanya sekadar santai take a rest Madura-Surabaya. Wajar saja jika dia yang selalu mengajakkku karena budget kesehariannya memang di atasku atau boleh sedikit mendekati tajir.

Ikatan emosional sebagai seorang alumni Al-Amien menambah keakraban itu, sehingga begitu dia datang dan tahu kalau aku juga ada di pondok kontan langsung menghubungiku. Sebagai seorang teman aku juga merespon dengan baik uluran kangen seorang sahabat jauh dengan beranjak menemuinya ke kamar Dhofir kurus yang menjadi persinggahan Jamal. Walau kurun waktu perpisahan tidak terlalu lama tapi nampak perbedaan yang terlihat pada dirinya, secara fisik Nampak sedikit gemuk. Melihat perubahan tersebut kontan keluar guyonan khas keakraban "Makan apa ja kamu Mal di Jakarta?". Jamal hanya tersenyum sambil menjawab dengan nada tidak meyakini perubahan fisiknya yang semakin gemuk." Masa sih Gw Gemuk, kayaknya gak deh".

Guyonan keakraban terus mengalir hingga waktu Ashar mendekati. Suara tawa menghiasi kamar sahabatku Dhofir, yang dikenal mempunyai tipikal dan kemampuan membuat orang terpingkal-pingkal. Gaya bicara dan gerak refleknya tidak kalah dengan Budi Anduk-nya tawa sutra. Pokoknya jika Dhofir si pemilik badan lurus dan kurus ini beraksi maka ruangan akan menjadi riuh dengan gelak tawa. Aku cukup senang di siang menjelang sore itu, akhirnya perbicangan itu diakhiri dengan sholat Ashar dan aku beranjak menuju kamar asatidz di ta'mir sekadar bernostalgia bersama mereka hingga maghrib tiba.

Malam pun kembali datang dengan diawali kembalinya matahari ke peraduannya. Alunan ayat-ayat suci al-Qur'an terdengar di pojok-pojok pondok, semua santri menjalankan aktifitasnya lewat ibadah-ibadah lailiyah yang telah diprogramkan oleh pondok, mulai dari ngaji al-Qur'an, Sholat Jama'ah serta ta'lim jama'je atau biasa disebut Muwajjah, masih berjalan seperti dulu. Sementara aku dinner di dapurnya KH. Marzuqi Ma'ruf sekaligus juga bernostalgia dengan masakan yang sering aku lahap dulu. Menunya masih menggairahkan, ada sambel pedas beraroma terasi, udang berbalut tepung, telur dan tak ketinggalan menu wajib tahu produksi dalam negeri he….he…. Dengan lahapnya aku menikmati hidangan tersebut sampai akhirnya rasa laparku lenyap berganti kenyang. "Al-hamdulillah" aku berujar yang kemudian diikuti ucapa terima kasih untuk Ibu dapurnya. "Syukron ya Bu Dapur…….!!!

Malam itu benar-benar malam istimewa bagiku, dimana teman-temanku yang dari Bangkalan juga datang ke pondok. Hal itu baru aku ketahui setelah aku membuka pesan singkat yang dikirim Dhofir anak aneh dari Kangean itu. Mereka telah menungguku di Workshop markasku dulu sebelum kepergianku ke kota Gudeg. Akhirnya dengan perasaan happy aku menyusuri jalan menuju workshop yang masih agak gelap dengan penerangan yang sangat minim. Terlihat wajah Workshop dari jauh masih seperti dulu, lampu remang-remangnya yang menjadikan aku tidak lupa dengan markasku dan teman-temanku selama mengerjakan skripsi itu. Namun sedikit ada perubahan pada ruangan sebelah selatan yang Nampak sangat gelap karena memang tidak ada lampu satupun yang dinyalakan. Setelah aku tahu ternyata ruangan sebelah selatan memang tidak ada orang yang mau menempatinya. Aku sedikit bertanya-tanya, ada apa dengan bekas tempatku itu, apa mereka merasa tidak sopan menempati bekas tempat sang Wali (aku maksudnya) he…..he….

Ah sudahlah aku membiarkan pertanyaan itu mengalir begitu saja sebagai pertanyaan guyonan saja. Sesampainya di Workshop teman-teman sudah pada jungkir balik sambil ketawa-ketawa. Ada yang tiduran, merokok, makan to'am ada yang serius bercerita pengalamannya tidak ketinggalan Dhofir langsung menyambutku dengan pertanyaan yang membingungkan " Bawa tepongan (hanya kalangan tertentu yang tahu artinya) Jan ?". Kontan aku langsung ketawa " Gila ya" singkat padat jawabanku kemudian langsung diikuti tawa teman-teman dan rjabat tangan. Semalam suntuk aku dan teman-temanku bertukar cerita. Waktu itu yang datang ada Muhaimin, Muhsin Ma'ruf, Ali Fadhol, Nur Alim, Jamal, Borju, Imron, Dedi Setiawan, Saiful Bahri dan aku sendiri. Aroma ceritanya macam-macam dari yang paling serius menyangkut masa depan Al-Amien, bisnis dan tidak ketinggalan obrolan tentang cewek-cewek seksi he..he..he…

Pergumulan romantis itu diikuti dengan aroma-aroma kopi Pak Sahe yang masih khas mengalahkan aroma kopi Blandongan Jogja yang sempat aku cicipi. Tanpa terasa waktu telah menggiring aku dan teman-temanku mendekati shubuh. Tanpa disuruh satu per satu teman-temanku mulai ada yang tewas berselimut mimpi, kemudian akhirnya aku tidak tahu lagi tiba-tiba aku hilang ditelan gelayutan siraman angin malam Workshop.

Sabtu, 14 Februari 2009

CATATAN PERJALNAN KE MADURA 2

Makan Siang yang Lahap

Pagi seiring mentari yang mulai tebarkan senyumnya aku terbangun dari pulasku. Aku terbangun tidak pada sunah yang diterapkan pondok yaitu se-jam menjelang shubuh. Pagi itu aku terbangun dengan sedikit menginjak waktu pagi atau bisa dibilang kesiangan, walau demikian aku tunaikan shubuhku diantara shubuh dan duha sekitar jam 05.00 WIB. Suara musik mengalun dari komputer Marhalah Tsanawiyah di pojok timur kamar asatidz Al-Jufri. Komputer itu jelas sengaja diboyong dari kantor seperti kebiasaanku dulu yang memboyongnya ke workshop ruang singgasanaku dulu. Sudah menjadi kebiasaan menjelang ujian, kantor pasti sudah mulai dikosongkan dari barang-barang berharga demi keamanan, mengingat asatidz tidak lagi standby di kantor pada suasana ujian.

Selepas mandi aku mulai menyususri lingkungan pondok dan mengunjungi tempat-tempat tongkronganku dulu sekaligus bernustalgia. Kantor MTs menjadi obyek pertama yang aku singgahi, karena kantor itu mempunyai memorian yang cukup terkesan bagi diriku. Disitulah aku berlatih menjadi seorang leader yang mencoba mengatur teman-temanku sendiri sesama asatidz dengan kapasitasku sebagai seorang sekretaris. Banyak pengalaman yang menjadikan aku semakin bisa mengkristalkan kedewasaanku lewat tugas-tugas struktural yang dimanahkan pondok padaku.

Di kantor MTs aku bertemu orang nomor satu di kantor tersebut al-mukarram Ust. H. Bakri Sholihin mantan atasanku 4 bulan yang lalu. Tipikalnya yang sedikit pendiam namun tidak jarang juga memuntahkan kemarahannya lewat nada-nada tegasnya yang sempat aku rasakan berkali-kali tat kala aku menjadi sekretarisnya. Tapi kali ini senyumnya mengumbar menyambut kedatanganku penuh akrab. Sementara teman-teman asatidz yang lain keluar masuk kantor sambil tak lupa menyapaku. Mereka semua masih segar sumringah tidak jauh beda dari 4 bulan yang silam.

Sampai menjelang sore aku hanya menikmati wajah pondokku dengan keriangan bersama-sama teman-teman asatidz yang kebetulan tidak punya tugas waktu itu. Tepat setelah Sholat duhur perutku mulai menyanyikan lagu khasnya yang mendorongku untuk segera mengisinya. Melihat gelagat yang demikian si Brudin pemilik badan gendut itu mengajakku makan di dapur Ust. Abd. Salam. Aku yang menyadari keadaanku yang hanya sebatang kara dengan persediaan duit yang pas-pasan akhirnya aku tidak menolak ajakannya dengan langsung menyerobot masuk ruang makan guru di sebelah selatan Rayon Al-Jufri yang berdampingan dengan kamar asatidz. Dengan lahapnya aku menyapu bersih menu makan siang ala Al-Amien yang pasti tidak lepas dari tahu, telur dan ikan laut. akhirnya kau kenyang, Al-Hamdulillah......

Jumat, 13 Februari 2009

CATATAN PERJALANAN KE MADURA 1

Jogja hingga Al-Jufri

Ahad 2 Pebruari 2009 tepat jam 07.30WIB aku bertolak dari terminal Giwangan Jogja menuju Madura. Perjalanan memakan waktu 7 jam itu memberiku banyak kesan yang bisa aku rangkai menjadi sebuah deretan kata yang bisa aku kenang di saat aku bersimpuh dalam sepiku. Merupakan perjalanan pertama setelah aku singgah di kota gudeg dalam kurun waktu 4 bulanan terhitung sejak Oktober 2008 yang lalu. Perjalanan ke Madura saat ini menurutku merupakan perjalanan yang mendebarkan, menyita perasaan, hati dan otakku. Perasan mendebarkan itu sudah aku rasakan semalam menjelang perjalanan yang sebenarnya. Ada rasa rindu yang menyumbat di ulu hati, sehingga menjadikan kantukku lenyap jauhi malamku.Tersisa sebuah dimensi hayal tentang kemesraaan sapaan teman-temanku di madura. Diriku diajak menjelajah sumringah bersama tawa sahabat-sahabatku yang telah aku tinggalkan 4 bulan lamanya. Begitulah malamku yang telah melebur dalam gelombang riak pelukan kegembiraan jelang menlepas rindu untuk Maduraku.

Laju Bus Eka yang mengangkut penumpang kota antar propinsi menghantarkanku ke terminal Bungurasih Surabaya tepat jam 14.35 WIB. Surabaya dengan wajah lamanya bersama kesembrautan kotanya tetap mengingatkanku untuk melangkah mencari Bus menuju Madura. Tidak sulit untuk menemukan Bus jurusan Madura, cukup melangkahkan kaki menuju tempat tunggu kemudian tak lama setelah itu aku dibimbing oleh para kondektur bus menuju bus yang dimaksudkan. Selang beberapa menit setelah aku duduk pada posisi yang aku pilih di bagian hampir mendekati belakang di dalam Bus, kemudian bus pun melaju menuju dermaga perak.

Sial bagiku, bus yang mengangkutku tidak langsung menuju dermaga tapi malah berhenti di pinggir jalan di luar pelabuhan. Aku harus ikut berhenti sambil menunggui sampai semua kursi di dalam bus yang aku tumpangi ini penuh. Selang waktu yang cukup panjang ini membuatku dongkol, marah, kesel atau apa saja yang bisa mewakili rasa tidak terimaku terhadap keputusan si sopir Bus brengsek itu. Lebih 4 jam aku harus bertarung dengan kesalku, beruntung rasa kesel itu sedikit terobati setelah aku mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan memainkan musik khas bertema lapar. Tepat jam 20.30 Bus memasuki kapal dan siap untuk menyebrang ke Madura. Perasan mulai lega berganti rasa kantuk temani perjalananku.

Tiga jam perjalanan telah aku lalui akhirnya aku benar-benar sampai pada tujuanku tepat jam 23.00 WIB. Udara Madura dan pondokku kembali bisa aku hirup walau sebagian para penghuninya sudah berselimut mimpi. Banyak lampu-lampu yang sudah tidak menyala mungkin karena sudah larut sehingga harus dimatikan. Terilhat beberapa Bulis menjaga di pintu masuk pondok sambil menyapaku dengan salam. Anehnya mereka menyalamiku layaknya aku masih seorang ustadz di pondok. Sepertinya mereka belum menyadari benar keberadaanku saat ini, atau boleh dibilang mereka masih mengira kalau aku masih berdomisili di pondok.

Tepat langkahku berada di samping kanan Masjid Jami' aku melihat sosok manusia berbadan gemuk dengan gaya tipikalnya yang masih belum terlupakan olehku. Aku sengaja menghentikan langkahku untuk memastikan kalau apa yang aku lihat itu adalah Zainuruddin (Brudin teman-teman memanggilnya) si pemilik body kentung. Benar dugaanku dia langsung menyapaku dengan suara bulatnya yang keras memecahkan kesunyian "Jan kapan datang?". Aku sunggingkan senyum khas setengah mengeluarkan bunyi bahak atau bisa dibilang miniatur ketawa yang sesungguhnya.

Kemudian si Gemuk Brudin ini menggiringku ke Al-Jufri MABES laskar-laskar TMI Marhalah Tsanawiyah yang dulu juga orang-orang dekatku di kantor. Pemandangan tidak jauh berbeda dengan 4 bulan yang lalu, mereka para penghuninya masih tergeletak di atas kasur busa tipis sambil menikmati hujaman angin malam menuangkan mimpi. Tersisa satu orang yang masih belum terlelap, dia Khoiron si boldoser dapur yang dulu sering membabat habis lauk di dapur. Makanya tidak heran kalau perutnya masih kelihatan ke depan walau masih klesemen ke-2 setelah Brudin. Sambil melepas penat terdengar obrolan hangat yang kemudian diakhiri dengan dengkuran pulas melepas kantuk.

Minggu, 01 Februari 2009

Keutuhan Guru Menjadi Penentu Kondisi Anak Didik

Sudah menjadi menu harianku untuk bertatapan dengan santri. Ritual ini sudah berjalan sekitar 6 tahun yang silam hingga saat ini. Rasanya aku belum bisa dengan serta merta meninggalkan dunia pesantren sebagai wadah hidmahku. Wajar saja jika hal itu menjadi pilhanku, karena aku memang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Terhitung sejak tahun 2003 aku secara profesi menjadi seorang guru yang selalu bergumul dengan kehidupan santri selama 24 jam.

Awal hidmahku bermula di AL-AMIEN PRENDUAN sebagai guru pengabdian wajib yang harus dilewati oleh setiap alumni TMI (Tarbiyatul Mu'allimien Al-Islamiyah). Ketika itu walau masih pada tahapan uji coba sebagai bentuk implikasi dari apa yang aku terima selama menjadi santri, jiwa guru begitu cukup melekat dalam diriku. Sehingga tak jarang dalam usia yang relatif muda atau bisa dibilang ABG aku berhasil menyesuaikan dengan posisiku sebagai seorang guru walau tidak sampai pada tingkat ideal. Hal itu terbukti dengan berhasilnya diriku melewati masa-masa uji coba tersebut dengan husnul khotimah.

Nampaknya pengabdian wajib itu menjadikan aku rindu dengan dunia gelak tawa para santri walau pada beberapa waktu terdapat kasus-kasus yang cukup menguras hati dan otakku. Pada tahun berikutnya tahun 2004 aku memilih kembali untuk melanjutkan pengabdianku sebagai seorang guru di tempat yang sama. Tahun ke-2 ini posisiku bukan lagi menjadi guru pengabdian wajib (magang) tapi sudah benar-benar menjadi pilihan yang harus lebih dibuktikan secara konkrit. Artinya sikap dan prilaku bahkan mungkin keutuhan diriku yang meliputi roh, jiwa dan jasad harus benar-benar berfungsi layaknya seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh santri-santrinya. Tidak mudah untuk menfungsikan keutuhan diri ini menjadi seorang guru, butuh keseriusan dan kematangan hati. Namun tidak boleh tidak pilihan ini menjadikan aku sadar untuk selalu berusaha mencapai batas maksimal kemampuan yang aku miliki. S

Waktu terus bergulir sementara aku masih tetap pada pilihanku dan saat ini aku mengabdi di lembaga pendidikan Islam Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada beberapa waktu sengaja aku mengajak hatiku untuk berpetualang mencari keutuhan diri dalam rangka menghadirkan sosok seorang guru pada diriku. Di lain sisi tataran darah mudaku juga bergejolak seiring dengan godaan zaman yang kian menajam. Kadang godaan itu menyeretku mendekati prilaku fakhsya'. Contoh kecilnya, tidak sedikit diantara guru termasuk diriku dengan tanpa sadar meninggalkan tugas-tugas formal dan mengedapankan kepentingan diri. Konkritnya seperti dengan seenaknya seorang guru absen pada kelas tertentu sehingga anak didiknya terlantar. Lebih dari itu ada beberapa kasus yang sudah tidak lagi mendekati fakhsya' tapi sudah benar-benar jauh dari dimensi seorang guru.

Kasus di atas masih pada tataran kasat mata belum menyentuh yang sifatnya abstrak berupa prilaku jiwa dan roh. Dua dimensi ini walau tidak nampak secara kasat mata tapi mempunyai dampak luar biasa pada kondisi santri sebagai obyek garapan pembentukan seorang manusia yang berkaitan dengan lmu nafi' (dalam bahasa K.Idris). Artinya prilaku jiwa dan roh seorang guru memberikan dampak pada kondisi seorang anak didik entah itu pada saat dimana anak itu sedang belajar atau nantinya setelah terjun ke masyarakat. Prilaku yang abstrak itu sifatnya mendekati hal-hal yang relegi seperti keikhlasan, kesabaran atau beberapa prilaku lainnya yang berkaitan dengan jiwa, hati dan ruh. Jadi mendidik anak itu tidak sekadar melibatkan jasmani kita yang hanya menyampaikan ilmu, tapi ada aspek abstrak yang harus dipenuhi oleh seorang guru. Dalam ilmu pendidikan disebutkan bahwa seorang guru harus sehat dan mampu memaksimalkan fungsi jasmani dan rohani pada titik seyogyanya seorang guru.

Terus terang sampai saat ini tidak sedikit para guru yang mungkin melupakan sisi terabaikan ini. Sehingga ketika seorang murid atau santri yang tumbuh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, santri tersebut menjadi titik paling salah. Akhirnya pada tahapan yang cukup akut melahirkan prilaku kontak fisik, pemukulan atau apa saja hukuman yang kurang etis dilakukan seorang guru seperti yang marak diberitakan media masa akhir-akhir ini.

Mencoba untuk mengimbangi fenomena tersebut, mungkin tidak salah jika aku dan kita yang berprofesi menjadi guru untuk bersama-sama meng-introspeksi diri kita sejauah mana usaha kita menghadirkan keutuhan diri kita untuk menadi seorang guru. Tawaran ini mungkin lebih khususnya aku khususkan untuk lembaga pendidikan yang aku singgahi sekarang Mu'allimin Yogyakarta yang akhir-akhir ini disibukkan dengan maraknya para santri yang melanggar di asrama. Semoga dengan kemauan diri kita untuk menghadirkan keutuhan diri kita sebagai seorang guru serta dengan iringan tuntunan Allah para santri dapat kembali menjadi santri seperti yang diharapkan. Amien.....