Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

Selasa, 24 Maret 2009

Wajah Negeri Menjelang Contrengan

Pesta Demokrasi di neger ini sudah mulai digelar dengan didahului oleh kampanye partai politik beserta calon legislatifnya. Menarik untuk diperbincangkan serta cukup menngemaskan untuk diikuti perkembangannya, sehingga hampir semua stasiun televisi meliput secara khusus pagelaran lima tahunan ini secara lebih serius dan inten. Beranika macam nama program liputan ini dikemas, ada yang menamainya Rakyat memilih, contreng, election Chanel dan lain sebagainya, namun seluruh acara itu sama-sama menyuguhkan liputan seputar pemilu. Begitu sangat semarak media dan rakyat negeri ini menyambut pagelaran pesta demokrasi tersebut.

Gambaran semaraknya pesta demokrasi itu tidak terlepas dari harapan masing-masing rakyat di negeri ini. Artinya rakyat saat ini begitu cukup senang dengan pagelaran tersebut dengan harapan nantinya terbangun pemerintahan yang lebih menjamin kemerdekaan dari berbagai macam belenggu penjajahan. Selama ini kalau boleh dibilang negeri ini masih berjalan di tempat atau bahkan mungkin malah tambah ke belakang, banyak program dan cita-cita bangsa ini yang terabaikan begitu saja tanpa adanya perhatian yang serius dari para pemimpin bangsa ini. Sehingga kadang menjadikan rakyat kesal, tak jarang kemudian memunculkan persoalan baru. Salah satu cita-cita negeri ini yang terabaikan adalah menjadikan setiap rakyatnya merdeka, merdeka dari kemeskinan, terpenuhi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraannya. Cita-cita luhur ini memang bukanlah perkara mudah, tapi paling tidak pemerintah dapat mencicil sedikit demi sedikit mewujudkannya, bukan malah merongrong negeri ini dengan tingkah bejatnya yang semakin parah. Kasus Korupsi jumlahnya semakin spektakuler bahkan menjelang contrengan baru-baru ini salah satu wakil rakyat terlibat dalam kasus tersebut. Memilukan...!!!

Itulah wajah negeri ini yang kian carut-marut dengan tingkah para pemimpinnya yang semakin tidak tahu malu. Menyitir komentar Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakrata menyatakan bahawa, "negeri ini telah kehilangan cita-citanya atau telah terjadi fragmentasi cita-cita". Masing para pemimpin mengusung cita-cita individu atau kelompoknya sehingga kerja dan pengabdiaanya tidaklah untuk seluruh rakyat negeri ini tapi melainkan untuk dirinya dan kelompoknya. Pada faktanya kemudian melahirkan praktek amoral seperti mengeruk kekayaan negera serta membuat keputusan-keputusan yang merugikan negara dan rakyat. Inilah gambaran moral dari sebagian para pemimpin negeri ini.

Momentum Pemilu saat ini benar-benar menjadi harapan terakhir rakyat untuk dipenuhi hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para pemimpin yang rakus. Namun rakyat kembali menuai beberapa problem yang sedikit membuat khawatir, karena beberapa partai dan calon legislatifnya ada yang masih mengusung cita-cita kelompok tanpa mau membangun dialog untuk mengintegralkan cita-cita tersebut menjadi cita-cita bersama untuk membangun negeri ini. Anggapan ini tergambar lewat siaran live salah satu satsiun televisi yang menyguhkan debat partai. Pada acara tersebut cukup terlihat bagaimana tergambar di raut serta lewat celotehan mereka para petinggi partai dengan gagahnya merasa paling sempurna, bahkan ada yang merasa menang debat dengan menggagahi lawan debatnya. Acara tersebut kalau boleh dibilang sebuah kamuflase yang menyughkan betapa dangkalnya kompetensi dasar yang dimilki para calon para pemimpin ini dengan memamerkan kebodohannya lewat adu argument yang dikemas dengan pilihan pro dan kontra. Cukup jelas kemasan program debat ini yaitu menggunakan frame pro dan kontra. Sebuah frame yang kurang membangun serta kurang bermartabat bagi sebuah partai di sebuah republik. Acara itu hanya pas bagi anak-anak sekolahan saja untuk melatih kemapuan berbahasa.

Lebih tragis lagi ada beberapa caleg dadakan yang boleh dibilang kurang relevan untuk menjadi wadah penampung aspirasi rakyat, karena adanya kompetensi dasar yang belum dikuasai betul oleh calon yang bersangkutan. Terlihat pada beberapa kasus seperti adanya pemalsuan ijazah, tindakan anarkis di beberapa tempat di negeri ini karena ulah caleg dadakan. Kemudian ada lagi beberapa diantara mereka yang berkampanye tidak pada rel yang telah ditentukan. Satu lagi yang menambah problem serta mungkin bisa membuat rakyat bingung untuk memilih yaitu adanya caleg yang pindah-pindah parpol, atau kalau oleh dibilang caleg kutu loncat. Jelas sekali caleg yang seperti ini hanya mengejar kedudukan bukan ikhlas membangun negeri.Jadi samapai saat ini rakyat hanya tenggelam dalam hiruk pikuk hiburan yang digelar pada suatu kampanye tidak pada kemeriahan karena partai dan calegnya yang ideal. Lalu??? terserah Anda bagaimana menyikapi persoalan ini. Selamat Mencontren...!!!

0 komentar: