Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Halaman

Selasa, 06 Juli 2010

POLITIK SEBAGAI PELUANG ATAUKAH ANCAMAN BAGI MUHAMMADIYAH?*

Kemiskinan, kebodohan, penindasan dan ketertinggalan adalah sederet gejala mengkhawatirkan yang menghantarkan suatu kelompok masyarakat atau bangsa berada pada titik terhina. Terhina dalam arti bangsa tersebut akan tereleminasi dari dinamika kehidupan Internasional jika beberapa gejala tersebut menjangkiti suatu bangsa. Walau mungkin tidak sampai pada titik terhina, maka bangsa tersebut paling tidak, akan sangat mudah diarahkan atau dikontrol oleh bangsa-bangsa lain. Disitulah kemerdekaan menjadi keniscayaan yang harus direngkuh oleh setiap bangsa, merdeka dalam arti tergelarnya kebebasan yang menghendaki setiap individu mampu menentukan sikap dan kreasinya sebagai manusia seutuhnya.

Gambaran mengkhawatirkan akibat gejala yang mengemuka tersebut diatas tentu akan menjadi suatu kegalauan yang mugkin dirasakan oleh setiap kelompok masyarakat. Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan sudah sejak lama menyadari hal tersebut. Peran Muhammadiyah dalam gerakan pencerahannya telah memberikan konstribusi yang cukup signifikan dalam mengentas bangsa ini dari penindasan, mulai dari penindasan kaum penjajah hingga kemudian akhirnya mampu mengisi menyemarakkan zaman kemerdekaan. Pergerakan Muhammadiyah yang bernuansa progresif adalah representasi dari sebuah organisasi keagamaan yang menghendaki kemajuan. Maju dari berbagai sisi, pendidikan, ekonomi dan budaya.

Seperangkat cita-cita luhur Muhammadiyah lewat pemikiran Ahmad Dahlan dalam menghantarkan Islam sebagai agama berkemajuan tentu sangat terkait dengan gerakan-gerakan pembaharuan di dunia Internasional. Misalnya saja dalam perjalanan studi KH. Ahmad Dahlan yang bersentuhan erat dengan beberapa pemikir dunia ketika itu. Waktu itu KH. Ahmad Dahlan sudah sangat akrab dengan pemikiran beberapa tokoh diantaranya, Muhammad Abduh , Jamaluddi Al-Afghani, Rasid Ridha, Muhammad Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah. Sejumlah tokoh tersebut telah banyak memberikan inspirasi terhadapa KH. Ahmad Dahlan dalam pemahaman keagamaan dan pergerakan Muhammadiyah di tanah air. Begitu cukup segar apa yang dibawa oleh Ahmad Dahlan waktu itu, sehingga cukup untuk menggerakkan bangsa ini dari kebodohan, kemiskinan dan penjajajahan.

Waktu terus bergulir, tanpa terasa saat ini usia Muhammadiyah sebagai pergerakan dan organisasi Islam memasuki abad ke-2. Artinya, sudah seratus tahun Muhammadiyah memainkan perannya di jagat nusantara dalam memajukan bangsa ini. Penjajahan sudah terlewati, persoalan bangsa semakin kompleks tidak hanya terhenti pada persoalan kemiskinan, kebodohan ataupun penjajahan. Sejumlah persoalan baru mulai muncul di seputar gerak lintas Muhammadiyah, salah satunya misalnya, maraknya gerakan makar para elit politik terhadap bangsa yang sudah lepas dari penjajahan. Para elit politik mulai doyan mengahbisi uang Negara (korupsi) untuk kepentingan pribadi atau kelompok, gejala ini kemudian cukup membuat resah bangsa ini.

Gejala baru di atas tentu kurang mengemuka pada masa Muhammadiyah di tangan KH. Ahmad Dahlan. Persoalan yang tergolong baru ini tentu harus menjadi bagian yang mesti direspon oleh Muhammadiyah sebagai bagian dar gerakan pencerahan di negeri ini. Jika KH. Ahmad Dahlan mampu mengubah pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah dari prilaku serong ke paham keagamaan yang murni berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah, maka saat ini sprit tersebut perlu dianjutkan dengan problem dan nuansa yang berebeda. Pada masa KH. Ahmad Dahlan yang mengemuka adalah dangkalnya ketauhidan bangsa dengan marakanya prilaku Tahayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC) dapat diselesaikan dengan dakwah keagamaan dari masjid-ke masjid. Saat ini perilaku tersebut walau tidak sepenuhnya hilang, tapi bisa dikatakan dakwah Muhammadiyah dalam memurnikan ajaran Islam menemui titik keberhasilannya.

Beranjak pada persoalan yang melilit bangsa ini, yaitu gejala korupsi berjamaah di kalangan elit politik merupakan problem yang cukup kritis untuk direspon. Muhammadiyah sebagai ormas yang menginginkan pencerahan dan pengentasan dari berbagai penindasan menjadi harapan terakhir untuk memberikan solusi terhadap persoalan ini. Gerakan dakwah Muhammadiyah perlu diarahkan pada penyelesaian isu ini, tentu mengenai cara penyampaiannya sangat berbeda dengan dakwah penyelesaian TBC yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dahulu.

Nuansa serta problem yang mengemuka di atas memang jauh berbeda dengan problem pada masa awal Muhammadiyah muncul. Dakwah dari masjid ke masjid denga ayat-ayat tentu tidak relevan lagi diterapkan di tengah-tengah tantangan dan isu tersebut di atas. Muhammadiyah butuh strategi lagi untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan tersebut. Jika melihat pada gejala yang mengemuka, dosa-dosa korupsi ini marak terjadi di lingkungan pemerintahan dan dunia perpolitikan. Melihat gejala tersebut,maka sangat mungkin Muhammadiyah masuk pada pusaran politik sebagai media penghantar misi sucinya dalam memberantas korupsi di lingkungan elit bangsa ini.
Di sisi lain, ada stigma yang cukup mengakar di kalangan elit Muhammadiyah yang menempatkan politik sebagai segmen terburuk dari sederet media dakwah dalam menyampaikan kebenaran. Maka tidak mustahil ketika banyak warga Muhammadiyah yang memandang buruk terhadap politik, politik terkesan korup dan jorok. Sungguh satu pandangan yang perlu dirubah demi pemberantasan korupsi yang akut. Kalau boleh disadari secara mendalam, politik sejatinya adalah media membangun bangsa yang cukup strategis. Berawal dari politik inilah wajah suatu bangsa bisa ditentukan apakah menapaki martabat yang tinggi atau malah sebaliknya.

Jika yang tersuguhkan adalah fakta yang menunjukkan politik itu cenderung korup, hal itu hanyalah sisi lain dari dunia perpolitikan. Pada sisi yang berbeda dunia perpolitikan sungguh media dakwah yang cukup subur dalam membangun negeri ini. Politik bukan satu hal harus ditakuti, Muhammadiyah perlu melakukan teroboson yang cukup terbilang baru dan berani seperti halnya apa yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan yang berkfrontasi dengan pandangan umum waktu itu. Walau Muhammadiyah tidak secara total mengalihkan gerakannya pada dunia politik, akan tetapi politik tetaplah satu wadah media dakwah yang jitu dalam mewujudkan politik yang bersih dari tindak korupsi. Jika Muhamadiyah mampu memaksimalkan media politik ini sebagai penghantar misi pemberantasan korupsi, maka Muhamamadiyah benar-benar mampu melanjutkan misi KH. Ahmad Dahlan dalam menghantarkan bangsa ini pada puncak peradaban yang terlepas dari tindak asusila apapun temasuk gejala korupsi ini.

Tentu apapun alasannya dalam mendiskreditkan dunia politik sebagai bingkai dari jalur pembawa petaka moral adalah pandangan yang tidak benar. Dunia politik tetaplah suci, sesuci misinya dalam membangun bangsa yang maju dan bermartabat. Memilih politik sebagai media dalam membangun bangsa tentu adalah salah satu jawaban terhadap kejumudan yang menghinggapi bangsa ini. Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa ini jangan sampai termakan wacana untuk menjauh dari politik. Politik tanpa peran dari dunia ormas akan terasa sangat nakal yang sering menggagahi bangsanya sendiri. Jika sekiranya Muhammadiyah belum berani masuk pada tataran politik paktis, tapi setidaknya Muhamamdiyah tidak perlu terlalu takut dengan politik. Politik perlu digauli, dicumbui dan dan digeluti agar nantinya warna perpolitikan bangsa ini akan semakin menunjukkan perpolitikan yang bersih, dewasa dan bermartabat. Semoga saja Muhammadiyah berani dan tidak takut lagi..!!! [ijan2010]

*Refleksi Muktamar Muhamadiyah ke-46 di Yogyakarta

0 komentar: