Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 04 Oktober 2009

MAKNA BERTERIMA KASIH

Hari ini benar-benar hari yang cukup menguras tenaga. Sejak dari jam pertama hingga penghujung dari rangkaian pembelajaran di hari ini secara terus menerus aku berada di depan para santri. Semua rangkaian pembelajaran itu walau harus tetatih-tatih melawan dengan rasa kantuk, capek dan malas, tetap harus aku jalani demi sebuah amanah. Melelahkan…!!

Tepat jam 2 siang kurang sepuluh menit semua kesibukan pembelajaran dapat aku selesaikan dengan tuntas. Wajah lelah tergores jelas di relung mukaku, tapi di lain sisi ada rasa puas dengan keberhasilan mencapai garis finish dari sebuah perjuangan dan pegorbanan. Perjuangan dan pegnorbanan adalah pondasi pokok dalam menjalankan amanah. Bermakna perjuangan karena pekerjaan mengajar memang sebuah rutinitas yang bernilai tinggi di sisi agama dan kemanusiaan yang harus dipejuangkan, sedangkan bermakna pengorbanan karena di sisi lain ada hal yang harus dikorbankan dari seorang individu demi sebuah perjuangan. Konkritnya antara perjuangan dan pengorbanan harus bejalan dengan sinkron dan proporsional. Walaupun perjuangan harus meminta pengorbanan tapi bukan berarti harus ada yang jadi korban. Pengorbanan disini tetunya masih sangat terkait dengan kemampuan dari masing-masing individu.

Selanjutnya ada sisi manis yang dapat dirasakan ketika sebuah pekerjaan itu dapat dilalui dan diakhiri dengan husnul khotimah. Rasa puas, senang gembira serta sekian banyak perasaan lainnya yang menggambarkan kepuasan, adalah wajar diekspresikan oleh seorang manusia. Maka adalah langkah yang teapt ketika ekspresi itu kemudian berujung dengan rasa syukur kepada Tuhan Allah SWT yang telah menganugerahkan ma’unah-Nya dari setiap langkah yang telah terlewati selalu berada dibawah irodah dan qodrah-Nya.Intervensi Tuhan sebagai zat yang Maha Besar adalah tak terelakkan, maka pada dimensi relegius berterima kasih pada-Nya adalah mutlak menjadi kesadaran dari setiap manusia.

Selain daripada Tuhan yang telah mengintervensi dari setiap usaha manusia ada perantara lain yang menjadi bagian skenario Tuhan dalam menyampaikan pertologannya. Manusia lain yang berada di sekitar kehidupan adalah bagian perantra yang sering kali kadang terlupakan. Dalam hubungan horizontal kemanusiaan maka berterima kasih pada sesama merupakan bagian yang tidak boleh terlewati dari siapa saja yang baru saja dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dengan berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa, secara tidak langsung dalam kehidupan ini sudah berlangsung sebuah pembangunan kemanusiaan yang mahal harganya.

Dua gerak vertical dan horizontal di atas merupakan gerak proporsional cermin dari seorang manusia yang bijak dan beriman. Semakin pandai seseorang berterima kasih pada Tuhan dan sesamanya maka semakin luas pula pemberian Tuhan padanya. Jalan kemudahan dan keramahan dari sesama akan terus mengiringi perjalanan hidup. Sehingga pada tahapan berikutnya hidup ini akan terasa lebih nikmat dan menggairahkan. Inilah mungkin cerminan tafsiran dari seorang hamba yang bersyukur yang berimplikasi pada penambahan nikmat yang diturunkan oleh Tuhan pada manusia. Lain Syakarum La azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasyadid. [ijan09]

Jumat, 14 Agustus 2009

KADO BUAT PESANTREN

Telaah Reflektif-Filosofis Upaya Penyegaran Ideologi Pesantren dari Kejumudan Menuju Pendakian Progresif-Dinamis
Oleh: Ach. Tijani


Sketsa Wajah Pesantren
Negeri ini sudah 64 tahun menikmati kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda. Kemerdekaan itu diperoleh dengan perjuangan dan pertumpahan darah dari para pejuang negeri ini. Salah satu unsur institusi pendidikan yang dengan getol memperjuangkan kemerdekaan adalah, Pesantren. Pesantren dalam sejarahnya adalah lembaga pendidikan Islam yang dengan gigih melawan penjajahan. Perannya dalam mengupayakan bangsa ini merdeka dari penjajahan, terbukti dengan banyaknya perlawanan dari dalam pesantren, baik perlawanan secara kontak fisik ataupun secara ideologi.

Bila dilihat lebih dekat, keberadaan dan peran pesantren dalam membangun negeri ini sudah bermula sebelum datangnya kaum penjajah di negeri ini. Selain basis perlawanan melawan penjajah pada zaman sebelum kemerdekaan, pada mulanya pesantren merupakan institusi penyebaran Islam. Dari pesantren inilah Islam menjadi sebuah agama yang ramah dan dekat pada masyarakat luas. Pada dimensi yang lain pesantren menjadi media sentral dakwah ke-Islaman pada awal penyebaran Islam di bumi Nusantara ini.

Keberadaan pesantren di negeri ini membawa realitas Islam sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Pesantren selain mengemban misi suci penyebaran Islam, di sisi lain sebagai penjaga nuansa keaslian negeri (indigenous), karena secara historis lembaga sejenis telah berdiri sejak masa Hindu-Budha, sedangkan pesantren merupakan kelanjutan dalam bentuk Islamisasi dari warisan nenek moyang. Dengan demikian tanpa bisa dibantahkan, pesantren merupakan salah satu warisan kekayaan sistem pendidikan bangsa yang seharusnya dan sewajarnya menjadi kebanggan bagi setiap insan negeri ini.

Jika mau jujur di era kemerdekaan, pesantren tetap eksis menelorkan alumninya sebagai para pemimpin bangsa ini. Sebut saja Gus Dur, orang pesantren sekaligus sebagai bapak bangsa yang kemudian berhasil menjadi orang nomor satu di negeri ini. Selain itu ada beberapa tokoh lain seperti, Din Syamsuddin, Hidayat Nurwahid, Hasyim Muzadi dan lain-lain yang tidak mungkin untuk disebutkan satu-satu. Mereka adalah sebagian saja dari sekian juta lainnya yang mempunyai peran penting dalam membangun bangsa ini. Dengan demikian, pesantren tetap berada pada posisinya sebagai institusi relegius-nasionalis dengan orientasinya yang luhur yaitu, memajukan bangsa.

Peran dan misi suci pesantren yang gemilang itu nampaknya tidak banyak dipahami oleh para pemimpin negeri ini. Bahkan para pemimpin negeri ini lebih banyak mengadopsi warisan penjajah Belanda yang mengarah pada pendiskreditan pesantren. Lihat saja perjalanan putusan-putusan pemerintah yang sedikit memojokkan dunia pesantren dan Islam. Kalau boleh menakar lebih rinci putusan-putasan pemerintah itu bermula dari awal perjalanan pemerintahan pasca deklarasi kemerdekaan hingga pemerintahan saat ini. Diskrimnasi dan pendikreditan itu bermula pada tahun 1950 oleh Presiden Soekarno dengan pola pandang dualisme-dikotomisme (lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan agama) yang memandang pesantren hanya sebagai gerakan ritual belaka. Tendensi pemerintah lebih memilih pendidikan sekuler warisan penjajah ketimbang pesantren yang lebih dulu membangun negeri ini. Aksidensi sejarah itu terjadi ketika ditetapkannya Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai kawah canderadimuka bagi kaum nasionalis serta Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) bagi umat Islam pada tahun 1950. Aksedensi sejarah ini merembes pada eksistensi pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam. Sehingga kemudian pesantren hanya sebagai cagar budaya yang minim akan perhatian pemerintah.

Pandangan picik serta serangan yang memojokkan pesantren tidak berhenti sampai disitu. Saat ini pesantren dan dunia Islam sedang dideru agresi maha dahsyat dengan tudingan miring sebagai sarang teroris. Dentuman dan meledaknya bom pada 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Calton menambah borok pandangan publik terhadap pesantren dan dunia Islam. Santernya pemberitaan media, bahwa salah satu dari pelaku yang terlibat dalam kejadian itu adalah alumni pesantren. menjadi salah satu faktor semakin memburamnya wajah pesantren di tengah-tengah masyarakat luas.

Demikian sketsa pesantren saat ini, keberadaannya sangat memprihatinkan serta membutuhkan langkah kuratif yang tepat untuk mengembalikan citra pesantren di mata dunia.

Problem dan solusi
Gambaran di atas merupakan deskripsi dunia pesantren yang berada diantara peran dan agresi dunia luar yang mencoba menggusur pesantren dari bumi Nusantra ini. Sudah saatnya pesantren bangkti dari tidurnya dengan mencoba membangun kesadaran agar terus bisa survive menghadapi tantangan yang membentang. Tudingan dan pandangan miring dari dunia luar pesantren setidaknya menjadi stimulan agar pesantren tidak melulu sibuk dengan aktifitas kognitif-normatif (pengajaran) saja, tapi lebih dari itu agar mulai melihat secara integral-universal pada dunia dan problematika yang terjadi.

Diantara kelebihan yang bisa dibanggakan dari dunia pesantren, tentunya menjadi sebuah kesadaran adanya kekurangan yang perlu dibenahi di tubuh pesantren itu sendiri. Pesantren dengan kelebihannya kadang telah membutakan insan pesantren itu sendiri dengan bersikukuh pada romantisme historis kejayaan masa lalu. Kejayaan dan prestasi masa lalu menjadi kebanggaan yang menghilangkan nuansa dinamisasi, sehingga kadang dunia pesantren mengisolasi diri dari perkembangan yang datang dari luar.
Determinisme historis ini mengakar kuat di kalangan orang pesantren. Salah satu penyebabnya adalah pandangan ideologi orang pesantren yang bersifat miopik-narsistik. Sebuah pola pandang yang sempit serta pengagungan yang kelewatan terhadap milik dan diri sendiri. Pola pandang ini tersuguhkan dengan pola prilaku searah dalam sistem pengajaran dan budaya yang berjalan di dunia pesantren. Salah satu contoh adalah, pengkultusan yang berlebihan pada figur sentral (kiyai) serta pengkerdilan sikap kritis para santri. Walaupun ada beberapa pesantren yang mencoba mengikis pola pandang ini, tapi itu semua jika ditilik lebih dalam hanya berupa apologi-difensif yang sifatnya artifisial saja.

Selain daripada itu yang lebih sering didentikkan dengan budaya yang berkembang di pesantren adalah, corak kepimimpinannya yang bersifat kharismatik-feodalis. Corak kepemimpinan seperti itu dinilai untuk saat ini sudah tidak tepat lagi, mengingat dinamika dan perubahan zaman sudah jauh lebih berkembang, sedangkan corak kepemiminan tersebut cenderung mengabaikan kualitas. Dunia modern selalu meminta kualitas ketimbang garis keturunan, untuk itulah tradisi ini perlu juga mendapat penyegaran dengan beralih pada corak kepemimpinan rasional, harapannya agar pesantren bisa benar-benar menjadi milik umat bukan milik kelompok apalagi individu. Corak kepemimpinan ini merupakan kelanjutan dari ideologi kultus yang berkembang di pesantren.

Sejatinya akar ideologi di atas mempunyai tautan kuat pada era masa keemasan Islam di Timur Tengah. Lihat saja beberapa kitab yang digunakan untuk membekukan ideology ini di tengah-tengah santri, sebut saja Ta’limul Muta’llim yang lebih menekankan pada amaliyah-sufistik dengan metode personal-monolog dan mementahkan sikap kritis. Sikap ini kemudian diterjemahkan pada pola pandang yang menghegemoni dengan sebutan iktisab barokah. Maka tidak jarang pada realitanya banyak kalangan muslim yang sengaja masuk pesantren dengan berorientasi pada barokah.

Celah ataupun kekurangan lain yang perlu disadari adalah menghegemoninya Arabisasi atau gerakan meng-arabkan pesantren secara penampilan dan isi (performa-dan substansi). Maka tak jarang di sebagian besar pesantren di negeri ini, Bahasa Arab (Nahwu-Shorrof), Fiqh, Tafsir, Hadits dan Aqidah saja yang menjadi materi ajarnya. Kemudian yang lebih menjenuhkan, ketika materi ajar itu hanya diupayakan pada batas pengamalan saja tidak sampai pada mengkaji dan mengkritisinya.

Diakui beberapa pesantren ada yang sudah berupaya memadukan ilmu pengetahuan secara integral tanpa memetak-metakkan lagi. Namun tradisi naqdu ilmi belum secara utuh diterapkan didalamnya. Sehingga pola atau system yang berjalan hanya pada tataran iktisab ilmi belum pada tataran intaj ilmi. Sesuatu yang langka ini seharusnya sudah disadari oleh para elit pesantren untuk memasukkannya dalam sistem pesantren sebagai upaya penyegaran yang berarah pada pendakian positif.

Kendala lain dalam menanamkan sikap progresif pada dunia pesantren adalah, mengakarnya antipati terhadap Belanda yang berlebihan (Dutch sentimental). Antipati yang membabibuta ini kemudian berujung pada sentiment luar biasa pada sesuatu yang datang dari Barat. Apapun perkembangan yang dibawa oleh Barat (dunia luar pesantren) dianggap oleh sebagian kalangan pesantren sebagai sesuatu yang sesat. Pandangan dangkal inilah yang sering kali memunculkan sikap anarkis, sehingga tak jarang ada beberapa alumni pesantren yang terjerumus dalam kubangan paham taklidiyah yang terimplikasi lewat tindakan-tindakan teror.

Kenisacayaan pesantren untuk membuka diri dan keluar dari pola regresif pada pola progresif adalah tak terbantahkan sebagai langkah preventif dari tergususnya pesantren dari negeri tercnta ini. Hal ini merupakan solusi tunggal agar pesantren tetap eksis dan kembali mendapat citranya dari pandangan publik dan pemerintah. Solusi ini sebenarnya bagian dari kekayaan adagium pesantren yang selama ini banyak dilupakan oleh kalangan orang pesantren itu sendiri yang berbunyi ‘’almuhafadhah ‘ala qodimis sholeh wal akhdu min jadidil aslah”. Harapan final dari upaya ini adalah terciptanya pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya sebagai hasil budaya (muntaj tsaqofah) tapi di sisi lain pesantren juga sebagai penghasil budaya (muntij tsaqofah). [ijan09]


*)ditulis sebagai kado buat Pesantren menjelang Dirgahayu RI yang ke-64

Kamis, 06 Agustus 2009

MEMBUKA KESADARAN BARU UNTUK BERFILSAFAT

Dunia tidak pernah lepas dari hiruk pikuk dinamika wacana pemikiran. Perkembangan dari berbagai sisinya memunculkan banyak problema yang melahirkan banyak persepsi dan wacana. Laju model kehidupan ini terus saja mengalir tanpa bisa dielakkan lagi sebagai sebuah konsekwensi logis dari adanya dunia sebagai tempat yang mewadahi segala bentuk hasil prilaku manusia yang mewujudkan peradaban. Untuk itu, peradaban dan wacana pemikiran, menjadi pasangan serasi yang terus mewarnai laju dinamika kehidupan. Lepas dari itu semua, agama sebagai salah satu komponen dinamika yang berpijak di bumi ini, tidak luput menjadi bagian yang terus diperbincangkan.
Agama menjadi sebuah perbincangan, tentunya sangat beralasan. Selain sebagai sentra kontrol yang selama ini menjadi daya dari gerak laju perkembangan manusia, juga menjadi sentra dari segala perkembangan dunia ini. Namun, agama tidaklah satu-satunya sentra yang menisbikan daya-daya lain penggerak dinamika. Ada sisi lain yang juga menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia ini, yaitu akal. Agama dan akal inilah dua sisi penting yang terus mendampingi dan bertanggungjawab atas semua bentuk perkembangan yang terjadi.
Agama diwakili wahyu sebagai sebuah sumber dari berbagai implikasi dari gerak konkret yang bersentuhan dengan prilaku nyata. Sedangkan akal, berdiri sendiri sebagai sumber yang terwakili dengan sistem pencarian kebenaran yang dikenal dengan filsafat. Wahyu dan filsafat berjalan menuju sebuah sentra titik, yaitu kebenaran. Keduanya adalah, dua kubu yang berbeda yang bertolak dari titik yang berbeda, namun tertumpu pada satu tujuan yang sama tadi. Titik tolak yang berbeda inilah menjadi perbincangan sengit antara kaum agamawan dan para filosof. Kaum agamawan berpendapat bahwa, realita ini harus bertolak dari ketertundukan terhadap otoritas tuhan lewat wahyu yang diturunkannya. Pada sisi lain para filosof dengan percaya diri mengatakan tiada kebenaran tanpa menyoal kebenaran tersebut, lewat akal sebagai sumber dan penuntun yang absah dan nyata.
Diskursus akal sebagai penuntun dalam hidup ini, melahirkan banyak pendapat. Pada sisi tertentu diakui kalau kajian keagamaan begitu sangat membutuhkan rasio atau akal. Di sisi lain ada yang menyoal, kapan dan dimana akal akan ditempatkan. Akankah rasio menjadi hal primer menggusur kedudukan wahyu sebagai penuntun yang datang dari Tuhan. Bertolak dari wacana inilah perbincangan antar agamawan dan para filososf dimulai.
Pada perjalanan selanjutnya ternyata keberadaan filsafat banyak ditentang oleh para kaum agamawan. Pada saat itulah filsafat mengalami masa suram, tepatnya tatkala al-Mutawakkil (847-861M) berkuasa. Keberpihakan al-Mutawakkil pada kaum agamawan salafi (ortodok) begitu sangat nampak dengan dipecatnya Al-Kindi seorang ahli filsafat dari posisinya sebagai guru istana. Kesuraman filsafat kala itu benar-benar berada pada titik yang mengkhawatirkan. Muncul berbagai kecurigaan yang begitu mendalam terhadap filsafat serta berbagai macam tudingan miring terhadapnya.
Reaksi penolakan terhadap filsafat ini tertuang dari berbagai pernyataan para kaum salafi (ortodok) di berbagai kitab yang ditulisnya. Pada kitab Fiqh Akbar III misalnya, terdapat 33 fasal yang menolak filsafat. Filsafat dianggap sebagai bidáh, kufurat, zandiq, mulhid, haram dan majusi. Pada kitab Ibtal al-Falsafah karangan Ibnu Kholdun, menempatkan filsafat sebagai golongan-golongan ilmu tolol setingkat sihir, tenung, alkemi dan klenik.
Reaksi penolakan tersebut tidak hanya terendus lewat teks, namun juga telihat pada aksi konkret. Sultan Abu Yususf An-Nasr (1196) misalnya, melarang keras pelajaran filsafat di lingkungan kekuasaannya. Pada tataran akdemik formal beberapa perguruan tinggi dan sekolah memposisikan fisafat sebagai Úlum al-Ajam (ilmu-ilmu asing) dan ilmu alat (álliyah) saja. Jika pun ada beberapa perguruan tunggi yang mengajarkannya itu hanya sebatas apologi difensif yang hanya berada pada tataran kulit luarnya saja, bukan pada sisi substansialnya. Artinya filsafat dianggap sebagai ilmu yang tidak penting dan tidak perlu dikembangkan.
Dua gejala konket inilah mewakili bentuk penolakan terhadap filsafat. Penolakan itu tentunya mempunyai alasan-alasan jelas. Salah satu alasan yang menjadi dalil ditolaknya filsafat untuk berkecambah dan berkembang di tengah-tengah muslim adalah, lahirnya pernyataan ar-Rozi (865-925) yang menolak konsep kenabian. Pernyataan kontrofersial ini memunculkan emosi penolakan yang tinggi dari kaum ortodok, ditambah lagi dengan pernyataan Ibn. Rawandi (lahir825) yang juga menolak konsep kenabian. Penolakan konsep kenabian ini dianggap oleh kaun ortodok sebagai pengerogotan yang membahayakan, akhirnya dijadikan tameng untuk menolak filsafat.
Selain dari yang disebutkan diatas, permulaan ketegangan dan meruncingnya kecemburuan kaum salafi tersebut, disebabkan adanya agresi dari para filosof yang dituding sebagai sebuah pelecehan pada hirarki penempatan ilmu teologi pada tataran yang paling rendah. Kala itu kaum salafi menolak filsafat sebagai penuntun akal, kemudian memilih teologi sebagai rival yang bisa menyaingi filsafat. Jelas saja mereka para kaum salafi marah ketika al-Farobi seorang filosof yang kemudian menempatkan teologi pada ranking paling rendah. Kejadian tersebut menjadikan ketegangan dan penolakan kaum slafi terhadap filsafat semakin kentara saja.
Tudingan dan klaim miring terus datang beruntun hingga saat ini. Penolakan tersebut juga dilontarkan para kaum ortodoks nasional kontemporer. Hamka dalam bukunya yang berjudul Pelajaran Agama Islam menyatakan bahwa, filsafat hanya mengacaukan fikiran. Tudingan miring ini adalah bentuk kecemburuan yang begitu sangat dalam dan mengakar. Selain Hamka, Munawar Halil dalam bukunya yang berjudul Kembali Kepada Al-Qurán dan Assunnah menyatakan, kaum muslimin agar menghindari pemakaian akal dan raý dalam urusan agama. Munculnya kekhawatiran ini menandakan secara eksplisit para cendikiawan ortodok masa kini juga menaruk kecurgaan yang mendalam pada filsafat.
Filsafat berada titik yang paling kritis tatkala diserang oleh lontaran al-Ghazali sang Hujjatul Islam lewat kitabnya Tahafut Falasifah, kemudian diulanginya pada kitab lainnya Munqid mina al-Dlolal. Serangan tersebut dititikberatkan pada persoalan metafisika dan logika. Posisi al-Ghazali saat itu sebagai seorang teolog benar-benar berada pada puncak persetagangan yang cukup akut, seklaigus juga menghanguskan wacana filosofis yang dihasilkan oleh al-Farobi dan Ibn Sina. Gaung persetagangan ini berujung pada antipasti yang sangat dalam dari kalangan muslim pada umumnya.
Selain dariapada antipati lainnya, ada pandangan pragmatis yang muncul di kalangan umat muslim terhadap filsafat. Filsafat dianggapnya tindakan sia-sia tanpa menghasilkan apa-apa. Misalnya seperti yang didengungkan oleh seorang seniman, menganggap filsafat hanya mencegah peleburan emosi dalam menikmati seni. Pandangan pragmatis ini merebah cukup luas sampai pada sisi kehidupan lainnya yang sedikit menyentuh area mterealisme. Lihat saja fenomena sosial di kalangan mahasiswa, mereka berpandangan kajian filsafat tidak bisa memberikan harapan masa depan dari sisi ekonomi.
Mencermati berbagai tudingan dan penolakan di atas, perlu kiranya pengkajian lebih dalam dan konprehensif mengenai wacana ini. Bila ditilik lebih dalam semua penolakan di atas bisa disimpulkan menjadi dua bagian. Pertama kecemburuan yang berangkat dari kekhawatiran adanya pengrusakan pada prisnsip-prinsip agama, karena filsafat dianggapnya ilmu asing yang berangkat dari Yunani dengan klaim adanya kepentingan-kepentingan penyerangan. Kedua, munculnya pandangan picik yang berorientasi pada pencapaian mater,biasa ikenal sebagai paham pragmatisme.
Semua fenomena di atas menstimulan siapa saja yang menghendaki kedinamisan. Beranjak dari peresetegangan ini, maka kajian filsafat menjadi kajian tak terelakakan lagi untuk menjadi sebuah pilihan bagi penulis secara pribadi. Hal itu dimaksudkan agar warisan kajian filsafat para pendahulu kita tidak usang termakan gosip miring, pada sisi yang lain mengharmoniskan hubungan kaum ortodoks dengan para filosof. Harapan terakhir adalah, mengembangkan, menambah dan menyempurnakan khazanah keilmuan Islam. [ijan09]

Minggu, 28 Juni 2009

BATURRADEN MENGESANKAN


Perjalanan yang bertolak sekitar jam 07 di hari Minggu terakhir di bulan Juni 2009 memberikan banyak kesan yang menakjubkan . Hari itu adalah hari ke-28 di bulan Juni yang merupakan bagian dari hari libur panjang di tahun ajaran ini. Walau Mu'allimin belum libur secara resmi, tapi hari itu adalah hari penantian nasib bagi setiap siswanya. Apakah mereka berada pada kubu yang " Man utiya kitabahu biyaminih, atau sebaliknya. Dalam penantian yang mendebarkan ini mereka berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan melakukan aktifitas tour ke Baturraden.

Bus yang ditumpangi peserta tour melaju dengan mulus tanpa ada halangan yang berarti. Banyak keindahan yang disuguhkan alam selama perjalanan. Ada gunung yang menjulang tinggi, kali yang dialiri air yang jernih, tanah pertanian yang menghijau, serta deretan toko-toko perkotaan yang berhimpit-himpitan. Semuanya berpadu menjadi mozaik eksotis menghibur hati yang gundah. Suara nyanyian peserta tour terdengar manambah hiruk pikuk keadaan dalam bus. Semuanya begitu bahagia, terasa penat dan payah selama di asrama tershempaskan berganti keriangan.

Akhirnya bus kemudian berhenti di area parkir pariwisata setelah 4 jama perjalanan. Nampak beberapa bus para pengunjung lain berjejer rapi di area parkir, begitu ramai pengunjung di hari itu. Ada yang tua, muda, anak-anak sampai pada yang masih cabang bayi juga ikut meramaikan suasana Baturraden. Entahlah apa sebenarnya yang mereka cari di tanah pegunungan yang berudara cukup dingin ini. Keindahan, keramaian atau ketengangan?? Tak jelas apa yang dicari, tapi yang jelas Baturraden adalah magnet mengesankan yang menyeret beribu-ribu manusia.

Jalan menuju lokasi wisata menanjak tajam, namun semua itu tidak menjadi kendala bahkan menjadi tantangan yang menggairahakan untuk ditaklukkan. Suasana keriangan mengumbar dari seluruh peserta tour, masing-masing mereka mempunyai gaya tersendiri yang unik dan menggelikan. Maklum mereka adalah anak-anak yang berada pada masa puber, masa pencariaan jati diri, karenanya berbagai cara mereka lakukan untuk mengeksiskan dirinya. Semuanya nampak wajar-wajar saja, sewajar dengan perkembangan psikoogi mereka.

Sesampainya di lokasi, semuanya berkumpul di bundaran ikon Baturraden untuk berpose bersama, kemudian setelahnya mereka memilih untuk berjalan-jalan sendiri menikmati suasana alam yang indah nan menggairahkan. Sebagian ada yang ke kolam renang,sebagian yang lain ada yang ke air terjun. Semuanya benar-benar menikmati suguhan Baturraden. Nampak beberapa juga masih ada yang enggan untuk mengeksplorasi seluruh wisata. Enggan karena ada suguhan yang berada di luar pengelola wisata, yaitu ulah para pengunjungnya. Pokoknya ada deh yang aneh..... !!!!

Para pengunjungnya yang multi ragam menyuguhkan banyak keragaman juga. Ada yang konyol, lucu tapi yang paling mengerikan dan menarik adalah ulah para pengunjung yang sengaja mengumbar birahi tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Mereka adalah pasangan-pasangan muda yang mencoba mengeksiskan dirinya lewat dekapan-dekapan birahi di balik kerumunan dan keindahan Baturraden. Tanpa sengaja dan tidak dapat dielakkan lagi suguhan mencengangkan itu akan dengans sendirinya mudah diakses oleh siapa saja yang datang. Walau risih dengan pemandangan ini, para peserta tour tetap tersenyum dan tertawa lepas tak hiraukan semua itu.

Kurang lebih tiga jam penjelajahan Baturraden akhirnya harus diakhiri juga. Tepat jam 15.00 WIB semua peserta sudah berkumpul di bundaran Ikon Baturraden untuk bersiap pulang. Puas rasanya melepas semua gumpalan penat yang selama ini menggurendel, kini semuanya lega. Setelah semua peserta sudah lengkap, para peserta melangkah meninggalkan Baturraden. Sementara di parkiran, bus yang ditumpangi para peserta tour sudah menunggu dari tadi. Tepat jam 4 sore bus meninggalkan lokasi menuju Jogjakarta setelah sebelumnya mampir di ruamahanya Alfan untuk makan bersama. Tepat jam 22.00 akhirnya kami anak-anak II C dapat kembali dengan selamat sampai di kampus tercinta Mu'allimin.

Kamis, 25 Juni 2009

MENIKMATI MALAM LIBURAB EKSOTIS DI MALIOBORO

Bulan Juni merupakan bulan yang cukup dinanti oleh kalangan pelajar dan perangkatnya. Karena pada minggu terakhir di bulan tersebut mereka bisa melepas penat setelah setahun penuh disibukkan dengan rutinitas yang cukup memeras otak. Banyak cara untuk melepas penat tersebut, ada yang di rumah saja dengan seabrek kegiatan santai, sampai pada kegiatan piknik dan berpariwisata bersama teman-teman sejawat. Pada hakikatnya akhir bulan Juni bagi para pelajar di Indonesia adalah masa melepas lelah dan masa linburan panjang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Yogyakarta sebagai salah satu kota yang tidak pernah sepi dari pengunjung, baik yang hanya sekadar datang per-orangan, ataupun yang datang secara kolegial, tetap menjadi magnet tersendiri yang menyeret para pelajar ke kota ini. Sejak seminggu kemarin kota yang dikenal dengan nasi Gudegnya ini disesaki dengan deretan bus-bus paraiwisata yang datang dari luar kota. Meraka nampakanya adalah para pelajar yang ingin melihat secara dekat kota yang pernah menjadi ibu kota Negara ini. Kamera dan perangkat penangkap gambar lainnya menjadi teman sejati mereka untuk memonomentalkan moment-moment liburan yang bergairah tersebut. Tak jarang di bantaran trotoar Malioboro, tepatnya di depan Tugu Serangan Umum 11 Maret mereka berjejer sambil memintakan foto pada pengguna jalan yang kebetulan melintas di area tersebut.

Cukup beragam para pengunjung baru Kota gudeg ini, mulai dari mereka yang baru duduk di Sekolah Dasar sampai para mahasiswa. Di kota Yogyakarta ini mereka akan banyak menemukan tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi. Sejarah dan budaya menjadi menu menggairahkan bagi para visitor, sekaligus sebagai satu-satunya yang unik pembeda dari kota-kota lainnya. Selain kawasan keraton yang masih sangat kental dengan adat dan budaya Jawanya, di lain sisi Jogja juga merupakan kota pelajar tertua di tanah air ini. Mereka para pengunjung akan menyaksikan sekian ratus kampus perguruan tinggi yang beridiri hampir di setiap sudut kota ini. Pokoknya Jogja tiada duanya di negeri ini…..!!!

Bagi mereka yang hobi mengoleksi barang-barang bernuansa khas Jawa-Jogja, sangat mudah dijumpai di kota ini. Cukup berjalan di sepanjang trotoar Malioboro barang-barang tersebut akan berderet rapi mulai dari selatan hingga ujung paling selatan. Tinggal memilih sesuai dnegan budget dari masing-masing pengunjung. Malam hari di kawasan ini akan dijejali oleh ribuan manusia. Karena nuansa Malioboro memang snagat enak bila dinikmat pada malam hari, seolah pada malam hari ruh dari ruas jalan ini benar-benar menampakan keeksotisannya. Tidak ke Malioboro sama dengan tidak pernah ke Joga. [ijan]

Jumat, 12 Juni 2009

Pelepasan Santri Kelas VI Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta

(Prof. Din Syamsudin :"Why we Not The Best")


Mua'llimin Muhammadiyah Yogyakarta untuk kali ke-83 melepas alumninya. Pelepasan itu dilaksanakan kemarin 7 Juni 2009 di halaman tengah madrasah. Pelaksanaannya terkesan sederhana untuk ukuran Jogja sebagai salah satu kota pendidikan ternama di negeri ini. Hanya menggunakan empat terop yang menaungi sekitar empat hingga lima ratusan undangan yang terdiri dari wali santri, guru, karyawan dan undangan umum lainnya. Walau Nampak sederhana tapi prosesi pelepasan ini tetap menjadi momentum bersejarah bagi Mu'allimin dan para siswa terkait.

Lepas dari itu ada kesan yang cukup melekat di benak setiap undangan yang hadir, walau secara kemasan luarnya nampak sederhana, tapi pada hakikatnya pelepasan santri kelas akhir kali ini mempunyai arti penting bagi setiap yang hadir waktu itu. Menjadi penting karena pelepasan kali ini dihadiri langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsudin. Untuk pertama kalinya saya secara pribadi bisa melihat langsung orang penting nomor satu di persyarikatan Muhammadiyah ini. Wajahnya yang sejuk serta suguhan senyumannya yang dilemparkan pada para undangan menandakan kalau beliau adalah seorang tokoh yang mampu menjadi bagian dari umat. Begitu mengesankan….!!!

Kedatangan beliau dengan mengendarai sedan hitam disambut hangat oleh Direktur Mu'alliminnUst. Ikhwan Ahada dan para hadirin. Selang beberapa menit setelah kedatangan beliau, pembawa acara langsung mempersilahkan beliau untuk memberikan tausiyah, pesan dan penyerahan kembali para sntri kepada masing-masing wali santri. Dimulai dengan salam serta muqoddimah B. Arab yang sangat fasih menjadikan saya sangat terkesimak oleh pukauan penampilan beliau. Lulusan KMI Gontor ini selain B. Arabnya sangat fasih tapi secara artivisial mempunyai gaya retorika yang sangat menarik. Gaya retorikanya mampu menghangatkan suasana, banyak guyonan-guyonan tulusnya yang sesekali membuat para hadirin tersenyum.

Beliau mempunyai harapan agar para kader Muhammadiyah mampu bersaing di tengah-tengah perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Untuk itulah diharapkan kader-kader Muhammadiyah, khususnya santri yang baru dilepas mampu dan bisa memasuki bidang-bidang terapan ilmu yang ada. Karena menurut beliau saat ini tidak berlaku lagi dikotomi Ilm pengetahuan, bagi beliau tidak ada Ilmu Agama dan Imu Umum, keduanya adalah perpaduan yang tidak bisa dipisahkan. Mu'allimin sebagai kawah candradimuka-nya Muhammadiyah harus bisa melahirkan kader-kader yang tidak hanya menjadi ulama-ulama agama tapi juga mampu melahirkan ulama ekonomi, ulama politik dan ulama-ulama di bidang-bidang lainnya. Walau demikian Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga harus mempunyai kader-kader khusus yang benar-benar paham dan mengerti tentang agama (mtafakkih fiddin). Penyiapan kader-kader khusus itu merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan, begitu ulas beliau yang menganalogikan pada adanya Kopasus di tubuh TNI sebagai sebuah contoh.

Di tengah-tengah pidatonya, beliau juga menyempatkan untuk berdialog dengan para santri yang baru dilepas dengan memanggil dua orang untuk maju ke depan. Sengaja beliau memanggil santri yang sudah diterima di perguruan-perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri, untuk yang di dalam negeri beliau meminta santri yang diterima di ITB dan yang dari luar negeri beliau meminta yang diterima di Al-Azhar Kairo. Kemudian beliau mengajak dua orang santri yang dimaksudkan tadi berdialog mengenai alasan memilih perguruan tinggi pilihannya dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Untuk yang di terima di Al-Azhar beliau menggunakan dialog B. Arab, walau dapat dijawab tapi jawabannya masih terkesan kurang lancar dan terlihat tergagap-gagap. Menurut hematku tidak selayaknya untuk ukuran seorang alumni menjawab dengan gagap, tapi begitulah suguhan kenyataan yang harus menjadi bahan renungan bagi setiap guru di Mu'allimin. Dialog dilanjutkan pada santri yang diterima di ITB dengan menggunakan B. Inggris. Jawabannya lumayan lebih baik dari sebelumnya, walau harus disadari memang ada kekurangan yang juga harus menjadi perhatian para guru. Begitulah dialog ini berlangsung hingga kemudian diakhiri dengan tepuk tangan para hadirin.

Selain dari pada itu beliau juga mencurahkan harapannya pada Mu'allimin untuk terus berinovasi dengan mencampakkan rasa puas pada apa yang telah digapai. Artinya apa yang telah digapai oleh Mu'allimin saat ini jangan sampai menjadikan Mu'allimin puas, karena masih ada sekian banyak tujuan-tujuan yang lain yang belum tersentuh. Seperti planning masalah Madrasah bertarap Internasional adalah sebuah rencana yang harus bisa dilakukan oleh Mu'allimin sebagai lembaga kader. Muhammadiyah secara umum belum memiliki lembaga pendidikan Ideal tersebut, padahal umat di luar Islam sudah banyak yang memilikinya. Maka harapan yang begitu besar ini menjadi agenda utama yang benar-benar harus dijalankana oleh Mu'allimin. Peluang-peluang itu sudah mulai ada, misalnya dengan adanya tawaran tanah 10 H di daerah Godean adalah sebuah realitas yang mengisyaratkan kalau Mu'allimin sebagai lembaga pendidikan kader bisa menggapai impian itu. Sekarang tinggal kapan mau memulai. Motivasi dan impian baik itu diharapkan secepatnya dimulai walau disadari memulai itu sangat sulit.

"Lebih cepat lebih baik (Fastabiqul Khoirot)" ini adalah petikan pidato beliau yang meminjam slogan salah satu kandidat presiden. Beliau sangat setuju dengan slogan ini dalam tanda kutip niat dan maksud yang baik bukan dalam konteks mengkampanyekan kandidat presiden terkait. Begitulah petikan pidato beliau yang kemudian diiringi dengan tepuk tangan dan tawa dari para hadirin. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa semua yang nyata saat ini berawal dari sebuah mimpi, untuk itulah beliau menginginkan kader-kader Muhammadiyah menjadi pemimpi ulung dalam artian realistis-logis, serta penggila-penggila (pekerja-oekerja keras) sebagai implikasi dari makna gerakan yang ada di tubuh Muhammadiyah itu sendiri.

Lebih dari satu jam beliau berpidato menyampaikan harapan-harapannya pada para siswa dan Mu'allimin. Akhirnya di penghujung pidatonya beliau menyerahkan kembali para siswa yang baru dilepas itu pada walinya masing-masing. Sebelum akhirnya kembali ke tempat duduk, beliau diminta untuk memberikan amanah tertulis yang berbunyi " Kenapa kita tidak lebih baik, why we not the best". [ijan]

Rabu, 13 Mei 2009

MENGEJAR MIMPI INDAH (Pertemuan IKBAL Jogja)

Pertemuan dengan teman-teman alumni tanggal 12 Mei 2009 kemarin merupakan pertemuan yang memberiku banyak arti. Pertemuan itu adalah kali pertama selama hampir 6 bulan keberadaanku di kota Gudeg. Pantas kalau hampir semua diantara mereka mempertanyakan seputar kedatanganku di kota yang pernah menjadi ibu kota Negeri ini. Sambutan mereka sebagai seorang alumni terhadap teman sealmamaternya cukup hangat, mengingatkanku pada pondok yang selama ini telah menorehkan benih-benih kedewasaan dan persaudaraan. Tawa dan sapaan keakraban begitu sangat kental, menjadi pelipur kerinduanku pada Madura sebagai pijakan pertamaku mengawali proses perjuangan mengarungi bahtera kehidupan.

Pertemuan yang berlangsung di rumah Ust. Fathurrahman itu walau jauh dari kesan istimewa secara kemasan, namun mempunyai kesan yang cukup istimewa bagi diriku. Perhatian pertama yang memukau perasaanku tat kala bertatap dengan Ust. Fathurrahman seorang alumni tahun 1995 kelahiran asli tanah Prenduan itu yang kini bisa dibilang sudah bisa menuai jerih payahnya. Kepribadiannya yang santun serta loyalitasnya yang tinggi pada Al-Amien menjadikan kami (aku dan teman-teman) tidak canggung untuk bertegur sapa, walau kini beliau boleh dibilang sebagai salah seorang yang mempunyai posisi penting di ranah intelektual UIN Sunan Kalijaga. Posisi beliau sebagai dosen pada Fakultas Syari'ah di UIN tidak menjadikan beliau menjaga jarak pada kami yang kebetulan salah seorang diantara kami adalah Mahasiswanya. Aku benar-benar kagum...!!!

Aku kagum dan takjub dengan beliau yang kini bisa berdiri dengan tegak di tanah bukan kelahirannya. Aku dapat merasakan kalau beliau ini seorang pejuang, pekerja cerdas dan tangkas yang bisa membaca peluang dan tantangan. Tidak mungkin posisi yang cukup strategis saat ini didapat dengan berpangku tangan. Beliau benar-benar telah mampu melewati sengitnya multi-agresi di tanah rantau. Mengagumkan....!!

Di tengah kekagumanku tiba-tiba terbesit untuk mengorek diriku yang saat ini masih berproses. Timbul pertanyaan bisakah aku dengan keterbatasan serta kelebihan yang aku miliki bisa mencapai target-target impianku?. Pertanyaan sederhana yang tidak membutuhkan jawaban leteral atau verbal, tapi lebih dari itu adalah aksi nyata. Hidup menyuguhkan realitas yang selalu bersinggungan dengan sentuhan konkret. Hidup tidak cukup hanya berada dalam naungan ide, sehingga tidak perlu terlalu diidealiskan. Pada beberapa sisi ide memang tidak sepenuhnya dicampakkan tapi juga sering kali harus diikutkan sebagai penyeimbang dari gerak konkret yang dikhawatirkan tergelincir. Selama gerak konkret itu tidak menyimpang dari rel-rel agama maka sejauh itu ide harus diikutkan sebagai identitas seorang pejuang yang bekerja dengan Ilmu('ala ilmin). Inilah mungkin pembeda antara pekerja yang hanya mengandalkan otot dengan pejuang-pejuang ulung ala Ust. Fathurrahman yang beprinsip bekerja cerdas bukan bekerja keras.

Mimpiku jauh membumbung tinggi ke angkasa melampaui batas rongga-rongga langit alam ini. Mulai dari mimpi kesuksesan secara finasial sampai pada menduduki tahta yang penuh dengan gemerlap kenikmatan. " Hah..." sedikit aku menghela nafas sambil sunggingkan senyum tipis seakan menertawakan diri sendiri. Kemudian sunggingan senyum itu aku akhiri dengan perasaan optimis seumpama mimpi itu adalah masa depan yang dekat yang bisa kapan saja aku gapai. Aku sadar mungkin teman-teman IKBAL atau bahkan Ust. Fathurrahman sendiri akan ikut menertawakan diriku seandainya mereka tahu saat itu aku bermimpi indah di tengah gelaran mesra persaudaraan. Tapi aku akan dengan cueknya meneruskan mimpi itu dengan sambil berucap canda pada mereka " Bermimpi itu kan tidak usah bayar, jadi gak usah ditertawakan lah, apalagi sampai dilarang".

Sambil terus mengobrol rencana-rencana IKBAL Jogja ke depan, mimpi-mimpi itupun berlalu seiring ludesnya kripik kepeng ala Prenduan bersambelkan kacang pedas di depanku."Wuuuh...." rasa pedas nikmat itu memintaku untuk minum untuk hilangkan pedas. Keringat membasahi kening walau saat itu hembusan angin malam di depan rumahnya Ust. fathurrahman tak hentinya menerpa wajahku. Teman-teman yang lain tanpa dikomando juga berdesis nikmat. Benar-benar malam itu adalah malam yang memeprtemukan aku dengan mimpi, dan kenikmatan yang menyisakan semangat menggelora untuk menggapai mimpi itu. Semoga saja mimpi itu tidak tertelan pagi lalu lenyap digusur siang,aku akan selalu dengan semangat mengejar mimpi-mimpi itu.

Senin, 13 April 2009

Kilas Contrengan di Balik Keindahan Borobudur

Sudah berlalu contrengan untuk pemilihan calon legislatif, namun sayang sekali aku tidak bisa memberikan suara pada contrengan kali ini. Aku tidak terdaftar sebagai pencontreng di tempat baruku ini, toh walaupun terdaftar aku juga tidak bisa menentukan contrengan yang tepat. Selain tidak pernah mengenal sosok para calon, juga karena aku bukanlah orang asli Jogja. Ya ....masih beruntung tidak terdaftar, daripada terdaftar lalu kemudian bingung he...he...

Statusku pada contrengan kali ini benar-benar menjadi Golput tulen namun masih beralasan karena kendala tekhnis, kemudian di beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai golput tekhnis. Artinya mereka kelompok yang tertahan suaranya karena terbentur dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk memeberikan suara, baik itu karena lokasi atupun kendala-kendala yang lain yang disebabkan oleh sistem yang buruk. Anehnya para golput di ibukota mencapai 40 persen bahkan konon hal ini berlaku untuk Nusantara secara umum. Jumlah yang cukup besar, untuk sementara persentase golput jika dibandingkan dengan jumlah perolehan suara partai yang mempunyai suara terbanyak (Demokrat), golput masih mengunggulinya. Dengan demikian golput menempati posisi puncak sebelum Demokrat. Terus Golput menang dong he..he...!!!

Tidak salah aku di pihak golput, karena masih tergolong banyak jika dibandingkan dengan partai pendatang baru yang notabenenya telah mengeluarkan budget yang lumayan tinggi mencapai milyaran rupiah. Namun golonganku ini sangat ekonomis, bahkan kampanyenya tidak pernah tergelar sekalipun, apalagi iklan di TV, tidak sama sekali. Sebenarnya gejala sosial ini cukup unik serta mengundang banyak praduga dari berbagai kalangan. Ada yang berparduga karena munculnya kebingungan sehingga lahirlah prilaku abstain. Praduga lain ada ketidak puasan dari para golput pada pemerintah serta menganggap pemilu kali ini hanya sekadar formalitas yang tidak akan memebrika perubahan apapun pada bangsa ini. Wah pokoknya banyak deh pertanyaan lain yang tentunya membutuhkan analisis dalam. Ah sudahlah let gone be by gone.

Untuk mengisi hari kosongku tanggal 9 April yang lalu aku duduk manis di depan komputer hanya untuk chat n browsing mengubur sepi yang mengusik. Sepi, karena saat itu hampir semua penghuni asrama mudik untuk mencontreng. tersisa aku dan beberapa orang yang tergolong mempunyai daerah jauh dari Jogja. Bergulir begitu cepat, sehingga tanpa terasa sorepun menjemputku dan menggelar kesunyian di belantara malam. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa ada yang mengangggu ketenangan dan kedamaian hatiku. Sehingga pagipun menyambutku dengan lebih meriah lagi, karena pagi di Jum'at itu aku bermain Futsal yang merupakan agenda mingguan terfaforit.

Lepas bermain futsal menajdi rutinitas tak tergantikan yaitu harus mengisi perut yang sudah mulai bermusik ria. Dengan tujuan mengisi perut akhirnya aku meluncur mencari lokasi kuliner. Bertujuan ke depok untuk menikmati ikan cakalan namun akhirnya tujuan itu berbelot menuju Magelang dengan Brobudur sebagai sasaran terakhir. Kurang lebih 2 jam akhirnya aku sampai di daerah Borobudur. Lumayan mengangumkan untuk diriku yang baru akli kedua menginjakkan kaki di lokasi yang pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Udara panas serta waktu yang tidak memungkinkan untuk langsung menuju candi, akhirnya aku bersama tiga orang temanku duduk santai di salah satu warung di luar lokasi wisata untuk mengisi perut yang sedari tadi meminta haknya. Satu porsi gulai kambing lengkap dengan minumnya dalam hitungan menit dilibas habis tak tersisa. Keringat puas mengguyur seakan memberitahukan nikmat yang baru saja tersaji. Tidak berselang setelah itu, aku tunaikan sholat Jum'atku di masjid yang berada persis di samping warung. Al-Hamdulillah.....

Cukup lama aku menikmati Borobudur yang megah memepesona itu. Terhitung menjelang Ashar hingga jam 17.00. Suguhan Brobobudur kali ini free untukku dan teman-temanku karena sebelum ke Brobudur kami sempat singgah ke rumah teman yang kebetulan mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Brobudur.Tanpa dipunguti apapun kami semua dengan leluasa menikmati Brobudur dengan puas. Akhirnya kami tinggalkan brobudur dengan riang, lepas dari berbagai belunggu. Itulah seputar aktifitasku di libur cintrengan lima tahunan kali ini.