Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 04 November 2008

Sepenggal Cerita dari Pantai Depok

Begtu indah dunia ciptaan Allah ini. Sore tanggal 30 Oktober 2008 aku berkesempatan menguntit kebesaran Allah lewat jendela-jendela kecil kebesaran-Nya. Deburan ombak setinggi tiga metaran menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Memutih, menyisakan busa yang menggulung di tepian pantai Depok Bantul Yogyakarta. “Subhanallah,Allahu Akbar” aku takjub terhadap ciptaan-Mu Allah. Aku bergumam dalam hati dengan tulus mengakui kebesaran-Nya.

Hamparan pasir hitam yang dilukis indah bekas pijakan ombak yang menggempur membentuk pemandangan menakjubkan. Membukit kadang juga melembah seumpama dibentuk oleh arsitektur handal yang meyajikan pukauan hebat bagi siapa saja yang melihatnya. Suara deburan ombaknya menderu memecah butiran-butiran kegelisahan setiap pengunjungnya. Sejenak para pelancongnya titipkan semua problem pada belaian angin kencang yang mengurai rambut mereka, seumpama bendera yang berkibar.

Gunung di arah berlawanan dengan samudera meninggi seakan menyentuh langit. Sementara gumpalan kabut hitam menyelimuti bagian paling atasnya. Antara pemandangan pantai yang berdapingan dengan gunung yang menjulang ini bagai pengantin serasi yang diarak oleh jubelan intipan manusia. Ada yang mengintip lewat bidikan kamera HP, ada juga yang sengaja membawa seperangkat instrument pengabadian yang cukup modern. Begitu sangat berharganya pemandangan di Pantai Depok ini, hingga harus menjadi tilasan sejarah bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Matahari semakin bergerak ke arah barat seakan tertelan samudera di ujung sana. Sinarnya memudar, panasnya mendingin, namun para penikmat pantai seakan semakin bertambah. Pantai memadat dengan gemuruhnya suara-suara teriakan anak-anak kecil yang beramuk dengan deburan kecil ombak. Hatiku terpingkal dengan tingkah lucunya. Ingin aku bersama mereka membenamkan kebosananku dengan sentuhan jujur sumringahnya, tapi air dan basah menghalangiku untuk melangkah. Karena saat itu aku memang tak punya celana pengganti jika nanti aku harus tunaikan Maghribku di pantai ini. Akhirnya cukuplah aku bersimpuh sekitar 10 meter dari bekas-bekas kaki kegembiraan mereka. Aku diam ………

Tersentak, aku kaget!!! Di balik bukit-bukit pasir yang menggnung ada yang memulai menjajal kemurkaan Allah. Aku dingin, seakan ada semburan tenaga birahi yang membekukan tulang putihku, sehingga aku tak mampu untuk berucap. Aku diamuk kegelisahan yang ditontonkan oleh sebagian pelancong. Sepasang muda-mudi duduk berdua menghadap deburan ombak, terlihat seoang wanitanya membenamkan mukanya di pangkuan sang pria sambil memainkan uraian rambutnya yang terurai sampai bahu bagian belakang pasangan laki-lakinya. Terbelalak mataku tat kala sambaran maut dua insan yang beradu lisan diperontonkan sekitar lima meter dari tempatku duduk. Mataku berhenti berkedip, aku takut, secepat kilat aku beranjak dari tempaku, aku malu, malu pada diriku sendiri.

Istighfar tak hentinya aku latunkan di hatiku, berdosakah diriku menikmati tontonan live yang tesuguhkan di pantai ini??Hatiku bertanya, sambil terus mengadu, merendah memohon ampun pada-Nya. Imanku masih dangkal, takwaku masih tanda tanya, Islamku masih kropos, aku ngiler dengan tipuan syetan yang terkutuk, hingga akhirnya aku putuskan menuju ke masjid untuk tunaikan kewajiban sambil membawa kesan yang berupa pesan sekaligus indzar bagiku. Ampunilah aku “Astaghfirullah……………………..!!!

Aku Juga Sakit Loh

Tiga hari aku tidak bisa beraktifitas, demam yang dideritaku karena perubahan musim membawaku terbaring lemas di atas kasur. Batuk, pilek serta badan terasa ngilu bak remuk ditubruk benda keras. Perasaan mulai tidak tenang, nafsu makanpun ikut turun, tekesan nampak kurang bergairah. Dalam keadaan seperti itu kadang perasaan diajak untuk mengingat kampung halaman nan jauh disana. Diri ini hanya sebatang kara, tanpa sanak keluarga, hanya bisa mendesah dengan nafas seakan dapat mengurangi rasa sakit.
Walau seorang diri, jiwaku aku ajak untuk tenang menghadapi musibah ini. Aku tegarkan hati sambil mencoba menimang perasaan sedihku sambil melantunkan do'a kepada Allah. Semua ini adalah bukti kebesaran Allah yang harus kaji untuk menemukan gelaran hikmah. Musibah ini paling tidak mempunyai dua makna penting bagiku, bisa berupa gelaran cobaan atau naudzubillah sebagai adzab. Antara dua sisi ini memungkinkan diriku ditemukan, jika memang aku berada pada gelaran coba, maka aku memohon agar Allah memberikan kekuatan, namun jika aku berada dalam adzab maka aku memeohon agar Allah mengampuni dosaku.
Terus aku bebrbicara pada hatiku sambil mengais dan merefleksikan adakah diantara sekian tingkahku yang berpotensi menjadi dosa atau pahala. Keduanya bagai dua sisi yang terus mengikuti jalan hidupku, sehingga antara dosa dan pahala bagaikan butiran pasir yang sama-sama menggunung. Dengan kerendahan diri ini, aku bersujud, nersimpuh di hadapan-Nya meohon ampun dari bukitan pasir dosa-dosaku. Hati merintih, malu begitu besarnya dosa ini sehingga aku tak mampu untuk menghitungnya. Aku tertunduk, air mataku mengalir menangisi waktu-waktuku yang terbuang sia-sia.
Diantara himpitan penyesalanku, dengan yakin aku memantapkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, sehingga dosaku yang menggunung-pun kalau Allah menghendaki untuk diampuni akan habis. Astaghfirullah aku berujar dalam ampunku, memelas kasih sayang-Nya, kemudian aku menyudahi semuanya dengan tekad memperbaiki semua salah dan dosa dan menggapai Ridla-Nya.
Semua sudah selesai, akupun hari ini mulai baik kembali walau masih belum sembuh total. Aktifitasku harianku mulai aku jalankan kembali walai masih tertatih-tatih oleh sisa sayatan demam. Aku berharap Allah mengembalikan semuanya kepadaku shingga sujud dam Syukurku semakin bertambah pada-Nya. Terima Kasih Allah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang, kini Engkau sembuhkan aku.

Selasa, 28 Oktober 2008

BT Nihhh....!!!

Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Enthalah kebingungan itu kerap kali muncul di saat aku sedang sendiri. Kesendirian memang seringkali menggelar angan yang menjauh sehingga yang di depan mata menjadi asing. kenhangatan dunia hayal membawaku pada kebingungan, kebingunan yang tentunya tidak menguntungkan. Karena bingun memang sebuah penyakit, walau tidak se-bahaya kanker atau penyakit menyeramkan lainnya tapi sering kali menghanguskan kesempatan.

Otakku kemudian bertanya,"kenapa aku harus bingung?". Jawabannya tidak aku temukan. Malah yang muncul kenginan untuk melukiskan kebingungan ini di bloggku. Sesegera mungkin aku langkahkan kakiku menuju warnet terdekat untuk aku lemparkan kebingungan tersebut dengan mencurahkan sepenuhnya di depan komputer. Sambil menulis aku tetap berfikir penyebab dari kebingunganku. Aku ingin mengumpat diriku, tapi apa dengan cara itu kemudian sebab dari kebingungan itu bisa kau dapati?. Aku terus saja mengalirkan laju kehidupanku sambil menatap hasil tulisanku di layar monitor.

Malam ini tidak terlalu ramai pengunjung warnet langgananku.Hanya ada beberapa ruangan saja yang terisi. Aku sendiri duduk di ruang tiga, sementara ruang yang berhadapan dengan ruanganku adalah ruangana tujuh dan delapan. Aku berangkat dengan niat membuang kebingungan, tapi entahalah para pengunung yang lain apa juga sama denganku. Tentunya masing-masing mempunyai motif yang berbeda-beda. Aku tak mau tau apa alasan mereka mengunjungi warnet, yang paling penting aku bisa membuang kebingunganku. Itu saja sudah cukup buatku!!!

Aku terus saja ngoomel dengan kalimat-kalimat yang tidak tentu arahnya. Aku tak lagi menghiraukan tulisan ini enak unutk dikonsumsi atau tidak. Tombol keyborad seakan menjadi pembuangan yang tepat daripada harus termenung di kamar sambi lmengumpat kecil pada diri sendiri. Entahlah setan apa yang membuatku tak terkontrol seakan lepas dari kesegaran otakku. menurutku umurku tidak terlalu tua, lalu kenapa penyakit bingung yang mungkin orang lain membahsakan keberdaanku ini dengan sebutan BT (bosan Total) atau semcamnya harus sering muncul di kebeliaan umurku. Bahaya nih....!!!

Semestinya aku harus dinamis serta mempunyai planning yang jelas selama sehari. Sehingga memungkinkan aku bisa terhindar dari penyakit BT. Bingung dan BT walaupun memiliki perbedaan, namun dampaknya pada seseorang memepunyai persamaan yaitu menjadikan orang kaku untuk melakukan aktifitas. Defenisi ini cuma apa yang aku rasakan, aku tak menghiraukan hal itu benar atau salah. Yang jelas penyakit begitu tidak mengenakkan,menjadikan hati mandeg dan menghentikan laju gerak dinamisasi keeksistensian seseorang sebagai manusia yang diciptakan untu berkarya. 

Aku cukupkan saja torehan kebingunganku ini, agar tidak terlalau mahal membayar sewanya. Maklum aku disini kan anak rantau yang harus pandai menghemat uang agar tetap bisa hidup. BT, Bingung......!!! awas datang lagi tak jitak matamu...... he..he...emang manusia apa???????

Sabtu, 25 Oktober 2008

Malam Minguan sebuah Tradisi Mesum yang Dilegalkan

Malam ini malam yang panjang bagi kebanyakan pemuda. Malam minggu yang bisa memberikan kepuasan batin bagi seseorang yang menjadikan malam ini sebagai malam spesial. Acaranya biasanya sekitar cur-per (Curahan Perasaan) LUSSEKDA (Nge-Lus Sekitar Dada) atau beberapa hal lain yang pada intinya pergumulan terlarang tapi dilegalkan. Romantika kehidupan seperti ini hampir pasti terjadi di seluruh kota di tanah air ini. Enthlah siapa yang memulai kebiasaan tak tertuliskan ini menjadi sebuah tradisi yang mengakar kuat pada lini kehidupan para pemuda dan pemudi penerus bangsa ini. Rasanya kebiasaan ini terus mengalir deras tanpa halangan sehingga lambat laun pelosok desa-pun ikut-ikutan meng-kramatkan malam ini.

Secara tidak sadar tradisi yang dianggap legal ini telah banyak merubah sikap keseharian seorang pemuda yang sejatinya merupakan harapan hari esok bangsa ini. Sejujurnya ketika seorang manusia mengoptimalkan fungsi hatinya dan kecerahan otaknya akan mengaktakan bahwa tradisi ini tak lebih dari sekadar hura-hura belaka. Namun demi sang Nafsu birahi tradisi malam Mingguan menjadi ritual wajib yang tak boleh terlewatkan begitu saja.

Untuk merubah tradisi ini memang sangat sulit, butuh waktu dan pengorbanan. Secara histori, tradisi ini memang sudah muncul puluhan tahun yang silam atau bahkan sudah mencapai ratusan tahun yang silam. keberadaannya yang sangat tua menjadikan akar ideologi tradisi ini mengakar dengan kuat pada bagian kehidupan masyarakat umum. Menumbangkan secara cepat dan kilat adalah hal yang mustahil. Untuk itu perlu kiranya sebuah gerakan yang serempak dari para pemuda yang merasa bagian dari bangsa yang terpuruk ini agar kembali bangkit untuk memperbaiki moral sesama pemuda.

Dari tradisi ini banyak bermunculan masalah. Mulai dari hubungan gelap tanpa status sampai pada hiburan yang over yang mencerminkan penjajaan aurat yang akhirnya merusak karakter para pemuda. Pantat seksi, bokong semok, atau malah vagina gratis menjadi bagian dari hiruk pikuk dari taradisi malam kramat ini. Begitu sangat memprihatinkan dan sangat jauh dari khittah penciptaan manusia. Masyarakat nampaknya tenggelam dalam pelukan romantis kehingar-bingaran kehidupan kota, sehingga permasalahan ini menjadi fakta yang sengaja dikubur dari kenyataan.

Deskriptif permasalahan dari tardisi malam mingguan di atas sengaja disajikan dengan Vulgar se-vulgar realitanya yang terjadi di lapangan. Karena nampaknya masyarakat kita memang tidak bisa diajak untuk bermetafora, sehingga penulis menyajikannya dengan mencampakkan kode etik jurnalistik. Hal ini dimaksudkan agar masyrakat secara umum dapat cepat dengan sadar kalau tradisi malam mingguan memang merupakan dari tali tipuan syetan yang terkutuk. Maka sebagai sebuah harapan bagi kita sebagai bagian dari masayrakat agar menjadi pengontrol (public control) dari lingkungan dimana kita hidup. Sehingga bagian dari kenistaan tradisi malam mingguan itu jauh dari lingkungan kita.

Jumat, 17 Oktober 2008

Pelangi Indah

Hidup ini untuk ibadah. Makna ibadah begitu cukup luas, sehingga tak mungkin untuk dikonkritkan. Banyak cara dalam melakukan ibadah, tergantung kesiapan dan kemampuan seseorang. Namun yang pasti untuk melakukannya adalah sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar sebagai makhluk-Nya yang beradab. Pada umumnya manusia memilih satu cara, satu jalan dalam merealisasikan ibadah di kehidupannya. Jalan itu berupa ajaran yang selama ini biasa dikenal dengan sebutan agama.

Agama sebagai sebuah pilihan formal menjadikan bentuk-bentuk ibadah itu berpeta-peta. Hal itu untuk memudahkan manusia dalam menjalankan kewajibannya untuk menyembah Tuhannya. Manusia sebagai makhluk yang berperadaban tumbuh berkembang sejalan dengan nalurinya sebagai identitas kesempurnaan ciptaa-Nya. Dengan kejernihan pikirannya muncullah berbagai macam bentuk ajaran formal yang menjadikan dunia berwarni-warni. Berwarni-warni dengan keaneka ragamannya serta interpretasi yang berbeda mengenai Tuhan sebagai sesembahan. Sehingga dengan perbedaan inilah kemudian pada prakteknya juga bermacam-macam.

Untuk sementara saat setiap individu memilih satu pilihan saja dari sekian bentuk warna-warna tawaran formal peribadatan tadi. Karena memang tidak mungkin memilih semua warna-warni tersebut, walau pada hakikatnya semua pilihan tersebut mempunyai dua potensi yang sama yaitu, berpotensi benar pada satu sisi dan di sisi yang lain berpotensi salah. Dengan dua potensi yang dimiliki oleh masing-masing warna, sebagai manusia yang berpendirian maka konsekwensi memilih satu saja adalah pilihan logis dan sangat manusiawi.

Sebagai konsekwensi logis maka pilihan yang menjadi tambatan hati seorang individu harus benar-benar diyakini dan berangkat dari hati. Konkritnya seorang pemilih dengan pilihannya harus sinkron dan teguh menjalankan pola kerja yang diterapkan dalam pilihannya. Hal ini juga harus bisa dilakukan oleh kita sebagai seorang Muslim yang memilih Islam sebagai sebuah jalan hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan kita Allah SWT. Artinya Islam sebagai sebuah pilihan harus diyakini kebenarannya dengan tunduk mengikiuti aturan main yang ada di dalamnya.

Akhir-akhir ini kembali mencuat semacam ajakan untuk mengakui kebenaran seluruh warna agama. Ajakan ini walau terkesan cukup ilmiah secara garis pandang mereka, tapi sejatinya mempunyai banyak borok yang tidak sejalan dengan dimensi kemanusiaan. Entahlah apa sebenarnya dibalik gerakan ini, sementara ini aku belum mengerti....!!!

Sabtu, 11 Oktober 2008

Sistem Pendidikan yang Membingungkan

Menjadi orang baru di derah yang benar-benar baru buat seseorang adalah hal yang sangat sulit. Perlu semacam adaptasi dan ketangguhan mental. Sudah seminggu aku tingal di kota Jogja pada sebual lembaga pendidikan yang mempunyai akar pemikiran yang berbeda dengan pondasi dasarku. Lembaga ini merupakan anak harapan dari salah satu organisasi yang didirikan A. Dahlan 1921 yang silam. Corak pendidikannya mengacu pada orientasi persyarikatan, sehingga bagiku terasa kaku dan tidak memberikan ruang untuk berkreatifitas, terutama bagiku yang sebelumnya memang hidup pada ranah lembaga pendidikan yang menghendaki kreatifitas.

Untuk sementara aku hanya bisa bersimpuh dan melihat aktifitas laju pendidikan yang diterapkan di lembaga yang aku singgahi tersebut. Banyak hal yang terasa benar-benar tidak mencerminkan sebuah pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan, kebebasan dan kemerdekaan malah tambah mengekang dan mengebiri gerak pemikiran siswa-siswanya. Kondisi ini yang menjadikan diriku sedikit terbelalak menaha n perahan dari sebuah sistem yang mengigit. Aku menyadari semua ini adalah warna hidup yang merupakan bagian dari sebuah kekayaan sistem pendidikan yang berada di sekitarku.

Aku memilih lembaga ini bukan untuk menambah sadisnya gigitan, tapi aku ingin menciptakan keharmonisan yang memberikan ruang dinamika bagi para siswanya, khususnya siswa yang menjadi tanggung jwabku. Sebenarnya adalah hal yang sulit namun sulit bukan berarti tidak bisa dajajal. Untuk sementara gerakku hanya sebatas mengenalakan kalau opsi dari sistem yang mereka gunakan bukanlah sistem yang memeberikan kenyamanan. Salah contoh dari sadisnya sengatan sistem yang mengikat ini adalah terkungkungnya gerak dari laju pendidikan yang tertumpu pada gari-garis persyarikatan, sehingga untuk kemaslahatan umat dengan kemajemukan budaya dan kebiasaan masyarakat lembaga ini tidak bisa memberikan apa-apa. Artinya produk dari lembaga ini hanya untuk kelompoknya saja bukan untuk masyarakat umum.

Untuk sementara aku menambatkan hidupku pada lembaga ini hanya sebatas profesi saja dan kelanjutan hidup. Rupiah yang menjadi sorotanku, tapi jauh di lubuk hati kejernihan sebaga i seorang manusia normal yang dilatarbelakangi jiwa mu'allim aku ingin lebih dari sekadar pengais rupiah. Aku ingin menempatkan sebuah motivasi suci di bagian kesibukanku untuk beribadah kepada-Nya.

Senin, 06 Oktober 2008

TITIAN AWAL LEPAS IDUL FITRI-KU

Perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus mengasyikkan buatku. Di hari ke-4 setelah hari kemenangan lepas dari bulan suci, aku kembali mengembara meniti angan yang sempat tergantungkan tak kurang dari setengah bulan menunggu panggilan dari lembaga Mu'allimien Muhammadyah Jogjakarta. Hari itu aku berangkat dari tanah kelahiranku menuju Jogja tongkrongan beradu nasib dengan ribuaan bahkan mungkin sampai jutaan manusia. Aku memenuhi panggilan pimpinan Mu'allimien sebagai jawaban atas lamaranku untuk menjadi tenaga pengajar di lembaga tersebut.
Cukup senang dengan panggilan tersebut, karena ternyata anganku untuk menikmati gemuruhnya kota Gudeg ini bisa terulang lagi, bahkan akan menjadi kampung halaman baruku untuk beberapa waktu ke depan. Aku datang jogja ini sebenarnya menggendong berbagai macam cita, mulai dari finansial sampai pada melanjutkan studi S2 di perguruan tinggi terkenal di kota Jogja ini. Namun hal itu untuk smentara hanya sebuah angan yang kenyataannya masih perlu perjuangan dan keseriuasan dari diriku.
Jogja terkenal dengan kota pendidikan dengan beratus-ratus perguruan tingginya. Orang sepertiku hanya manusia kecil yang terbungkus dengan kebodohan sehingga sering kali aku berkecil hati dengan keadaan latar belakang pendidikanku yang di dapat dari sebuah kampung di pulau Madura sana. Aku kira perasaan seperti ini sesuatu yang biasa dialami oleh orang pertama di kota ini. Lambat laun perasan ini aku harapkan bisa terbuang jauh ke jurang dalam yang tak terjangkau, sehingga aku terlepas dari purtus asa. Aku harus berani tampil dengan kedirianku. Aku harus jadi pejantan sejati yang memiliki banyak potensi untuk meraih cita-cita kecilku tadi. Tuhan tunjukkanlah aku menuju keridlaan-Mu...!!!!

Kamis, 18 September 2008

TADARUS JOGJA III (Habis)

Lepas paroh malam hari ke-19 Romadlan 1429 H, aku mencoba memunguti rentetan kesan pasca penyusuranku di kota Gudeg. Tidak terlalu lama keberadaanku di kota tersebut, tapi wajah kota dan berbagai macam corak warna kehidupannya dapat aku baca dengan baik, walau sesungguhnya masih merupakan rabaan pada kulit luarnya saja. Aku mencoba mentadarusi kota tersebut di sela lapar dan haus di perjalanan puasaku di bulan suci sebagai implementasi dari makna Ulil Albab yang difirmankan Allah dalam kitab suci-Nya. Sangat banyak pernak-pernik kehidupan yang diperlihatkan Allah di daerah Istemewa ini. Dari bangunan historisnya yang mengagumkan dan membuat otakku berfikir pada perjalanan bangsa ini dulu. Di lain sisi, kota ini juga menyuguhkan kebhinnekaan penghuninya.
Di sela penyusuranku di hari ke-2, aku sampai di jalan Malioboro. Sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh lalu lalang manusia, entah yang memakai alat transportasi atau mereka para pejalan kaki. Nampak kesibukan yang sulit aku pahami, yang jelas masing-masing orang mempunyai tujuan sendiri. Shoping atau hanya sekadar menikmati pemandangan kota yang sibuk merupakan dua diantara sekian motivasi dari para pengunjung jalan ini. Jalan ini sangat pas bagi siapa saja dengan tujuan apapun, karena di sepanjang jalan ini semua kebutuhan tersedia. Bagi meraka yang ingin mengais rupiah dengan hanya menengadahkan tangan cukup berdiam saja di pintu-pintu masuk setiap toko atau supermarket dengan wajah memelas. Tidak sedikit orang yang seperti ini, kalau Anda berminat coba saja asal tidak malu pada diri Anda….!!! He….he…..
Malioboro merupakan ikon dari kota ini, dalam arti lain merupakan magnet Jogja yang menarik siapa saja untuk datang ke lokasi tersebut, termasuk juga diriku. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wajah-wajah kota lainnya. Kerawanan akan keamanan tetap menjadi menu peringatan yang tertempel lewat tulisan di fasilitas umum yang tersedia di kota ini. Misalnya di masjid Gedhe Kraton, masih terlihat beberapa peringatan tentang keamanan hak milik. Artinya potensi kriminal di kota ini masih perlu diwaspadai oleh para pengunjungnya. Sebagai bagian dari pengunjung kota ini, aku sedikit khawatir dengan keamanan diriku.
Realitas di atas sedikit membuat nuraniku berdialog dengan kejernihan otentitas nilai kemanusiaanku yang beriman. Dialogku dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana, “kenapa masalah keamanan tetap menjadi hal yang diwaspadai di tengah-tengah kota yang merupakan masih lingkungan terpelajar?”. Kota ini terdengar ke luar hingga sampai pada telingaku yang berada jauh di pulau terpencil di perairan Madura sebagai kota pelajar, tapi kenapa penghuninya harus dihantui oleh prilaku yang mencerminkan kebobrokan. Di benakku dulu sebelum kakiku menginjak kota ini tergambarkan suasana yang aman yang mencerminkan masyarakat madani terpelajar. Keamanan serta kriminal lainnya bukanlah sebuah masalah, jaminan keselamatan serta ketenangan menjadi nuansa kehidupan di kota ini. Begitulah rekaan awal diriku yang sama sekali berbeda dengan apa yang aku lihat saat itu.
Bersyukur selama penyusuranku di kota Gudeg ini aku belum bersentuhan dengan tindak kriminal konkrit fisik. Namun seperti pencekalan, memanfaatan kesempatan di saat keterhimpitanku masih terlihat walau tidak terlalu vulgar. Misalnya, mark up harga barang atau makanan di luar kewajaran selalu menjadi menu benturan tiap waktu bagi orang baru seperti aku. Awal aku menginjakkan kakiku di Jogja pada saat aku menyantap masakan soto Joga, dua porsi berharga Rp 25.000,-. Menurutku soto itu tidak jauh berbeda dengan soto buatan Pak Sahe di warung depan pondokku yang hanya seharga Rp. 4000,-.
Pengalaman di atas begitu terlihat kurang wajar atau juga bisa dibilang kurang ajar. Mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, tapi bagi diriku dengan keadaan ekonomi yang mepet hal itu menjadi buah pertanyaan yang perlu dipertanyakan, “kenapa?. Sejatinya aku tidak mempersoalkan kerugian finansial yang aku keluarkan. Tapi aku menangkap ada semacam keganjilan yang terencana dan sepertinya mewabah di kalangan masyarakat kita. Keganjilan menjadi nyata ketika pada suatu saat aku bersama temanku yang sudah lama berada di kota Gudeg ini makan pada menu yang sama dengan harga relatif wajar. Melalui pengalaman yang kedua ini, keganjilan itu benar-benar sebuah problem yang harus dikaji oleh diriku. Aku menilai keganjilan tersebut merupakan tindak kriminal yang bernilai pemerasan.
Diakui atau tidak fenomena yang aku temui tadi merupakan borok sosial yang perlu disembuhkan. Karena dari yang sederhana ini kemungkinan akan berdampak pada tingkat kriminal yang lebih besar. Banyak hal yang harus ditelusuri dari problem ini, dari sisi relegiutas, pendidikan sampai pada ekonomi. Tiga faktor ini menjadi titik kajian yang harus ditelusuri sebagai bentuk kuratif dari bobroknya moral tersebut.
Nampaknya wacana peras-memeras ini tidak hanya tumbuh di kalangan masyarakat bawah, tapi juga para pemimpin bangsa ini lewat praktik KKN yang mewabah. Konteksnya sama dengan problem sederhana tadi, hanya saja bentuk pemerasan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini tidak dilakukan di warung kaki lima tapi di gedung ber-AC dan di atas kursi empuk. Langkah penyembuhannya jelas juga harus lewat tiga titik seperti yang tersebut di atas. Karena pada hakikatnya orang yang berprilaku demikian mengalami ketimpangan pada salah satu dari tiga titik kajian tadi.
Sebagai pesan bagi setiap insan yang mau berfikir dan mengiginkan bangsa ini keluar dari multikrisis agar mewaspadai dan menjauhi tindak pemerasan yang merugikan orang lain atau bahkan bangsa ini. Bagi para pemimpin bangsa yang sudah terlanjur, hubungi aku ya di 081805501428 tak bawa ke KPK biar tau rasa he….he……he…… [ijan08]