Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

Sabtu, 25 Oktober 2008

Malam Minguan sebuah Tradisi Mesum yang Dilegalkan

Malam ini malam yang panjang bagi kebanyakan pemuda. Malam minggu yang bisa memberikan kepuasan batin bagi seseorang yang menjadikan malam ini sebagai malam spesial. Acaranya biasanya sekitar cur-per (Curahan Perasaan) LUSSEKDA (Nge-Lus Sekitar Dada) atau beberapa hal lain yang pada intinya pergumulan terlarang tapi dilegalkan. Romantika kehidupan seperti ini hampir pasti terjadi di seluruh kota di tanah air ini. Enthlah siapa yang memulai kebiasaan tak tertuliskan ini menjadi sebuah tradisi yang mengakar kuat pada lini kehidupan para pemuda dan pemudi penerus bangsa ini. Rasanya kebiasaan ini terus mengalir deras tanpa halangan sehingga lambat laun pelosok desa-pun ikut-ikutan meng-kramatkan malam ini.

Secara tidak sadar tradisi yang dianggap legal ini telah banyak merubah sikap keseharian seorang pemuda yang sejatinya merupakan harapan hari esok bangsa ini. Sejujurnya ketika seorang manusia mengoptimalkan fungsi hatinya dan kecerahan otaknya akan mengaktakan bahwa tradisi ini tak lebih dari sekadar hura-hura belaka. Namun demi sang Nafsu birahi tradisi malam Mingguan menjadi ritual wajib yang tak boleh terlewatkan begitu saja.

Untuk merubah tradisi ini memang sangat sulit, butuh waktu dan pengorbanan. Secara histori, tradisi ini memang sudah muncul puluhan tahun yang silam atau bahkan sudah mencapai ratusan tahun yang silam. keberadaannya yang sangat tua menjadikan akar ideologi tradisi ini mengakar dengan kuat pada bagian kehidupan masyarakat umum. Menumbangkan secara cepat dan kilat adalah hal yang mustahil. Untuk itu perlu kiranya sebuah gerakan yang serempak dari para pemuda yang merasa bagian dari bangsa yang terpuruk ini agar kembali bangkit untuk memperbaiki moral sesama pemuda.

Dari tradisi ini banyak bermunculan masalah. Mulai dari hubungan gelap tanpa status sampai pada hiburan yang over yang mencerminkan penjajaan aurat yang akhirnya merusak karakter para pemuda. Pantat seksi, bokong semok, atau malah vagina gratis menjadi bagian dari hiruk pikuk dari taradisi malam kramat ini. Begitu sangat memprihatinkan dan sangat jauh dari khittah penciptaan manusia. Masyarakat nampaknya tenggelam dalam pelukan romantis kehingar-bingaran kehidupan kota, sehingga permasalahan ini menjadi fakta yang sengaja dikubur dari kenyataan.

Deskriptif permasalahan dari tardisi malam mingguan di atas sengaja disajikan dengan Vulgar se-vulgar realitanya yang terjadi di lapangan. Karena nampaknya masyarakat kita memang tidak bisa diajak untuk bermetafora, sehingga penulis menyajikannya dengan mencampakkan kode etik jurnalistik. Hal ini dimaksudkan agar masyrakat secara umum dapat cepat dengan sadar kalau tradisi malam mingguan memang merupakan dari tali tipuan syetan yang terkutuk. Maka sebagai sebuah harapan bagi kita sebagai bagian dari masayrakat agar menjadi pengontrol (public control) dari lingkungan dimana kita hidup. Sehingga bagian dari kenistaan tradisi malam mingguan itu jauh dari lingkungan kita.

0 komentar: