Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Laman

Senin, 14 Mei 2012

IDEALITAS MOTIVASI POLITIK


Sungguh tidak ada alasan untuk berputus asa dalam membangun bangsa ini. Segala kekurangannya adalah bagian dari lahan jihad untuk terus menyempurnakan cita-cita mulia para pendiri bangsa. Kemungkinan apapun dari niat suci itu adalah konsekwensi yang harus diterima walau pahit sekalipun. Realitas yang kurang elok dari dinamika bangsa saat ini bukanlah suatu kendala untuk terus mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan bermartabat. Di atas fundamen idealitas inilah semua gerak perjuangan itu harus dipijakkan.
Mewacanakan idealitas dari setiap motivasi untuk beranjak dari keterpurukan adalah hal yang sangat dibutuhkan untuk kondisi seperti saat sekarang ini. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk respon dari menciutnya kadar idealisme dari setiap perjuangan yang digulirkan oleh setiap anak bangsa. Indikasi dari gejala tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi kehidupan profil tokoh-tokoh bangsa yang saat ini menikmati empuknya kursi birokrasi di pemerintahan. Ada dimensi-dimensi tertentu yang terbilang di luar kewajaran, seakan sebagian mereka tidak mengenal lagi makna moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.
Kasus yang lebih dekat dengan hal di atas selain dari kasus korupsi adalah, fenomena hilangnya rasa malu yang menjangkiti hampir dari setiap lembaga pemerintahan di negeri ini. Rasa malu itu seakan telah tergantikan oleh birahi-birahi yang menuntun sebagian mereka pada tindakan bejat (fakhsya’). Tindak-tanduk sebagian mereka yang terjerumus dalam sensasi fakhsya’ kadang mengundang tawa karena terkesan lucu, tapi tidak sedikit juga yang mengundang rasa geram.
Adapun indikasi paling riil dari hilangnya rasa malu itu betul-betul sangat kentara ketika menyebarnya video porno yang mirip dengan dua anggota DPR dari suatu partai tertentu. Kasus tersebut adalah kasus yang ke sekian kalinya yang menempatkan lembaga terhormat di negeri ini pada kondisi yang sangat hina. Terlepas apakah hal itu bagian dari manuver politik yang digulirkan dari rivalitas yang cukup ketat di ranah perpolitikan di negeri ini, atau kemungkinan terdapat indikasi lainnya, yang jelas moralitas tidaklah bisa ditawar dalam kehidupan berbangsa.
Segmen lain dari fenomena hilangnya rasa malu juga terlihat dari geliat sejumlah tokoh yang meleburkan dirinya dalam bursa capres pada pilpres 2014 nanti. Indikasi hilangnya rasa malu itu cukup terlihat ketika salah satu tokoh di kubu partai tertentu yang notabene masih mempunyai hutang berat terhadap rakyat Sidoarjo terkait kasus lumpur Lapindo maju sebagai kandidat capres. Gejala ini tentu masih bisa dikategorikan sebagai bagian dari tindakan yang menyisihkan rasa malu. Titik malu yang semestinya dipertimbangkan itu terdapat pada penyelesaian lumpur Lapindo yang tak kunjung selesai. Tetapi nyatanya, titik malu tersebut tidak pernah menjadi bagian dari pertimbangannya, bahkan sang tokohpun maju dengan rasa percaya diri (pede) luar biasa.
Di kubu partai yang lain, dalam pantauan media disinyalir ada partai yang mau mencalonkan kandidat capresnya di luar partainya. Walau isu ini baru berupa desas-desus, namun bisa diindikasikan bahwa kondisi partai tersebut tergolong sebagai partai yang sedang galau. Kondisi ini semestinya patut dirasa sebagai hal yang cukup memalukan, karena perkaderan dalam partai tersebut bisa dinilai gagal.
Kasus dan fenomena di atas cukup representatif untuk menggambarkan bagaimana rasa malu itu sudah demikian tipis. Kondisi tersebut secara umum tidak hanya menjangkiti ruang individu saja akan tetapi sudah menjangkiti ruang komonitas. Gejala tersebut bila ditarik pada tegaknya idealisme di negeri ini, maka tentu hal tersebut masih jauh dari yang semestinya. Kesungguhan untuk menegakkan idealisme tentu tidak mungkin bisa berjalan mulus, kalau individu dan komonitas (partai) tidak bisa membangun rasa malu terhadap kekurangan yang menganga dan menjadi tontotan publik tersebut.
Mengukuhkan rasa malu dalam memupuk idealisme kebangsaan tentu sudah menjadi pilihan mutlak untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Kemudian hal yang penting berikutnya adalah, mengurai motif dari geliat perpolitikan yang mengemuka saat ini. Mengukur motivasi tentu tidaklah mudah, karena hal tersebut bila dilihat dalam kaca mata agama merupakan bagian dari pekerjaan hati. Tetapi dalam konteks dunia politik, ukuran motivasi itu bisa dibilang lebih mudah untuk diurai.
Sejatinya penyisihan rasa malu itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Beban psikologis untuk individu, serta beban sosiologis untuk suatu komonitas tentu menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Namun dalam ranah intern baik yang individu maupun dalam konteks komonitas terjadi suatu benturan yang luar biasa antara rasa malu dan ambisi (kepentingan). Malu dan ambisi inilah kemudian saling menikam satu sama lain, namun akhirnya yang keluar menjadi sang jawara adalah ambis itu sendiri.
Kemenangan ambisi dalam menghabisi rasa malu menjadi benang merah yang bisa diangkat ke permukaan sebagai bentuk motivasi dari geliat pepolitikan yang menggejolak tersebut. Dari situ kemudian bisa disimpulkan bahwa, motif nyata dari geliat politik dalam bentuk personal ataupun komunal adalah berangkat dari ambisi (agresifitas).
Gejala adanya motif ambisius (agresifitas) sejatinya merupakan salah satu potensi alami seorang manusia. Bahkan bila merujuk pada Sigmund Freud, dinyatakan bahwa agresifitas itu merupakan instink bawaan manusia sebagai bagian dari hewan (animal power). Potensi ini sebenarnya cukup potensial untuk melahirkan individu-individu kuat yang pantang menyerah. Namun potensi tersebut seakan tidak berarti apa-apa ketika hanya dibiarkan memisah dari potensi-potensi lain dalam diri manusia. Bahkan pada taraf tertentu, potensi tersebut justru melahirkan tindakan destruktif.
 Nampaknya ambisius (animal power) inilah yang kerap kali menjadi tumpuan motivasi dari setiap geliat perpolitikan di negeri ini. Sehingga pada realitanya juga menampilkan tindak perpolitikan yang lepas dari nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, semestinya potensi ambisius itu juga harus diintegrasikan dengan potensi yang lain yang berupa nalar. Potensi ini merupakan potensi alami lainnya yang dimiliki manusia sebagai bagian dari hewan yang berfikir (hayawanun natiq). Dengan menggandeng nalar sebagai mitra dalam setiap tindakan, akurasi tindakan bisa mendapatkan sasaran yang tepat.
Kekuatan yang lahir dari ambisi, sedangkan akurasi yang lahir dari nalar belumlah menjadi potensi sempurna untuk membangun suatu bangsa. Aspek etis dan kontinuitas adalah aspek paling krusial yang dibutuhkan ketika ambisi dan nalar dalam kondisi lesu. Adapun hal yang bisa melahirkan kedua aspek tersebut adalah hati yang mengembangkan cinta. Jadi secara garis besar, ambisi, nalar dan cinta adalah sumber motivasi yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Ketiganya harus bisa menjadi landasan dari setiap niat individu atau komonitas (partai) dalam setiap tindak perpolitikan di negeri ini.
Akhirnya, dari uraian singkat di atas melalui fakta dan idealita hendaknya setiap kandidat pemimpin negeri ini secara khusus, serta rakyat semesta Nusantara secara umum bisa mampu memilih pilihan niat politiknya dengan cerdas, apakah memilih salah satu dari tiga sumber niat tersebut di atas, atau memilih ketiganya secara bersama-sama. Pilihan dan konsekwensinya ada di tangan Anda…

0 komentar: