Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 17 Oktober 2008

Pelangi Indah

Hidup ini untuk ibadah. Makna ibadah begitu cukup luas, sehingga tak mungkin untuk dikonkritkan. Banyak cara dalam melakukan ibadah, tergantung kesiapan dan kemampuan seseorang. Namun yang pasti untuk melakukannya adalah sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar sebagai makhluk-Nya yang beradab. Pada umumnya manusia memilih satu cara, satu jalan dalam merealisasikan ibadah di kehidupannya. Jalan itu berupa ajaran yang selama ini biasa dikenal dengan sebutan agama.

Agama sebagai sebuah pilihan formal menjadikan bentuk-bentuk ibadah itu berpeta-peta. Hal itu untuk memudahkan manusia dalam menjalankan kewajibannya untuk menyembah Tuhannya. Manusia sebagai makhluk yang berperadaban tumbuh berkembang sejalan dengan nalurinya sebagai identitas kesempurnaan ciptaa-Nya. Dengan kejernihan pikirannya muncullah berbagai macam bentuk ajaran formal yang menjadikan dunia berwarni-warni. Berwarni-warni dengan keaneka ragamannya serta interpretasi yang berbeda mengenai Tuhan sebagai sesembahan. Sehingga dengan perbedaan inilah kemudian pada prakteknya juga bermacam-macam.

Untuk sementara saat setiap individu memilih satu pilihan saja dari sekian bentuk warna-warna tawaran formal peribadatan tadi. Karena memang tidak mungkin memilih semua warna-warni tersebut, walau pada hakikatnya semua pilihan tersebut mempunyai dua potensi yang sama yaitu, berpotensi benar pada satu sisi dan di sisi yang lain berpotensi salah. Dengan dua potensi yang dimiliki oleh masing-masing warna, sebagai manusia yang berpendirian maka konsekwensi memilih satu saja adalah pilihan logis dan sangat manusiawi.

Sebagai konsekwensi logis maka pilihan yang menjadi tambatan hati seorang individu harus benar-benar diyakini dan berangkat dari hati. Konkritnya seorang pemilih dengan pilihannya harus sinkron dan teguh menjalankan pola kerja yang diterapkan dalam pilihannya. Hal ini juga harus bisa dilakukan oleh kita sebagai seorang Muslim yang memilih Islam sebagai sebuah jalan hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan kita Allah SWT. Artinya Islam sebagai sebuah pilihan harus diyakini kebenarannya dengan tunduk mengikiuti aturan main yang ada di dalamnya.

Akhir-akhir ini kembali mencuat semacam ajakan untuk mengakui kebenaran seluruh warna agama. Ajakan ini walau terkesan cukup ilmiah secara garis pandang mereka, tapi sejatinya mempunyai banyak borok yang tidak sejalan dengan dimensi kemanusiaan. Entahlah apa sebenarnya dibalik gerakan ini, sementara ini aku belum mengerti....!!!

Sabtu, 11 Oktober 2008

Sistem Pendidikan yang Membingungkan

Menjadi orang baru di derah yang benar-benar baru buat seseorang adalah hal yang sangat sulit. Perlu semacam adaptasi dan ketangguhan mental. Sudah seminggu aku tingal di kota Jogja pada sebual lembaga pendidikan yang mempunyai akar pemikiran yang berbeda dengan pondasi dasarku. Lembaga ini merupakan anak harapan dari salah satu organisasi yang didirikan A. Dahlan 1921 yang silam. Corak pendidikannya mengacu pada orientasi persyarikatan, sehingga bagiku terasa kaku dan tidak memberikan ruang untuk berkreatifitas, terutama bagiku yang sebelumnya memang hidup pada ranah lembaga pendidikan yang menghendaki kreatifitas.

Untuk sementara aku hanya bisa bersimpuh dan melihat aktifitas laju pendidikan yang diterapkan di lembaga yang aku singgahi tersebut. Banyak hal yang terasa benar-benar tidak mencerminkan sebuah pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan, kebebasan dan kemerdekaan malah tambah mengekang dan mengebiri gerak pemikiran siswa-siswanya. Kondisi ini yang menjadikan diriku sedikit terbelalak menaha n perahan dari sebuah sistem yang mengigit. Aku menyadari semua ini adalah warna hidup yang merupakan bagian dari sebuah kekayaan sistem pendidikan yang berada di sekitarku.

Aku memilih lembaga ini bukan untuk menambah sadisnya gigitan, tapi aku ingin menciptakan keharmonisan yang memberikan ruang dinamika bagi para siswanya, khususnya siswa yang menjadi tanggung jwabku. Sebenarnya adalah hal yang sulit namun sulit bukan berarti tidak bisa dajajal. Untuk sementara gerakku hanya sebatas mengenalakan kalau opsi dari sistem yang mereka gunakan bukanlah sistem yang memeberikan kenyamanan. Salah contoh dari sadisnya sengatan sistem yang mengikat ini adalah terkungkungnya gerak dari laju pendidikan yang tertumpu pada gari-garis persyarikatan, sehingga untuk kemaslahatan umat dengan kemajemukan budaya dan kebiasaan masyarakat lembaga ini tidak bisa memberikan apa-apa. Artinya produk dari lembaga ini hanya untuk kelompoknya saja bukan untuk masyarakat umum.

Untuk sementara aku menambatkan hidupku pada lembaga ini hanya sebatas profesi saja dan kelanjutan hidup. Rupiah yang menjadi sorotanku, tapi jauh di lubuk hati kejernihan sebaga i seorang manusia normal yang dilatarbelakangi jiwa mu'allim aku ingin lebih dari sekadar pengais rupiah. Aku ingin menempatkan sebuah motivasi suci di bagian kesibukanku untuk beribadah kepada-Nya.

Senin, 06 Oktober 2008

TITIAN AWAL LEPAS IDUL FITRI-KU

Perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus mengasyikkan buatku. Di hari ke-4 setelah hari kemenangan lepas dari bulan suci, aku kembali mengembara meniti angan yang sempat tergantungkan tak kurang dari setengah bulan menunggu panggilan dari lembaga Mu'allimien Muhammadyah Jogjakarta. Hari itu aku berangkat dari tanah kelahiranku menuju Jogja tongkrongan beradu nasib dengan ribuaan bahkan mungkin sampai jutaan manusia. Aku memenuhi panggilan pimpinan Mu'allimien sebagai jawaban atas lamaranku untuk menjadi tenaga pengajar di lembaga tersebut.
Cukup senang dengan panggilan tersebut, karena ternyata anganku untuk menikmati gemuruhnya kota Gudeg ini bisa terulang lagi, bahkan akan menjadi kampung halaman baruku untuk beberapa waktu ke depan. Aku datang jogja ini sebenarnya menggendong berbagai macam cita, mulai dari finansial sampai pada melanjutkan studi S2 di perguruan tinggi terkenal di kota Jogja ini. Namun hal itu untuk smentara hanya sebuah angan yang kenyataannya masih perlu perjuangan dan keseriuasan dari diriku.
Jogja terkenal dengan kota pendidikan dengan beratus-ratus perguruan tingginya. Orang sepertiku hanya manusia kecil yang terbungkus dengan kebodohan sehingga sering kali aku berkecil hati dengan keadaan latar belakang pendidikanku yang di dapat dari sebuah kampung di pulau Madura sana. Aku kira perasaan seperti ini sesuatu yang biasa dialami oleh orang pertama di kota ini. Lambat laun perasan ini aku harapkan bisa terbuang jauh ke jurang dalam yang tak terjangkau, sehingga aku terlepas dari purtus asa. Aku harus berani tampil dengan kedirianku. Aku harus jadi pejantan sejati yang memiliki banyak potensi untuk meraih cita-cita kecilku tadi. Tuhan tunjukkanlah aku menuju keridlaan-Mu...!!!!

Kamis, 18 September 2008

TADARUS JOGJA III (Habis)

Lepas paroh malam hari ke-19 Romadlan 1429 H, aku mencoba memunguti rentetan kesan pasca penyusuranku di kota Gudeg. Tidak terlalu lama keberadaanku di kota tersebut, tapi wajah kota dan berbagai macam corak warna kehidupannya dapat aku baca dengan baik, walau sesungguhnya masih merupakan rabaan pada kulit luarnya saja. Aku mencoba mentadarusi kota tersebut di sela lapar dan haus di perjalanan puasaku di bulan suci sebagai implementasi dari makna Ulil Albab yang difirmankan Allah dalam kitab suci-Nya. Sangat banyak pernak-pernik kehidupan yang diperlihatkan Allah di daerah Istemewa ini. Dari bangunan historisnya yang mengagumkan dan membuat otakku berfikir pada perjalanan bangsa ini dulu. Di lain sisi, kota ini juga menyuguhkan kebhinnekaan penghuninya.
Di sela penyusuranku di hari ke-2, aku sampai di jalan Malioboro. Sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh lalu lalang manusia, entah yang memakai alat transportasi atau mereka para pejalan kaki. Nampak kesibukan yang sulit aku pahami, yang jelas masing-masing orang mempunyai tujuan sendiri. Shoping atau hanya sekadar menikmati pemandangan kota yang sibuk merupakan dua diantara sekian motivasi dari para pengunjung jalan ini. Jalan ini sangat pas bagi siapa saja dengan tujuan apapun, karena di sepanjang jalan ini semua kebutuhan tersedia. Bagi meraka yang ingin mengais rupiah dengan hanya menengadahkan tangan cukup berdiam saja di pintu-pintu masuk setiap toko atau supermarket dengan wajah memelas. Tidak sedikit orang yang seperti ini, kalau Anda berminat coba saja asal tidak malu pada diri Anda….!!! He….he…..
Malioboro merupakan ikon dari kota ini, dalam arti lain merupakan magnet Jogja yang menarik siapa saja untuk datang ke lokasi tersebut, termasuk juga diriku. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wajah-wajah kota lainnya. Kerawanan akan keamanan tetap menjadi menu peringatan yang tertempel lewat tulisan di fasilitas umum yang tersedia di kota ini. Misalnya di masjid Gedhe Kraton, masih terlihat beberapa peringatan tentang keamanan hak milik. Artinya potensi kriminal di kota ini masih perlu diwaspadai oleh para pengunjungnya. Sebagai bagian dari pengunjung kota ini, aku sedikit khawatir dengan keamanan diriku.
Realitas di atas sedikit membuat nuraniku berdialog dengan kejernihan otentitas nilai kemanusiaanku yang beriman. Dialogku dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana, “kenapa masalah keamanan tetap menjadi hal yang diwaspadai di tengah-tengah kota yang merupakan masih lingkungan terpelajar?”. Kota ini terdengar ke luar hingga sampai pada telingaku yang berada jauh di pulau terpencil di perairan Madura sebagai kota pelajar, tapi kenapa penghuninya harus dihantui oleh prilaku yang mencerminkan kebobrokan. Di benakku dulu sebelum kakiku menginjak kota ini tergambarkan suasana yang aman yang mencerminkan masyarakat madani terpelajar. Keamanan serta kriminal lainnya bukanlah sebuah masalah, jaminan keselamatan serta ketenangan menjadi nuansa kehidupan di kota ini. Begitulah rekaan awal diriku yang sama sekali berbeda dengan apa yang aku lihat saat itu.
Bersyukur selama penyusuranku di kota Gudeg ini aku belum bersentuhan dengan tindak kriminal konkrit fisik. Namun seperti pencekalan, memanfaatan kesempatan di saat keterhimpitanku masih terlihat walau tidak terlalu vulgar. Misalnya, mark up harga barang atau makanan di luar kewajaran selalu menjadi menu benturan tiap waktu bagi orang baru seperti aku. Awal aku menginjakkan kakiku di Jogja pada saat aku menyantap masakan soto Joga, dua porsi berharga Rp 25.000,-. Menurutku soto itu tidak jauh berbeda dengan soto buatan Pak Sahe di warung depan pondokku yang hanya seharga Rp. 4000,-.
Pengalaman di atas begitu terlihat kurang wajar atau juga bisa dibilang kurang ajar. Mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tapi bagi diriku dengan keadaan ekonomi yang mepet hal itu menjadi buah pertanyaan yang perlu dipertanyakan, “kenapa?. Sejatinya aku tidak mempersoalkan kerugian finansial yang aku keluarkan. Tapi aku menangkap ada semacam keganjilan yang terencana dan sepertinya mewabah di kalangan masyarakat kita. Keganjilan menjadi nyata ketika pada suatu saat aku bersama temanku yang sudah lama berada di kota Gudeg ini makan pada menu yang sama dengan harga relatif wajar. Melalui pengalaman yang kedua ini, keganjilan itu benar-benar sebuah problem yang harus dikaji oleh diriku. Aku menilai keganjilan tersebut merupakan tindak kriminal yang bernilai pemerasan.
Diakui atau tidak fenomena yang aku temui tadi merupakan borok sosial yang perlu disembuhkan. Karena dari yang sederhana ini kemungkinan akan berdampak pada tingkat kriminal yang lebih besar. Banyak hal yang harus ditelusuri dari problem ini, dari sisi relegiutas, pendidikan sampai pada ekonomi. Tiga faktor ini menjadi titik kajian yang harus ditelusuri sebagai bentuk kuratif dari bobroknya moral tersebut.
Nampaknya wacana peras-memeras ini tidak hanya tumbuh di kalangan masyarakat bawah, tapi juga para pemimpin bangsa ini lewat praktik KKN yang mewabah. Konteksnya sama dengan problem sederhana tadi, hanya saja bentuk pemerasan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini tidak dilakukan di warung kaki lima tapi di gedung ber-AC dan di atas kursi empuk. Langkah penyembuhannya jelas juga harus lewat tiga titik seperti yang tersebut di atas. Karena pada hakikatnya orang yang berprilaku demikian mengalami ketimpangan pada salah satu dari tiga titik kajian tadi.
Sebagai pesan bagi setiap insan yang mau berfikir dan mengiginkan bangsa ini keluar dari multikrisis agar mewaspadai dan menjauhi tindak pemerasan yang merugikan orang lain atau bahkan bangsa ini. Bagi para pemimpin bangsa yang sudah terlanjur, hubungi aku ya di 081805501428 tak bawa ke KPK biar tau rasa he….he……he…… [ijan08]

TADARUS JOGJA II

Cukup sulit aku merepro apa yang aku lihat selama 15 hari di kota Gudeg. Catatan ini merupakan catatan tunda, sehingga banyak hal yang tidak bisa secara konkrit aku catat di catatan ini. Aku harus memungut ceceran-ceceran kilasan sejarah yang aku jejali selama separoh bulan suci di kota Jogja ini. Namun secara umum kota ini menurutku mempunyai dua perguruan tinggi yang cukup menarik untuk diurai, diselami, dijejali, dieksplorasi atau apa saja yang mumungkinkan dapat tergelar hikmah atau pelajaran bagi siapa saja yang mau belajar dari kehidupan para pelajar di kota ini. Perguruan tinggi tersebut yang aku anggap sebagai perguruan tinggi menarik adalah UGM dan UIN. Keduanya adalah cerminan dari ratusan perguruan tinggi di kota Gudeg ini. Pernyataan ini bukan berarti mendiskriminasikan PT (Perguruan Tinggi) lainnya. Tapi hanya merupakan keterbatasan diriku dan sangat jauh dari motiv tindak profokatif.
Aku memulai tadarusku pada catatan sebelumnya dari UGM. Banyak romantisme gelora cinta yang melebur pada kehidupan kampus. Aku akui hal itu cukup asyik, karena memang sangat sinkron dengan kedirianku saat ini sebagai manusia yang menginjak kepekaan-kepekaan bualan hangatnya cinta. Panorama tersebut cukup untuk membangkitkan pesona cinta yang bermuara birahi. Tapi aku tidak kehilangan control, sehingga panorama tersebut tetaplah ada di luar dimensiku dan tidak bisa mengusik kejernihan hati dan otakku. Semuanya tetap mengalir, sejernih air mengalir mengikuti lekukan-lekukan tanah, namun tetap menuju lembah hikmah yang aku cari.
Setelah empat hari aku mentadarusi UGM, selanjutnya aku menyusuri sasaran menarik berikutnya yaitu, UIN. Kehidupan di UIN lebih akrab dengan jalan alam fikirku. Di sini aku banyak bersentuhan dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang yang sama denganku. Mahasiswanya banyak berangkat dari pesantren, kebiasaan santri terurai lebih dinamis setelah melebur dengan kehidupan kota. Walau seluruh penghuni UIN ini tidak lagi memakai sarung seperti lazimnya santri tradisional, namun dapat aku baca mereka tetap menyisakan warna-warna santrinya lewat kata dan idealisme mereka.
Semarak keilmuan begitu sangat kental tumbuh berkembang di tengah-tengah para mahasiswa. Diskusi atau berbagai macam halaqotul ‘ilmi terlihat di pojok-pojok kampus. Terlihat cukup menarik, mencengangkan setiap mata yang melihat suasana tersebut. Pembicaraan para mahasiswanya tidak terlepas dengan konteks keintlektualan. Pemandangan ini satu sisi menghantarkan aku untuk mengacungkan jempol.
Lazimnya kehidupan kota yang menyuguhkan banyak tradisi dan budaya, mahasiswa juga menjadi imbas dari dampak kemajemukan budaya tersebut. Satu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak muda yaitu, kehidupan pacaran. Tradisi ini walaupun di sebagian wilayah di negeri ini dianggap legal, namun tetap banyak menyisakan sayatan luka bagi pelakunya. Disadari atau tidak tradisi pacaran lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan dampak positif yang ditimbulkannya. Betapa banyak pelaku pacaran yang kemudian harus berakhir dengan tragis. Ada yang diakhiri dengan lenyapnya virgin dari seorang wanita, kemudian ditinggalkan kering oleh pasangannya untuk mengejar buaian cinta lainnya.
Tradisi ini sekilas nampak indah, seindah instrument penghantar kedekatan dua sejoli yang sedang berproses pacaran. Ada kata seindah kata penyair tanpa pengakuan, ada hadiah tanpa kesejukan hati, ada rabaan romantis tanpa legalitas syar’i, semua terasa hambar bagai makanan tanpa garam yang tak mengenal rasa nyaman. Perjalanan proses pacaran ini terjadi dengan berbagai bentuk praktiknya. Seiring dengan majunya tekhnologi yang berkembang, proses ini terimplikasi lewat Short Message Service (SMS), Calling Phone, Chatting Room atau media apa saja yang memungkinkan terjalinnya cinta berbuih birahi. Tataran proses yang melewati media ini bisa dibilang masih wajar, dan kalau boleh aku bilang mereka pelaku pacaran pasif.
Selain media tekhnologi di atas juga tergelar media Natural yang sedikit menggelitik dan membuat bulu roma berdiri. Berdiri karena ngeri dan di lain sisi berdiri karena normal. Media penghantar ini berupa Malioboro, taman kota, kraton, taman kampus, Mall, cafe bahkan kosan sekalipun, atau beberapa tempat indah lainnya yang memungkinkan bisa menggulingkan diri dan menumpahkan luapan cinta. Pada tataran ini aku sebut sebagai para pelaku aktif.
Sebenarnya dua kalsifikasi di atas merupakan kesatuan dan mempunyai kerawanan yang sama serta berpotensi pada tindak zina. Kalau pada media Tekhnologi uraian cinta hanya lewat gulingan kata dan nada, pada media Natural sebagai kelanjutan dari yang pertama berupa gulingan badan dan sentuhan peka erotis yang dapat menghilangkan keseimbangan nilai kemanusiaan. Pada titik kilmaks inilah satu hal yang paling ditakutkan oleh siapa saja yang merasa menjadi manusia bermoral yaitu titik perzinahan. Apapun alasannya yang namanya pergumulan dua insan tanpa ikatan sakral keagamaan yang mencerminkan nilai kemanusiaan sekaligus pembeda antara manusia dan hewan, hubungan tersebut bernilai negative dan berdosa di sisi Tuhan.
Gejala di atas aku dapati di kehidupan anak-anak UIN Jogja, walau wacana ini sebatas hipotesa sementara, namun gejala tersebut tetaplah kenyataan yang tidak bisa aku hindarkan sebagai bagian dari olah tadarusku dalam mengkaji setiap suguhan hidup ini. Kegelisahan dan rasa simpati yang mengharuskan aku mencatat guncangan nilai kemanusiaan ini untuk diperbincangkan di kalangan para ahli dalam mengatur pola hidup para mahasiswa muslim dan muslimah dalam berintraksi. Untuk itu suguhan kontemplasi ini bukanlah mencerca UIN sebagai institusi pendidikan, bagiku UIN tetaplah perguruan tinggi Islam yang diharapkan darinya lahir pejuang-pejuang Islam yang siap hidup bersama Islam hingga di penghujung sejarah ini. Selamat berjuang sobat & buanglah clitoris oriented serta beralihlah pada konsekwensi semual sebagai Tholibul ‘Ilmi. [ijan08]

Rabu, 03 September 2008

Tadarus Jogja 1

Hari ini aku sempatkan untuk pergi ke warnet terdekat dengan tempat bermalamku di kota Gudeg. Sudah lima hari aku bersenggama dengan keramaian kota ini. Banyak hal baru yang mengajriku untuk berfikir,merenungkan atau bahkan sebatas menertawakan saja. Ada yang mengagumkan, tapi juga banyak hal yang membuat hatiku geli, gerah atau malah benci. Kota ini menyajikan banyak hal yang cukup kompleks.
Aku diam di kawasan UGM yang merupakan salah satu perguruan ternamam di kota Jogja ini. Gedungnya besar, menawan, pokoknya indah tidak seperti tempat kuliahku yang kecil dan juga tidak ternama. Sejenak aku kagum dengan penampilan fisik dari perguruan tinggi tersebut. Aku hanya bisa bergumam "wow" saja. Namun hal itu tidak menjadikan akau harus tetap tercengang dalam kekaguman, tapi melainkan mengundang perasaan normalku sebagai seorang manusia untuk tahu lebih dalam di balik penampilan modis universitas megah ini.
Lima hari aku membolak balikkan hamparan UGM sedikit aku mengenal kehidupan di kampus ini. Mahasiswanya yang datang dari seluruh penjuru propinsi menampilkan banyak karakter, sehingga kampus ini layaknya miniatur kehidupan pemuda di negeri ini. Mereka ada yang serius belajar, mencari ilmu namun tidak sedikit yang hanya menghamburkan duit orang tuanya di lorong-lorong penggoda nafsu birahi.
Aku tidak ingin berlebihan, aku hanya ingin mengolah apa yang aku lihat lima hari ini di kampus ini. Hampir tiap waktu dan tempat aku disuguhi dengan kemesraan, cengkrama-cengkrama cinta sepasang pemuda dan pemudi yang memadu kasih terpampang di depan mata. Aku merasa risih, kadang aku harus malu sendiri untuk melihat adegan-adegan tersebut. Sebenarnya aku tidak ingin membohongi diriku sendir, sebagai manusia normal aku juga bisa berpotensi terjebak seperti mereka, tapi Tuhan Allah masih memberikan pilihan lain kepadaku sehingga sampai saat ini aku tetap mencerminkan sosok laki-laki yang bebas dar cengkraman rayuan gombal gadis-gadis pasaran.
Aku berujar demikian bukan berarti menyalahkan mereka, tapi hanya menyayangkan jika waktu yang begitu luas itu hanya habis ditimang oleh rengkuhan-rengkuhan birahi. Karena sejauh yang aku lihat dan aku dengar, sangat sedikit diantara mereka yang memadu asmara kemudian berlanjut pada pernikahan. Faktanya, hanya berakhir dengan kerenggangan kemudian berpisah, lalu mencari gelaran asmara lain yang lebih panas dan hot.
Gelaran kehidupan asmara kampus ini menjadi tadarus awalku di bulan suci ini. Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan atau mencemoohkan seseorang atau golongan tertentu, tapi itu hanya bagian kegiatan tadarusku mengkaji ayat-ayat tuhan yang terhampar luas di bumi ini. Harapanku semoga tadarusku di kota Gudeg ini bisa semakin membuatku bijak dalam menapaki kehidupanku di masa yang akan datang. (bersambung)

Senin, 18 Agustus 2008

BYE AL-AMIEN.........!!

Aku terlahir di Pulau terpencil, namun hampir separuh hidupku tinggal di Pesantren. Pesantren Al-Amien Prenduan aku pilih sebagai tempat meremajakan dan mendewasakan diriku. Selepas studiku di Sekolah Dasar, aku menjadi salah satu santri dari pesantren tersebut, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan studi di perguruan tinggi di pesantren ini juga. Apa yang ada pada diriku saat ini adalah bagian wajah kecil dari Al-Amien. Walaupun aku bukanlah profil alumni yang sempurna, tapi aku berusaha mencapai kesempurnaan tersebut dengan beberapa kelemahan yang harus aku benahi.

Ada rasa sesal, bangga, khauf, roja’ serta sekian banyak ekspresi seorang pemuda normal yang akan terjun pada kehidupan sesungguhnya. Hiruk pikuk kehidupan nyata dalam hitungan hari akan aku hadapi. Wajah kehidupan yang sangat kompleks akan menjadi bagian dan titian hidupku. Tahun ini menjadi tahun terakhirku di Al-Amien. Aku harus tinggalkan Al-Amien secara fisik, tapi semangat dan ruh Al-Amien akan terus aku bawa sebagaimana dia dulu dengan semangat membangun diriku.

Banyak kesan, kenangan yang tak bisa aku tumpahkan lewat kata, numun aku berusaha menjaring hikmah dari pengalaman masa laluku lewat suka, duka, tawa, air mata serta sederetan panjang lilitan sejarah perjalanan hidupku. Walau tidak ada catatan emas sepanjang perjalananku di Al-Amien, tapi aku yakin wejangan para kiai dan ustadz senantiasa diharapkan mampu menggerakkan hatiku untuk selalu dinamis menyungongsong masa depan. Bagi mereka hanya ucapan terima kasih, syukron, thanks atau kata apa saja yang menggantikan kata terdalam terima kasih hatiku. Tanpa bimbingannya aku tidak akan bisa sperti sekarang. Terima kasih kiai, ustadz, teman-teman serta semua orang yang menjadikan aku dewasa.

Kini aku harus mandiri tanpa mereka lagi. Aku harus mampu berdiri bahkan harus lari menapaki tangga-tangga kehidupan yang menjulang. Kehidupan ini aku anggap adalah tangga, sehingga nantinya aku harus naik bukan hanya berjalan datar. Beberapa hari ke depan aku menapaki tangga pertama, namun setelahnya aku harus menaiki tangga berikutnya, demikian seterusnya hingga akhirnya aku sampai di puncak mengibarkan bendera Islam, Islam yang dapat menaungi semua golongan.

Semua itu adalah target dan aturan main hidupku. Aku tidak peduli orang lain akan bicara apa, yang jelas aku tetap hidup layak dan tidak tergantung sama mereka. Aku harus menjadi diriku dengan kelebihan dan kekuranganku. Sebenarnya aku tidak pernah menganggap adanya kekurangan. Rumusan hidup bagiku adalah, semua yang ada di hadapanku adalah potensi yang harus dijejali dan digali hingga akhirnya mewujudkan angan dan cita. Hanya waktu, kesempatan, usaha dan kemauan yang bisa merubah kelemahan menjadi kelebihan.

Selebihnya aku tidak lupa untuk selalu tunduk bersujud di depan sang Penguasa Jagad Tuhan Allah SWT. Antara Tuhan dan aku adalah wujud realitas konkrit hidupku. Aku punya super power luar biasa yang akan menuntunku, sehingga kemungkinan komplektifitas tantangan hidup akan menjadi tantangan menarik yang akan membangkitkan kejantananku untuk terus maju dan dinamis. Al-Amien dan masa laluku tetap kukenang, sedangkan saat ini dan masa depan adalah kesuksesan yang akan aku raih. Good bye Al-Amien and Welcome kehidupan baru.

Minggu, 17 Agustus 2008

REFLEKSI KEMERDEKAAN

Enam puluh tiga tahun yang silam bangsa ini mulai bangkit menapaki lorong kemerdekaan yang dibangun oleh para pemudanya. Waktu itu suara Bung Karno mewakili seluruh rakyat negeri ini menyuarakan tekat kemerdekaan. Tepatnya Tanggal 17 Agustus 1945 itulah seluruh rakyat Indonesia bersuara yang sama lewat dentuman kata-kata proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno sang Proklamator. Tanpa terasa pagi ini 17 Agustus 2008 aku ikut menyimak isi dari proklamasi tersebut. Walau tidak persis sama dengan konteks 63 tahun yang lalu, tapi aku dapat merasakan bahwa negeri ini adalah milik bersama yang harus dijaga dari berbagai macam bentuk penjajahan.

Penuh hidmat aku mengikuti upacara HUT kemerdekaan negeri ini di depan Puspagatra (Pusat Gagasan dan Kreativitas Santri TMI Putra) mulai awal hingga akhir acara. Ada rasa nasionalis yang tumbuh dalam diri. Sesekali aku lihat orang-orang di sekitarku begitu khusuk mengikuti acara ini, pertanda mempunyai kesamaan rasa dengan apa yang aku rasakan. Dalam hati ada dialog bentangkan berbagai persoalan Negeri ini yang tak kunjung habis. Walau sebelumnya aku bukanlah pemerhati sejati laju perpolitikan, tapi secara garis besar laju perpolitikan bangsa ini masih mempunyai banyak kekurangan yang menjadi tanggung jawab kita bersama.

Entah sebuah kekurangan atau merupakan tabiat dari bangsa ini, dalam usia kemerdekaanya yang lebih dari separuh abad, masih tersisa berbagai persoalan terkait pada bentuk penjajahan. Sudah lima kali bangsa ini mengganti pemimpinnya, tapi persoalan makan-memakan (yang kuat memakan yang lemah) terus saja berjalan dengan berbagai macam tipologinya. Kalau masa Belanda dahulu bangsa ini dijajah secara nyata oleh Bangsa lain, tapi sekarang lahir penjajahan tipe baru dan keganasannya jauh lebih kejam dari penjajah sebenarnya. Kekayaan Negeri ini dikuras untuk kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga menyisakan luka dan duka di tengah-tengah rakyatnya.

Derita bangsa ini terus berlanjut memunculkan banyak gesekan di tengah-tengah rakyatnya. Pada tahun 1998 muncul gerakan Reformasi yang memunculkan percaturan babak baru dari perjalanan Negeri ini. Sejenak rakyat cukup gembira dengan beberapa perubahan yang mengarah pada perbaikan. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena persoalan lama mencuat kembali dengan tipologi yang berbeda. Negeri ini kembali digegerkan dengan beberapa kasus pengerukan kekayaan Negara oleh para pemimpinnya. Laju kemerdekaan yang menjanjikan rakyat aman sentosa menjadi isapan jempol belaka, bahkan yang tersuguhkan adalah luka dan luka.

Luka borok terus berlanjut. Berbagai macam kesusahan silih berganti. Penderitaan yang satu hilang, datang penderitaan yang lain, begitu terus keadaan bangsa ini yang semakin tidak karuan. Rakyat diajak berkelana dalam penderitaan dan luka. Berbagai macam sisi mencekik ketenangan rakyat. Kegelisahan menjadi menu utama tiap hari. Keadaan ekonomi mencekik rakyat dengan melonjaknya harga BBM yang berimbas pada naiknya barang-barang lainnya. Rakyatpun semakin teler tak mampu hidup layak sehingga lahirlah berbagai macam bentuk krisis lainnya yang lebih berbahaya.

Jika hal itu terus berlanjut, maka pada suatu saat rakyatpun akan semakin gerah. Sehingga pada kegerahan yang sangat gerah akan memunculkan sikap anarkis yang berakibat pada pelecehan terhadap pemerintahan Negeri ini. Artinya segala bentuk keputusan yang diambil oleh para pemimpin Negeri ini tidak akan diindahkan lagi oleh rakyat. Wibawa pemerintahan akan diinjak-injak oleh rakyat yang gerah. Mereka akan menuntut kemerdekaan. Kemerekaan yang sebenar-benarnya yang memberikan kebebasan serta kedamaian bagi rakyatnya. Kalau seandainya ini yang terjadi kemungkinan besar nanti anak cucuku atau anak cucuk Anda tidak akan lagi memperingati HUT kemerdekaan tanggal 17 Agustus, tapi akan beralih pada tanggal yang lain dimana mereka memuntahkan kegerahannya karena ulah para pemimpinnya yang rakus.

Walau hal di atas hanya sebuah prediksi kosong tapi kenyataan tetaplah tanda tanya yang menyuguhkan kemungkinan. Bukti sejarah yang berkaiatan dengan kegerahan tersebut sangat banyak, dan yang paling berkaitan dengan persoalan bangsa ini telihat dari berbagai aksi gerakan kemerdekaan yang akhir-kahir ini muncul di tengah-tengah kita. Dari yang paling barat sana di Aceh ada GAM, kemudian di derah timur sana ada gerakan Maluku merdeka, kemungkinan di daerah lain juga akan ada gerakan yang serupa, jika para pemimpin ini tetap tidak mau puas dengan duit.Wahai para pemimpin yang terlaknat Berhentilah mengeruk kekayaan negeri ini, jika tak ingin HUT kemerdekaan ini akan berubah !!!”. [ijan]