Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 14 Februari 2009

CATATAN PERJALNAN KE MADURA 2

Makan Siang yang Lahap

Pagi seiring mentari yang mulai tebarkan senyumnya aku terbangun dari pulasku. Aku terbangun tidak pada sunah yang diterapkan pondok yaitu se-jam menjelang shubuh. Pagi itu aku terbangun dengan sedikit menginjak waktu pagi atau bisa dibilang kesiangan, walau demikian aku tunaikan shubuhku diantara shubuh dan duha sekitar jam 05.00 WIB. Suara musik mengalun dari komputer Marhalah Tsanawiyah di pojok timur kamar asatidz Al-Jufri. Komputer itu jelas sengaja diboyong dari kantor seperti kebiasaanku dulu yang memboyongnya ke workshop ruang singgasanaku dulu. Sudah menjadi kebiasaan menjelang ujian, kantor pasti sudah mulai dikosongkan dari barang-barang berharga demi keamanan, mengingat asatidz tidak lagi standby di kantor pada suasana ujian.

Selepas mandi aku mulai menyususri lingkungan pondok dan mengunjungi tempat-tempat tongkronganku dulu sekaligus bernustalgia. Kantor MTs menjadi obyek pertama yang aku singgahi, karena kantor itu mempunyai memorian yang cukup terkesan bagi diriku. Disitulah aku berlatih menjadi seorang leader yang mencoba mengatur teman-temanku sendiri sesama asatidz dengan kapasitasku sebagai seorang sekretaris. Banyak pengalaman yang menjadikan aku semakin bisa mengkristalkan kedewasaanku lewat tugas-tugas struktural yang dimanahkan pondok padaku.

Di kantor MTs aku bertemu orang nomor satu di kantor tersebut al-mukarram Ust. H. Bakri Sholihin mantan atasanku 4 bulan yang lalu. Tipikalnya yang sedikit pendiam namun tidak jarang juga memuntahkan kemarahannya lewat nada-nada tegasnya yang sempat aku rasakan berkali-kali tat kala aku menjadi sekretarisnya. Tapi kali ini senyumnya mengumbar menyambut kedatanganku penuh akrab. Sementara teman-teman asatidz yang lain keluar masuk kantor sambil tak lupa menyapaku. Mereka semua masih segar sumringah tidak jauh beda dari 4 bulan yang silam.

Sampai menjelang sore aku hanya menikmati wajah pondokku dengan keriangan bersama-sama teman-teman asatidz yang kebetulan tidak punya tugas waktu itu. Tepat setelah Sholat duhur perutku mulai menyanyikan lagu khasnya yang mendorongku untuk segera mengisinya. Melihat gelagat yang demikian si Brudin pemilik badan gendut itu mengajakku makan di dapur Ust. Abd. Salam. Aku yang menyadari keadaanku yang hanya sebatang kara dengan persediaan duit yang pas-pasan akhirnya aku tidak menolak ajakannya dengan langsung menyerobot masuk ruang makan guru di sebelah selatan Rayon Al-Jufri yang berdampingan dengan kamar asatidz. Dengan lahapnya aku menyapu bersih menu makan siang ala Al-Amien yang pasti tidak lepas dari tahu, telur dan ikan laut. akhirnya kau kenyang, Al-Hamdulillah......

Jumat, 13 Februari 2009

CATATAN PERJALANAN KE MADURA 1

Jogja hingga Al-Jufri

Ahad 2 Pebruari 2009 tepat jam 07.30WIB aku bertolak dari terminal Giwangan Jogja menuju Madura. Perjalanan memakan waktu 7 jam itu memberiku banyak kesan yang bisa aku rangkai menjadi sebuah deretan kata yang bisa aku kenang di saat aku bersimpuh dalam sepiku. Merupakan perjalanan pertama setelah aku singgah di kota gudeg dalam kurun waktu 4 bulanan terhitung sejak Oktober 2008 yang lalu. Perjalanan ke Madura saat ini menurutku merupakan perjalanan yang mendebarkan, menyita perasaan, hati dan otakku. Perasan mendebarkan itu sudah aku rasakan semalam menjelang perjalanan yang sebenarnya. Ada rasa rindu yang menyumbat di ulu hati, sehingga menjadikan kantukku lenyap jauhi malamku.Tersisa sebuah dimensi hayal tentang kemesraaan sapaan teman-temanku di madura. Diriku diajak menjelajah sumringah bersama tawa sahabat-sahabatku yang telah aku tinggalkan 4 bulan lamanya. Begitulah malamku yang telah melebur dalam gelombang riak pelukan kegembiraan jelang menlepas rindu untuk Maduraku.

Laju Bus Eka yang mengangkut penumpang kota antar propinsi menghantarkanku ke terminal Bungurasih Surabaya tepat jam 14.35 WIB. Surabaya dengan wajah lamanya bersama kesembrautan kotanya tetap mengingatkanku untuk melangkah mencari Bus menuju Madura. Tidak sulit untuk menemukan Bus jurusan Madura, cukup melangkahkan kaki menuju tempat tunggu kemudian tak lama setelah itu aku dibimbing oleh para kondektur bus menuju bus yang dimaksudkan. Selang beberapa menit setelah aku duduk pada posisi yang aku pilih di bagian hampir mendekati belakang di dalam Bus, kemudian bus pun melaju menuju dermaga perak.

Sial bagiku, bus yang mengangkutku tidak langsung menuju dermaga tapi malah berhenti di pinggir jalan di luar pelabuhan. Aku harus ikut berhenti sambil menunggui sampai semua kursi di dalam bus yang aku tumpangi ini penuh. Selang waktu yang cukup panjang ini membuatku dongkol, marah, kesel atau apa saja yang bisa mewakili rasa tidak terimaku terhadap keputusan si sopir Bus brengsek itu. Lebih 4 jam aku harus bertarung dengan kesalku, beruntung rasa kesel itu sedikit terobati setelah aku mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan memainkan musik khas bertema lapar. Tepat jam 20.30 Bus memasuki kapal dan siap untuk menyebrang ke Madura. Perasan mulai lega berganti rasa kantuk temani perjalananku.

Tiga jam perjalanan telah aku lalui akhirnya aku benar-benar sampai pada tujuanku tepat jam 23.00 WIB. Udara Madura dan pondokku kembali bisa aku hirup walau sebagian para penghuninya sudah berselimut mimpi. Banyak lampu-lampu yang sudah tidak menyala mungkin karena sudah larut sehingga harus dimatikan. Terilhat beberapa Bulis menjaga di pintu masuk pondok sambil menyapaku dengan salam. Anehnya mereka menyalamiku layaknya aku masih seorang ustadz di pondok. Sepertinya mereka belum menyadari benar keberadaanku saat ini, atau boleh dibilang mereka masih mengira kalau aku masih berdomisili di pondok.

Tepat langkahku berada di samping kanan Masjid Jami' aku melihat sosok manusia berbadan gemuk dengan gaya tipikalnya yang masih belum terlupakan olehku. Aku sengaja menghentikan langkahku untuk memastikan kalau apa yang aku lihat itu adalah Zainuruddin (Brudin teman-teman memanggilnya) si pemilik body kentung. Benar dugaanku dia langsung menyapaku dengan suara bulatnya yang keras memecahkan kesunyian "Jan kapan datang?". Aku sunggingkan senyum khas setengah mengeluarkan bunyi bahak atau bisa dibilang miniatur ketawa yang sesungguhnya.

Kemudian si Gemuk Brudin ini menggiringku ke Al-Jufri MABES laskar-laskar TMI Marhalah Tsanawiyah yang dulu juga orang-orang dekatku di kantor. Pemandangan tidak jauh berbeda dengan 4 bulan yang lalu, mereka para penghuninya masih tergeletak di atas kasur busa tipis sambil menikmati hujaman angin malam menuangkan mimpi. Tersisa satu orang yang masih belum terlelap, dia Khoiron si boldoser dapur yang dulu sering membabat habis lauk di dapur. Makanya tidak heran kalau perutnya masih kelihatan ke depan walau masih klesemen ke-2 setelah Brudin. Sambil melepas penat terdengar obrolan hangat yang kemudian diakhiri dengan dengkuran pulas melepas kantuk.

Minggu, 01 Februari 2009

Keutuhan Guru Menjadi Penentu Kondisi Anak Didik

Sudah menjadi menu harianku untuk bertatapan dengan santri. Ritual ini sudah berjalan sekitar 6 tahun yang silam hingga saat ini. Rasanya aku belum bisa dengan serta merta meninggalkan dunia pesantren sebagai wadah hidmahku. Wajar saja jika hal itu menjadi pilhanku, karena aku memang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Terhitung sejak tahun 2003 aku secara profesi menjadi seorang guru yang selalu bergumul dengan kehidupan santri selama 24 jam.

Awal hidmahku bermula di AL-AMIEN PRENDUAN sebagai guru pengabdian wajib yang harus dilewati oleh setiap alumni TMI (Tarbiyatul Mu'allimien Al-Islamiyah). Ketika itu walau masih pada tahapan uji coba sebagai bentuk implikasi dari apa yang aku terima selama menjadi santri, jiwa guru begitu cukup melekat dalam diriku. Sehingga tak jarang dalam usia yang relatif muda atau bisa dibilang ABG aku berhasil menyesuaikan dengan posisiku sebagai seorang guru walau tidak sampai pada tingkat ideal. Hal itu terbukti dengan berhasilnya diriku melewati masa-masa uji coba tersebut dengan husnul khotimah.

Nampaknya pengabdian wajib itu menjadikan aku rindu dengan dunia gelak tawa para santri walau pada beberapa waktu terdapat kasus-kasus yang cukup menguras hati dan otakku. Pada tahun berikutnya tahun 2004 aku memilih kembali untuk melanjutkan pengabdianku sebagai seorang guru di tempat yang sama. Tahun ke-2 ini posisiku bukan lagi menjadi guru pengabdian wajib (magang) tapi sudah benar-benar menjadi pilihan yang harus lebih dibuktikan secara konkrit. Artinya sikap dan prilaku bahkan mungkin keutuhan diriku yang meliputi roh, jiwa dan jasad harus benar-benar berfungsi layaknya seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh santri-santrinya. Tidak mudah untuk menfungsikan keutuhan diri ini menjadi seorang guru, butuh keseriusan dan kematangan hati. Namun tidak boleh tidak pilihan ini menjadikan aku sadar untuk selalu berusaha mencapai batas maksimal kemampuan yang aku miliki. S

Waktu terus bergulir sementara aku masih tetap pada pilihanku dan saat ini aku mengabdi di lembaga pendidikan Islam Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada beberapa waktu sengaja aku mengajak hatiku untuk berpetualang mencari keutuhan diri dalam rangka menghadirkan sosok seorang guru pada diriku. Di lain sisi tataran darah mudaku juga bergejolak seiring dengan godaan zaman yang kian menajam. Kadang godaan itu menyeretku mendekati prilaku fakhsya'. Contoh kecilnya, tidak sedikit diantara guru termasuk diriku dengan tanpa sadar meninggalkan tugas-tugas formal dan mengedapankan kepentingan diri. Konkritnya seperti dengan seenaknya seorang guru absen pada kelas tertentu sehingga anak didiknya terlantar. Lebih dari itu ada beberapa kasus yang sudah tidak lagi mendekati fakhsya' tapi sudah benar-benar jauh dari dimensi seorang guru.

Kasus di atas masih pada tataran kasat mata belum menyentuh yang sifatnya abstrak berupa prilaku jiwa dan roh. Dua dimensi ini walau tidak nampak secara kasat mata tapi mempunyai dampak luar biasa pada kondisi santri sebagai obyek garapan pembentukan seorang manusia yang berkaitan dengan lmu nafi' (dalam bahasa K.Idris). Artinya prilaku jiwa dan roh seorang guru memberikan dampak pada kondisi seorang anak didik entah itu pada saat dimana anak itu sedang belajar atau nantinya setelah terjun ke masyarakat. Prilaku yang abstrak itu sifatnya mendekati hal-hal yang relegi seperti keikhlasan, kesabaran atau beberapa prilaku lainnya yang berkaitan dengan jiwa, hati dan ruh. Jadi mendidik anak itu tidak sekadar melibatkan jasmani kita yang hanya menyampaikan ilmu, tapi ada aspek abstrak yang harus dipenuhi oleh seorang guru. Dalam ilmu pendidikan disebutkan bahwa seorang guru harus sehat dan mampu memaksimalkan fungsi jasmani dan rohani pada titik seyogyanya seorang guru.

Terus terang sampai saat ini tidak sedikit para guru yang mungkin melupakan sisi terabaikan ini. Sehingga ketika seorang murid atau santri yang tumbuh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, santri tersebut menjadi titik paling salah. Akhirnya pada tahapan yang cukup akut melahirkan prilaku kontak fisik, pemukulan atau apa saja hukuman yang kurang etis dilakukan seorang guru seperti yang marak diberitakan media masa akhir-akhir ini.

Mencoba untuk mengimbangi fenomena tersebut, mungkin tidak salah jika aku dan kita yang berprofesi menjadi guru untuk bersama-sama meng-introspeksi diri kita sejauah mana usaha kita menghadirkan keutuhan diri kita untuk menadi seorang guru. Tawaran ini mungkin lebih khususnya aku khususkan untuk lembaga pendidikan yang aku singgahi sekarang Mu'allimin Yogyakarta yang akhir-akhir ini disibukkan dengan maraknya para santri yang melanggar di asrama. Semoga dengan kemauan diri kita untuk menghadirkan keutuhan diri kita sebagai seorang guru serta dengan iringan tuntunan Allah para santri dapat kembali menjadi santri seperti yang diharapkan. Amien.....

Sabtu, 24 Januari 2009

Futsal Cerminan Sebuah Kedewasaan

Bersamaan dengan meningginya matahari di awal pagi Jum'at 23 Januari 2009 kembali aku mendapat tawaran untuk mengisi liburan dengan bermain futsal. Sebenarnya futsal sudah menjadi ritual mingguan yang biasa aku lakukan tiap Jum'at selama kurun waktu 2 bulan terakhir ini. Rasanya hari Jum'at dan futsal adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. "Tiada jum'at tanpa futsal". Begitulah kira-kira perasaan ini mengatakannya, entahlah ada apa sebenarnya dengan futsal sehingga menjadikan aku mabuk karenanya.

Ada hal yang menarik dari futsal atau sepok bola mini ini yang perlu diexplorasi lebih dalam agar nantinya membuahkan dimensi nilai yang bisa dijadikan rujukan hidup. Rasanya tidak berlebihan jika aku mencoba menggali dan mengenali lebih dekat olah raga kesukaanku ini. Walau hanya sekadar refleksi ringan semata, tapi paling tidak dengan keberanian mencoba menghikmahi (menghadirkan hikmah) dari olah raga ringan ini bisa menjadikan aku lebih dekat kepada-Nya. Karena aku yakin Tuhan Allah akan selalu membumbuhi segala sesuatu di dunia ini dengan hikmah sebagai konsekwensi bahwa Tuhan Allah bisa didekati dari segala sisi kehidupan, walau dari sebuah permainan kecil sekalipun.

Futsal sejatinya hanya bentuk permainan dengan menggunakan si kulit bundar yang menjadi instrument vitalnya. Si kulit plontos satu inilah yang menjadi kejar-kejaran dari sekian banyak pemain. Satu bola untuk semua begitulah konkrit permainannya. Mengasyikkan permaianan ini, apalagi jika kebagian menggiring bolanya kemudian sampai bisa merobek jala lawan. Pada titik inilah ada rasa senang, bahagia, puas dan berbagai rasa lainnya yang belum sempat terliteralisasi lewat bahasa apapun. Menyenangkan bukan...... ?!

Tapi tidak mudah menemukan performa permainan yang mengesankan dan menggairahkan. Mengesankan berarti menjadikan seluruh peserta permainan dalam satu tim terkesan dan ingin mengulangi lagi. Hal seperti ini butuh kedewasaan dan kematangan emosional dari masing-masing individu dalam satu tim. Terutama pada tim-tim amatir seperti tim yang hanya sekadar mengisi waktu senggang layaknya yang diperagakan aku beserta teman-teman musyrif Mu'allimin di lapangan Bardosono. Permainana mengisi waktu senggang ini kadang mengundang aku untuk serius menapak tilasi kadar emosional dan kedewasaan teman-teman. Pada sisi inilah kemungkinan nilai yang bisa aku tunjukkan dari permainan futsal ini.

Biasanya sebelum permainan dimulai diawali dengan pembagian para pemain menjadi dua tim. Setelah itu baru kemudian penempatan posisi, pada penempatan inilah ada hikmah yang tergelar yang bisa diurai. Rata-rata cerminan subyektif yang bisa aku pancarkan lewat hati dan otakku semua pemain tidak ingin diposisikan sebagai penjaga gawang. Semua ingin menjadi penyerang dan bintang lapangan seperti Ronaldo-nya MU, Del Piero-nya Juventus, Messi-nya Barcelona dan sederet pemain bintang dunia lainnya. Ada ego yang tinggi dan mengalahkan kedewasaan, sehingga pada tahapan terakhir harus ada yang mengalah untuk menjadi penjaga gawang. Keputusan mengalah itu adalah hal yang berat dan pahit tapi tetap harus dipilih agar permainan dapat dilaksanakan.

Pada tataran yang konkrit sejatinya para bintang dadakan itu lupa bahwa permainan futsal itu tidak akan bisa dilaksanakan tanpa penjaga gawang. Tanpa mengklaim teman-teman musyrif yang lain tidak dewasa aku akhirnya terbiasa mengalah dengan menerima posisiku sebagai penjaga gawang agar permainan dapat berlanjut. Akhirnya dengan adanya yang mengalah permainan futsal itu tetap menjadi permainan yang menarik dan menggairahkan sampai saat ini.

Dari permainan ringan itu aku mencoba mendampingkan dengan realitas kehidupan sosial kemasyarakatan yang terkait dengan pola intraksi antar sesama yang tentunya juga butuh dengan prilaku mengalah. Dalam kehidupan nyata sering kali terjadi seperti apa yang terjadi pada permainan futsal tadi. Ada orang dengan egonya menengadah, membusungkan dadanya tak mau kalah dengan orang lain, beradu dan berebut posisi yang menggiurkan tanpa mempertimbangakan kapabilitasnya. Sehingga ketika posisi itu berhasil direngkuhnya, orang tersebut hilang keseimbangan dan pada tahapan yang tragis orang tersebut akan hina dengan posisinya sendiri. Na'udzubillahi min dzalik.........

Deskripsi di atas salah satu contoh saja dari keberanian dan keangkuhan tanpa mempertimbangkan kapabiltas diri. Mendekati pemilu 2009 aku sebagai bagian dari anak Bangsa ini ingin mengetuk hati dari para pemimpin Bangsa agar bersedia mengalah dengan menjunjung tinggi sikap kedewasaan. Sehingga keadaan Bangsa yang cukup tragis ini dengan multi krisisnya akan sedikit pulih dari boroknya. Kapabiltas dan kedewasaan adalah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum merangkul posisi atau amanah dari Bangsa ini.

Minggu, 18 Januari 2009

Januari Menggairahkan


Selamat pagi dunia, kata ini yang mampu aku ucapkan di edisi ke-19 di bulan Januari 2009. Sekian hari terbuang sia-sia tanpa menyisakan pijakan yang berarti dari hidupku. Sekian banyak kegiatan tak mampu aku ikat maknanya, sehingga makna serta sari pati dari sekian kegiatan tersebut hilang seiring dengan berlalunya waktu. Pagi ini aku ingin beranjak dari malasku walau hanya sekadar mengurai kegiatan ringan harianku. Aku ingin mengusir gundah,mengikat makna, mengekspresikan perasaan serta seabrek unek-unek yang ada di hatiku. Entahlah semua itu dikelompokkan pada tipe tulisan apa, yang penting kegiatan menulisku ini tetap terus berlanjut.

Sebenarnya di bulan Januari ini banyak sekali kesan serta hal yang menarik dan menggairahkan yang perlu aku tulis. Namun karena malas menyulam batinku sehingga terasa berat rasanya aku untuk menggerakkan tanganku di atas keyboard komputer. Selepas pesta tahun baru kemarin ada tiga acara menarik yang perlu diikat maknanya. Pertama adalah tatkala aku diberi kesempatan untuk menggiring matahari melepas siang di pantai Depok. Hari itu tepat tanggal 4 Januari alias hari terakhir dari rangkaian libur perayaan tahun baru.Pantai depok dengan deburan khas ombaknya yang mantap tetap menggairahkan dan dijejali ribuan manusia berwarna-warni di hamparan pasir hitamnya.

Lawatanku yang ke-3 di pantai Depok berbeda dengan lawatan-lawatan sebelumnya. Lebih ramai,lebih padat, lebih kencang serta beberapa kelebihan lainnya yang memukau. Kalau pada lawatan sebelumnya pernah aku tuliskan ada kegersangan Iman serta bagaimana aku beristighfar dari pemandangan yang mengundang birahi. Hari itu lebih dari sekadar kegersangan tapi sudah lebih dekat pada hal yang mengkhawatirkan. Khawatir karena rasa malu sebagaian besar pengunjungnya sudah hilang serta khawatir diriku yang lemah ikut-ikutan tidak malu juga. Dua kekhawatiran ini sempat melintas di benakku, ada sesuatu yang melonjak kuat dari diriku,sepertinya birahi mulai mnunggangi diriku yang lemah,lalu kemudian beberapa saat aku terbuai dengan panorama romantis yang menggairahkan.

Segera aku beranjak membenahi diriku yang teledor sambil terus mengusir jauh-jauh bisikan birahi. Aku alihkan pada deburan ombak yang menderu. Terlihat ombak saling berlomba untuk mendahului, berlari mendekati bibir pantai,kemudian hempaskan busa putih singkirkan kekelaman hatiku. Menarik sekali pemandangan itu untuk dinikmati apalagi ditambah dengan bilasan cahaya matahari yang memerah di garis laut nun jauh disana. Bersyukur aku bisa terlepas dari romantisme pesta himpit-himpitan pasangan tak tahu malu. Kini aku lebih sibuk menikmati malam menjemput matahari yang kemudian tergulung habis oleh deburan ombak suci yang putih. Al-hamdulillah, Subhanallah Depok mempesona diriku di sore itu.!!!

Masih dari rentetan acara libur akhir semesterku di Mu'allimin Yogyakarta, tepat tanggal 7 Januari 2009 Tuhan kembali menyisihkan kesempatan bagiku untuk mengunjungi kota Kembang Bandung Jawa Barat. Bagiku ini adalah lawatan pertamaku, karenanya aku ingin menikmati kunjungan ini dari awal hingga penghujung akhir dari perjalanan ini. Bahkan aku ingin dari semua jalan yang dilewati dapat aku nikmati centi demi centi agar aku bisa benar-benar puas dan happy.

Lepas sholat Ashar Bus yang membawaku meninggalkan Jogja. Semua pemandangan yang dilalui Bus merupakan pemandangan baru bagiku. Ada jembatan, sungai, laut dan gunung yang menyapa perjalananku. Sepertinya semuanya tersenyum ramah padaku sambil memberikan penampilan terbaiknya.Begitu seksi alam ini dibuat oleh Tuhan sehingga menakjubkan dan membuat batinku mengagungkan-Nya Subhanallah.....

Perjalanan itu terus aku nikmati tanpa memajamkan mataku walau selimut malam tergelar diiringi hembusan angin yang menusuk tulang. Rasanya kantuk malam itu enggan menghinggapi diriku,sehingga dengan puasnya aku dapat menikmati perjalanan malamku hingga sampai di tujuan yaitu di Cimahi Bandung. Sejenak rombongan membuang penat di Asrama Militer jam 03.00 dini hari sambil menunggu waktu sholat shubuh setelah sebelumnya beristirahat dan makan malam di restoran Grafika di daerah Jawa Tengah tepat waktu sholat Isya'.

Sehabis sholat shubuh di Asrama militer tersebut makan pagipun sudah tersedia. Namun hatiku kala itu drundung sedih karena ada musibah yang mencoba menjejelai kesabaranku, dompetku hilang. Akupun sedih tidak tahu apa yang harus aku lakukan, setelah beberapa lama aku mencoba mencarinya ke Bus yang membawaku. Ternyata kembali Tuhan menunjukkan belas kasihannya dan dompetku ternyata tertinggal di jok tempat dudukku. Al-Hamdulillah Tuhan Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang......

Perjalanan kembali dilanjutkan ke kebun strawbery dan ciater tempat pemandian air panas. Dua tempat ini yang menjadi persinggahan. Tidak banyak makna yang dapat aku ikat di dua tempat ini. Masih seputar keindahan alam yang menakjubkan serta panorama pengunjungnya yang menggairahkan. Ada catatan kecil yang sebenarnya adalah pertanyaan hatiku mengenai Bandung sebagai kota kembang. Kata orang, Bandung adalah kota kembang, artinya kembang atau bunga menjadi ikon dari kota ini. Pertanyaan yang mengganjal adalah, apa kembang dalam arti yang sebenarnya dimaksudkan atau kembang yang bersifat metafora yang berarrti bidadari yang berseleweran di trotoar dan tempat wisata itu yang dimaksudkan?. Entahlah....yang jelas kedua makna dari kembang itu memang pantas untuk disandang oleh Bandung. Bandung....Bandung kamu memang kota kembang...!!!

Lawatanku ke Bandung menjadi catatan kedua yang menarik di Januari ini. Selanjutnya catatan ketiga yang menarik di Januari ini adalah ketika aku diamanahkan Madrasah Mu'allimin untuk menjadi panitia di even Nasional yaitu Madrasah Science Expo '09 (MSE). Walau posisiku tidak pada posisi strategis secara struktural namun bagiku yang penting aku bisa melakukan hidmah bagi orang lain. Aku berada di posisi akomudasi dan transportasi yang tugasnya mengatur penginapan para peserta di hotel. Pekerjaan ini baru bagiku setelah sebelumnya biasanya aku di pondok diposisikan sebagai sekretaris atau malah aku pernah menjadi ketua panitia penerimaan santri baru TMI AL-AMIEN PRENDUAN tahun 2005.

Posisi itu memintaku untuk menjadi pekerja lapangan yang langsung berhadapan dengan realita. Tentunya menjadi hal yang sulit bagiku, selain aku belum menguasai medan juga sedikit kaku dalam beristraksi dengan para peserta atau dengan pihak hotel. Kaku tatkala aku harus bicara dengan peserta putri, hal ini terkait karena minimnya instraksi diriku dengan kaum hawa sebelumnya. Tapi kaku bukanlah kendala dalam melaksanakan tugas, hanya beberapa jam aku bisa menetralisir kekakuanku dengan sedikit menyembulkan guyunan-guyunan renyah yang dapat mengusir kegetiranku. Semua berjalan lancar, malah di penghujung akhir tugasku di hotel ada perasaan kangen dan rindu pada mereka yang sempat membuat aku kaku dan membeku. Ternyata kebekuan tidak selamanya menjengkalkan tapi malah sesuatu yang aku rindukan. Dimanakah kalian sekarang ya..ayyatuhal akhwat.....?!! he....he.....

Sekarang aku terserang flu karena AC di hotel itu sehingga sebentar-sebentar harus aku membuang air yang mengalir dari hidungku. Tapi itu semua tidak masalah asal kalian balik lagi insya allah flunya akan hilang tapi berganti dengan flu burung kali. He....he......he......



Jumat, 02 Januari 2009

TAHUN BARU 2009 ADALAH PESTA UNTUK TUHAN

Aku benci pesta, apalagi hal-hal yang berbau hura-hura. Apapun bentuknya pesta tak lebih dari sekadar berfoya-foya membuang-buang kesempatan serta merajut kemadlaratan. Begitu doktrin yang aku terima dalam lingkungan agama di tempat tinggalku. Sehingga sekian banyak perayaan berlalu begitu saja termasuk pesta tahun baru sebelum ini. Bersyukur semua itu harus berakhir pada akhir tahun 2008 sehingga pada malam awal tahun baru 2009 Tuhan menuntunku untuk menjemput pesta Tahun Baru 2009 di hamparan alun-alun utara Jogjakarta. Berikut aku ingin ulas perasaanku dalam proses serta selama mengikuti prosesi Tahun Baru yang berlangsung cukup hidmat, yang kemudian menjadikan aku cinta pesta.

Siang tanggal 31 Desember 2008 adalah hari yang membuat aku bingung dengan berbagai macam gelaran pesta yang ditawarkan kota Gudeg ini. Mulai gelaran wayang di Monomen 11 Maret, Konser Dangdut di Giwangan, Konser Rock Kobe di alun-alun, pengajian Islam di Masjid Ghede serta seabrek menu lainnya yang tidak mungkin aku sebutkan di guratan suara perasaanku ini. Semua gelaran acara tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru. Aku cukup kagum dengan Jogja yang begitu sangat antusias menyambut pergantian Tahun. Tidak heran jika kota ini menjadi magnet para touris untuk singgah dan memadati kota ini. Jogja bagai magnet besar yang menyimpan banyak keindahan yang dapat dinikmati.

Kembali aku diharuskan memilih dari sekian acara yang dihidangkan kota Gudeg ini. Karena kalau tidak memilih maka sejarah akan kembali mencatatku sebagai orang yang tidak pernah tahu tentang arti dari pergantian tahun. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Tawar-menawarpun terjadi antara otak dan hati. Aku bagai disuguhkan antara baik dan buruk, kemudian aku mencoba berbuat adil pada diriku dengan terlebih dahulu mencampakkan doktrin masa laluku yang menghendaki realitas ini berkotak-kotak. Suguhan yang ditawarkan doktrin masa laluku selalu tidak membuat diriku puas, yang ada cuma pendektian serta kekakuan yang menggerahkan. Aku ingin bebas menjalankan fungsi hati dan otakku yang berarti aku juga menghendaki keseimbangan antara aku yang hidup dalam atmosfer dunia dengan aku yang hidup sebagai makhluk Tuhan.

Sejenak aku hempaskan tubuhku di atas kasur busa di kamarku sekadar memberikan tenggang pada otak dan hatiku untuk memilih. Tidak seberapa lama aku terbuai hembusan angin siang bertiup hantarkan mimpi. Dalam pulasku aku lupa semua suguhan acara perayaan tahun baru, yang ada hanya hanya nikmat yang kemudian terlukis dengan dengkuran-dengkuran halus. Sekitar jam 14.15 aku terbangun dan kaget dengan geseran bumi bagai menarik-narik kasurku. temanku juga terbangun tak jauh dari tempatku tidur,kemudian aku sadar kalau saat itu terjadi gempa. Aku lari ke luar kamar dengan nafas yang tersengal-sengal, aku takut terjadi hal yang buruk di kota Gudeg ini. Kejadian ini menambah bingungku dalam menyambut tahun baru.

Selepas kekhawatiranku pergi aku mencoba kembali melakukan tawar menawar, menimbang dengan memaksimalkan agar diriku menjadi lebih bijak. Pada titik hampir mendekati klimaks ada dua pilihan antara menyaksikan pesta kembang api di alun-alun dengan mengikuti pengajian di Masjid Ghede. Dua pilihan ini begitu sangat mempunyai titik yang berseberangan. Pesta kembang api yang menyuguhkan kebersamaan serta keharmonisan antar sesama manusia serta pengajian di Masjid Ghede yang hanya sekadar manabur kebajikan sepihak serta mentelantarkan kebersamaan. Nalar kemanusiaanku berfungsi dengan baik sehingga Tuhan-pun kembali turunkan petunjuk-Nya dengan menuntunku untuk memilih Pesta kembang Api di Alun-alun. "Terima Kasih Tuhan....!!!"

Pilihanku sudah final, tanpa ragu aku mengajak temanku untuk lebih awal menjemput tahun baru dengan langsung memacu motor hanya sekadar melihat keramaian kota pada jam 17.00 WIB. Hatiku girang mengalahkan kepicikanku, kini aku dapat menjadi hamba Tuhan yang akan menebarkan keharmonisan dan kedamaian bersama yang tentunya menuju Surga-Nya yang luas.Malioboro macet, kendaraan menumpuk sesekali hanya bergerak beberpa cm saja. Gerombolan para pejalan kaki menambah sesaknya ruas jalan wisata ini. Aku gelengkan kepala sambil berujuar dalam hatiku "Tuhan benar-benar akan berpesta". Semuanya merasa tergerak memenuhi panggilan pesta Tuhan di alun-alun, tidak peduli keringat panas, yang ada pesta malam tahun baru harus berjalan lancar.

Aku tidak ingin bercerita bagaimana massa menyemut mendekati alun-alun, yang jelas mereka mempunyai hati dan niat yang sama yaitu berpesta menyambut tahun baru. Tepat jam 22.00 aku berhasil berada di tenga-tengah gerumulan massa di tengah-tengah alun-alun. Aku melihat berbabagi macam manusia dari yang berjilbab, buka jilbab, buka seperempat tubuh samapai pada yang buka separuh tubuh. Aku juga melihat orang tua, anak muda, remaja, anak-anak, balita sampai pada yang masih cabang bayi. Tidak hanya itu aku juga melihat mereka ada yang berkulit putih, bermata sipit, berjenggot lebat dan yang jelas mereka semua datang dari berbagai latar belakang. Di tengah-tengah kemajemukan yang harmonis dan damai ini aku terhenyuk malu pada diriku sendiri, kenapa sebelum ini aku begitu buruk sangka pada mereka yang berbeda padahal setelah aku dekat dan berkumpul dengan mereka, mereka mempunyai hati yang sama niat sama tentunya juga mempunyai substansi Tuhan yang sama.

Tepat jam 00.00 yaitu pada detik peralihan Tahun gema dan gemuruh ekpresi dari masing-masing individu terdengar membesarkan Tuhan lewat bunyi terompet dan letupan kembang api. Indah, damai, harmonis inilah yang aku rasakan bersama mereka dalam kedamaian yang dijanjikan Tuhan, aku persembahkan pesta tahun baru ini untuk Tuhan. Akhirnya diiringi rasa bahagia aku singkirkan doktrin yang mengganjal yang menghendaki realitas berkotak-kotak dengan menggantinya pada keseimbangan serta kedamaian bersama serta merajut rahmat Tuhan bagi sekalian alam . SELAMAT TAHUN BARU 2009

Sabtu, 29 November 2008

Aku sering kali memikirkan hidup, kebahagian, duit dan kepuasan. Walaupun aku bukanlah seorang Plato atau bagian para filosof, tapi aku merasa bahwa hidup dan pernak-perniknya perlu dipikirkan, direnungkan untuk kemudian ditemukan gelaran hikmah. Aku menyadari pengetahuanku yang sangat minim menjadi keterbatasan bagiku untuk lebih banyak mengurai makna dari sebuah peristiwa. Aku hanya bisa berbagi secuil pengalaman lewat tulisan-tulisan ringan dan renyah yang aku harapkan suatu saat nanti menjadi sebuah catatan sejarah yang bisa aku kenang di hari tuaku kelak.

Sedikit aku ingin menulis pengalamanku yang terkait dengan duit dan kepuasan. Sebelum aku menginjakkan kakiku di kota Jogja, aku hidup di dalam pesantren dengan pendapatan secara finansial sangat minim sekali. Empat tahun aku hidup dengan honor dibawah satandart minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara logika honor dibawah seratus ribu itu memang tidak cukup untuk menghidupi seseorang selama satu bulan, namun kenyataannya aku malah bertahan sampai empat tahun di pesantren itu yang juga sekaligus pondokku. Kehidupanku lancar-lancar saja, tidak melarat, tidak kekuarangan malah bisa dibilang cukup.

Waktu itu semua kebutuhanku serba tercukupi dengan honor yaang minim itu. Hidipku malah penuh tawa rasanya sangat sedikit sekali guratan kesedihan yang tertimpa padaku waktu itu. Hidup begitu sangat nikmat sehingga semuanya menjadikan aku penuh tawa dan suka, begitulah aku empat tahun di pondokku. berbeda dengan saat ini, aku sekarang hidup di kota besar serta mempunyai pemasukan yang lebih lima kali lipat dari penghasilanku sebelumnya. Secara nominal apa yang aku dapatkan dari sisi finansial cukup banyak untuk ukuran orang sepertiku. Aku dulu menyangka dengan mendapatkan jumlah nominal yang lebih banyak dari apa yang aku dapatkan maka kebahagian dan kepuasan akan semakin terasa dan seakin gampanag aku gapai. Begitulah alam pikiranku sebelum mendapatkan pendapatan seperti sekarang ini.

Setelah aku terjun langsung dan merealisasikan impianku untuk medapatakan jumlah nominal pendaptan yang jauh lebih banyak dari pendapatanku di pondok ternyata fakta menyodorkan kenyataan lain. Honor lima kali lipat dari sebelumnya yang aku gengggam mejadikan aku bermimpi jauh lebih tinggi dari kemapuanku sehingga aku merasakan honor yang sudah besar itu terasa begitu sedikit dan sama sekali tidak memeberiku ketenangan. Aku menajdi gundah, kebutuhan membengkak, gaya hidup ikut-ikutan berubah sehingga kenyataan akhirnya menjadikan aku terhimpit. Honor itu habis sebelum satu bulan. Aku kembali dirundung keresahan.

Keterhimpitanku itu menjadikan aku bertafakkur sambil memohon petunjuk kepada-Nya. Kemudian lahirlah sebuah hasil dari refleksi ringanku yang menyatakan "Bahwa hidup tidak pernah meminta jumlah nominal finansial tapi hidup hanya meminta kepuasan". Dari hasil refleksiku ini kemudian aku berdo'a, bersujud di hadapannya dengan perohonan agar diturunkan gelaran kepuasan bagi hidupku sehingga aku tidak lagi mengejar jumlah rupiah, dolar atau apa saja nilai harga yang menjadikan semua orang buta mata hatinya dan jauh dari syukur.

Jumat, 21 November 2008

Ulang Tahunku yang ke-23

Hujan mengguyur kota Jogja hampir semalam suntuk. Undara dinginpun mengalir menyelimuti lenguhan senyap tidurku. Aku pulas dibelai mesra selimut desiran mimpi indahku. Namun tak satupun mimpi-mimpi itu yang terseret oleh otak sadarku, sehingga tak satupun dari mimpi-mimpi itu yang mampu aku ceritakan kembali. Tapi aku yakin kalau saat itu mimpi menghampiriku dengan keindahan dan keseramannya. Mungkin hujan yang mengguyur itu yang membuat aku lupa tentang mimpi-mimpi malam itu. Ah...sudahlah aku lupakan saja mimpi-mimpi itu.

Semestinya malam itu aku harus bahagia, seperti laiknya orang-orang lain yang bahagia tatkala umurnya bertambah. Malam itu malam tanggal 21 November 2008 yang merupakan malam terakhir di lembaran tahun ke-22 . Artinya tepat jam 00.00 aku akan beralih pada lembaran berikutnya yaitu menginjak awal tahun ke-23 dari perjalanan hidupku. Namun kenyataan berkata lain, malam itu aku jalani seperti malam-malam sebelumnya. Tapi tetap aku sadar kalau pada dini hari kala itu umurku akan bertambah menjadi 23 tahun.

Waktu terus saja mengalir tanpa tersendat oleh apapun akhirnya sampailah jarum jam pada titik yang menunjukkan tepat jam 00.oo. Aku tetap tertidur pulas diantara pergantian dan bertambahnya umurku. Sepertinya pergantian itu bukanlah berarti apa-apa. Aku lebih memilih memanjakan tubuhku di hamparan kasur busa tipis di kamarku. Sudah berlalu pergantiaan yang mempunyai nilai sejarah itu begitu saja, tanpa perayaan apapun. Akhirnya di awal aku membuka mataku aku dikejutkan dering HP-ku, lalu di ujung telepon sana seorang cewek yang mempunya nama Fina mengucapkan kata selamat ulang tahun dengan menggunakan bahasa Inggris " happy birthday to you" begitulah kira-kira yang aku dengar. Aku cuma diam kemudian aku membalasnya dengan simpel "terima kasih" begitu kata terakhir dialogkku di awal pagi di tahun yang ke-23.

Begitu berartikah bertambahnya umur seorang manusia, sehingga harus dirayakan?. Pertanyaan ini menggumpal bagai kabut yang menyelimuti kota Jogja kala itu. Akhirnya aku diseret untuk berfikir menggelayuti makna filosofi dari sebuah perayaan bertambahanya umur. Aku duduk tenang di kamarku sambil mencoba mengais makna di balik kebiasaan orang-orang yang merayakan hari ulang tahun. Kemudian di titik akhir dengan kesadaran dan kemampuan yang aku miliki dan setelah aku menyebrangi samudera tanda tanya tadi, aku menemuka kata sepakat kalau hari ulang tahun itu perlu diperingati namun tidak perlu dirayakan.

Dari refleksi yang aku lakukan di atas aku menemukan dua kosa kata yang hampir mempunyai makna yang sama namun tetaplah menyimpan perbedaan yang mendasar. Dua kata itu adalah "memperingati dan merayakan". Dua kata ini mempunyai kemiripan tapi mempunyai konteks yang berbeda. Kata memperingati mempunyai konteks yang lebih sederhana dibandingkan dengan kata merayakan yang mempunyai kedekatan dengan konteks kemewahan. Konkretnya merayakan adalah peringatan yang diikuti dengan kemewahan. Dari dua kata tadi nampaknya yang paling dekat dan paling pas dengan keadaanku adalah kata memperingati. Selain sederhana konteksnya di dalanya ada nilai yang bisa dikorelasikan pada hal yang relegi.

Akhirnya akupun memutuskan untuk memperingati ULTAH-Ku walau hanya seorang diri. Aku mencoba merefleksikan gelaran 22 tahun masa laluku. Terasa begitu sangat cepat waktu menggulung sisa umurku yang aku tak tahu kapan akhir hamparan umur ini. Hanya sedikit yang bisa aku lakukan selama 22 tahun itu. Rasanya tidak ada prestasi dapat aku banggakan. Dosa bersimbah mem-pasir bak gurun yang bertepi. Rasanya aku malu pada diriku sendiri yang tak mampu mempersembahkan prestasi terbaik untuk hidupku. Sambil menunduk malu aku beristighfar dengan harapan Tuhan Allah-ku menyiramiku dengn guyuran maghfiroh.

Terus aku hanyut dalam gelayut refleksiku sambil juga aku ucapkan syukur, karena Tuhan Allah masih memeberiku kesempatan untuk melanjutkan ibadah kepada-Nya. Semoga Dia selalu menambah iman, umur dan rizkiku hingga akhirnya aku bisa mempersembahakan bagi-Nya pengabdian yang sungguh-sungguh dan mencerminkan 'abdan syakuro.